Apakah Content Marketing Masih Jadi Strategi yang Relevan di 2026?

Beberapa waktu yang lalu ramai dengan sebuah tagline yang datang tiba-tiba “Aldis burger cempaka putih rotinya lembut dagingnya juicy lucy mahalini rizky febian” yang viral di media sosial dan bahkan offline.

Apakah ini bagian dari strategi content marketing 2026? Secara tidak langsung iya. Apakah viral ini bisa diadopsi dengan konsep yang sama bagi pemilik bisnis lain? Jawabannya tidak.

Secara sadar atau tidak sadar, apa yang disampaikan oleh Aldi Taher adalah bagian dari content marketing. Ia tidak butuh memasang iklan berbayar, anggaran promo yang besar, tapi produknya bikin penasaran, dicari oleh konsumen bahkan faktanya, ketika Aldis burger tutupu sekalipun!

Persaingan digital saat ini memang sangat ketat dan apa yang dilakukan oleh Aldi Taher adalah bentuk atau celah untuk membuat dunia digital menjadi sangat dinamis dan unik.

Jika dari sekitar 230 juta lebih pengguna internet disebut menghabiskan rata-rata 21 jam 50 menit per minggu di platform digital. Pertanyaannya apakah ketika membuat konten, apakah sudah terjangkau oleh pengguna internet atau bahkan yang sesuai dengan minat mereka?

Oleh karena itu, content marketing tetap dibutuhkan. Bahkan, memang difungsikan untuk jangka panjang. Lihat saja apa yang dilakukan oleh Aldi Taher tentang bisnisnya. Sampai sekarang masih terasa menggaung di mana-mana.

Content marketing tidak hanya tentang menulis di blog, mendapatkan trafik dan leads. Tidak juga hanya posting di Instagram atau TikTok dan kemudian berharap tiba-tiba menjadi viral.

Tapi content marketing adalah sebuah aset jangka panjang yang tetap memberikan dampai setelah bertahun-tahun konten tersebut dibuat.

Apa Itu Content Marketing?

Dalam bisnis content marketing adalah bagian dari strategi pemasaran yang fokus dengan pembuatan hingga distribusi konten yang memiliki nilai dan relevan dengan bisnis yang akan dijalankan. Satu catatan penting, content marketing itu harus dilakukan secara konsisten dengan tujuan untuk menarik dan mempertahankan audiens dan mendorong tujuan yang menguntungkan untuk bisnis tersebut.

Kuncinya, content marketing adalah yang memiliki nilai, relevan dan konsisten. Bukan sekedar konten promo atau konten yang dianggap viral.

Prinsipnya, content marketing selalu memiliki prinsip sederhana, membantu memberi edukasi dan mengenalkan brand hingga produk kepada audiens terlebih dahulu.

Secara bertahap, content marketing akan disiapkan untuk meyakinkan audiens untuk percaya dan membeli produk dari sebuah brand di kemudian hari.

Lalu, apakah content marketing berbeda dengan content yang dibuat untuk iklan? Dari pengalaman saya bekerja sebagai content editor hingga menyelami digital marketing, saya memisahkannya.

Perbedaan paling sering yang saya temukan akan saya coba buatkan tabelnya berikut ini.

Content MarketingIklan
Konten dibuat organik, agar calon konsumen yang tertarik datang sendiri mencari konten AndaKonten yang dibuat untuk ditampilkan dan dikelola dalam iklan agar muncul untuk pengguna yang belum tentu tertarik dengan brand atau produk
Menghasilkan brand awareness, traffic, leads dan mencari kepercayaan calon konsumen dalam jangka panjang, bahkan bertahun-tahunContent yang dibuat tidak akan mungkin sama dalam hitungan mingguan atau bulanan. Ketika biaya iklan habis atau iklan diberhentikan maka tidak akan ada lagi muncul
Jika sudah tertarik, dan relevan calon konsumen akan selalu mengonsumsi konten. Konten yang dibuat akan tetap organik dan konsisten.Tidak semua calon konsumen akan menjadi tertarik. Ada yang merasa iklan tersebut menganggu karena tidak relevan untuk mereka. Berpotensi menghilangkan engagement, reach, hingga views karena dianggap menganggu.

Apakah Content Marketing Tetap Relevan di 2026?

Membuat content marketing memang penting dan justru malah semakin krusial di tahun 2026, ketika definisi “konten harus viral” terus didengungkan. Karena kuncinya, content marketing tidak bisa dilakukan sembarangan.

Meskipun kerap dianggap bagian dari strategi klasik, tapi content marketing tetaplah relevan untuk diterapkan di tahun 2026. Kenapa content marketing tetap dibutuhkan dan relevan di tahun 2026?

1. Perilaku Konsumen dalam Mencari dan Membeli Produk

Search engine atau mesin pencari memang masih dominan sebagai medium bagi konsumen yang ingin mencari dan membeli sebuah produk.

Tapi, search engine tidak lagi sendirian. Media sosial sudah dibekalangnya, khususnya jika sudah mendapatkan iklan dan pengaruh komentar menjadi referensi penemuan sebuah produk atau brand.

Artinya, untuk memenuhi semua itu, dibutuhkan kontent marketing. Website yang dikelola dengan benar plus artikel blog untuk search engine dan kemudian konten untuk media sosial yang didominasi video di Instagram dan TikTok adalah pilihan berikutnya.

Konten ini adalah hal pertama yang akan dilihat oleh calon konsumen sebelum memutuskan untuk mempercayai produk dan kemudian membelinya.

2. Biaya Iklan Digital yang Terus Naik

Biaya iklan diprediksi akan naik. Apalagi, masing-masing publisher atau platform iklan seperti Google dan Meta sedang mengoptimasikan AI untuk mengelola iklan. Sementara itu, TikTok memang dikenal terbilang mahal untuk menyiapkan budget iklan.

Terlepas dari mahal, iklan tetap bisa menjadi lebih murah ketika dikelola dengan tepat. Yang menjadi tantangan adalah ketika munculnya kompetitor yang bermain dengan bisnis yang sama.

Semakin banya jenis bisnis yang sama beriklan makah persaingannya pun juga akan tinggi, termasuk untuk biaya iklan. Hal paling sederhana saja, biaya klik, biaya per impresi hingga biaya leads, dan akuisisi akan terbilang tinggi di kemudian hari.

Terlepas dari pilihan akan beriklan di platform tersebut, content marketing menawarkan alternatif yang jauh jauh lebih cost-effective.

Konten tetap dikerjakan tanpa biaya tambahan karena tidak akan diiklankan di platform seperti Google, Meta atau TikTok.

3. Konten yang Otentik dan Jujur

Banyak polesan yang berlebihan memang akan menjadi backfire yang bisa merugikan banyak orang, termasuk bisnis itu sendiri. Hal yang membuat penyiapan content marketing dan kualitas produk di lapangan harus berjalan beriringan.

Dari apa yang saya alami, konsumen Indonesia masih memercayai orang daripada iklan. Di sinilah peran content marketing yang otentik dan jujur akan membantu konsumen memahami produk yang ditawarkan secara keseluruhan.

Dalam konteks marketing, content marketing ini tidak hanya menjual, tapi mencoba membangun kepercayaan untuk jangka panjang untuk nilai, dan bukan hanya tentang promosi.

4. AI Mengubah Cara Pencarian

AI this dan AI that. Pro dan kontra AI memang tidak akan pernah habis dibahas. Satu hal yang pasti saya pelajari selama ini, apa pun itu teknoogi semuanya selalu dalam fase learning. Tidak ada yang jumawa dan menjadi juara hanya dalam waktu singkat atau bahkan bisa bertahan selamanya.

Hal yang sama juga berlaku, kenapa content martketing tetap penting di era AI. Ketika perilaku pencarian bergeser ke AI yang membutuhkan jawaban yang ditulis secara dalam, berbasis data yang akurat, pertanyaan spesifik, maka akan memiliki potensi pencarian yang diutamakan dalam pencarian Google dan jawaban berbasis AI.

Inilah yang saya sebutkan tadi, content marketing selalu berdasarkan nilai dan memang dibuat untuk jangka panjang.

Riset Audiens Membangun Content Marketing

Sebagian bisnis biasanya ketika sudah menemukan produk yang akan dijual akan langsung membuat content marketing, tanpa mengenali terlebih dahulu siapa audiens dan siapa user yang akan mereka ajak untuk bicara.

Mungkin saja konten tersebut viral, tapi tidak menyentuh karena tidak relevan dengan kebutuhan audiens. Riset audiens tidak lagi bicara tentang demografis. Tapi, memahami apa yang menjadi masalah audience, apa solusi yang mereka butuhkan, dan komunikasi seperti apa yang akan dibangun kepada audiens.

Cara Melakukan Riset Audiens yang Efektif

A. Bangun Buyer Persona

Satu cara yang paling konvensional dan pasti akan selalu dilakukan di tahap awal adalah membangun persona. Buyer persona adalah representasi semi-fiktif di mana kita bisa melihat seperti apa pelanggan ideal berdasarkan data nyata dan riset.

Untuk melihat siapa buyer persona yang solid, tanyakan siapa mereka? Berapa usia, pekerjaan, lokasi, tingkat pendapatan mereka. Apa yang jadi masalah utama mereka, coba temukan solusinya dengan relevansi bisnis dan layanan yang akan ditawarkan.

Jangan lupa, platform mana yang membuat mereka memilih sebuah konten? Instagram, TikTok, Website atau Youtube? Bahkan, jangan lupakan juga platform seperti Telegram, WhatsApp atau mungkin X?

Pertanyaan-pertanyaan ini bisa dirangkum dan kemudian akan disajikan dalam format Focus Group Discusiion.

B. Gunakan Google Search Console dan Google Trends

Jika bisnis sudah memiliki dan sudah berjalan dalam jangka waktu 3 bulan, maka bisa memanfaatkan Google Search Console untuk mencoba mendapatkan data dari audiens.

Cek, query apa yang membuat pengunjung di internet mengarah ke website. Bagian dari query ini yang digunakan oleh audiens nyata untuk mencari konten yang mereka temukan dan melihat pencarian topik dari waktu ke waktu.

C. Riset Kompetitor dan Forum

Lihat konten apa yang paling banyak di-share dan mendapat engagement tinggi dari kompetitor Anda. Baca komentar di postingan mereka — di sana biasanya tersimpan pertanyaan nyata dari audiens yang belum terjawab. Forum seperti Kaskus, grup Facebook niche, dan kolom komentar YouTube juga menjadi sumber insight yang sangat berharga.

Platform Content Marketing di Indonesia 2026

cara-platform-content-marketing-2026

Tidak semua content marketing harus viral seperti “Aldis burger cempaka putih rotinya lembut dagingnya juicy lucy mahalini rizky febian.”

Oleh karena itu, penting untuk memilih platform content yang tepat. Bahkan, idealnya, semua content di platform tersebut harus berjalan beriringan.

Peta Platform Digital Indonesia 2026

Jika ingin memilih melakukannya secara bertahap, saya akan coba beberapa platfom yang tepat untuk content marketing. Tapi, sebelumnya, setiap platform memiliki karakter audiens, format konten dan bagaimana cara mendistribusikannya.

PlatformKekuatanFormat KontenJenis Bisnis
Blog/websiteSumber informasi nomor 1 melalui mesin pencari Google. Bisa untuk leads, hingga akuisisi user dan digunakan untuk jangka panjangE-E-A-T, Teks yang dilengkapi dengan image, link building dllSemua bisnis, baik itu B2C, B2B, barang dan jasa
Instagram (Meta)Visual untuk brand awareness hingga akuisisi user. Bisa dioptimalkan dengan iklan yang tersebar di jaringan Meta seperti Facebook dan WhatsAppVisual, didominasi dengan video dan image dalam format Reels, Carousell hingga kolaborasi dengan kreator dan influencerLifestyle, Fashion, F&B
TikTokVisual untuk brand awareness hingga pembelian langsungVisual yang didominasi dalam format video dan bisa berkolaborasi dengan kreator atau influencerProduk konsumer, fashion, kuliner, UMKM
YouTubeJaringan video terbesar dalam bentuk visual dengan durasi menonton tertinggiVideo tutorial, review, vlog, edukasi, digunakan juga untuk jangka panjangBrand Awareness, edukasi produk, hingga B2C dan B2B
WhatsAppLayanan pesan instan paling aktif dan sering digunakan di IndonesiaPesan teks yang bisa untuk broadcast, komunitas dan digunakan untuk jangka pendek dan instanPenjualan langsung yang dapat dimanfaatkan bagi pebisnis lokal, UMKM, dan layanan personal
FacebookDemografi khusus yang sangat niche dan ditujukan untuk usia 30-40 tahun ke atasArtikel, video, grup atau komunitas khususBisnis lokal, komunitas dan penjualan personal untuk barang pre-loved

Idealnya, semua platform sangat wajib dicoba untuk memulai mengenalkan dan memasarkan bisnis. Tapi, semuanya dikembalikan kepada kebutuhan yang bisa disesuaikan. Apakah sudah sesuai dengan tim dan anggaran yang sudah disiapkan.

Cara Membuat Konten yang Tidak Diabaikan

Selalu terjadi dan selalu ingin menjual. Ini adalah kebiasaan dan kesalahan yang besar dalam bisnis, khususnya ketika menterjemahkan bagaimana peran content marketing.

Padahal, calon konsumen atau bahkan konsumen yang sudah memiliki tahap perjalanan pembelian dan pembelian ulang yang berbeda-beda.

Para praktisi dan pegiat digital marketing pasti sudah tahu tentang framework content marketing. Sebagai tambahan, saya akan coba masukkan lagi framework TOFU-MOFU-BOFU yang semoga membantu membuat tahapan konten.

Tahapan frameworkTujuanContoh konten
TOFU (Top of Funnel)Awareness yang bertujuan untuk menarik calon konsumen baru yang belum mengenali brandArtikel teks, video informatif, infografis, konten video pendek dan bisa diterapkan di semua platform
MOFU (Middle of Funnel)Consideration dengan tujuan untuk membantu menarik calon konsumen dan konsumen yang sudah mengetahui brand yang dilanjutkan untuk mengajak dan mempertibangkan sebuah produk atau layanan untuk dibeli/dicoba.Teks dalam bentuk studi kasus atau riset yang mendalam, video perbandingan produk, hingga acara-acara seperti webinar
BOFU (Bottom of Funnel)Conversion yang bertujuan mengajak calon pelanggan untuk melakukan pembelian dengan berbagai tambahan strategi marketing lain seperti campaign khusus promo, subscription untuk jangka panjang dan lain-lain.
Teks atau video dalam bentuk testimoni, video demo produk, promo penawaran khusus untuk pengguna baru atau konsumen lama yang sudah setia.

Strategi Distribusi Konten

Beberapa bisnis terjebak dalam mindset agar konten tersebut viral. Tapi ini tidak hanya masalah konten, tapi bagaimana strategi distribusi dari content marketing di tahun 2026 hingga konsistensinya.

Saya aka mencoba membagikan beberapa strategi distribusi konten yang berdasarkan pengalaman saya dan pernah saya aplikasikan di beberapa pekerjaan ketika menjadi bagian dari digital marketing.

A. SEO — Traffic Organik Jangka Panjang

Untuk konten berbasis artikel yang melibatkan blog dan website maka SEO adalah investasi jangka panjang sekaligus penting. Meskipun AI mulai mencuri perhatian, tapi sumber yang diambil tidak jauh dari mesin pencari seperti Google.

Bahkan, Google masih menguasai sumber penemuan atau pencarian. Ditambah dengan penerapan konsep E-E-A-T yang ketat dari Google, artinya para konsumen akan menemukan sebuah brand yang memang benar-benar menjual dan menjaga kualitasnya.

B. Media Sosial — Distribusi dan Amplifikasi

Pilihan media sosial memang beragam, dan video adalah yang paling unggul saat ini. Platform seperti Instagram, TikTok dan Youtube sudah menjadi pilihan mutlak. Siapkan konten yang tepat. Jangan selalu menggunakan mindset viral adalah pilihan yang bijak.

Dari sekian jutaan konten video yang tersebar tentunya akan sangat tepat jika mampu menghadirkan yang sesuai dengan kebutuhan audiens.

Baca juga: WhatsApp Ads: Strategi Untuk Bisnis Agar Closing di 2026

Baca juga: Apakah Backlink Masih Penting Sebagai Strategi SEO di 2026?

C. Komunitas dan WhatsApp Group

Hal yang paling sederhana dan tentunya bisa dimaksimalkan. WhatsApp Group dengan komunitas adalah pilihan yang tepat untuk mengenalkan konten. Efektif untuk bisnis lokal dan UMKM. Tapi yang perlu dicatat adalah pastikan layanan di luar konten seperti admin yang membalas dengan jawaban tepat dan cepat menjadi kekuatan dari konten itu sendiri.

Jangan biarkan audiens atau konsumen menunggu terlalu lama untuk kemudian menjaga stabilitas bisnis itu sendiri.

Sebagai catatan penutup, semua ini wajib dilakukan secara konsisten untuk menuai hasil positif di masa depan.

Leave a Comment