Diantara rilisan film terbaru bioskop di bulan Maret 2026, ada satu film Korea yang menarik perhatian saya, yaitu “Project Y.” Setelah sempat hadir di Toronto International Film Festival 2025, akhirnya film ini tayang juga di bioskop Indonesia.
Di akhir pekan, saya menonton film ini dan berikut review atau ulasan saya tentang “Project Y.”
Beberapa fakta yang sudah tersebar tentang film ini memang mengejutkan. Tapi, dari pada penasaran, saya coba tonton sendiri filmnya. Sebelum itu, coba cek dulu sinopsis film “Project Y.”
Sinopsis Film “Project Y”
Gangnam dikenal dengan kota yang penuh glamor dan berkembang dalam beberapa waktu belakangan ini.
Tapi dibalik itu semua distrik Gangnam adalah tempat yang brutal, kasar dan keras. Hal ini yang dirasakan oleh Mi-seon (Han So-hee) dan teman dekatnya Do-gyeong (Jeon Jong-seo).
Realita hidup penuh gengsi di Gangnam membuat mereka harus berhadapan dengan bos kartel, seorang mucikari, dan bahkan kegilaan lainnya tentang gengsi kota Gangnam.
Bisakah Mi-seon menyelesaikan semua masalah ini?
Review Film “Project Y”
Sejak awal film dibuka sudah diceritakan dengan gamblang. Bahwa Mi-seon adalah seorang LC nomor satu di sebuah kawasan hiburan di kota Gangnam.
Tak ada yang bisa menandingi bagaimana pesona Mi-seon dalam hal ini. Bersama teman dekat yang sudah dianggap sebagai saudara sendiri, mereka selalu berbagi cerita.
Do-gyeong adalah teman yang rela menjadi bodyguard sekaligus orang yang menyelesaikan masalah-masalah administrasi tentang kehidupan malam.
Tapi, pada satu moment, Mi-seon dan Do-gyeong yang ingin segera pergi dari kehidupan ini.
Tapi, mereka tertipu dan membuat tabungan keduanya hilang karena ulah penjahat yang punya bisnis judi online.
Karena terbiasa dengan hidup yang keras Mi-seon dan Do-gyeong berusaha merebut kembali uang mereka yang hilang dengan segala cara.
Tapi, di saat yang bersamaan mereka menemukan setumpuk emas yang ternyata diperebutkan oleh orang berkuasa di dunia yang gelap.
Bisakah Mi-seon dan Do-gyeong mendapatkan hak mereka kembali? Atau memilih mendapatkan emas yang begitu menggoda?
Cerita yang Tidak Tertata dengan Baik
Di sepertiga awal film, saya sungguh-sungguh menikmati “Project Y.” Tapi setelahnya, di sekitar 20-30 menit berikutnya cerita kemudian menjadi seperti tidak tertata dengan baik.
Alur cerita yang semula jelas dengan berbagai latar belakang yang sederhana kemudian menjadi bertele-tele dengan drama yang rasanya tidak perlu.
Beberapa hal yang terkait dengan plot, ditambah dengan beberapa sub-cerita yang dibuat dengan format berulang-ulang.
Konflik Mi-seon dan Do-gyeong dengan Blackjack dibuat terasa sengaja dipanjang-panjangkan tanpa ada hal yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk diceritakan.
Atau, mungkin boleh saja mengenalkan satu karakter dengan satu konflik, tapi tidak dilakukan dengan cara yang berulang-ulang pada permasalahan yang sama.
Seolah-olah film ini ingin membawa penonton pada banyak titik klimaks atas segala konflik. Tapi kemudian diselesaikan tanpa intensitas yang tinggi.
Saya yang menonton pun binggung, apa sebenarnya genre film ini? Crime? Thriller? Atau memang hanya sebuah drama biasa tentang Gangnam yang penuh gengsi dan glamor tapi punya sisi kelam?
Untuk bagian brutalnya, memang didapatkan di beberapa adegan. Tapi justru menjadi canggung ketika beberapa bagian aksi yang keras justru tidak tersampaikan secara emosional melalui karakternya.
Kehadiran sang Ibu yang tiba-tiba ada dan dikembangkan lebih pun sebenarnya membuat saya terkejut. Untung saja, karakter ibu bernama Ga-yeong (Kim Shin-rock) bermain apik meskipun hanya sebentar dengan kegilaannya.
Han So-hee dan Kim Shin-rock yang Memikat

Han So Hee memang selalu memikat dan menjadi andalan sebuah corong cerita. Untungnya ia bisa memainkan karakter Mi-seon dengan cukup baik. Menjadi seorang LC dan gundah dengan rencana pelariannya tentu tidak mudah.
Apalagi, ketika ia harus berhadapan dengan mafia dan Ibunya yang punya masalah kejiwaan sendiri secara tiba-tiba.
Tak ada yang meragukan kemampuan Han So Hee untuk setiap perannya. Asalkan diberikan dengan naskah yang tepat, dan tidak perlu drama yang terlalu besar. Maka Han So Hee mampu menjadi sosok yang berbeda.
Sosok yang bahkan tak punya belas kasih dibalik wajah dingin dan senyuman pahitnya bisa saja jadi lebih mengerikan ketika ia berburu emas atau hanya sekedar ingin mengembalikan tabungannya.
Terlepas dari Han So Hee yang memang menjadi corong cerita di film “Project Y” saya juga menyenangi karakter yang dimainkan Kim Shin-rock sebagai Ga-yeong.
Meskipun karakternya datang dari plot yang terasa tiba-tiba, tapi apa yang dimainkan Kim Shin-rock jelas menjadi pembeda.
Kegilaannya jadi lebih menunjukkan kasar dan kerasnya Gangnam. Ia rela melakukan apa pun hanya untuk satu tujuan, agar putrinya bisa mendapatkan kehidupan yang lebih dari apa yang pernah dijalaninya.
Sayangnya, karakter ini memang harus diselesaikan. Dan di sinilah sisi drama dari Han So Hee yang tak boleh berlama-lama di dalam area kesedihan.
Film ini dengan tegas mengatakan bahwa apa yang ingin dicapai oleh karakter harus terus dilanjutkan di dalam ceritanya.
Meski tidak bertandem langsung dan dalam durasi yang panjang, namun penampilan Han So-hee dan Kim Shin-rock jelas memikat di film ini.
Baca juga: Ulasan Film “Pavane:” Gelapnya Cinta dan Berdamai dengan Masa Lalu
Baca juga: Ulasan “Even If This Love Disappears Tonight:” Ingatan, Patah Hati Paling Manis
Epilog Untuk Film “Project Y”
Ketika film ini dikenalkan dan disebut memiliki sentuhan noir, saya tidak mendapatkan energi dan visual itu di dalam film “Project Y.”
Saya hanya mendapatkan kegamangan Gangnam dengan gensi setinggi langitnya sebagai peradaban modern tapi menyimpan realita yang disembunyikan. Tak ada bedanya dengan kota-kota besar lainnya di dunia ini.
Tapi dengan ganjaran film terbaik di London East Asian Film Festival (LEAFF) ke-10 untuk “Project Y” saya punya satu sisi lain yang membuat film ini seperti membukakan realita yang berbeda tentang kota modern di Korea.
Sebagai sebuah hiburan dan ingin melihat penampilan Han So Hee dengan peran yang menantang, “Project Y” adalah film yang layak ditonton.
Tapi jika ingin mendapatkan pengalaman menonton film kejahatan dengan intensitas thriller yang tinggi, maka hal tersebut sebaiknya dilakukan dengan menurunkan ekspektasi.
Film “Project Y” tidak menawarkan hal tersebut, tapi menampilkan realita bahwa Gangnam tidak hanya sekedar modern, tapi menyimpan sisi gelap yang dibiarkan bermain dengan tak beraturan.







