Home » Hiburan » Film » Ulasan Film The Bride! Impresif dengan Set Produksi Memesona

Ulasan Film The Bride! Impresif dengan Set Produksi Memesona

review-the-bride

Maggie Gyllenhaal mungkin dikenal sebagai aktris yang memorable di film “The Dark Knight” sebagai Rachel Dawes. Namun, dalam ulasan film berjudul “The Bride!,” saya harus angkat topi untuk Maggie Gyllenhaal, karena ia menjadi sutradara salah satu film yang saya nominasikan sebagai yang terbaik di tahun 2026.

Dari sekian banyak film-film yang melibatkan karakter Frankenstein, namun, “The Bride!” menjadi unik karena diceritakan lagi The Bride of Frankenstein hasil karya James Whale yang melegenda pada tahun 1935.

Namun, apa yang disiapkan Maggie Gyllenhaal untuk film ini? Berikut keseruan pengalaman saya menonton langsung film “The Bride!” yang sudah mulai tayang di bioskop sejak tanggal 4 Maret 2026.

Sinopsis “The Bride!”

Frank (Christian Bale) adalah monster yang kesepian. Untuk menghalau kesendiriannya, ia yang pergi ke Chicago, Amerika Serikat, dan meminta Dr. Euphronios untuk menciptakan pendamping hidupnya.

Pada saat yang bersamaan seorang wanita muda bernama Ida yang dibunuh menjadi misteri tersendiri. Tapi, bagi Dr. Euphronios ini adalah kesempatannya untuk membuatkan pendamping bagi Frank. Ida dihidupkan kembali, dan lahirlah The Bride (Jessie Buckley).

Review Film “The Bride!”

Meskipun masih berada dalam ruang lingkup cerita Frankestein, film The Bride! mampu tampil menjadi ceritanya sendiri.

The Bride sejatinya adalah karakter tambahan yang lahir dari kisah legendaris Frankenstein. Dan inilah poin penting yang disampaikan di dalam film ini.

Karakter tambahan ini kemudian menjadi karakter utama, menjadi penyeimbang dari Frankenstein.

Secara cerita, apa yang ditampilkan di dalam dan oleh The Bride menjadi satu sudut pandang yang menarik untuk ditonton.

Meskipun diciptakan ulang dan menjadi monster, ternyata The Bride tetap tak mampu menjadi dirinya sendiri. Ia tetap dipengaruhi oleh laki-laki, dan memang diciptakan untuk memenuhi hasrat monster Frankenstein.

Perpaduan The Bride dan Frank dalam film ini kemudian menjadi sesuatu yang mengejutkan saya. Cerita film ini hadir dalam berbagai macam bentuk versi film pasangan kontroversial lainnya.

Alur cerita kemudian menjadi tidak teratur dan seperti mengajak saya melihat “Bonnie & Clyde,” dan “Joker: Folie à Deux.”

Tapi kegilaan ini justru saya nikmati. Melihat film dari sudut pandang yang lain tentang romansa dan memang mampu memberikan hiburan tersendiri.

Chemistry Christian Bale dan Jessie Buckley

Kalau bicara akting Christian Bale, saya rasa penampilannya sudah tidak perlu diragukan lagi. Tapi yang selalu menjadi ciri khas dari Christian Bale adalah ia selalu tampil total untuk perannya.

“American Psycho”, “Equilibirium,” trilogy “Batman,” “The Machinist” hingga “Ford v Ferrari” adalah beberapa film yang menampilkan akting total dari Christian Bale.

Lalu, bagaimana dengan Jessie Buckley? Buat saya, penampilan Jessie Buckley sudah mencuri perhatian di beberapa tv series yang pernah tonton seperti “Taboo”, “Chernobyl,” hingga “Fargo.”

Tapi, di film saya baru melihat penampilannya di film “The Lost Daughter.” Tapi di film “The Bride!” Jessy tampil memerankan tiga karakter sekaligus.

Dalam narasinya, ia menjadi Mary Shelley pada pembukaan film, sebagai gadis muda bernama Ida yang tewas, dan terakhir menjadi karakter The Bride.

Hal yang saya suka dari dua pemeran utama adalah chemistry yang ditampilkan di sepanjang film. Begitu kuat, tidak tumpang tindih dan semua ada pada porsi masing-masing.

Chemistry ini betutur secara dinamis dan saling mengisi satu sama lain dan kemudian menjadikan ceritanya lebih kuat meskipun kerap hadir dengan plot yang mengejutkan.

Production Design yang Memang Dirancang Untuk Festival

review-film-the-bride

Dengan latar belakang di tahun ’30-an, “The Bride!” sang sutradara benar-benar menyiapkan film ini dengan matang.

Saya menilai ini sejalan dengan komposisi visual yang dihadirkan di dalam film. Mulai dari kostum, lighting, dan dilengkapi dengan sinematografi yang hebat.

Semua hal klasik yang digabungkan dengan fantasi legenda monster Frankestein dan dialog-dialog yang juga penuh dengan dialek bahasa di masa lalu menjadikan penonton ikut terbawa dalam sebuah suasana realita kerasnya Chicago di tahun ’30-an.

Cantiknya tim produksi mengemas film ini dipadukan dengan cerita yang kacau dan menunjukkan identitas film “The Bride!” dan menjadikannya satu poin plus yang membuat film ini layak ditonton di bioskop.

Baca juga: Ulasan “Wuthering Heights”: Romansa Sensual yang Bercerita Tanpa Arah

Baca juga: Film Terbaru Maret 2026: Judul Apa yang Ramai Penonton?

Apakah “The Bride!” Layak Ditonton di Bioskop?

Jawabannya, ya dan sangat layak. Naskah yang kuat, chemistry yang sangat baik, pemeran utama yang tampil total dan set produksi yang matang adalah kunci dari film ini.

“The Bride!” tidak hanya menjual fantasi tentang monster atau drama romantis yang penuh dengan cinta dan senyuman yang membuat antar karakter hingga penonton tersipu malu.

Film ini juga bukan tentang horor. Tapi sebuah film yang ingin dikenang karena menampilkan ambisi, ego dan jati diri yang dibalut dengan sangat chaos dan gelap.

Film yang ingin bercerita dengan caranya sendiri, tanpa harus dipengaruhi oleh cerita-cerita legendaris yang erat kaitannya dengan monster bernama Frankenstein.

Tidak ada yang salah ketika aktor dan aktris pendukung seperti Jake Gyllenhaal dan Penelope Cruz tidak terlalu banyak memberikan pengaruh yang kuat karena memang, film ini menempatkan ceritanya pada Christian Bale dan Jessie Buckley sebagai bintang utamanya.

Film ini memang tidak untuk semua orang, karena bukan drama romantis atau monster yang penuh fantasi. Tapi bagi yang menyukai film dengan sentuhan psikologis melalui drama dengan alur yang chaos, maka The Bride! adalah tontonan yang tepat.

Satu lagi, saya merasa film ini layak untuk mendapatkan salah satu dari nominasi Oscar. Mungkin bukan tentang ceritanya, tapi dari set produksi yang memang benar-benar memukau.

Pada akhirnya, Maggie Gyllenhaal sebagai sutradara mampu memberikan satu sudut pandang baru untuk sebuah film.

Satu cerita yang berani, tidak berlebihan dalam menguras romansa, tapi berani liar dan keluar dari imajinasi-imajinasi standar yang selama ini muncul tentang sosok monster bernama Frankenstein.

Sekali lagi, film ini sedang tayang di bioskop-bioskop Indonesia, seperti CGV, Cinepolis dan XXI.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *