Akun X ulasanwarga memang sangat baru, yaitu 1 bulan ketika tulisan ini dimuat. 2 Minggu dalam fase akun awal, dan dua minggu kemudian saya mendaftar menjadi akun premium. Mengubah identitas akun ini mendapatkan blue thick atau dalam tren di Indonesia saat ini adalah Cenblue.
Sangat berbeda dengan akun saya yang satunya lagi. Akun yang menulis di website ini. Akun Twitter (begitu saya menyebutnya) sudah ada sejak 2009. Tidak pernah mendapatkan atau bahkan mengikuti centang biru, dan followernya masih 200-an dari dulu hingga saatini.
Balik lagi ke akun ulasanwarga. Ketika baru saja saya mendaftarkan akun ini dalam kategori premium, timeline saya sudah berisi ratusan akun baru/lama berlomba-lomba mengejar 500 follower dan 5 juta impresi. Tujuannya supaya bisa”gajian dari elon.”
Apakah memang seperti ini cara kerja monetisasi akun premium media sosial X?
Di awal, saya masih menerima, tapi seiring berjalannya waktu saya merasa ini adalah hal yang cukup aneh. Banyak yang ingin mencoba menjadi kreator dengan cara instan melalui perhitungan impression atau engagement.
Bahkan, sangat banyak yang mencoba menampilkan dashboard analitik mereka di timeline. Mencoba melihat perputaran angka-angka tersebut melalui analisa harian.
Naluri ini tidak sepenuhnya salah, dan masih terbilang manusiawi. Namun dalam dunia konten dan media sosial, terburu-buru membaca data adalah salah satu jebakan paling berbahaya.
Saya mencoba mencari informasi sebanyak mungkin, tentang bagaimana cara kerja monetisasi premium X. Saya mendapati X, telah mengganti seluruh sistem rekomendasinya dengan AI Grok sejak Januari 2026.
Hal ini perlu dipertimbangkan, dipahami dan dipelajari sebelum mengambil keputusan menghjitung gajian dari Elon, yaitu menghitung berdasarkan angka yang belum matang.
Saya coba lagi mencari informasi dan menarik ke belakang di tahun Oktober 2025, disaat Elon Musk, menyebukan Grok akan bekerja dengan cara membaca post dan menonton setiap video.
Pekerjaan Grok ini yang bertujuan mencocokkan pengguna dengan konten yang paling mungkin dan menarik di Timeline X.
Belajar Membedah Anatomi Algoritma X 2026
Hal yang cukup mengejutkan buat saya adalah ketika mengetahui algoritma X bersifat open-source dan kode-nya tersedia untuk umum di GitHub.
Saya bukan orang yang tepat untuk menganalisa ini secara keseluruhan. Saya meminta bantuan kepada teman saya untuk menterjemahkan apa saja istilah-istilah Algoritma X.
Tak hanya itu, saya juga berusaha untuk membuka kesempatan dengan mesin bernama Claude untuk belajar memahami algoritma X.
Akhirnya, saya menemukan beberapa hal menarik dan kemudian saya ambil sebagai informasi dan menjadi asumsi untuk sementara ini.
1. Candidate Sourcing
X punya lebih dari 300 juta tweet per hari dan kemudian sistem akan memilih sekitar 1.500 kandidat konten untuk setiap pengguna.
Dalam laporan tersebut X akan mengambil setengah berasal dari akun yang diikuti. Dan setengah lagi dari akun yang tidak diikuti atau mungkin akan terlihat di kolom “For You”
Dari informasi ini, saya mendapatkan cara ini menggunakan model SimClusters yang mengelompokkan pengguna ke dalam sekitar 145.000 kluster topik untuk menemukan konten yang relevan.
Dalam asumsi saya, ketika saya mengikuti dan terlibat dalam pembicaraan bersama akun dan topik sepak bola, maka saya akan menemukan akun dan konten yang relevan pula.
Jika saya terlibat dalam pembicaraa bersama akun dan topik tentang politik atau sosial, maka saya juga akan diberikan rekomendasi akun dan konten yang relevan.
2. Neural Network Ranking (Heavy Ranker)
Informasi dan pelajaran lain yang saya terima adalah ketika keterlibatan Grok yang bertindak sebagai “wasit.” Grok memberikan pada setiap kandidat berdasarkan prediksi keterlibatan sebuah akun.
Sistem ini mengklaim memproses sekitar 5 miliar keputusan peringkat per hari. Masing-masing pekerjaan ini bisa selesai dalam waktu kurang dari 1,5 detik. Dari yang saya pelajari dari kode ini di Github, maka kesimpulan sementara saya adalah bagaimana penilaian engagement dilakukan.
Di sinilah saya bertemu juga dengan banyak fakta di mana banyak akun dengan sangat instan sangat berambisi mengejar engagement.
Bobot engagement yang kemudian menjadi goals dari para kreator. Teman saya yang paham dengan kode-kode open source X berasumsi bobot dari engagement sangat berbeda.
Artinya, bisa saha satu penilaian repost, reply jauh lebih besar atau mungkin lebih kecil dan hal ini masih sangat tergantung dari berbagia faktor lainnya.
3. Heuristics & Filtering
Bagian berikutnya, X akan mencoba menyaring konten yang dianggap berbahaya, duplikat, konten yang sudah pernah dilihat dan kemudian menerapkan aturan moderasi.
Pada bagian ini pula saya menemukan sebuah istilah TweepCred score yaitu alat analisis jaringan yang menghitung skor pengaruh dan reputasi pengguna menggunakan algoritma PageRank. Membaca istilah PageRank, yang kemudian mengingatkan saya tentang Google Search.
Dari TweepCred saya kemudian mengasumsikan setiap akun X punya skor reputasi yang mungkin saja akan menilai sebuah kredibilitas akun dengan nilai 0-100.
TweepCreed ini tampaknya tidak bisa dilihat dalam waktu seminggu. Ada banyak faktor, dan saya belum menemukan banyak hal detil tentang hal ini.
X kini berusaha dan belajar untuk menjadi mesin yang lebih cerdas. Mencoba untuk memahami konteks, nuansa, bahkan sentimen tulisan di post X. Dan, bukan tidak mungkin pembelajaran ini bisa lebih cepat dari sebelumnya.
Alhasil, data analitik dari dua-tiga hari atau mungkin seminggu semakin tidak relevan sebagai landasan mengambil dan menilai sebuah kesimpulan untuk menuju monetisasi.
Membuat Topik yang Konsisten Itu Penting
X saya asumsikan mengelompokkan setiap akun di dalam SimClusters dengan berbagai macam topik, lalu, memetakannya kepada pengguna yang relevan.
Sebagai simulasi, satu akun bicara tentang kuliner, kemudian besok tentang politik, dan besoknya lagi tentang finansial, maka ada potensi algoritma kebingungan.
Akibatnya, konten dari kreator tidak akan direkomendasikan kepada siapa pun dengan optimal. Ini bisa jadi salah satu alasan terbesar mengapa akun baru yang “posting semua topik” terlihat stagnan meski sudah aktif berminggu-minggu.
Pada bagian ini tampaknya algoritma ingin paham siapa pemilik konten. Lalu, akan belajar mengenali sembari membangun mengenal siapa kreatornya dan postingannya.
Selanjutnya, postingan tersebut akan dianalisa dan dibagikan kepada pengguna yang relevan sesuai dengan topiknya.
Lalu, apakah harus membuat satu post dengan topik yang sama terus setiap hari? Dalam asumsi saya tentu saja tidak. Tapi, di sini tampaknya algoritma ingin paham siapa pemilik konten. Lalu, akan belajar mengenali sembari membangun mengenal siapa kreatornya.
Lalu, bagaimana dengan postingan yang asbun atau yang bertanya kepada para followernya? Sebelum mesin bernama algoritma binggung, saya yakin mereka pun belajar dan tidak lagi tentang apa yang di post, tapi siapa kreatornya.
Saya bisa berikan contoh sederhana dari satu akun @aripakesit atau #KelanaRasa. Saya sudah memantau dan mengikuti akun ini semenjak akun saya yang lain bergabung dengan Twitter yaitu di tahun 2009. Akun mas @aripakesit sejak dahulu hingga sekarang konsisten membangun, menciptakan dan menampilkan konten kuliner.
Tapi, apakah mas@aripakesit pernah memposting konten dengan topik lain? Tentu saja pernah. Tapi yang pasti hingga berganti nama menjadi X, akun @aripakesit selalu dikenal dan konsisten bercerita tentang kuliner.
Belajar Membaca Analitik Secara Bijak

Hal lain yang membuat saya terkejut adalah para akun cenblue yang saya temukan acap kali membagikan analitik yang ada di dashboard X. Tapi, setelah saya mencoba belajar tentang cara kerja algoritma X, saya membuat asumsi, bahwa analitik jangka pendek bisa jadi sangat menyesatkan.
Dalam proses pembelajaran ini saya membuat hipotesa secara umum kenapa analitik X dan juga analitik dari Google atau Meta sebenarnya bisa dipelajari lebih dalam dan dipahami dalam kerangka yang lebih panjang.
1. Proses Learning di 2 Minggu Awal
Awal akun dibuat atau mungkin baru saja mendaftar menjadi cenblue, adalah proses learning. Hal yang saya pelajari ketika mengelola website, mengelola akun Instagram atau bahkan TikTok sekalipun. Bahkan ini belum termasuk ketika menjlanakan iklan digital menggunakan Google Ads atau Meta Ads.
Bukan tidak mungkin TweepCred menilai akun masih memiliki kredibilitas yang rendah. Grok belum punya cukup data untuk memetakannya SimCluster yang tepat. Angka impresi sangat tidak stabil.
Saran saya, jangan pernah langsung mengambil kesempulan dari data ini. Dan cobalah untuk fokus pada konsisten, kualitas dan bukan angka. J
2. Memetakan Konten dan Kreator
Dua minggu berikutnya adalah bentuk konsistensi akun. Bukan tidak mungkin algoritma mulai mengenali pola topik yang disampaikan.
Bukan tidak mungkin TweepCred mulai naik jika sebuah akun konsisten dan engagement yang dibuat lebih organik, jujur dan benar-benar berisikan informasi yang bermanfaat.
Dari sini, bukan tidak mungkin data mulai bisa dijadikan petunjuk awal. Sekali lagi, jangan buat kesimpulan, perhatikan metriknya secara detil, Cek lagi konten yang dibuat atau akun kita terlibat dalam percakapan yang seperti apa.
3. Proses Kalibrasi dalam Waktu 2-3 Bulan
2 Bulan awal adalah tahap awal di mana seorang kreator mulai bisa belajar, memahami dan membaca analitik lebih serius. Bandingkan performa topik dan bukan antar post. Jika ingin melakukan A/B test, lakukan perlahan-lahan dan mulai dengan satu saja, bukan sekaligus.
4. Optimalkan dan Semakin Konsisten
Setelah punya kekuatan topik dan konsisten, seorang kreator sudah dasar analitik yang jauh lebih matang. Bandingkan dengan performa sebelumnya.
Belajar menggunakan data untuk menentukan apa yang berhasil dan tidak. Bukan untuk sebuah rencana jangka pendek saja.
Membuat Konten yang Benar-Benar Bermanfaat
Obsesi monetisasi yang terlalu cepat bisa menciptakan mindset yang salah, dan berbahaya. Saya berkata seperti ini bukan karena saya ada di ruang lingkup digital marketing atau sok-sokan karena follower saya pun baru 200-an dan impresi pun kurang lebih 100K.
Ketika mindset sudah diatur bahwa 5 juta impresi untuk monetisasi, sebagian kreator secara tidak membuat konten untuk algoritma, bukan untuk manusia. Padahal, dari informasi yang selalu berseliweran dari Nikita Bier – Head of Product X di timeline secara tidak langsung menyampaikan beberapa perubahan yang bisa begitu cepat hanya dalam hitungan hari.
Terlebih lagi, algoritma Grok 2026 justru dirancang untuk mendeteksi konten yang dibuat untuk algoritma dan kemudian bisa menyapunya begitu saja.
Terlepas dari dinamika yang terjadi di dalam X sendiri, setiap mesin apa pun, termasuk mesin bernama Grok akan terlus belajar, dan kemudian menganalisa sebuah orisinalitas konten.
Cuitan yang disampaikan lebih original, otentik dan jujur sangat mungkin mendapatkan skor lebih tinggi dibandingkan dengan konten generik yang diulang-ulang meskipun punya format yang sama.
Belum lagi lagi jika terdeteksi duplikat, bukan tidak mungkin akan mendapatkan hukuman yang membuat akun tersebut berpotensi kehilangan perannya sebagai kreator.
Baca juga: WhatsApp Ads: Strategi Untuk Bisnis Agar Closing di 2026
Baca juga: Belajar Lagi Bagaimana Cara Membuat Tulisan yang SEO Friendly
Belajar dan Pahami Monetisasi X
Lalu, bagaimana cara kerja monetisasi premium X yang benar? Jawaban dari saya sederhana. Belajar, terus belajar, konsisten dan sabar. Secanggih apa pun mesin atau teknologi di masa sekarang, mereka pun belajar.
Siapkan konten yang memang benar-benar bermanfaat dan dibuat untuk manusia, dan bukan sekedar memenuhi algoritma X.
Teknologi memang cepat berkembang, hanya saja manusianya terlalu terburu-buru untuk menjadi pemenang.
Disclaimer: Tulisan ini dalam bentuk opini, di mana ini adalah pengalaman pertama saya berada dalam ruang lingkup digital dengan menggunakan ekosistem X (sebelumnya Twitter) dan mungkin akan sangat berbeda ketika saya sudah berada dalam ekosistem seperti Google atau Meta (Facebook dan Instagram) dan juga sudah dimuat di akun X ulasanwarga dengan beberapa penyesuaian.
Penulis adalah mantan content editor yang sudah mengulas lebih dari 100 film dan tv series, jurnalis teknologi yang sudah mengulas lebih dari 500 gadget dan juga pegiat serta praktisi di bidang digital marketing serta SEO. Untuk lebih detil, bisa cek di tautan penulis ulasanwarga.com
