Ulasan Film “Na Willa:” Teman Cerita Imajinasi dan Masa Kecil yang Retro

Satu lagi film Lebaran yang tayang di bioskop tahun 2026 yang saya tonton adalah “Na Willa.” Sebelum masuk ke review atau ulasan film “Na Willa” saya sebenarnya cukup kaget ketika film ini disutradarai oleh Ryan Adriandhy.

Ya! Sutradara yang juga komika ini berhasil menggairahkan kembali animasi di Indonesia dengan film berjudul “Jumbo” yang rilis di tahun 2025 yang lalu.

Awalnya saya tidak berharap terlalu banyak pada film ini, tapi tetap memberikan apresiasi yang tinggi untuk Ryan.

Ia kini tidak lagi hanya sekedar animator dan komika, tapi seorang sutradara yang berani menerima tantangan dengan menggarap film drama keluarga yang diadaptasi dari novel anak populer berjudul Na Willa karya Reda Gaudiamo.

Uniknya, lagi, film drama keluarga ini tidak berlatar masa modern dengan gaya yang pop, tapi suasana di Surbaya pada era ’60-an.

Sembari menuliskan review untuk film “Na Willa” saya masih merasakan induk dan energi masa kecil saya hidup kembali, meskipun saya tidak lahir di era tahun ’60-an tersebut.

Sinopsis Film “Na Willa”

Seorang gadis berusia enam tahun, tumbuh kembang dan tinggal di Gang Krembangan, Surabaya. Namanya Na Willa. Punya sahabat yang unik dan menyenangkan bernama Bud, Dul dan Farida.

Masa kecil mereka memang memberikan sebuah kisah-kisah klasik untuk masa depan. Tapi, siapa sangka, untuk mencapai masa depan tersebut, kehidupan empat sahabat cilik ini berubah.

Dimulai dari kecelakaan yang terjadi pada salah satu sahabat Na Willa, hingga perjalanan mereka ketika mulai menginjak masa sekolah yang penuh dinamika.

Seperti apa perjalanan seorang bocah kecil bernama Na Willa dengan latar masa lalu yang membuat saya rindu kembali di masa itu?

Review Film “Na Willa”

review-film-na-willa

Film yang sederhana, dengan struktur ceritanya lebih matang! Saya rasa, bagi penonton anak-anak tentu saja menyaksikan film ini mereka akan datang dengan menikmatinya senyaman mungkin.

Tapi, ternyata bagi orang dewasa seperti saya pun ternyata sangat menikmati cerita yang disajikan di film ini.

Penonton diajak menjadi Na Willa. Memang benar, karena di film ini, sudut pandang cerita akan diarahkan pada sang karakter utama.

Hasilnya, saya seperti menjadi bocil baru masuk sekolah yang punya segudang pertanyaan dan imajinasi yang terlintas di dalam kepala.

Termasuk keceriaan bermain bersama teman-teman yang menjadi bagian kuat dari film ini. Tak hanya itu, dengan cerdik, Ryan menarasikan cerita film ini bak dongeng dengan menggunakan suara Na Willa.

Saya pun merasa menjadi teman yang mendengarkan cerita Na Willa di dalam filmnya. Di sinilah energi masa kecil saya sontak hadir kembali. Saya seperti melihat sebuah tampilan bualan teman-teman saya di masa kecil dengan khayalan-khayalan tak masuk akalnya.

Tantangan berikutnya yang menarik menurut saya adalah bagaimana Ryan membangun cerita di film ini cara pelan, namun tetap mengalir dan menarik untuk diikuti.

Bagi yang menyukai film dengan tempo cepat, film “Na Willa” akan terasa sangat membosankan.

Tapi, inilah poin dari cerita yang ingin disampaikan. Orang dewasa seperti saya ingin sekali saja merasakan hidupnya melambat.

Tidak tergesa-gesa seperti pekerja yang berjalan cepat di pagi hari untuk menuju kantornya. Saya ingin santai, saya ingin menikmati hidup dan kembali menjadi anak kecil yang hidup dengan khayalan dan terkadang rewel hingga usil.

Sesekali masuk ke dalam ingatan masa kecilnya dengan nostalgia-nostalgia yang seru.

Lalu, bagaimana dengan konflik ceritanya? Yang pasti, ketika saya menonton film ini, konflik yang ditawarkan memang disampaikan dengan baik.

Tapi, saya lebih bahagia dengan nostalgia masa kecil, sembari mendengarkan Na Willa sebagai teman cerita di masa kecil.

Tim Artistik dengan Vibes ’60-an

tim-artistik-film-na-willa

Jika tidak salah ingat tim artistik di sebuah film terdiri dari beberapa bagian. Di film ini, mungkin saya akan melabeli visual di cerita Na Willa ini dengan tim artistik yang sunguh sangat menarik.

Saya belum mampu membangun imajinasi bagaimana sebuah visual disampaikan di tahun ’60-an. Tapi, ketika menonton film ini, saya benar-benar berhasil mendapatkan visualnya dan itu tersampaikan dengan baik.

Gambaran pasar, mobil, pakaian, hingga es krim yang dicicipi oleh Na Willa dan teman-temannya. Semua sesuai dengan vibes ’60-an.

Meskipun secara visual, penggambaran tahun ’60-an, ada satu hal yang masih terasa mengganjal buat saya.

Dengan latar belakang Surabaya di tahun ’60-an saya kurang mendapatkan dialog-dialog berbahasa Jawa yang rasanya menjadi ciri khas Surabaya.

Tapi, meskipun begitu, dialog-dialog tersebut diganti dengan bahasa baku yang mungkin jika dituliskan akan menjadi ejaan lawas yang menarik. Apakah, nanti film ini akan dikembangkan dalam bentuk buku cerita dan menggunakan ejaan lawas?

Mungkin tim Visinema pasti tahu cara untuk melebarkan marketing dari film “Na Willa” di waktu yang akan datang.

Baca juga: Ulasan Film: “Tunggu Aku Sukses Nanti,” Ironi Lebaran yang Emosional

Baca juga: Film Terbaru Maret 2026: Judul Apa yang Ramai Penonton?

Warna-warna Apik yang Dikirimkan Dari Masa Lalu

Saya menyukai fotografi analog. Roll film favorit saya beberapa diantaranya adalah Agva Vista 200/400 hingga Kodak Ektar 100 yang punya warna-warna menarik.

Tapi, apa yang ditampilkan secara visual di film “Na Willa” jauh lebih menarik lagi. Selama menonton, saya seperti membayangkan memotret beberapa scene yang ada di film ini dengan cara saya sendiri dan menebak-nebak roll film apa yang akan saya gunakan.

Di sinilah peran sebuah visual yang terkait dengan tim artistik di dalam sebuah pembuatan film.

Sebagai mantan content editor yang mengulas beberapa film Indonesia dengan latar masa lalu sekaligus penggemar fotografi analog, peran visual di film “Na Willa” menurut saya berhasil merasuki penonton.

Warna-warna ini sangat berperan membangun dan menghidupkan cerita yang disampaikan. Bahkan, ketika bertemu dengan momen-momen film ini terasa begitu panjang, tapi dari visualnya membuat mata menjadi nyaman.

Tidak hanya itu, cara pengambilan gambarnya yang menurut saya juga berhasil merasuki penonton untuk membuat kita semua berada di dalam POV sekaligus teman cerita dari Na Willa.

Dalam sebuah oborlan Ryan dengan video podcast seminggu, sang sutradara mengatakan bahwa ia ingin penonton menikmati imajinasi dari seorang gadis kecil. Kira-kira seperti itulah yang saya ingat dari oborolan tersebut.

Dan hal ini yang juga sukses dihadirkan Ryan dengan menghadirkan beberapa efek animasi yang ikut masuk dalam imajinasi, termasuk saya sendiri. Dilengkapi dengan beberapa ilustrasi yang menegaskan fondasi awal Ryan sebagai animator juga tak kalah seru ketika ditonton.

Bagi saya, film “Na Willa” bukan hanya tentang cerita anak-anak saja. Seluruh keluarga juga punya misi yang tepat untuk menonton film ini.

Ada banyak keseruan dan tentunya pelajaran tanpa menggurui orang dewasa yang bisa didapatkan penonton setelah menyaksikan film “Na Willa.”

Sedang tayang di bioskop-bioskop Indonesia, jangan sampai lupa menyaksikan keseruan film ini ya!

Leave a Comment