Apakah sms blast atau sms marketing termasuk CRM? Bisa saja iya dan tidak. Tergantung bagaimana sudut pandangnya.
Lalu, apakah sms blast yang digunakan untuk tujuan marketing masih jadi strategi jitu atau malah menganggu?
Bisa ya dan bisa juga tidak. Bagi penyedia layanan sms blast, tentu saja akan menganggp ini bisnis yang tetap relevan.
Bahkan, meskipun ada banyak channel lain yang bisa digunakan dalam CRM seperti, push notification atau integrasi WhatsApp Bussiness dengan platform CRM itu sendiri.
Jawaban tidak akan ditemukan Ketika banyak sms blast yang berisikan bagian dari marketing ketika pengiriman dilakukan secara acak, tidak tepat sasaran, bahkan sangat menganggu.
Ya! Jawabannya bisa ditemukan di salah satu operator telekomunikasi dengan klaim ratusan juta pengguna.
Berkali-kali dikritik dan bahkan dianggap menyebarkan data pribadi ke pada brand atau merek tertentu.
Menurut keyakinan warga tak sedikit banyak pengguna hp yang kemudian merasa kesal karena banyaknya sms blast yang masuk ke dalam kotak pesan digital mereka.
Lebih Cerdas dengan SMS Marketing
Bijak saja tidak cukup untuk menggunakan teknologi.
Bagaimana pun juga penyedia layanan sms blast masih ada dan belum tentu beralih bentuk teknologi yang lain.
Jujur saja, menurut keyakinan warga sendiri, warga tidak tahu metric apa yang dipakai untuk mengukur kesuksesan sebuah sms blast untuk kebutuhan marketing.
Apakah metricnya sama dengan push notification yang ada di aplikasi? Jika sama, dan semua sms marketing dikirim secara random, berapa persentase untuk akuisisi baru? Atau bahkan untuk remarketing?
Secara hasil, sms marketing yang dikirim dengan frekuensi tinggi, konten yang tidak relevan, dan bahkan bisa dianggap spam karena pengiriman berulang tanpa konteks persetujuan dari penerima sms karena dikirim secara random bisa merusak proses bisnis.
Belum lagi jika sms ini sering disalahgunakan untuk penipuan berkedok hadiah dan tentunya sangat merugian banyak pihak.
Tips Jika SMS Marketing Masih Jadi Andalan
Meskipun pertanyaan apakah sms marketing masih jadi bagian dari strategi jitu sebuah marketing.
Namun jika masih ada yang menggunakan layanan ini untuk mendorong interaksi dengan konsumen atau akuisisi beberapa tips berikut mungkin bisa dicoba
1. Mengenal Audiens
Sebelum memulai penggunaan sms sebagai bagian dari strategi marketing, pastikan untuk mengenali dan memahami audiens.
Namun, ada hal yang sebenarnya lebih krusial lagi.
Apakah arsitektur database sudah rapi?
Jika belum sepertinya sulit untuk memahami audiens mana yang akan dituju sebagai bagian dari strategi sms marketing.
Selanjutnya,langkah penting yang wajib dillakukan adalah memahami demografi, perilaku mereka baik secara online atau offline hingga riset tentang prerensi.
Jika hal ini tidak dilakukan, sebanyak apa pun sms yang dikirim hanya akan jadi percuma.
Malahan, audiens bisa saja merasa terganggu karena pesan singkat yang dikirim tidak cocok dengan kebutuhan mereka.
Pertanyaan penting lainnya, apakah sms masih relevan bagi audiens tersebut?
Mungkin, dashboard yang dimiliki oleh penyedia jasa sms blast ini bisa jadi jawaban.
2. Persiapan Kampanye atau Hanya Perkenalan?
Tak jarang sms marketing yang muncul hanyalah sebuah pesan singkat yang digunakan untuk perkenalan sekaligus akuisisi.
Namun, apakah hal tersebut tepat dilakukan setiap hari? Satu kali dalam seminggu?
Jika ingin dianggap tidak menganggu, ada baiknya untuk menyiapkannya untuk kampanye (campaign) tertentu.
Mengirim sms blast untuk tujuan marketing dengan pola yang sama, template yang sama, dengan copywriting yang sama belum tentu akan membuat audiens menjadi tertarik.
3. Pilihan Untuk Berhenti Menerima SMS secara Gratis
Sama seperti email marketing, dalam body emailnya akan ada satu tombol “unsubscribe” di mana tombol ini bisa membuat audiens berhenti menerima email dari satu merk.
Alangkah lebih cerdasnya, dengan bantuan teknologi yang sudah semakin maju jika sms marketing bisa diterapkan.
Benar, ini terdengar subjektif.
Namun, cara ini bisa dicoba untuk memfilter audiens mana yang nanti tidak setuju dengan sms marketing yang digunakan.
Dengan cara ini siapa pun bisa melakukan Analisa dari A/B test untuk mengetahui metric mana yang paling efektif.
Terlepas dari berbagai macam cara atau tips untuk memaksimalkan fungsi sms blast sebagai bagian dari marketing adalah willing atau bisa dibilang pemilihan kebijakan.
Baca juga: Perbandingan Program Reward IMPoin dan Telkomsel Poin
Baca juga: Kenapa Aplikasi Pinjol Mendominasi di Google Play Store?
Semuanya ini tidak akan berjalan tanpa kebijakan yang tepat untuk melihat apakah sms marketing masih jurus jitu atau malah menggangu dan bisa merusak reputasi sebuah merek.







