Setelah sempat menulis tentang film-film yang masuk nominasi Oscar di tahun 2026, saya tak perlu menunggu lebih lama menanti kehadiran film ini di platform OTT. Mulai hari ini, film “Marty Supreme” akan tayang di bioskop CGV hingga XXI. Sebelum memberikan ulasan film “Marty Supreme,” saya akan mengajak pembaca semua untuk mengikuti beberapa fakta menarik berikut ini.
Kenapa Wajib Menonton Film “Marty Supreme?”
1. Film dengan Nominasi 9 Oscar 2026
Sejak dirilis tahun 2025 yang lalu dan dikenalkan di beberapa festival, film “Marty Supreme” berhasil mendapatkan nominasi untuk kategori Best Picture (Film Terbaik), Best Director (Sutradara Terbaik), dan Best Actor (Timothée Chalamet), Casting, Cinematography, Film Editing, Costume Design, dan Production Design.
2. Piawainya Josh Safdie Sebagai Sutradara
Film ini dikomandoi oleh Josh Safdie sebagai sutradara dan “Marty Supreme” bukan satu-satunya film yang ia pimpin mendapatkan nominasi Oscar. Pada tahun 2019, Josh Safdie dipercaya menggarap film “Uncut Gems” yang juga masuk nominasi Oscar untuk beberapa kategori.
3. Film Terlaris A24
Per Januari 2026, “Marty Supreme” jadi film terlaris produksi A24, dengan total pendapatan $80 juta!
Sinopsis Film “Marty Supreme”

Seorang anak muda di Amerika Bernama Marty (Timothée Chalamet) bukanlah seorang sales biasa. Ia punya bakat terpendam memainkan olahraga tenis meja. Demi menggapai impiannya menjadi yang terbaik, Marty melakukan segala cara hingga membuat kehidupan pribadinya yang berantakan.
Review Film “Marty Supreme”
Adegan dibuka dengan sahut-sahutan antara karakter, dan tentu saja termasuk karakter Marty yang diperankan oleh Timothée Chalamet.
Selanjutnya sebuah adegan sensual dengan opening yang tajam sudah menjelaskan betapa agresifnya karakter Mary.
Sepanjang durasi film saya merasakan intensitas yang tinggi untuk sebuah film drama. Nada tinggi dan kasar menjadi sebuah kilas balik dari latar belakang film yang berkisar di tahun ’50-an dan mengisahkan betapa “berisiknya” film “Marty Supreme.”
Agresivitas ini kemudian menjadi jembatan bagaimana kehidupan pribadi yang menjadi tokoh sentral di film ini. Ia terjebak dalam masalah yang ia buat sendiri. Mulai dengan hubungan sesaatnya bersama Rachel Mizler (Odessa A’Zion), hingga hubungan liarnya dengan Kay Stone (Gwyneth Paltrow).
Terlepas dari itu semua, Marty yang diceritakan di dalam film ini adalah seorang yang punya ambisi, energinya tidak pernah habis dan seorang opurtunis sejati. Semuanya dirangkum demi menjadi yang nomor satu di olahraga tenis meja.
Ambisi-ambisi gilanya tak hanya menjadi bumbu cerita, namun kemudian menegaskan ganasnya seorang anak muda dengan idealismenya pada saat itu.
Cerita agresif, berisik dan opurtinis ini dirangkai dengan baik oleh penulis naskah Ronald Bronstein dan Josh Safdie.
Naskah yang tepat dan diberikan pada aktor yang tepat pula akan menghasilkan film yang bikin gregetan.
Penonton diajak untuk gemas dengan karakter Marty, di bawah berpindah-pindah bak bola ping-pong yang jadi menjadi poin utama di film ini.
Tak salah rasanya film ini diganjar nominasi Oscar dan salah satu nominasinya jatuh kepada Timothée Chalamet yang berperan sebagai Marty.
Ibarat permainan sepak bola, Timothée Chalamet adalah ujung tombak yang memulai agresivitas film ini dan ikut juga sebagai orang yang berbesar hati karena sifat opurtinisnya.
Performa Timothée Chalamet

Tak salah rasanya menobatkan Timothée Chalamet sebagai aktor berkarakter kuat di masa depan.
Performanya luar biasa dan menghidupkan karakter seorang mas-mas kalcer pada masanya yang begitu berambisi untuk semua hal yang ada di sekitarnya.
Timothée Chalamet berhasil memainkan karakter ini dengan penampilan yang meyakinkan, sekaligus kepedihannya karena luka yang tersembunyi di balik mentalnya yang rapuh.
Penonton akan dibawa melihat bagaimana sebuah pertandingan tenis meja dari kursi wasit. Dibolak-balik di hantam pukulan bet dan pada satu titik, seorang Marty sebenarnya adalah anak muda yang belagu dan tengil.
Ia bisa terlalu agresif, bisa juga sangat tenang, meskipun hatinya gelisah dan kepalanya dipenuhi dengan umpatan-umpatan yang benar-benar berisik.
Sampai penonton seperti pun tahu, ada satu titik yang akan membuat ia gagal karena ulahnya sendiri dan konsekuensi yang harus diterima Marty di waktu yang akan datang.
Cerita dan Karakter Bak Bola Ping-Pong
Struktur dari cerita film ini sebenarnya sangat kuat, dan dikuasai oleh Marty. Tak salah rasanya memang penonton akan terbawa dalam sebuah pertandingan tenis meja.
Tak hanya Marty, karakter-karakter yang ada di sampingnya juga ikut bergerak mengikuti irama labilnya seorang Marty.
Mulai dari karakter seperti Kay Stone, Rachel Mizler, hingga Dion Galanis ikut dibawa dalam tempo permainan yang diciptakan oleh Marty.
Perpaduan naskah dan karakter ini membuat penonton terhipnotis dan tentu saja kesal kepada Marty.
Ini poin penting yang hadir di film “Marty Supreme” yang pada akhirnya akan terus membuat penonton mengikutinya hingga akhir.
Production Design yang Otentik

Bicara level film yang masuk dalam nominasi Oscar di tahun 2026, “Marty Supreme” menghadirkan sebuah latar belakang yang otentik khas era ’50-an dengan dinamis.
Konsep ini hadir dengan Production Design yang sangat matang. Dan kemudian diimbangi dengan kostum, latar belakang set, hingga bagaimana para karakternya memainkan peran.
Dari New York hingga London, konsep ini tetap terjaga ritmenya, mengikuti kisah-kisah sosial yang terjadi pada masa itu.
Ibaratnya, New York adalah kota yang kasar, sementara itu, London adalah kota yang kaku dan arogan dengan gayanya sendiri.
Kehadiran Marty sebagai ujung tombak di film ini seperti merangkum semua Production Design yang sempurna pula.
Gwyneth Paltrow Mencuri Perhatian

Harus diakui, Gwyneth Paltrow memang mencuri perhatian di dalam Marvel Cinematic Universe sebagai Pepper Pots. Satu karakter yang diklaim tidak akan pernah kembali lagi dalam dunia superhero Marvel.
Namun, saya masih bisa merasakan betapa apiknya peran Gwyneth Paltrow di dalam beberapa film yang pernah saya tonton seperti “Se7en,” “Shakespare In Love,” atau “The Talented Mr Ripley.”
Meskipun bukan pemeran utama, namun Gwyneth Paltrow berhasil memainkan karakternya dengan apik.
Sebagai seorang Wanita dewasa ia terlihat cerdas, elegan dan tidak mudah terpengaruh. Namun, ia juga bisa menjadi penyeimbang ketika dan agresif dan ikut terbawa dalam irama permainan bolak-balik bak permainan tenis meja yang disuguhkan oleh sang ujung tombak.
Baca juga: Ulasan “Wuthering Heights”: Romansa Sensual yang Bercerita Tanpa Arah
Baca juga: Judul Film yang Masuk Nominasi Oscar 2026 Bisa Ditonton di mana?
Penutup Ulasan Film “Marty Supreme”
Setelah menonton film ini saya menjadi tahu dan paham kenapa film “Marty Supreme” berada di dalam calon pemenang Oscar 2026.
Semua lini film ini terlihat siap untuk menjadi salah satu film terbaik dan bisa saja menyabet gelas Oscar tahun ini.
Dan tentu saja, penonton tidak perlu menunggu terlalu lama untuk menyaksikan film ini di platform OTT.
Film “Marty Supreme” sudah tayang hari ini di bioskop-bioskop Indonesia seperti CGV Cinemas hingga XXI.







