Ulasan Film “Normal:” Membongkar Perilaku Koruptif dengan Brutal

Lanjut ke film Hollywood yang baru saja saya nonton di bioskop. Berjudul “Normal” yang tampaknya tidak akan disambut dengan gegap gempita.

Mumpung ada waktu luang, saya menyempatkan diri untuk menonton film ini dan menyaksikan penampilan Bob Odenkirk yang sebelumnya popular sebagai seorang jagoan dengan komedi canggungnya di film “Nobody.”

Lalu, bagaimana penampilan Bob Odenkirk yang didapuk sebagai pemeran Utama di film “Normal?”

Sinopsis Film “Normal”

Ulysses Richardson (Bob Odenkirk) tak menyangka pindah ke sebuah kota kecil di Minnesota membawanya ke sebuah hal yang tidak pernah terbayangkan dalam karirnya sebagai seorang Sheriff.

Sebuah perampokan membuat penduduk yang ada di kota tersebut terbelah dua. Yang mengejutkan, kejahatan ini bukan sekedar perampokan biasa. Mulai dari walikota, pendeta hingga pengatar surat terlibat.

Bersama tim pilihannya sendiri, Ulysses Richardson berusaha mencari jalan keluar untuk menyelesaikan masalah ini.

Review Film “Normal”

Alur cerita film ini dibuat dengan jelas dari awal. Diberikan sedikit latar belakang tentang Ulysses dan kehidupan di kota kecil tersebut.

Tak ada yang istimewa, tapi apa yang kemudian menjadi terlihat lebih baik tentu saja adalah ide ceritanya.

Settingan film dengan latar kota kecil. Tapi, sebuah perampokan teroganisir yang melibatkan beberapa orang penting di kota tersebut menurut saya adalah sebuah premis yang menarik.

Dengan kekacauan yang terjadi, semua cerita diukur Kembali ke dalam beberapa adegan aksi yang terbilang kasar dan terlihat konyol.

Setelah itu, beberapa latar belakang karakter terbongkar, termasuk Ulysses itu sendiri. Satu hal yang kemudian mendasari kenapa karakter-karakter tertentu berada di kota kecil yang ternyata memberikan efek besar.

Efek yang kemudian membuat Ulysses yang selalu bimbang dalam membuat keputusan, kali ini terpaksa membuat sebuah keputusan yang harus benar-benar akurat. Khususnya untuk dirinya sendiri.

Sebuah cerita action yang didasari masalah-masalah klise seperti perampokan tentunya bukan lah cerita baru. Tapi, bagian-bagian penting dari film ini yang kemudian menjadi pijakan konflik yang terjadi.

Tanpa banyak plot yang terlalu berlebihan, saya rasa film “Normal” adalah film yang terlalu santai dan benar-benar tepat disaksikan kapan pun, termasuk dalam keadaan tidak normal sekalipun.

Action yang Kasar

ulasan-film-normal-bob-odenkirk

Menempatkan genre action dalam film ini tentunya adalah hal yang tepat. Action yang kasar. Penuh dengan adegan perkelahian kasar atau tembak-tembakan yang brutal. Sayangnya, karena yang masih memainkan peran utamanya adalah Bob Odenkirk, saya merasa tidak ada hal yang terlalu istimewa.

Sampai pada akhirnya, ada satu adegan khusus yang melibatkan polisi dan para Yakuza saling bertempur dalam jarak dekat. Yang menarik bukan tentang action, tapi momentum yang memulai adegan tersebut.

Masih ada lagi, bagian-bagian ledakan dan tusukan, yang mengubahnya menjadi seperti kebrutalan yang tidak ditutup-tutupin. Ditambah lagi, beberapa paduan humor absurd menjadi salah satu improvisasi yang menarik untuk ditonton.

Secara keseluruhan action yang kasar ini aktif memuaskan penggemar film yang memang menyukai tembak-tembakan atau gerakan-gerakan tangan.

Sisanya, action yang kasar ini berakhir dengan visual yang disajikan juga dengan komedi yang canggung.

Kritik Sosial Dalam Komedi Absurd

Film ini menggambarkan dampak sosial yang relevan di setiap waktu. Hal-hal yang terkait dengan korupsi, menjadi penjilat, serakah hingga orang yang masih ingin tetap berdamai meskipun lingkungannya sudah rusak adalah gambaran dari setiap karakter dan adegan-adegan di film ini.

Penduduk kota yang hanya ingin mendapatkan kenyamanannya. Pejabat publik yang serakah seperti walikota. Hingga pemimpin tokoh agama yang munafik siap melakukan kekelasan ekstrim demi mempertahankan hidup mereka.

Semuanya ini tidak lepas dari bagaimana para bandit seperti Yakuza mampu merasuk ke dalam sistem pemerintahan dan kehidupan sosial masyarakat yang terus resah.

Jika digali lebih dalam inilah inti cerita film “Normal.” Bukan tentang seorang Sheriff bernama Ulysses Richardson yang kehilangan identitas dirinya dan menjadi bagian dari realita sosial masyarakat itu sendiri.

Semuanya dipadukan dengan humor gelap yang tampaknya memang dipahami oleh penonton yang mengerti dengan model jokes atau becandaan seperti ini.

Visualisasi Kota Kecil

Semua orang mungkin berpikit hidup di kota kecil akan lebih damai. Tapi apa yang disampaikan di dalam film ini justru adalah sebaliknya.

Kota kecil ini damai karena keserakahan dan sifat koruptif masyarakat dan pejabatnya. Tidak ada yang berani menindak, jika tidak ada perampokan dan melibatkan Ulysses Richardson sebagai sheriff baru di tempat tersebut.

Visualisasi tidak hanya bicara tentang kota kecil yang diliputi salju di musim dingin. Tapi, juga dari sudut pandang karakter-karakter yang mungkin saja akan membuat penonton mengeluarkan kata kasar terhadap perilaku penduduknya.

Hal lainnya yang menarik adalah visualisasi kota kecil ini kemudian menjadi kontras ketika melibatkan Yakuza, dan naifnya penduduk di tempat tersebut.

Ini yang kemudian menjadi elemen untuk melengkapi humor yang gelap dan action yang kasar.

Pada akhirnya, film “Normal” sebenarnya adalah cerita yang berat, dan sangat relevan dengan kehidupan di masa kini. Tapi, berhasil menjadi sebuah hiburan yang solid tanpa bertele-tele.

Kekuatan utamanya memang fokus pada pemeran utama yaitu Bob Odenkirk yang bimbang dan sulit mengambil keputusan dalam hidupnya.

Tapi, kemudian pergerakan karakter yang dinamis pada akhirnya membuat Bob menjadi dari protagonis yang harus berdamai menjadi antagonis dengan cara yang kasar dan humor yang gelap.

Film ini bisa tampil lebih beringas, jika ide-ide yang disampaikan lebih dalam dan tidak hanya menjadi sajian perilaku koruptif yang dilegalkan secara kasar.

Baca juga: Review Film “Good Luck, Have Fun, Don’t Die:” Komedi Satir Tentang AI

Baca juga: Ulasan Film “They Will Kill You:” Pertarungan Melawan Sekte yang Brutal

Selain sebagai sebuah hiburan , film “Normal” memberikan gambaran kritik sosial ringan tentang masyarakat, pejabat hingga petinggi agama yang korup.

Bagi yang belum nonton filmnya, “Normal” saat ini sedang tayang di beberapa studio di bioskop-bioskop Indonesia.

Leave a Comment