Kali ini saya akan menuliskan review atau ulasan film”28 Years Later: The Bone Temple” yang mulai tayang di bioskop hari ini, tanggal 14 Januari 2026.
Dari pengalaman saya sebagai konten editor untuk mereview film di awal tahun “28 Years Later: The Bone Temple”, langsung menggebrak di awal tahun dari segala aspek.
Sebagai bagian kedua dari trilogi film “28 Years Later”, buat saya film keduanya memang memiliki hal yang lebih unik.
Sejak hadir lagi dalam format “28 Years Later” saua menilai film ini terbilang sukses di film pertamanya.
Namun, tak kalah sukses juga ketika saya menonton film keduanya.
Apakah “28 Years Later: The Bone Temple” Film yang Bagus?
Dari penilaian dari para kritikus di Rotten Tommatoes, film ini mendapatkan nilai hingga 93% dan penonton umum mencapai hingga 88% ketika tulisan ini diunggah.
Saya pun sepakat, bahwa film keduanya juga punya nilai yang positif dan unik. Sebagai bagian dari sekuel, saya pun tidak menyangkan akan mendapatkan pengalaman yang berbeda.
Lalu, apa yang membuat film “28 Years Later: The Bone Temple” menjadi bagus dan wajib ditonton?
- “28 Years Later: The Bone Temple” Sekuel yang Berbeda
Sebagai sebuah sekuel, film ini punya nilainya sendiri, tanpa harus kehilangan arah dari film sebelumnya yang berjudul “28 Years Later.”
Sutradara Nia DaCosta berhasil keluar dari bayang-bayangnya sendiri, nampun tetap mampu mempertahankan ciri khas film dengan sentuhan Alex Garland.
- Kehadiran Karakter yang Tidak Terduga
Film ini memberikan sebuah kejutan di bagian akhirnya. Satu karakter dari “28 Days Later” yang sangat populer di era 2000-an kembali lagi!
Ya, benar! Cillian Murphy yang berperan sebagai Jim kembali dimunculkan dalam saga 28 Years Later yang kedua.
Film ini seperti rantai yang memang tidak pernah putus meskipun berjarak puluhan tahun lamanya. Inilah yang akan menjadi bagian ulasan saya tentang film “28 Years Later: The Bone Temple.”
Sinopsis Film “28 Years Later: The Bone Temple”
Di film kedua, fokus cerita masih berada di sebuah tempat yang berada dekat dengan laut Inggris.
Jika di film pertama mengambil sudut pandang karakter Spike yang berusaha ingin mencari obat untuk Ibunya yang sakit.
Maka di film kedua, Spike bertemu dengan geng kriminal di masa-masa apocalyptic ini.
Ketika sudut pandang Spike yang bertemu dengan orang-orang baru, di satu sisi Dr. Ian Kelson (Ralph Fiennes) ternyata masih menyimpan misteri sendiri.
Sebagian para penyintas menyebutnya sebagai dokter gila yang sengaja membakar manusia yang masih hidup di tengah keputusasaan.
Namun, di film sekuelnya ini dan di tengah keputusasaanya, ia mencoba membuat sebuah keajabaikan dengan membuat obat penawar agar virus Rage benar-benar punah dari tanah Inggris Raya.
Review Film “28 Years Later: The Bone Temple”

Sah-sah saja sebagian penonton merasa tidak suka dengan film “28 Years Later” yang pertama.
Berbagai faktor mungkin muncul. Mulai dari film zombie yang tidak sesuai dengan ekspektasi mereka, atau bisa saja jarak film yang terlalu jauh sehingga terasa tidak lagi relevan.
Namun, sutradara Nia DaCosta membalikkan semuanya itu.
Jika Alex Garland dan Danny Boyle menggarap “28 Years Later” dengan cara yang sedikit canggung meskipun berhasil dari cerita film mereka di “28 Days Later” maka Nia DaCosta tidak lagi terjebak di area sana.
Tanpa bertele-tele, cerita film “28 Years Later: Bone Temple” langsung to the point.
Awal mulanya menggambarkan bagaimana film dimulai setelah “28 Years Later” berakhir.
Jadi, secara tidak langsung warga seperti sedang maraton menonton sebuah film ketika film pertamanya selesai.
Sutradara Nia DaCosta tetap mampu membangun cerita yang segar, dan tidak mengubah atau mengimprovisasi gaya karakter di dalam filmnya.
Hal yang bisa dimaklumi, mengingat naskahnya masih ditulis oleh Alex Garland.
Meski pun begitu, Nia Dacosta berani memainkan elemen baru.
Terlepas dari beberapa scene yang mengerikan dan menegangkan, konsep humor yang dipasang pada karakter Jimmy Crystal adalah pembedanya.
Humor gila khas Inggris dan terasa gelap karena traumatis masa kecil yang ditampilkan di awal-awal film “28 Years Later” seolah-olah diungkit di film keduanya.
Tak hanya itu, komedi di dalam film ini semakin terasa absurd ketika munculnya adegan-adegan yang mengejutkan.
DaCosta bermain-main dengan sense of timing untuk membangun sekaligus menguatkan beberapa adegan komedinya.
Maaf, saya tidak bisa membocorkan adegannya, karena nanti bisa spoiler.
Film ini punya ide dengan tingkat absurditas yang terasa satir serius dan dipadukan dengan aktor-aktor yang memainkan perannya dengan baik.
Satu hal yang di luar dugaan warga sini ketika menonton filmnya.
Tak hanya itu, dibalik kegilaan tersebut, film ini juga menyelipkan drama yang kuat.
Pengaruh Kuat Dr. Kelson

Jika di film “28 Years Later” drama yang diceritakan adalah tentang anak dan ibu, maka kali ini adalah tentang manusia yang selamat dengan zombie yang sudah bermutasi virusnya.
Drama ini dikemas sederhana dan hadir dalam bentuk simpati yang berbeda. Hanya aktor-aktor luar biasa yang bisa memainkan peran seperti ini.
Tentu saja, ini akan tertuju pada karakter Dr. Kelson yang diperankan dengan baik oleh Ralph Fiennes.
Di film pertamanya, Dr. Kelson dianggap gila oleh sebagian manusia yang selamat.
Namun, di film keduanya, kegilaan tersebut bercampur dengan sisi humanisnya.
Ada kesedihan yang begitu dalam, namun diungkapan dengan jujur. Mulai dari gerak tubuh hingga kalimat-kalimat yang terucap dari mulutnya.
Nia DaCosta bahkan mengembangkannya lagi lebih liar. Sang karakter bisa dibuat sedih dengan pendaman tragis yang terukir dari raut wajahnya.
Bisa juga tampil lucu dan menggelikan mengingat di film keduanya Dr. Kelson masih sempat-sempatnya berinteraksi dengan Samson. Zombie level Alpha yang sempat muncul di film “28 Years Later. ”
Sesuatu yang memang sulit untuk ditebak ketika warga nanti menonton film “28 Years Later: The Bone Temple.”
Tegasnya Visualisasi Film
Danny Boyle memang punya ciri khas visualnya di setiap film.
Jika merujuk pada film “28 Years Later”, ia memaksimalkan kombinasi klasik namun tetap modern.
Bahkan, ketika film “28 Years Later”, ia menggunakan deretan iPhone 16 Pro Max untuk meciptakan visualnya sendiri.
Nia DaCosta sendiri mencoba tegas dengan gaya visualnya sendiri.
Beberapa adegan menempatkan framing di depan, dan membuat secara visual scene yang akan ditampilkan terlihat melalui kaca pecah atau rumput tinggi.
Sebuah visual yang membuat filmnya jadi semakin unik. Seolah-olah film ini datang dari sudut pandang orang lain yang tidak ada di film tersebut.
Sebuah cara cerdas untuk bercerita melalui sebuah film sekuel, tanpa harus merusak semua inti cerita yang naskahnya tidak ditulis oleh sang sutradaranya sendiri.
Film Kedua yang Memukau Sebagai Sebuah Trilogi
“28 Years Later: The Bone Temple” memang ditakdirkan untuk film kedua.
Film ini dikemas seperti halnya buku di tengah-tengah halaman. Bukan awal, bukan pula akhir.
Hanya sebagai benang penyambung antara film pertama dan ketiganya nanti.
Namun, disajikan dengan apik tanpa harus merusak struktur dan alur ceritanya sama sekali.
Ditambah dengan sentuhan komedi, Ini adalah pilihan berani yang ditawarkan sutradara Nia DaCosta untuk film ini.
Namun, jika tim kreatif yang membangun kisah sekuel dan mampu tampil baik itulah yang disampaikan di dalam film ini.
Nia DaCosta berhasil menciptakan sekuel yang apik dari “28 Years Later” dan apa yang saya tonton, inilah yang menjadi ulasan penting dari “The Bone Temple.”
Sudut pandang mengerikan yang berbeda, namun tanpa mengubah inti ceritanya.
Ada humor yang gelap dan satir dan tetap relevan dan menurut keyakinan saya, menjadikan film unik untuk sebuah film horor.
Baca juga: 17 Film Sekuel Terbaru yang Tayang di Bioskop Tahun 2026
Film ini jelas bukan sesuatu yang baru saja dimulai untuk ditonton, khususnya bagi yang melewatkan film pertamanya tahun lalu.
Bagi yang belum sempat menonton film pertamanya yang berjudul “28 Years Later”, film ini bisa warga tonton di Netflix.
Dalam dua tahun, dua sutradara berbeda, franchise ini masih punya ciri khas dan kreativitas yang mengejutkan.
Sebuah film solid jika ditutup dengan film ketiga yang lebih apik lagi.
Film “28 Years Later: The Bone Temple” saat ini sedang tayang di bioskop-bioskop Indonesia.
Baca juga: 27 Film Hollywood yang Akan Tayang di Bioskop Tahun 2026
Warga bisa menontonnya langsung di CGV Cinemas, Cinepolis dan XXI.







