Home » Hiburan » Film » Ulasan “Wuthering Heights”: Romansa Sensual yang Bercerita Tanpa Arah

Ulasan “Wuthering Heights”: Romansa Sensual yang Bercerita Tanpa Arah

ulasan-wuthering-heights

Film “Wuthering Heights” hari ini sudah resmi tayang di bioskop. Mengambil inspirasi dan bukan adaptasi dari novel karya Emily Brontë, seperti apa ulasan film “Wuthering Heights?”

Kenapa “Wuthering Heights” Menarik Perhatian?

Sebelum masuk ke ulasan film “Wuthering Heights” ada beberapa hal lain yang ingin saya sampaikan terlebih dahulu:

  • Film ini digarap oleh sutradara Wanita, Emerald Fennell yang pernah menggarap “Promising Young Woman” dan sempat memicu diskusi yang hangat tentang bagaimana cerita sebuah film yang unik.
  • “Wuthering Heights” hadir dengan latar belakang Inggris yang klasik, di mana masalah rasisme, kekerasan rumah tangga dan masalah status sosial masyarakat pada masanya. Namun, Emerald Fennell mengambil pendekatan yang berbeda untuk film ini dengan mengedepankan romansa yang sensual.
  • Film “Wuthering Heights,” terinspirasi dari novel legendaris karya Emily Brontë yang sudah pernah diadaptasi dalam berbagai versi. Termasuk versi Emerald Fennell yang sedang tayang di bioskop.

Sinopsis Film “Wuthering Heights”

Cathy adalah gadis manis yang selalu terlihat bahagia meskipun tumbuh besar bersama ayahnya yang pecandu alkohol di sebuah area perkebunan.

Namun, suasana berubah ketika ia bertemu dengan seorang lelaki yatim piatu yang dibawa pulang oleh sang Ayah. Cathy memberikannya nama Heatchliff dan menjadikannya sebagai seorang teman.

Kehidupan dewasa Cathy dan Heathcliff kemudian berubah. Realita di masa itu, batasan antara kelas sosial dan materi sangat tinggi. Pandangan dari realita sosial ini yang kemudian terjadi antara Cathy kepada Heathcliff.

Lalu, apa yang terjadi pada kehidupan mereka setelah hubungan keduanya yang semakin renggang?

Jawabannya, tentu bisa ditemukan di film “Wuthering Heights” yang sedang tayang di bioskop.

Review Film “Wuthering Heights”

ulasan-wuthering-heights

Dalam novelnya “Wuthering Heights” mengisahkan romansa yang intens, gelap, dan obesesi yang berlebihan.

Latar belakang romansa ini datang dari perbedaan kelas sosial yang memang menjadi dasar kehidupan di masa tersebut.

Sementara itu, film ini kurang lebih mengangkat latar belakang yang sama. Namun, film ini mengambil sudut pandang yang berbeda dan bukan lagi tentang adaptasi dari novel klasik.

Sang sutradara Emerald Fennell ingin “bebas” dan membiarkan interpretasi tentang film berjalan dengan sendirinya.

Dari pandangan saya sebagai mantan konten editor yang mengulas beberapa film, saya belum pernah menemukan film yang menyimpang jauh dari novelnya.

Sebagai sutradara, Emerald Fennell, membiarkan film ini lebih liar ketika bicara cinta.

Mulai dari hasrat seksualitas, cemburu, hingga balas dendam dengan memanfaatkan kehebatan pemeran utamanya yang bermain-main dengan drama psikologis yang terbilang intens.

Dalam mengarahkan filmnya, Emerald Fennell sedikit melupakan hal-hal tentang kekerasan kelas, rasisme berdasarkan kasta, hingga trauma sebuah generasi pada masa itu yang terpampang jelas di dalam cerita novel.

Dari sudut pandang saya, sang sutradara lebih memilih menggambarkan kisah romansa yang mungkin bisa dibilang lebih ekstrim.

Satu gambaran yang tampaknya sudah disampaikan sejak awal film, terutama ketika menggambarkan masa kecil Catherine “Cathy” Earnshaw.

Jika lebih detil, mungkin penonton nanti bisa menemukan beberapa simbol-simbol seksual yang tersebar di awal filmnya.

Rasanya, naskahnya pun memang disiapkan untuk hal tersebut. Sehingga membuat pemeran utamanya terlibat dalam adegan dan dialog yang bermain-main dengan sifat obsesif melalui gesturnya.

Dan barulah kemudian dibungkus dengan hal-hal yang terkait tentang cinta, balas dendam, dan kekerasan.

Naskah Kosong Bikin Pemeran Bercerita Tanpa Arah

Tak ada yang salah dengan pilihan sutradara untuk membuat filmnya menjadi seperti ini. Namun, saya merasakan naskah ini terasa kosong.

“Wuthering Heights” tak ubahnya seperti drama cinta seperti di film-film lainnya.

Hal janggal lainnya menurut saya adalah keterlibatan pemeran utamanya yaitu Jacob Elordi dan Margott Robbie.

Robbie dan Elordi adalah aktris dan aktor yang kemampuannya sudah diakui mempunya auranya sendiri dalam memainkan seni peran dengan baik.

Namun, chemistry ini keduanya tidak terlihat di film “Wuthering Heights” dan semuanya terlihat seperti dipaksakan. Ada beberapa hal yang terasa canggung, namun seperti ditutupdengan pendekatan sensualitas yang menjadi pembedanya.

Mungkin saja, Emerald Fennell memang memilih cara ini. Menyiapkan satu hal yang berbeda dari novelnya. Namun, konflik yang ingin diungkap menjadi terasa kurang.

Saya membayangkan, jika film versi Emerald Fennell ini yang akan dibuatkan novelnya, maka akan seperti membaca cerita stensilan yang popular di era ’80-an di Indonesia.

Tak hanya itu, Margot Robbie rasanya tidak tepat memainkan karakter sebagai Cathy. Ia seperti kesulitan menampilkan seorang wanita polos dan kemudian beranjak menuju status sosial yang lebih tinggi.

Gambaran yang saya dapatkan, Margot Robbie terlihat terombang-ambil dengan dilema romansa yang ia rasakan saat bertemu kembali dengan Jacob Elordi dan inilah menu utama dari cerita film ini.

Sinematografi “Wuthering Heights”: Komposisi yang Hampa

ulasan-wuthering-heights

Linus Sandgren berhasil mengeksplorasi keindahan melalui visual yang ditata dengan baik. Sebuah kisah dari tanah Inggis yang lembab, gloomy, namun harus berhadapan dengan cerita yang ekstrim.

Namun, dengan cerdas Linus Sandgren memainkan komposisi yang apik di setiap pengambilan gambarnya.

Dari sudut pandang saya, beberapa scene memang terasa pas dengan cerita “Wuthering Heights” yang mengeksplorasi cinta dengan sensual versi Emerald Fennell.

Hal ini yang membuat tampilan visual dari “Wuthering Heights” terasa hampa. Naskahnya yang kosong gagal menyatukan emosi yang seharusnya bisa lebih tersampaikan melalui konflik yang lebih tajam dari pada cerita tentang romansa dan sensualitasnya.

Sekali lagi, ini mungkin pilihan yang diambil oleh Emerald Fennell sebagai sutradara. Eksplorasi yang ia pilih memang mungkin tidak sesuai dengan ekspektasi penonton yang membaca novelnya.

Namun Emerald Fennell punya perspektif sendiri jika membuat sebuah film yang terinspirasi dari novel “Wuthering Heights.”

Dari sudut pandang saya, film ini hanyalah romansa dengan caranya sendiri. Lebih memilih alur cerita yang sederhana, tanpa chemistry karakter yang kuat. Jika ingin menemukan bagaimana adaptasi novelnya berjalan mulus di film “Wuthering Heights” penonton tidak akan mendapatkanya.

Baca juga: Film Hollywood Terbaru Februari 2026: “Crime 101” Hingga “Wuthering Heights”

Baca juga: 27 Film Hollywood yang Akan Tayang di Bioskop Tahun 2026

Jika ingin perspektif lain, maka film “Wuthering Heights” versi Emerald Fennell adalah pilihan yang tepat untuk ditonton di bioskop.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *