“Install Fraud” merupakan ancaman nyata dalam area pekerjaan digital marketing. Di Indonesia, “Install Fraud” pun sering terjadi, khususnya bagi perusahaan yang menggunakan aplikasi dalam menjalankan bisnisnya.
Saat kami mengikuti webinar yang diselenggarakan oleh AppsFlyer, ulasanwarga.com mendapatkan insight menarik.
Salah satu pembicara mengingatkan adanya potensi kenaikan “Install Fraud” di Indonesia saat campaign di bulan Ramadan, berdasarkan data dari tahun 2025.
“Install Fraud” adalah bentuk kecurangan dalam ekosistem pemasaran digital, khususnya iklan untuk instal aplikasi.
Secara umum, instal aplikasi ini dipalsukan atau dimanipulasi agar pelakunya mendapatkan keuntungan finansial.
Jika dalam iklan instal aplikasi biasanya akan dihitung dari Cost Per Install (CPI) atau atribusi lainnya di dalam aplikasi secara tidak sah.
Hal ini yang biasa disasar oleh fraudster.
Sebagai praktisi yang terus belajar perkembangan tentang digital marketing, saya belajar banyak hal tentang hal ini.
Pengalaman berharga yang saya dapatkan adalah ketika mengelola iklan untuk instal aplikasi dengan kategori shopping.
Dalam pengalaman tersebut menggunakan publisher yang populer ternyata belum memberikan hasil yang maksimal untuk mencapai tujuan akhir dari sebuah instal aplikasi, yaitu konversi.
Alih-alih mendapatkan konversi, saya hanya melihat angka-angka yang begitu tinggi untuk volume instal, namun angka yang rendah untuk mendapatkan angka user yang melakukan registrasi hingga melakukan pembelian atau purchase di dalam sebuah aplikasi.
Untuk meminimalisir risiko tersebut saya pernah menggunakan dua alat tambahan yaitu AppsFlyer dan Branch.io
Update Terbaru, 27 Januari 2026
“Install fraud pada aplikasi bisa memicu terjadinya jumlah klik dan instal yang palsu. Dari pengalaman kami mengelola salah satu campaign instal aplikasi dengan CPI yang kecil, memicu terjadinya fake instal atau instal palsu yang justru berakibat buruk pada aktivitas event di dalam aplikasi.
Instal terlihat banyak, namun aktivasi di dalam aplikasi sangat kecil, atau bahkan tidak ada. Penting untuk melihat dan menyadari agar tidak terpancing dengan biaya CPI rendah yang ditawarkan oleh publisher.
Patut juga untuk diperhatikan agar pengetesan biaya CPI rendah bisa dilakukan sebagai A/B testing untuk mengetahui objektif yang ingin dicapai tentang volume instal yang ingin dicapai.”
Hasil ini saya dapatkan ketika sudah menjalankan aplikasi untuk kategori lifestyle khususnya untuk Android.
Ini dilakukan oleh fraudster yang secara sengaja memanipulasi atau memalsukan proses instal aplikasi seolah-olah terlihat berasal dari iklan yang sah.
Faktanya, pekerjaan ini dilakukan bot, sistem otomatis, dan berbagai teknologi yang sifatnya manipulatif.
Dampak besar dari semuanya ini strategi pemasaran tidak tepat dan berakibat kerugian besar pada sebuah bisnis, terutama mengandalkan aplikasi yang diiklankan melalui berbagai macam platform.
Tim data, marketing, pengembang aplikasi, produk biasanya akan terdampak mengingat data yang didapatkan menjadi tidak valid dan bisa berimbas pada bisnis yang sedang berjalan.
Kenali Jenis-jenis Install Fraud

Secara umum, terdapat beberapa jenis “Install Fraud” yang sering terjadi dalam digital marketing. Berikut beberapa diantaranya:
- Click Injection
Jenis fraud ini paling umum terjadi di Android ketika malware di hp medeteksi user yang akan install aplikasi.
Saat penginstalan aplikasi akan selesai, fraudster dengan teknologinya sengaja “menyuntikkan klik palsu.”
Sementara itu, sistem atribusi yang tidak punya teknologi bagus justru mengira instal berasal dari iklan yang sedang dijalankan.
Secara umum, ini terjadi di Android dan banyak berasal dari dari device atau OS tertentu.
- Click Flooding
Jenis berikutnya adalah ketika fraudster mampu mengirim jutaan klik palsu ke banyak user.
Ketika seorang user benar-benar melakukan install secara organik dan kesadaran diri, fraudster mengirimkan klik palsu.
Klik palsu ini tidak terdeteksi dan secara atribusi dianggap sebagai hal yang sah serta dihitung
“menang atribusi” dalam platform iklan.
Jenis fraud ini cukup sulit untuk terdeksi.
Namun, jika Mobile Measurement Partner, memiliki teknologi yang bisa mengatasinya hal ini tentunya akan memberikan dampak positif bagi para praktisi digital marketer.
Ciri-ciri dari Click Flooding diantaranya adalah CTR tinggi, namun retensi user rendah.
- SDK Spoofing
Selain Click Flooding yang sulit terdeteksi, SDK Spoofing juga merupakan hal yang sulit terdeteksi.
Proses yang memmbutuhkan keterampilan teknis mendeteksi hal ni.
Fraudster disebut memalsukan data server-to-server seolah-olah install terjadi. Faktanya, tidak pernah ada instalasi.
Hal ini yang akhirnya membuat bisnis mengalami kerugian, karena event di dalam aplikasi tidak pernah terbuka hingga akhirnya data dari device yang tidak konsisten.
- Teknologi Bot atau Emulator
Teknologi bisa berbahaya jika jatuh di tangan yang salah. Ini yang terjadi jika dalam iklan aplikasi, diselubungi oleh bot emulator.
Dari teknologi ini tidak ada aktivitas dari manusia sama sekali. Semuanya dilakukan melalui bot atau emulator.
Hasilnya, tidak akan ada event setelah install di dalam aplikasi dan device ID yang duplikat.
Pencegahan Install Fraud saat Menjalankan Iklan Aplikasi

Di Indonesia, potensi “Install Fraud” tetap tinggi, terutama bagi bisnis baru yang sedang mencoba memulai mengiklankan aplikasinya.
Bagi sebuah bisnis yang sudah berjalan 6 atau 7 tahun, tentunya sudah bisa mendapatkan data yang lebih akurat dan bisa mencegah munculnya potensi “Install Fraud.”
Meskipun begitu, tetap saja pada digital marketer tetap harus waspada.
Oleh karena itu, akan selalu ada butuh cara untuk mengatasi dan mencegah munculnya fraud.
Apalagi, dari webinar yang kami ikuti, perwakilan AppFlyer meminta untuk tetap waspada terjadinya “Install Fraud.”
Salah satu yang paling umum dan disukai oleh banyak pengiklan adalah menggunakan SKAdNetwork (SKAN) untuk menjalankan iklan aplikasi iOS.
Fungsi dari SKAN sendiri adalah membatasi manipulasi klik,
Hal ini tentunya sangat bermanfaat bagi pengiklan yang ingin mengiklankan aplikasi berbasis iOS.
Khususnya saat campaign Ramadan yang memang menjadi momen untuk menjalankan iklan seasonal di Indonesia.
Baca juga: Tantangan dan Strategi ASO Untuk Meningkatkan Konversi di Aplikasi
1. Pilih Mobile Measurement Partner (MMP)
Salah satu cara pencegahan atau meminimalisir risiko terjadinya “Install Fraud” adalah dengan menggunakan beberapa MMP popular yang sering dipercaya pengiklan.
Beberapa nama MMP yang popular di Indonesia diantaranya adalah Adjust, AppsFlyer, hingga Branch.io.
Ulasanwarga.com pernah menggunakan AppsFlyer dan Branch.io.
Seiring berjalannya waktu,teknologi yang digunakan di dalam dua MMP ini selalu berkembang.
Namun, secara umum, MMP punya peran penting untuk mendeteksi atau meminimalisir terjadinya “Install Fraud.”
Mulai dari mendeteksi anomali, hingga membantu pengiklan untuk belajar dan memahami analisa atribut dari setiap event yang ada di aplikasi.
Bahkan, untuk beberapa hal MMP jauh lebih akurat dibandingkan dengan atribusi dari Google atau Meta.
2. Penting untuk Fraud Prevention Rules
Jika punya tim yang kuat dan kompak, inilah untuk bekerjasama dengan tim teknologi atau IT dan menerapkan Fraud Prevention Rules.
Tujuan dari cara ini adalah membuat aturan otomatis dan menyelerasakan MMP dengan server, atau backend) yang berfungsi untuk mendeteksi pola mencurigakan hingga mengecualikan trafik fraud.
Untuk hal ini, semua kepala dari tim marketing, produk, IT dan data harus memiliki mindset yang sama dan memang membutuhkan effort kerja yang lebih luas untuk mencegah terjadinya “Install Fraud.”
3. Fokus Setelah Proses Instal
CPI kerap selalu menjadi acuan penting ketika menjalankan iklan aplikasi.
Namun, jangan terlalu fokus pada hal tersebut.
Pastikan juga untuk melihat retensi dari user, session, bahkan untuk event penting di dalam aplikasi.
Jika ingin melihat dan menghitung konversi atau ROI bisa langsung pantau dan kelola aplikasi dengan melihat event seperti purchase dan yang paling penting adalah register.
4. Pilih Partner Iklan yang Tepat
Selain Google Ads dan Meta Ads, ada banyak partner iklan yang sering menawarkan kerjasama.
Namun, jangan gunakan jaringan iklan yang tidak terpercaya.
Jika memungkinkan pastikan ada audit dari teknologi yang mereka gunakan.
Baca juga: Tantangan Menyiapkan Strategi Campaign Ramadan di 2026
5. Audit Iklan Secara Rutin
Tak hanya dari eksternal, pastikan juga untuk melakukan audit sendiri terhadap iklan yang dijalankan.
Beberapa diantaranya adalah dengan membandingkan data dari MMP dengan ad network seperti Google dan Meta.
Selalu cek anomali yang tidak wajar untuk memastikan mengambil langkah strategis dalam iklan yang dijalankan.







