Kutukan Tomy Shelby memang tak bisa dipatahkan di 6 season seriesnya. Tapi, kutukan ini berakhir di versi film yang berjudul “Peaky Blinders: The Immortal Man” yang tayang di Netflix dan tentu saja akan saya ulas dalam review berikut ini.
Kutukan apa yang sebenarnya terjadi pada Tommy Shelby? Bagaimana nasib Tommy di film ini?
Sinopsis Film “Peaky Blinders: The Immortal Man”
Peaky Blinders masih menjadi cerita di kalangan masyarakat Inggris, khususnya Birmingham di awal tahun 1900-an.
Tapi cerita itu kosong tanpa Tommy Shelby yang seperti menarik dari lingkungan masyarakat. Membiarkan dirinya ditemani rumah kumuh, setumpuk kertas dan mesin tik.
Sampai pada akhirnya sebuah bom mendarat di tanah Inggris, membantai para pekerja tak tidak tahu apa-apa.
Pembantaian yang pada akhirnya memaksa Tommy Shelby berurusan lagi dengan keluarganya.
Mempertahankan harga diri, sekaligus menghapus kutukan yang selalu diinginkannya tapi tak pernah terjadi.
Review Film “Peaky Blinders: The Immortal Man”

Meskipun film ini punya latar yang membuatnya berdiri sendiri, namun apa yang terjadi pada Tommy Shelby tidak bisa dilepaskan dari cerita seriesnya, khususnya di season 6. Tommy yang mulai kehilangan satu per satu saudaranya. Wanita yang dicintainya hingga tipuan palsu seorang dokter yang membuat catatan medis tentang penyakitnya.
Semuanya menjadi rentetan cerita yang juga ikut ambil bagian dari kisah Tommy Shelby di dalam film “Peaky Blinders: The Immortal Man. ”
Sebagai sutradara yang pernah menggarap 3 episode series “Peaky Blinders” di tahun 2013, Tom Harper tahu belum bagaimana menyambungkan kisah gangster yang ditakuti di seluruh Inggris ini pada masanya.
Tapi, Tom Harper ingin memberikan sedikit jeda dan tidak terburu-buru bagaimana kisah karakter Tommy Shelby ini. Mungkin saja, gaya cerita seperti ini ditujukan pada bagi yang tidak pernah menonton series “Peaky Blinders.”
Tom Harper dan penulis naskah Steven Knight ingin memberikan sisi lain seorang Tommy Shelby melalui cerita datar dan sesekali diselingi dengan kisah masa lalu, bahkan langsung menunjuk masa depan dengan menempatkan Duke (Barry Keoghan) yang merupakan putra dari Tom, sekaligus penerus kekuasaan gangster Peaky Blinders.
Semua cerita ini ditata dengan rapi, mengalir dan kemudian menjelaskan bagaimana pada akhirnya, Tommy yang masih hidup dengan trauma.
Sampai pada akhirnya di sisa setengah cerita filmnya, penonton kemudian kembali menyaksikan betapa mengerikannya seorang Tommy Shelby sebagai gangster.
Tommy Shelby Hanyalah Manusia Biasa
Karena dulu secara visual ceritanya adalah series, maka karakter Tommy Shelby adalah sosok yang sempurna dan sulit untuk ditaklukkan bagi siapa pun, maka hal yang berbeda justru terjadi di filmnya.
Tak cukup rasanya menampilkan kembali keganasan Tommy Shelby dalam durasi kurang lebih 1 jam 52 menit.
Jika di series Tommy Shelby punya pengaruh yang kuat sebagai aktor intelektual sekaligus pelaku yang melibatkan gangster, bisnis hingga pengaruhnya di politik secara detil, maka hal ini tidak terjadi di film.
Sutradara Steven Knight mencoba memotong bagian-bagian penting dari karakter Tommy Shelby dan tetap menunjukkan pengaruh kuatnya bagi kehidupan Inggris.
Hal ini terlihat ketika ia menunggangi kuda di jalanan Birmingham, di mana masyarakat terkejut dan kemudian menaruh rasa hormatnya pada sang gangster.
Atau, ketika ia berada di pub, di mana anak-anak muda Inggris yang pongah mencoba menantang Tommy Shelby.
Bagian-bagian detil ini terasa mulus disisipkan di dalam cerita filmnya, sehingga film ini ingin menunjukkan Tommy Shelby adalah manusia biasa.
Ia bukan gangster yang selalu lihai dalam menempatkan pengaruh politiknya atau menjadi eksekutor langsung untuk urusan kiriminal yang dikelola bersama keluarga.
Hal paling dasar yang dimasukkan oleh sang sutradara adalah ketika Tommy Shelby yang galak itu, ternyata bisa menyimpan trauma yang membuatnya hidup bak Bruce Wayne (Batman) di kala tua.
Ia adalah sosok frustasi, hidup dalam tekanan masa lalu, dan ingin mengubah dunia dengan cara yang berbeda, meskipun ia ingin sekali menerima takdirnya sebagai seorang manusia. Yaitu, kematian.
Barry Keoghan dan Rebecca Ferguson yang Mencuri Perhatian

Tak salah rasanya menyebut Cillian Murphy sebagai salah satu aktor terbaik yang ada di dunia saat ini.
Ketika ia diberi naskah yang tepat, maka Cillian Murphy yang dingin akan memainkan peran terbaiknya.
Tentunya, di film “Peaky Blinders: The Immortal Man” Cillian Murphy sebagai Tommy Shelby adalah ikon dari Peaky Blinders.
Peran maksimal justru mampu ditunjukkan oleh Barry Keoghan yang berperan sebagai Duke. Putra dari Tommy Shelby yang bisa dibilang tak kalah jahatnya dibandingkan sang ayah.
Tapi karakter jahat Duke jelas lebih kasar dibandingkan dengan Tommy yang hanya dengan bernegoisasi saja bisa menghancurkan lawan-lawannya.
Meskipun tidak punya kemiripan, namun inilah yang ingin ditunjukkan di dalam film ini. Perbedaan-perbedaan yang membuat penonton akan kembali melihat lagi bagaimana seriesnya berjalan.
Tommy dan saudara-saudarinya selalu memiliki karakter yang berbeda. Tapi karena saudara-saudara Tommy sudah tewas, maka Duke adalah perwakilan dari karakter-karakter kasar tersebut.
Barry Keoghan memainkannya dengan arogansi yang baik, tidak berlebihan dan tidak pula kurang.
Selain Barry Keoghan, nama Rebecca Ferguson juga ikut mencuri perhatian. Meskipun saya sebenarnya melihat ada plot yang bolong dan memaksakan ketika karakter ini muncul.
Padahal, Rebecca Ferguson sebenarnya tidak penting-penting amat di film ini. Tapi, karena aktingnya bagus, dan sekali lagi naskah untuk perannya juga tepat, maka Rebecca Ferguson menjadi terlihat spesial.
Ia menjadi penentu takdir bagi Peaky Blinders dan sekaligus melepas kutukan yang selalu diinginkan oleh Tommy Shelby.
Baca juga: Ulasan “War Machine:” Film Action yang Brutal dan Penuh Fantasi
Baca juga: Ulasan Film “Pavane:” Gelapnya Cinta dan Berdamai dengan Masa Lalu
Peaky Blinders Tahu Kapan Saatnya Berhenti

Bagian akhir dari review saya tentang film “Peaky Blinders: The Immortal Man” adalah bagaimana cerita yang mulus ini sebenarnya masih menyisakan beberapa hal yang menurut saya patut dipertanyakan.
Selain seberapa penting karakter Kaulo (Rebecca Ferguson) dimunculkan latar belakang Perang Dunia II sebenarnya seperti dipaksakan. Meskipun di bagian akhir, catatan penutup yang menyebutkan,pengeboman yang menewaskan banyak pekerja menjadi inspirasi dalam film ini, tidak harus selalu membangkitkan kembali seorang Tommy Shelby.
Tapi kolaborasi sutradara dan penulis merangkai cerita film ini justru menjadi penguat kenapa Tommy Shelby harus dihadirkan kembali, sekaligus diakhiri dengan cara yang gelap, tapi tidak brutal.
Peaky Blinders tahu kapan waktunya untuk berhenti. Lalu, mewariskan kisah legendaris Tommy Shelby yang ingin sekali mendapatkan kutukan yang tidak pernah ia dapatkan.
“Peaky Blinders: The Immortal Man” saat ini sedang tayang dan bisa disaksikan di OTT Netflix.
Penulis adalah mantan content editor yang sudah mengulas lebih dari 100 film dan tv series, jurnalis teknologi yang sudah mengulas lebih dari 500 gadget dan juga pegiat serta praktisi di bidang digital marketing serta SEO. Untuk lebih detil, bisa cek di tautan penulis ulasanwarga.com
