Bagaimana Cara Optimasi Website B2B agar Dikutip AI Agents

Selain B2C, di mana bisnis berproses antara si pemilik usaha yang menjual barang langsung ke konsumen, perkembangan bisnis B2B juga kini semakin berkembang cepat. Ciri khas umum yang sering disebut sebagai bisnis B2B adalah ketika perusahaan menjual barang atau jasa kepada bisnis atau perusahaan lainnya.

Kali ini, saya mencoba berbagi pengalaman tentang bagaimana fondasi dan cara optimasi agar SEO bekerja dalam bisnis B2B dan tetap relevan ketika AI sudah menjadi hal umum yang sering dikonsumsi pengguna internet.

Saya pernah menemukan bahwa sebuah perusahaan B2B yang karyawannya hanya kurang lebih 100 orang sedang melakukan evaluasi untuk menentukan satu tools yang membantu kerja perusahaanya. Caranya adalah dengan membuka belasan tab browser, mengisi formulir demo, dan cukup menghabiskan waktu untuk menentukan pilihan.

Cara yang tentunya membutuhkan waktu yang lama. Tapi dengan masifnya berbagai macam platform AI, hal ini sebenarnya menurut saya bisa dimaksimalkan.

Pencarian B2B dan Bantuan AI Agents

Saya pernah menguji tentang ini. Saya mengetikkan di dua platform AI dan mencari serta membandingkan tools marketing automation untuk perusahaan B2B, lengkap dengan harga dan integrasi dengan Salesforce

Dalam hitungan menit, AI membantu menelusuri halaman pricing vendor, dokumentasi fitur resmi, ulasan yang difilter berdasarkan ukuran perusahaan, hingga artikel perbandingan pihak ketiga.

Nama perusahaan yang tidak muncul bukan karena produknya buru, tapi tidak mampu menemukan informasi yang cukup untuk disertakan dalam evaluasi dari AI agents.

Inilah gambaran pencarian yang kini terjadi, dan khususnya untuk B2B. Saya mengutip laporan dari ProcureCon Chief Procurement Officer 2025, 90% pemimpin procurement sudah mempertimbangkan atau aktif menggunakan AI agents untuk mengoptimalkan proses pembelian mereka. Ini adalah kombinasi dari cara melakukan pencarian yang baru untuk mendapatkan informasi tentang vendor mana yang akan dijadikan pilihan untuk perusahaan.

Analisa Konversi yang Mengejutkan

Sebagai penggemar konten-konten dari Search Engine Land, saya mendapatkan informasi, ternyata pada bulan Februari 2026 yang lalu, ditemukan data dari GA4, website e-commerce menunjukkan bahwa trafik chatGPT mampu memberikan dampak konversi hingga 31% yang lebih tinggi dari organik.

Menariknya lagi, analisa dari ABI Research bahwa pengunjung dari platform AI disebut lebih kecil untuk bounce dibandingkan pencarian informasi dari sumber non-AI. Indikasi yang disebutkan pembeli lebih enggaged yang tidak boleh dilewatkan dalam proses funnel sales.

Apa Beda AI Overview vs AI Agent?

Buat saya, AI Overviews Google dengan AI agents adalah hal yang berbeda.

AI Overview merangkum informasi untuk pengguna. Sementara itu, AI agent punya cakupan yang lebih luas dan berfungsi sebaai tools, berkonsultasi dengan sistem langsung, menganalisa, hingga mengambil tindakan dalam batasan yang ditentukan. Perbedaannya bukan sekadar pada pembuatan bahasa — ini adalah kemampuan workflow.

Dalam konteks B2B dan AI Agent, maka informasi yang mendelegasikan tugas, agent kemudian secara mandiri menemukan berbagai sumber mulai dari website, Linkedin, hingga Reddit.

Agent ini membandingkan fitur, harga, dan ulasan. Menyusun menggunakan analisis, lalu memberikan informasi untuk formulir kontak hingga membantu calon pembeli menerima laporan evaluasi yang sudah ada.

Agent AI tidak hanya menelusuri website, tapi juga memahami dan mencerna situs penyedia layanan B2B secara spesifik.

Ketika AI agent melakukan ini, fungsinya tidak hanya memetakan informasi dan melakukan verifikasi sebelum direkomendasikan kepada manusia.

Hal-hal penting dalam SEO (Search Engine Optimization) seperti otoritas manusia yang nyata dan jadi bagian dari E-E-A-T. Kedua, apakah produk, layanan, harga, batasan mampu dibuat dengan definisi yang baik, dan tepat untuk dibandingkan. Ketiga, apakah sumber pihak ketiga mengkonfirmasi klaim yang dibuat dalam konten tersebut?

Selanjutnya, agent AI akan mencari direktori pemasok dan website perusahaan, mengevaluasi dokumentasi sertifikasi untuk standar ISO yang dinyatakan dengan jelas dalam teks, membandingkan ulasan, hingga memeriksa formulir kontak yang bisa diakses dalam HTML yang bisa di-crawl, memverifikasi area layanan geografis yang dinyatakan, dan menyusun email permintaan penawaran yang menggabungkan spesifikasi pesanan dan timeline pembeli.

SEO Adalah Fondasi, Tapi Butuh “Adjsutment”

Saya selalu bilang di artikel-artikel sebelumnya, bahwa fondasi AI itu adalah SEO. Setidaknya sampai saat ini dan beberapa tahun ke depan.

Hal yang sama juga berlaku untuk bisnis B2B. Jika ingin AI agent ini masuk, menelusuri dan mengurai informasi yang memudahkan pencarian, maka cara optimasi website B2B agar dikutip AI agent adalah dengan menerapkan SEO tradisonal sebagai kunci awalnya.

Temuan terpenting dari riset GEO 2026 adalah bahwa SEO yang kuat adalah prasyarat keberhasilan GEO. Data yang dilacak dari Juni 2025 hingga Februari 2026 menunjukkan bahwa setiap artikel yang mendapatkan kutipan AI terlebih dahulu telah mendapatkan ranking organik di Google.

SEO tetap menjadi fondasi. Mesin pencari masih perlu merayapi, mengindeks, dan meranking konten sebelum dapat digunakan dalam konteks apapun, termasuk jawaban yang dihasilkan AI. GEO akan selalu dibangun di atas fondasi tersebut.

Optimasi SEO dengan AI Agent

SEO dibangun untuk mendapatkan visibilitas yang dikonversi menjadi klik. Sementara itu, AI search dibangun untuk menyediakan informasi yang bisa diekstrak, dan dianggap dipercaya.

Lalu, apa yang menjadi perbedaannya secara teknis?

SEO dimulai dengan keyword yang ingin di-ranking. Sementara itu, bagian agentic SEO dimulai dengan pertanyaan yang akan diajukan pelanggan target kepada AI engine dan bekerja mundur untuk memastikan konten yang dibuat adalah jawaban yang paling jelas dan paling terstruktur yang tersedia untuk pertanyaan itu.

SEO memberikan reward untuk cakupan komprehensif suatu topik. Maka agentic SEO memberikan reward untuk membuat kemampuan AI engine untuk menarik jawaban yang spesifik, lengkap, dan mandiri dari bagian tertentu halaman Anda tanpa membutuhkan konteks dari bagian lain artikel.

Inilah pelajaran yang saya dapatkan. Tapi, yang perlu dipahami lagi adalah ketika jawaban dari AI muncul, maka bisa berubah setiap waktunya dan tidak selalu sama.

Artinya, konten yang sudah disiapkan, sudah dirangking secara SEO di mesin pencari dan muncul di AI memiliki posibiltas untuk tidak muncul lagi di AI agent yang lain.

Belajar Strategi Agentic SEO untuk B2B

Saya mencoba membagikan beberapa kerangka yang sekiranya bisa dilakukan untuk mematangkan bisnis B2B baik untuk memulai fondasi SEO dan mematangkan agar bisa masuk ke dalam AI agent.

1. Menyiapkan Fondasi dengan Audit

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu, dengan memulai tiga hal yang paling utama dan pantau serta maksimalkan dalam jangka waktu 1 hingga 3 bulan.

A. Audit aksesibilitas crawler AI:

Periksa robots.txt dari website dan pastikan tidak ada crawler AI yang diblokir. Pastikan GPTBot (OpenAI), ClaudeBot (Anthropic), dan PerplexityBot.

Memblokir bot-bot ini sama ini artinya konten akan sulit hadir di sebagian besar platform AI generatif.

B. Menyiapkan Ringkasan Halaman yang Padat

Setiap halaman yang dinilai adalah dengan cara menyiapkan ringkasan 100 kata, padat fakta, menggunakan bahasa yang jelas dan non-metaforis. Di satu sisi, bagi AI agent cara ini membuat model AI dapat mengkategorikan halaman Anda dalam 0,2 milidetik.

Mulai dari nama produk, kategori, use case utama, target industri, tier harga, integrasi utama, dan sertifikasi yang dimiliki. Tentunya ini akan memicu diskusi di ruang meeting. Bagaimana mengolah tata bahasa yang tepat, baik dari sisi kreatif, SEO dan AI.

C. Adjustment Schema

Hal penting lainnya yang perlu dikuatkan adalah membuat optimasi Schema. Secara basic, schema akan selalu berlaku ketika menyiapkan website apa pun.

Tampilkan schema secara detil, termasuk transparansi harga. Cantumkan harga di dalam produk website. Cantumkan dalam artikel. Hal lain yang juga berpengaruh adalah, berupa pilihan menampilkan range harga yang jelas agar bisa dipantau oleh AI

2. Arsitektur Content

Bersamaan dengan fondasi awal, siapkan juga arsitektur konten dan lakukan dalam waktu yang sama, yaitu 1 hingga 3 bulan.

Konten yang ditampilkan pun adalah konten yang mengandung pertanyaan dan tidak hanya fitur.

Buat halaman produk berdasarkan pertanyaan yang paling sering ditanyakan pembeli, bukan berdasarkan kategori fitur. Jadi, dengan asumsi ini setiap heading yang disiapkan adalah pertanyaan, dan bukan pernyataan.

Lalu, dilanjutkan dengan jawaban langsung tanpa metafora dan singkat dengan maksimal 100 kata.

Buat Halaman atau Tabel Perbandingan

Untuk menambah informasi yang lebih jelas, bisa juga membuat tabel perbandingkan dan tulis dengan jujur. Jika tidak jujur, AI akan membangun perbandingan sendiri dari sumber lain dan bisa saja menjadi missinformasi karena tidak akurat.

Dokumentasikan Antara Case dengan Solusi

Menyiapkan satu studi kasus yang erat dengan produk yang ditawarkan adalah pilihan yang tepat. Lengkapi dengan FAQ yang lengkap dan mengandung pertanyaan dari pengguna selama ini.

Jika ada perubahan strategi atau bisnis, segera ubah FAQ agar tidak terjadi missinformasi.

3. Membangun Dari Luar

Sama seperti halnya SEO tradisional yang menggunakan backlink, maka hal yang sama juga berlaku jika bisnis B2B berjalan dengan baik dan dikutip AI Agent.

Ini kurang lebih seperti strategi PR, hingga membangun hubungan dengan komunitas yang tergabung dalam infrastruktur SEO.

Ikut Tergabung dalam Komunitas Ulasan

G2, adalah salah satu platform yang membahas ulasan perusahaan B2B khususnya SaaS. Secara keseluruhan dibutuhkan partisipasi dalam platform ini agar AI agents ketika mengevaluasi brand B2B yang sedang dijalankan.

Sebagai pertimbangan, saya menyebutkan ulasan yang detil tentang sebuah use case secara spesifik jauh lebih bermanfaat bagi AI ketimbang menggunakan kalimat pendek yang generik.

Manfaatkan LinkedIn yang Terindeks AI

Medium yang satu ini kerap digunakan untuk membangun branding sebuah perusahaan, brand, atau bisnis. Dalam B2B, strategi ini bisa dioptimalkan.

Gambarannya, gunakan Linkedin untuk membangun line yang konsisten melalui konten yang ditulis dari perspektif dan keahlian yang nyata. Ini bukan lagi tentang promosi.

Tapi sebuah demonstrasi keahlian dan kemampuan sebuah perusahaan B2B memberikan solusi yang detil. Sinyal ini akan dianggap sebagai bagian dari otoritas yang dipercaya oleh AI.

Gunakan Publikasi yang Tepat

Beberapa AI agent kerap menangkap sinyal yang jauh lebih tinggi pada konten yang muncul melalui publikasi industri yang terkait dibandingkan dengan konten yang ada hanya di website brand B2B itu sendiri.

Mulai dari konten yang berupa komentar pakar dalam artikel berita, kontribusi dari pengalaman nyata yang diceritakan seseorang adalah cara membangun hubungan antara brand B2B dan kategori produk dalam model bahasa AI.

4. Kuatkan Entitas Halaman

Google dan AI modern tidak hanya mengevaluasi halaman website sendiri. Tapi mengevaluasi siapa yang menyampaikannya. Di sinilah pengalaman nyata berbicara. Dalam konten website sendiri siapkan tulisan yang memang dibahas atau pemikiran dari tim produk atau eksekutif lainnya yang mampu menjelaskan apa keunggulan dari B2B yang ditawarkan.

Entitas ini harus jelas dan memang benar-benar terverifikasi. Tidak hanya konten, tapi nama legal, deskripsi, industri yang dijalani, nama penulis konten, nama-nama eksekutif hingga produk yang detail juga harus diceritakan.

Cara ini akan membangun AI agent untuk mengenal entitas bisnis B2B yang sedang dijalankan.

Baca juga: Mengenali Apa Bedanya GEO dan SEO Agar Tidak Salah Kaprah

Baca juga: Membedakan SEO dan Iklan Digital Dalam Strategi Digital Marketing

Menyiapkan Metrik AI Agent yang Terus Berkembang

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, metrik SEO tradisional tidak akan pernah cocok untuk AI atau pun GEO. Tidak ada ranking yang stabil, tidak ada metrik yang benar-benar mutlak untuk bisa dijadikan acuan. Semuanya sedang bergerak dinamis dan terus berkembang.

Saya mengusukan beberapa hal yang bisa dijadikan sebagai panduan untuk mencoba mengumpulkan metrik apa yang relevan bagi agentic SEO B2B:

Langkah pertama yang paling sederhana adalah mencoba menghitung seberapa sering LLM menyebut brand sebuah bisnis B2B ketika ditanya dengan pertanyaan yang kategori dan kuerinya relevan?

Lakukan testing manual setiap bulan. Gunakan hingga 10 pertanyaan di platform AI dan catat apakah brand B2B tersebut muncul. Catat juga apa konteksnya dan lihat kompetitor mana yang disebukan oleh LLM.

Branded Search Volume Growth pun bisa dijadikan acuan yaitu melihat metrik dari peningkatan pencarian bermerek di Google. Ketika AI menyebut nama brand B2B dalam rekomendasi, pengguna yang tertarik akan mencarinya langsung di Google. Pantau branded search di Google Search Console.

Berikutnya, pemilik bisnis B2B bisa memantau trafik yang datang langsung dari domain AI seperti ChatGPT atau Perplexity, di Google Analytics 4. Cara ini biasanya berbentuk referal dan sebenarnya masih dalam hitungan angka yang kecil. Cek terus secara berkala atau mingguan untuk memastikan, apakah ada sumber trafik dari mesin bernama AI ini.

Pilihan metrik terakhir, gunakan G2 sebagai platform yang mengumpulkan banyak bisnis B2B. Cek, jumlah ulasan, rating dan sentimen dari ulasan tersebut. Jangan sampai anti-kritik jika ada yang memberikan ulasan yang tidak memuaskan.

Ini cara untuk memperbaiki kualitas di masa depan. Bukan hanya tentang SEO, tapi keseluruhan produk, hingga proses bisnis dan operasionalnya.