Ulasan Film “The Furious:” Sajikan Pertarungan Intens Jempolan Tanpa Jeda

Film action yang saya tunggu akhirnya tayang di bioskop. Sebelum membahas review atau ulasan film “The Furious” beberapa preferensi yang membuat saya yakin sejak trailer pertamanya dirilis adalah ketika postingan dari filmnya di media sosial X di repost oleh Hideo Kojima.

Selain itu, sebelum rlis di Indonesia, film ini mendapatkan skor yang tinggi yang 97 persen dari 116 kritikus film dan 95 persen dari verivierd popcometer ketika tulisan ini dimuat. Sebagus apa film “The Furious” ini sebenarnya?

Ini pengalaman saya menonton film ini di bioskop Cinepolis di saat filmnya rilis di Indonesia tanggal 17 Juni 2026.

Sinopsis Film “The Furious”

Wang Wei (Xie Miao), adalah seorang pria yang seperti tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Meskipun tingkat kriminalitas di sekitar tempat tinggalnya sangat tinggi, ia acuh.

Wang Wei lebih peduli untuk menjaga putrinya Rainy (Yang Enyou) dengan selalu mengajarkan pentingnya seni bela diri. Tapi, semua berubah ketika Rainy menghilang tiba-tiba. Ia merasa anaknya diculik oleh para kriminal.

Wang Wei berusaha untuk menemukan kembali putrinya dengan berbagai macam cara. Sampai pada akhirnya ia bertemu dengan Navin (Joe Taslim), seorang jurnalis yang mencari istrinya yang juga jurnalis investigatif.

Istri Navin menghilang secara misterius setelah menelusuri deretan penculikan anak yang diduga untuk perdagangan manusia. Wang Wei dan Navin kemudian saling membantu mencari cara untuk menemukan orang-orang yang mereka sayangi.

Dari dua perspektif, Wang dan Navin kemudian mendapat satu fakta. Penculikan ini bukan kriminalitas biasa. Tapi dlindungi oleh-oleh orang penting.

Bisakah Wang dan Navin menemukan penculik yang sebenarnya?

Review Film “The Furious:” Memang Untuk Penggemar Film Action

Sebagai pembuka, saya hanya ingin menambahkan, film ini memang dibuat untuk penggemar genre action. Sangat saya rasanya jika hanya akan menunggunya untuk tampil di layanan OTT saja. Bagi yang ingin menyaksikan sebuah sajian laga, hampir 90 persen film ini dijamin akan memuaskan penonton.

Tak lupa pula, semua ini sudah ada di kepala Kenji Tanigaki sebagai sutradara. Semua adegan aksi ini dikemas karena memang kemampuannya yang sangat baik dan sangat berpengalaman untuk adegan-adegan laga.

Salah satu yang paling memorable tentunya adalah ketika Kenji Tanigaki berperan sebagai pemeran pengganti untuk film “Rurouni Kenshin: Final Chapter Part I – The Final” atau “Snake Eyes.”

Inilah inti utama dari film “The Furious” ketika premisnya terlalu klise. Formula yang rasanya masih itu-itu saja. Kurang lebih sama dengan seperti film “Taken” yang dibintangi Liam Neeson.

Sisanya, tidak ada yang terlalu istimewa. Bahkan beberapa sub-plot seperti pertemuannya dengan Navin, atau sebuah kebetulan, ketika Navin sedang mencari istrinya yang juga sedang melakukan investigasi kasus perdagangan anak.

Teknik Action Khas Kenji

ulasan-film-the-furious

Sejak trailernya diumumkan, penonton sudah disajikan adegan action yang menggelora. Ini bukan sekedar gimmick marketing. Ketika sudah menonton filmnya, siapa pun akan disuguhkan dengan koreografi pertarungan yang tanpa jeda. Adegan aksi disajikan lebih intens.

Lebih brutal dan tajam. Jauh lebih tajam dari film The Raid yang sangat fenomenal pada masanya. Selain Miao Xie yang jadi pemeran utama, pemeran lain juga tak hanya menjadi pemanis untuk setiap adegan action.

Sependek ingatan saya, ciri khas Kenji Tanigaki terlihat dari perannya sebagai seorang stunt di beberapa film besar. Hal ini yang ia tularkan di film “The Furious.”

Berbagai adegan pertarungan jarak dekat yang dibuat realistis, pengambilan gambar lebar dengan gaya long takes, serta arahan gaya bela diri yang identik untuk setiap karakternya adalah hal yang digambarkan di sepanjang film.

Hal yang membuat saya mengingat kembali pada film “Rurouni Kenshin: Final Chapter Part I – The Final.” Meskipun posisinya sebagai stunt, tapi ketika setiap karakter di film “Rurouni Kenshin: Final Chapter Part I – The Final” punya ciri khas sendiri, maka hal ini yang ia hadirkan di dalam film garapannya sendiri.

Selain itu, adegan aksi yang disajikan secara intens ini akan membuat penonton kerap menahan nafas karena benar-benar disajikan berurutan dan secara runut.

Uniknya ini dibuat detil dan tidak kaku atau hanya adegan laga yang itu-itu saja. Setiap detil ditangkap ketika masing-masing karakter sedang berkelit, melompat, hingga berakrobat.

Buat saya, format adegan laga pun seperti dibagi-bagi dalam porsi yang pas. Mulai dari atas truk, pertarungan di antara kerumuman atau pertarungan dua lawan dua yang terbilang unik.

Inilah kenapa film “The Furious” menjadi pelepas dahaga setelah saya puas dengan kinerja film action “The Raid” pada masanya.

Tak Hanya Adegan Laga Brutal, Tapi Menguras Emosi

Dari pengamatan saya, 90 persen adegan action yang di film ini tidak hanya tentang baku pukul saja. Tapi, Kenji mencoba mengajak penonton terlibat dalam emosi karakternya.

Ketika karakter yang disuguhkannya tak punya rasa takut, tapi mereka masih menyimpan rasa putus asa ketika nyawa menjadi taruhannya.

Semuanya ini disajikan dengan cukup baik olah para karakter yang ada di dalam film ini. Dan lagi-lagi saya seperti melihat adegan yang kurang lebih sama seperti di film “Rurouni Kenshin: Final Chapter Part I – The Final.”

Baca juga: Ulasan Film “Humint:” Intrik Penuh Aksi Antara Intelijen Korsel dan Korut

Baca juga: Ulasan Film “Ikatan Darah:” Realita Ekonomi dan Action Tanpa Ampun

Joe Taslim dan Yayan Ruhiyan Tak Hanya Reuni

ulasan-film-the-furious

Terlepas dari action yang intens dan membuat penonton berdecak kagum, film ini membawa dua aktor Indonesia yang tidak sembarangan.

Nama Joe Taslim dan Yayan Ruhiyan sudah bisa dibilang jaminan mutu jika ingin menampilkan film action. Ini adalah bukan sekedar reuni, tapi bagaimana ciri khas action tersebut semakin kuat.

Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, sutradara Kenji Tanigaki menampilkan adegan action yang sesuai dengan karakternya masing-masing. Dan ini hadir pada Joe Taslim dan Yayan Ruhiyan. Bukan lagi sekedar gimmick, dan bukan pula sekedar nostalgia.

Tapi, Indonesia ketika Joe Taslim yang kuat dengan Judo dan Yayan Ruhiyan dengan ciri khas silatnya.

Meskipun begitu film ini masih punya catatan yang perlu rasanya dikoreksi. Tak ada pengembangan karakter yang begitu dalam. Saya masih terbilang paham, karena rasanya tak perlu menambahkan sub-plot jika memang ingin membuat film action yang benar-benar intens.

Hal ini berlaku untuk semua karakter yang ada di film. Sekali lagi, kalau sudah urusan action, saya bisa kasih dua jempol untuk film ini.

Jika sedang punya waktu luang, film “The Furious” mulai tayang di bioskop-bioskop Indonesia mulai tanggal 17 Juni 2026.

Leave a Comment