Home » Hiburan » Film » Ulasan “War Machine:” Film Action yang Brutal dan Penuh Fantasi

Ulasan “War Machine:” Film Action yang Brutal dan Penuh Fantasi

review-war-machine

Film “War Machine” baru saja tayang perdana tanggal 6 Maret 2026 di Netflix. Sebelum melangkah ke review atau ulasan film “War Machine”, apakah film ini sebenarnya layak untuk ditonton?

Sebagai sebuah hiburan, jelas film ini akan menjadi hal yang menarik di akhir pekan ini. “War Machine” mampu mengarahkan penonton untuk melihat film tentang aksi perang, kepemimpinan dan konflik yang mengarah ke masa lalu.

Tapi, ada fakta-fakta menarik lain yang perlu diketahui tentang film ini.

Fakta Menarik Film “War Machine”

1. Nama Karakter diganti dengan nomor

Satu fakta utama yang saya temukan setelah menonton film ini adalah beberapa nama karakter di sini diganti dengan nomor sebagai identitas, termasuk untuk karakter utama yang diperankan oleh Alan Ritchson.

Alasannya dijelaskan dengan detil di awal film, kenapa beberapa karakter memang hanya diberi label nama, sehingga akan menjadi penanda dan bagian-bagian penting lainnya di sepanjang perjalanan film.

2. Kerjasama Lionsgate dengan Netflix

Fakta lainnya, film ini merupakan bentuk kerjasama Lionsgate dengan Netflix. Lionsgate bisa dibilang adalah perusahaan yang memproduksi dan mengembangkan film ini. Sementara itu, Netflix akan mendisitribusikannya secara global melalui platform mereka.

Sinopsis “War Machine”

Obsesi membuat nomor 81 selalu ingin bergabung menjadi bagian dari ranger dan mencapai garis finis dari pelatihan yang ia jalani. Tapi, saat pelatihan dimulai ia menemukan banyak kejanggalan.

Mulai dari identitas perangkat mengerikan hingga kematian teman-teman satu latihannya yang mau tidak mau menguras pikiran dan tenaganya.

Bisakah nomor 81 mengatasi masalah ini?

Review Film “War Machine”

review-war-machine

Film ini dibuka dengan adegan yang direct, tanpa basa-basi dan langsung menjelaskan kenapa nomor 81 (Alan Ritchson) adalah target utama dari cerita film ini. Semuanya berjalan mulus.

Mulai dari perjalanannya sebagai Engineer yang penuh duka saat bertugas perang di Timur Tengah, keinginannya menjadi seorang Ranger hingga trauma dan isu kesehatan yang dialaminya.

Saya menikmati semua bagian ini, dan sampailah pada pertarungan elit yang melibatkan militer dengan sebuah robot perang yang datang entah dari mana.

Jujur saja, saya takjub melihat pertarungan antara manusia dan robot ini. Brutal, kasar dan tanpa ampun. Menunjukkan bagaimana memang manusia adalah sekelompok pecundang yang masih belagu ketika harus berhadapan dengan robot.

Kebrutlan ini juga terlihat ketika bagaimana dengan secara gamblang dampak senjata-senjatanya yang memang bisa merusak tubuh manusia hingga hancur lebur.

Apalagi, robot-robot ini dilengkapi alat canggih seperti kemampuan scan tanpa batas dan senjata mematikan. Bahkan, hingga akhir film robot ini masih menjadi hal-hal yang mengerikan bagi peradaban manusia modern.

Meskipun memiliki asupan adegan action yang dikemas dengan menarik, tapi film ini meninggalkan beberapa lubang yang begitu menganga di ceritanya.

Bukan lubang yang dibuat oleh robot di tubuh manusia ketika melepaskan hulu ledaknya, tapi lubang yang membuat cerita menjadi canggung.

Cerita Film yang Memang Dibuat Untuk OTT

Patrick Hughes sutradara sekaligus menjadi tandem James Beaufort sebagai penulis naskah memang menyiapkan film ini untuk OTT (Over-The-Top) karena memang film ini hadir hanya di Netflix.

Inilah yang pada akhirnya membuat saya merasakan ada banyak lubang di beberapa cerita, bahkan ada juga menjadi bertele-tele.

Jika ingin membuat cerita ini lebih padat, mungkin bagian drama dari film ini sedikit lebih dikurangi. Diganti dengan adegan action yang benar-benar intent dan menguras energi penonton karena lebih memicu adrenalin.

Menurut kepercayaan saya, secara logika sangat sulit bagi individu atau militer mana pun menghadapi robot pembunuh yang nyaris sempurna di film “War Machine.”

Tapi, jika kita bicara konteks bahwa film ini memang hanya disajikan di OTT dan adalah hiburan film ini mampu memberikan hiburan tersendiri.

Eksplorasi Alan Ritchison

Nama Alan Ritchison memang semakin berkibar ketika berperan sebagai Reacher di series yang tayang di Prime Video.

Namanya, semakin melambung ketika dirumorkan akan memerankan Batman. Namun, apa yang disajikan Alan Ritchison di film “War Machine” masih terasa kurang tegas.

Apalagi, jika dibandingkan dengan perannya sebagai Reacher yang juga pernah bertugas di militer, peran Ritchison di “War Machine” jadi terasa kurang tegas.

Karakter 81 yang dimainkannya lebih banyak di dramatisir oleh masa lalunya yang terus-menerus memicu untuk menyelesaikan konflik di dalam film ini.

Meskipun memiliki peran sentral, Alan Ritchison sebenarnya masih bisa mengeksplorasi lagi perannya dengan maksimal.

CGI “War Machine” Nyaris Sempurna

cgi-film-war-machine

Sebagai sebuah film action yang menyelipkan hal-hal futuristik dan sedikit sentuhan Sci-Fi, “War Machine” tampil nyaris sempurna.

Saya sampai mencoba menonton ini dua kali, satu di televisi yang sudah mendukung resolusi 4K dan di HP dengan ukuran layar yang lebih kecil.

Saya tidak menemukan adanya kejanggalan untuk produksi CGI yang melibatkan beberapa hal adegan penting seperti transformasi robot, pergerakan robot, hingga ledakan.

Dan tentu saja ada warna sungai yang cantik sempurna untuk memberikan ketenangan kepada penonton ketika adegan berburu manusia dilakukan oleh robot pembunuh seperti tak akan pernah berakhir dalam sebuah scene.

Sound yang Menterjemahkan Ketegangan Film

Setelah menonton film ini saya mencoba mencari tahu, siapa saja yang ada di deretan produser. Saya mencoba mencari nama familiar yaitu Michael Bay yang memang dikenal menghadirkan film-film dengan sound yang unik.

Tapi, saya tidak menemukan nama Michael Bay di deretan produser. Kenapa kemudian saya mencoba mencari tahu hal-hal tentang spesifik dari sound di film “War Machine”

Selama menonton saya merasakan sound yang prima di setiap film ini. Terutama ketika adegan menegangkan yang terjadi antara robot dan para calon pasukan ranger.

Baca juga: Ulasan Film “Pavane:” Gelapnya Cinta dan Berdamai dengan Masa Lalu

Baca juga: Ulasan “The Rip:” Film Action Solid, Penuh Intrik Psikologis dan Twist

Sound Designer untuk film ini tampil sempurna menurut saya. Dari sound yang dibangun juga mampu memunculkan bagaimana film ini bercerita dengan cara yang berbeda.

Ketika adegan fokus pada bagaimana robot menyerang, akan terdengar suara-suara yang bernuansa sci-fi.

Sementara itu, adegan kejar-kejaran antara robot dan manusia juga mampu memberikan suara-suara yang ikut membangun ketegangan di telinga penonton.

Epilog Film “War Machine”

Film ini memang sebuah hiburan yang seru untuk ditonton. Tapi jika ingin melihat lebih luas lagi, film ini sebenarnya punya banyak pontensi lain untuk dinarasikan.

Tidak ada yang salah dengan bagaimana penyampaian cerita, tapi pada akhirnya di beberapa bagian masih terdapat beberapa plot hole yang memang dibiarkan menganga begitu saja.

Sebagai penutup ulasan film “War Machine” saya merekomendasikan film ini sebagai sebuah hiburan, bukan sebagai sebuah film yang memang menyajikan action atau sci-fi dengan cara yang berbeda.

Tidak sempurna, tapi jika Netflix berencana memproduksi sekuelnya saya berharap film ini jauh lebih tertata dengan baik lagi.

Apalagi, di bagian ending “War Machine” seperti memberikan kode, bahwa ada potensi untuk film keduanya.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *