Sebuah pelajaran besar yang akan terus bergerak dinamis membuat pekerjaan meningkatkan konversi melalui aplikasi adalah bagian dari pekerjaan yang penuh dengan tantangan.
Di tahun 2025 sebagai pegiat di bidang digital marketing, saya mencoba berbagai strategi ASO (App Store Optimization) yang dikembangkan untuk meningkatkan konversi sangat dinamis bahkan fluktuatif.
Ditambah lagi dari sebuah pembelajaran, saya melihat App Store dan Google Play Store tidak lagi menampilkan aplikasi yang sama kepada setiap pengguna dengan cara yang sama.
Di tahun 2025, saja hasil pencarian, peringkat bahkan hingga tindakan konversi akan semakin dipersonalisasi, baik di App Store dan Google Play Store.
Hal yang sama tidak akan jauh berbeda dengan di tahun 2026.
Beberapa strategi yang akan paling umum dan sering dilakukan adalah On Metadata. Strategi yang tentunya juga sudah pernah saya coba lakukan dalam rentang 2 3 tahun terakhir.
Sementara itu ada juga bagian Off Metadata yang sangat berpengaruh jumlah unduhan, rating, dan user retention.
Namun, hal ini akan jadi berbeda di tahun 2026.
Tantangan Strategi ASO di 2026
Secara umum, ASO adalah cara yang biasa dilakukan oleh digital marketer untuk mengoptimalkan aplikasi sehingga meningkatkan visibilitas dan peringkat di Apple App Store dan Google Play Store.
Namun, membuat strategi ASO sebagai bagian dari strategi digital marketing untuk meningkatkan konversi di aplikasi kian menghadapi berbagai macam hal yang kompleks di tahun 2026.
Berbagai tantangan ini tidak hanya melibatkan seorang digital marketing, namun melibatkan proses bisnis yang terjadi di dalam aplikasi itu sendiri.
Cara paling mudah dan instan yang sering dipilih adalah dengan mengiklankan aplikasi tersebut.
Dari pengalaman saya sebagai digital marketer, di tahun 2025 saya mendapatkan beberapa tantangan yang diprediksi juga akan terjadi di tahun 2026 dalam mengoptimalkan ASO, melalui iklan.
1. Biaya Iklan Semakin Mahal
Tantangan pertama yang saya temukan adalah tentang biaya iklan yang mahal.
Biaya iklan ini terdiri dari banyak faktor pada aplikasi itu sendiri. Namun, hal itu belum cukup. Platform seperti Google dan Meta adalah kuncinya.
Belum lagi layanan pihak ketiga atau publishers lainnya yang mengklaim dan diiming-imingi dengan tingkat keberhasilan instal dan konversi yang lebih baik dari Google dan Meta Ads.
Bagi pemilik bisnis yang ingin memasarkan aplikasi melalui platform dari digital saya sarankan untuk memulai dengan langkah yang sederhana.
- Misalnya dengan budget yang kecil.
- Lalu lakukan A/B Test dan proses pembelajaran.
- Lanjutkan dengan mengukur aktivitas aplikasi, seperti mengetahui total instal, menganalisa instal fraud.
- Jika sudah mendapatkan gambaran, selanjutnya bisa mengukur nilai user registration, hingga akhirnya di titik akhir, yaitu mencari konversi atau ROI.
2. Biaya Instalasi Meningkat
Selain biaya iklan yang mahal, setiap aplikasi yang diiklankan punya nilai atau harga instalasi yang berbeda-beda.
Hal ini yang yang saya rasakan dan alami ketika mengelola iklan untuk instal aplikasi dalam beberapa tahun terakhir.
Jadi, jika ingin memulai, jangan lupa menerapkan biaya instalasi yang biasanya sudah muncul dalam rekomendasi dari masing-masing platform.
Google dan Meta Ads punya hal ini, berdasarkan teknologi mereka.
Dua platform ini bisa memperkirakan dan merekomendasikan, berapa biaya instalasi yang didapatkan dari aplikasi ini.
Hal ini adalah risiko, sekaligus peluang untuk menghitung apakah aplikasi yang ditawarkan memang dibutuhkan atau disukai oleh user.
Sekaligus untuk mengamati dan mengetahui apakah mereka percaya dan butuh dengan apa yang ditawarkan di dalam aplikasi.
3. Biaya Akuisisi User Naik
Instal dan akuisisi adalah dua hal yang berbeda dalam mendeteksi bagaimana perilaku user di dalam sebuah cara mengiklankan aplikasi.
Di Google dan Meta saja, dua hal ini diperjelas dalam tujuan aplikasi yang akan diiklankan.
Ketika potensi biaya instal naik, maka secara otomatis, biaya akuisisi akan naik.
Secara umum, biaya akuisisi dihitung ketika user sudah menyelesaikan pendaftaran aplikasi.
Di tahun 2026, sebagai bagian dari strategi aplikasi untuk meningkatkan konversi, maka nilai akuisisi juga hal yang penting.
Jika di bagian ini, kemungkinan biaya akan meningkat, maka bukan tidak mungkin bagian akhir berupa konversi.
Atau ketika seorang user selesai melakukan pembayaran di dalam aplikasi, bukan tidak mungkin biaya penghitungannya juga akan semakin mahal.
Dari pengalaman, saya pernah menemukan kasus di mana user yang gagal melakukan registrasi padahal sudah punya keinginan untuk terlibat di dalam aplikasi.
Jika ini tidak direspon, justru akan membuat pemilik aplikasi mengalami kerugian.
Apalagi, user yang datang dari sebuah iklan.
Sebagai pengiklan, saya akan tetap membayar nilai akuisisi yang ditetapkan oleh Google dan Meta, meskipun user tersebut gagal melakukan registrasi di aplikasi.
Tentunya ini bisa menjadi rekomendasi, dimana sebelum menyiapkan iklan, aplikasi tersebut memang sudah harus benar-benar matang untuk digunakan.
4. Faktor Akurasi Pelacakan di Privacy Sandbox dan SKAN
Jarang ada yang peduli dengan hal ini. Privacy Sandbox dari Google dan SKAN dari Apple punya standar tersendiri.
Ini sangat berkaitan dengan privasi dan data pribadi user.
Setiap platfom punya penilaian yang diklaim mampu melacak aktivitas user di dalam aplikasi.
Sehingga hal ini bisa menjadi metrik atau panduan bagi para digital marketer untuk melihat apakah iklan aplikasi mereka berjalan dengan baik.
Akurasi pelacakan berpusat pada penyeimbangan antara perlindungan privasi pengguna dan kebutuhan data yang akurat bagi para digital marketer.
Inilah yang akan menjadi tantangan pada digital marketer dan pengembang aplikasi jika ingin mengiklankan aplikasi mereka di tahun 2026.
5. Faktor AI dan Personalisasi
Masifnya AI dan semakin kencangnya arahan untuk personalisasi akan berpengaruh pada behaviour pengguna di internet.
Termasuk ketika ingin menemukan aplikasi yang mereka cari, inginkan dan butuhkan.
Faktor yang pada akhirnya memang membuat ASO sebagai bagian dari strategi aplikasi untuk mendapatkan konversi semakin dinamis.
Sekali lagi ini adalah pekerjaan panjang yang memang membutuhkan waktu.
6. Faktor Algoritma
Bagi yang sudah pernah menjalankan iklan aplikasi pasti paham, iklan model ini sangat bergantung pada algoritma.
Selama tahun 2025, banyak aplikasi mengalami fluktuasi peringkat yang signifikan setelah perubahan algoritma.
Strategi optimasi seperti menyesuaikan judul atau deskripsi singkat menjadi kurang dapat diprediksi.
Oleh karena itu, ASO (App Store Optimization) tidak lagi bisa lagi diabaikan setelah diterapkan.
Mempelajarinya secara konsisten sangat diperlukan mengingat sikulus pengujian bisa membuat strategi optimasi bisa menjadi lebih kompleks.
Bahkan, bukan tidak mungkin di tahun 2026, akan muncul lagi perubahan algoritma baru.
Baik dari aplikasi yang ada di App Store atau Google Play Store.
Baca juga: Coba Pembaruan Google Untuk Iklan instal aplikasi iOS ini di Tahun 2026
Rekomendasi Strategi ASO Untuk Konversi Aplikasi di Tahun 2026
Ketika mengoptimalkan aplikasi melalui iklan membutuhkan pertimbangan yang panjang, maka mengoptimalkan secara organik adalah pilihan yang tepat.
Berdasarkan pembelajaran yang saya terima, maka beberapa rekomendasi ini bisa jadi solusi sebagai strategi ASO untuk meningkatkan konversi di aplikasi.
1. Optimasi Bagian Kreatif
Optimasi kreatif adalah bagian penting sebuah aplikasi. Tujuannya untuk menarik perhatian dari penggunanya.
Visual baik berupa gambar atau video bisa menentukan interaksi dan menunjukkan minat user untuk mengunduh aplikasi.
Pada tahun 2026, terus menguji bagian kreatif ini semoga membantu menciptakan konsistensi aplikasi di mata user.
Khususnya untuk menarik pengguna baru yang ingin menginstal aplikasi.
2. Optimasi On Metadata
Metadata tidak lagi sekadar teknis. Bukan juga tentang siapa yang suka atau tidak suka.
Metadata bersifat naratif yang bisa dipahami oleh manusia dan algoritma.
Tujuannya adalah untuk memastikan informasi di aplikasi bisa berguna sekaligus memberikan sinyal relevansi kepada algoritma.
Optimasi ini bisa dilakukan secara bertahap, konsisten dan terus dipelajari.
Hal ini bertujuan untuk menyesuaikan konten metadata agar sesuai dengan masing-masing platform.
Misalnya, penggunaan kata kunci di App Store dan Google Natural Language (GNL) di Play Store.
3. Lokalisasi Aplikasi
Menciptakan aplikasi yang berisikan kebutuhan secara lokal akan membantu mningkatkan enggagment dari user.
Hal ini terjadi karena setiap pasar di berbagai negara punya respon yang beda, bahkan untuk fitur yang sama.
Jadi, membentuk lokalisasi yang tepat akan membantu meningkatkan enggagment,bahkan meningkatkan konversi bagi user lama.
4. Penggunaan Aplikasi Adalah Tentang Trust
Dari tahun 2025 saya punya pengalaman, bahwa aplikasi tidak lagi hanya bicara rangking dan berapa jumlah instal yang didapat.
Namun, hal ini adalah tentang berapa revenue yang didapat.
Jumlah instal yang tinggi tidak akan berguna ketika user retention rendah.
Untuk tahun 2026, strategi ASO untuk meningkatkan konversi bisa dinilai berdasarkan pada kualitas rentensi.
Atau jika aplikasi menerapkan subsription pastikan juga menggunakan nilai konversi pengguna yang berbayar.
Selanjutnya, ketahui apakah aplikasi memang dibutuhkan oleh user untuk jangka panjang.
Jika dilihat dari sisi user, apakah user yang didapatkan selama ini sudah berkualitas?
Trust dengan produk yang ditawarkan di dalam aplikasi?
Dari sisi digital marketer, apakah arsitektur data di dalam aplikasi sudah benar?
Apakah data yang didapatkan sudah valid?
Baca juga: Kenapa Aplikasi Pinjol Mendominasi di Google Play Store?
Semoga rekomendasi strategi mengoptimalkan aplikasi melalui ASO ini bisa jadi rekomendasi untuk meningkatkan konversi di aplikasi di tahun 2026.







