Film Sci-fi berjudul “Mercy” adalah adalah film yang melibatkan antara manusia dan AI (artifial inteligence) dan hadir sebagai salah satu film terbaru Hollywood di bulan Januari 2026.
Sedang tayang di bioskop, berikut ulasan film “Mercy” yang diperankan oleh Chris Pratt dan Rebecca Ferguson sebagai pemeran utamanya.
Kenapa Harus Menonton Film “Mercy?”
Dari sudut pandang saya sebagai mantan konten editor ulasan film, saya melihat “Mercy” sebagai salah satu film Sci-Fi yang cukup unik. Beberapa keunikan ini sebenarnya bisa menjadi keunggulan tersendiri, dan dari penilaian saya, berikut beberapa diantaranya:
- Film ini cocok bagi menyukai genre Sci-Fi dan dunia teknologi, khususnya AI
Ide cerita film ini datang dengan ide yang segar. Menempatkan AI sebagai bagian dalam plotnya. Relevan dengan kehidupan di masa sekarang, di mana AI selalu menjadi tempat untuk mencari jawaban.
- Menampilkan Efek CGI yang Menarik
Karena didasari dari genre Sci-Fi, Mercy menawarkan berbagai efek visual yang menarik dan dibantu dengan teknologi canggih yang menggambarkan kehidupan di masa depan.
- Media Pembelajaran di Era AI
Film ini memberikan pandangan khusus, bagaimana AI adalah salah satu alat yang membantu manusia, dan bukan sebagai alat untuk menjadi penentu dari sebuah keputusan manusia.
Sinopsis Film “Mercy”
Premis film ini terlihat menjanjikan. Bercerita tentang latar masa depan, di mana AI adalah salah satu cara untuk bisa menyelesaikan masalah.
Masalah ini datang ketika seorang polisi yang membutuhkan waktu hanya 90 menit untuk membuktikan dirinya tidak bersalah, karena dituduh membunuh istrinya.
Celakanya lagi, yang berhak memutuskan bahwa seseorang bisa menjadi terpidana dan terdakwa adalah seorang hakim yang dibuat dengan menggunakan teknologi kecerdasan buatan.
Cukupkah 90 menit untuk membuktikan seseoang tidak bersalah berdasarkan analisa teknologi AI?
Review Film “Mercy”
Film “Mercy” digarap oleh sutradara Timur Bekmambetov yang muncul dengan ide baru, dan terbilang berani.
Saya berharap film ini punya cerita yang padat dan solid sehingga tidak hanya menjadi rangkaian cerita fiksi biasa saja.
Saya mencoba untuk menangkap ide cerita film ini muncul dengan interpretasi berpikir, apakah sebuah kecerdasan buatan benar-benar akan menggantikan peran manusia?
Bagaimana jadinya jika sebuah keadikan ditegakkan hanya berdasarkan kecerdasan buatan?
Perpaduan pemeran Utama yang dimainkan oleh Chris Pratt dan Rebecca Ferguson sebagai polisi dan hakim pengadilan membuka babak baru.
Babak yang penuh ketegangan psikologis antara manusia dan mesin bernama kecerdasan buatan.
Film ini tidak ubahnya seperti sebuah diskusi yang pada akhirnya menunjuk siapa yang benar dan salah. Siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Namun, apa yang diceritakan di dalam film ini terbilang solid untuk sebuah ide baru di dalam film bergenre Sci-fi.
Bagaimana seorang tersangka dikejar waktu membuktikan bahwa ia tidak bersalah meskipun harus berhadapan dengan bukti-bukti dalam bentuk forensik digital.
Lalu, di sisi lain terlihat pula bagaimana sistem kecerdasan buatan yang mampu mempercepat proses hukum dalam 90 menit saja tanpa bertele-tele.
Bahkan, uniknya sang pengadil bisa langsung menjatuhkan hukuman Ketika terdakwa terbukti bersalah.
Hal ini yang membuat cerita di film terasa relevan di masa kini.
Mengingat teknologi diinterpretasikan di dalam mindset memang dibuat untuk mempersingkat semua hal.
Gambaran-gambaran seperti ini yang kemudian dibangun di film “Mercy.”
Ketegangan dalam bentuk diskusi antara terdakwa dan hakim dari AI menjadi poin penting di dalam film ini.
Cara awal yang langsung menarik perhatian penonton dan dibangun dengan baik oleh sang sutradara.
Pada bagian ini, saya yang menonton film ini berhasil mendapatkan ketegangan intens tersebut.
Ide Bagus, Namun Kurang Solid
Sekali lagi, ini ide baru yang diterapkan dalam sebuah film. Namun, menjelang sepertiga akhir film ini menjadi berantakan dan “patah.”
Saya berharap dibalik teknologi tinggi yang menjadi landasan film ini, akan ada sebuah penyelesaikan masalah yang masuk akal.
Yang memungkinkan bagaimana manusia bisa berhadapan langsung dengan mesin bernama kecerdasan buatan.
Setelah menonton film ini hingga selesai, kenapa pemilihan akhirnya “seperti itu?”
Apakah sang detektif polisi sebenarnya bisa membuktikan bahwa ia tidak bersalah karena tuduhan atas pembunuhan istrinya?
Atau, sang detektif tetap dieksekusi, dan kemudian menjadi awal dari bagaimana sebuah perlawanan terhadap sistem berbasis kecerdasan buatan dimulai?
Mengingat film ini menempatkan misteri dan thriller sebagai bagian dari genrenya, “Mercy” seharusnya mampu membawa penonton larut atau bahkan menentukan sendiri bagaimana interpretasi mereka terhadap kasus yang ada di ceritanya.
Ditambah lagi, film misteri dan thriller akan selalu menghadirkan sudut pandang bagaimana sebuah cerita ditampilkan untuk menguji kepercayaan penontonnya.
Hal ini yang membuat film ini kehilangan ruhnya setelah solid di bagian awal.
Menjadikan film ini seperti binggung dalam eksekusi akhir, premis yang tidak disertai dengan membangun keyakinan penonton.
Film yang kemudian akan menguji apakah fakta, kebenaran dan keadilan adalah mutlak melalui suatu hal yang diputuskan oleh kecerdasan buatan?
Atau hanya menjadikannya sebagai alat tanpa perlu di uji demi hal yang instan?
Terlepas dari kegagalan bagaimana eksekusi film secara keseluruhan, namun permainan CGI yang rapi masih menolong eksistensi film “Mercy.”
Dan tentu saja, penampilan Chris Pratt dan Rebecca Ferguson sebagai pemeran utama yang cukup baik dan membuat kejanggalan film ini sedikit bisa terlupakan.
Satu penutup dari dari saya tentang ulasan film “Mercy,” kekhawatiran bahaya AI yang dipercaya dengan penuh keyakinan bisa membuat orang-orang lupa bahwa mereka memiliki satu kecerdasan lain yang tersimpan di kepalanya.
Kecerdasan itu bernama otak manusia.
Chris Pratt Tampil Serius
Nilai positif lain dari film “Mercy” adalah Chris Pratt yang tampil serius.
Selama ini Chris Pratt selalu identik peran komedi yang komikal dan konyol.
Namun, di film Mercy ada sedikit peningkatan dari Chris Pratt dalam memainkan perannya.
Satu hal yang saya rasa positif adalah menonton adegan bagaimana ia bertarung dalam pikiran psikologis dengan sang hakim yang diperankan oleh Rebecca Ferguson.
Penampilan yang baik dari Chris Pratt mampu bertandem baik dengan Rebecca Ferguson yang “dingin” dan selalu punya cara untuk mengeksekusi apa yang dimainkannya.
Paduan dua aktor ini menjadi satu momen yang kuat dan menjadi penyeimbang untuk naskah yang bolong di bagian akhir film.
Baca juga: Ulasan Film 28 Years Later: The Bone Temple Sekuel yang Unik!
Sekian ulasan film “Mercy” dari ulasanwarga.com.
Saat ini “Mercy” sedang tayang di bioskop-bioskop Indonesia dan kalian bisa membuat ulasan tersendiri tentang film ini.
Baca juga: Ulasan The Rip: Film Action Solid, Penuh Intrik Psikologis dan Twist
Mengingat film ini merupakan produksi Amazon MGM Pictures, bukan tidak mungkin dalam waktu dekat juga akan tayang di Prime Video.







