Jadi, ini film Joko Anwar yang lucu itu? Film yang mendapatkan aplaus di Berlinale, Jerman itu? Untuk menjawab semua itu, saya baru saja menyelesaikan menonton film “Ghost in the Cell” dan akan menjadi bagian dari ulasan saya di minggu ini. Seperti apa alur cerita film “Ghost in the Cell?”
Sinopsis Film “Ghost in the Cell”
Kehidupan di penjara memang beragam. Selain identik dengan kekerasan, beberapa penghuni penjara hingga petugas dan pemimpinnya selalu punya cara yang unik.
Mulai dari Anggoro, Tokek, Jefry Buki, Irfan, Dimas hingga koruptor kakap Prakasa punya keanehan mereka sendiri-sendiri.
Keanehan mulai terjadi ketika peristiwa mengerikan menimpa salah satu penghuni penjara. Keunikan pun terjadi, para narapidana mencari cara agar ini tidak terjadi dengan cara mereka sendiri-sendiri. Keanehan apa yang sedang terjadi di penjara tersebut? Bisakah para penghuni lapas tersebut selamat dari kengerian yang terjadi?
Review Film “Ghost in the Cell”
Setiap kali Joko Anwar membuat film, pasti selalu ramai dibicarakan. Bukan, bukan karena beliau menjadi Head of Marketing untuk film “Ghost in the Cell” yang bisa disaksikan di bagian credit title.
Salah satu yang membuat film Joko Anwar sering ramai diperbincangkan adalah karena sebagai penulis naskah, bang Jokan memang selalu mampu menyusun cerita yang padat.
Tapi, bagaimana jadinya, jika cerita yang padat tersebut kemudin berganti menjadi chaos yang sedikit berantakan, masih bisa dinikmati sebagai sebuah hiburan dan penuh sindiran serta tamparan komedi?
Ini pengalaman yang saya dapatkan dari film “Ghost in the Cell” secara keseluruhan. Jokan selalu identik dengan cara berceritanya memberikan sindiran dan tamparan dengan realitas sosial yang relevan bagi penontonnya.
Hal yang sama juga saya temukan di film ini. Tapi, dengan komedi yang satir. Setiap dialog, setiap adegan, setiap aktor yang bermain, termasuk extras, semuanya berhasil menerjemahkan semuanya dengan baik.
Alhasil, cerita yang dibuat mengalir dengan baik. Membuat penonton seperti saya tersenyum, bahkan tertawa mendengar dialog-dialog dan realita yang dibangun dalam sebuah visual bernama film yang punya durasi kurang lebih sekitar 1 jam 45 menit.
Tamparan Keras Joko Anwar Dalam Bentuk Komedi

Jauh sebelum “Ghost in the Cell,” Joko Anwar sudah pernah mengemas berbagai macam judul film. Jadi penulis di film “Arisan,” jadi sutradara sekaligus penulis di “Janji Joni,” hingga penulis di film “Quickie Express.”
Dari sisi komedi apa yang ditawarkan Jokan menurut saya sudah bisa dibilang matang. Saya tidak tahu bagaimana proses menulis naskah film ini secara detil, tapi dari apa yang saya dapatkan semua pemeran mampu memainkannya dengan baik. Saya terhibur dengan celotehan-celotehan yang disampaikan.
Komedi yang disuguhkan juga berhasil menampar realita yang terjadi. Berbagai macam sindiran untuk realita sosial juga disajikan dengan kelucuan yang dihadirkan di dalam film ini.
Tak salah rasanya, sutradara film “Agak Laen,” Muhadkly Acho mencuit tentang standar komedi yang tinggi dari Joko Anwar.
Ketika menonton filmnya, saya mendapatkan pengalaman mendapatkan bagaimana aktor-aktor ini begitu luas memainkan gesture-gesture komedi yang menyenangkan. Meskipun ada beberapa bagian yang terasa canggung, tapi saya benar-benar terhibur dengan gaya komedi yang disuguhkan di dalam film ini.
Yang paling terasa buat saya adalah, ketika Joko Anwar mampu menyajikan sisi lain dari sebuah penjara. Tempat gelap di mana pada penghuninya saling adu kuat, tapi ternyata punya sisi lain yang tak kalah mengelikan.
Dan selayaknya film komedi. Tak semua adegan harus membuat penonton tertawa terbahak-bahak. Tapi, Jokan punya cara yang kuat membagikan komedinya dengan lengkap.
Apalagi, dalam sebuah film komedi pasti akan ada istilah LPM (Laugh Per minute) yang disajikan. Dan sepanjang 1 jam 45 menit saya tidak berhenti tertawa untuk menikmati film ini sebagai sebuah hiburan.
Kritik yang Bersinggungan dengan Realita Sosial
Dan hampir di semua film yang pernah disutradarai oleh Joko Anwar seperti ingin menyampaikan beberapa kritikan yang tajam dan bersinggungan dengan realita sosial yang terjadi di masyarakat.
Semuanya tercermin dalam masing-masing karakternya hingga dalam karakter-karakter kelompok yang dihadirkan di dalam film ini.
Kritik ini juga hadir di dalam film “Ghost in the Cell.” Mulai dari kondisi hal terkait tentang nikel, tata kelola hukum yang berantakan dan aparat-aparat busuk hadir dalam dalam film ini.
Serunya lagi, kritikan-kritikan ini terasa relate dengan realita yang ada yang membuat penonton tersenyum karena dibalut dengan komedi satir yang keras.
Bahkan, beberapa bagian kritik ini juga hadir dalam bentuk easter eggs yang menarik untuk dicermati. Salah satu yang bisa saya sebutkan adalah perusahaan media, dimana Joko pernah menjadi wartawan di The Jakarta Post.
Lalu, mana horor dan thrillernya? Ah, saya tidak akan bocorkan. Yang pasti ini di bagian ini sudah jadi ciri khas Joko Anwar sendiri. Penonton sendiri yang wajib menyaksikannya sendiri di bioskop.
Baca juga: Ulasan Film: “Tunggu Aku Sukses Nanti,” Ironi Lebaran yang Emosional
Baca juga: Ulasan Film “Na Willa:” Teman Cerita Imajinasi dan Masa Kecil yang Retro
Abimana vs Bront Palarae
Jika diulas satu per satu tentang karakter-karakter yang muncul di film ini rasanya tidak tepat. Keunikan Joko Anwar dalam membuat film akan selalu berkaitan dengan karakter-karakternya.
Tapi, untuk film “Ghost in the Cell” saya akan bahas dua karakter saja. Abimana dan Bront Palarae. Keduanya sudah beradu akting di film superhero lokal “Gundala” yang juga disutradarai Joko Anwar dengan cara yang menarik.
Bukan film adu otot, tapi adu strategi. Hal yang sama juga disajikan lagi. Kali ini lebih dalam dan detil di “Ghost in the Cell.” Keduanya langsung head to head menggambarkan bagian-bagian penting dari film ini. Sedikit menyentuh adegan action, tapi saya sungguh menikmati bagaimana keduanya bertarung dengan cara berdebat melalui ilmu psikologi.
Tentu saja, masih dilengkapi dengan sentuhan komedi.
Terlepas dari semua hal yang menyenangkan dari “Ghost in the Cell” saya selalu punya catatan tersendiri tentang film Joko Anwar, termasuk untuk yang satu ini.
Bagian akhir yang memang rasanya diplongkan begitu saja, tanpa ada intensitas yang kuat. Beberapa catatan yang sebenarnya perlu dipertimbangkan dengan serius ketika menggarap film-film lainnya di waktu yang akan datang.
Tapi, karena ini film komedi, saya masih bisa memberikan toleransi berdasarkan selera saya sendiri setelah melihat film. Apakah setelah ulasan ini saya masih akan menonton film “Ghost in the Cell” lagi untuk mendapatkan detil-detil yang lain? Rasanya iya, karena berdasarkan ulasan warga, film ini sangat direkomendasikan untuk ditonton di bioskop.
“Ghost in the Cell” saat ini sedang tayang di bioskop-bioskop di seluruh Indonesia.
Penulis adalah mantan content editor yang sudah mengulas lebih dari 100 film dan tv series, jurnalis teknologi yang sudah mengulas lebih dari 500 gadget dan juga pegiat serta praktisi di bidang digital marketing serta SEO. Untuk lebih detil, bisa cek di tautan penulis ulasanwarga.com
