Dari sekian banyak pilihan film baru minggu ini, saya memilih untuk mengulas film “Ikatan Darah” yang dibawah produksi Uwais Pictures dari Iko Uwais.
Bagi yang sudah pernah melihat trailernya, pasti sudah tahu, bahwa film ini penuh dengan adegan-adegan action yang memang menggambarkan bahwa film ini menjadi ciri khas dari seorang Iko Uwais. Tapi, film ini tidak hanya tentang adegan-adegan action.
Ada banyak hal menarik lain yang disuguhkan di dalam film ini. Oleh karena itu, berikut review film “Ikatan Darah,” yang mulai tayang di bioskop pada tanggal 30 April 2026.
Sinopsis Film “Ikatan Darah”
Bagamana jadinya jika seorang wanita bernama Mega (Livi Ciananta) yang hidup dengan kondisi pas-pasan pasca tak lagi menjadi atlit Pencak Silat berusaha menyelamatkan kakaknya Bilal (Derby Romero) dari kejaran para gangster?
Bukan tanpa sebab, karena Bilal terlilit masalah ekonomi dengan utang yang menumpuk dan terjebak dalam sebuah skenario pembunuhan yang mau tak mau melibatkan dirinya sendiri.
Alhasil, ketika gangster menyadari hal yang melibatkan Bilal, berbagai pertikaian pun terjadi, Mega dan Bilal berusaha lari dari kejaran gangster dan orang-orang maniak yang saling terkait satu sama lain.
Dari sini, penonton akan diajak terlibat berada dalam keresahan Bilal dan Mega dengan adegan-adegan action yang mengesankan dan brutal!
Review Film “Ikatan Darah:” Action Tanpa Ampun
Dalam review film “Ikatan Darah” saya tidak akan menyebutkan Iko Uwais secara keseluruhan. Meskipun digarap Uwais Pictures, justru film ini mampu tampil dengan caranya sendiri melalui tangan sutradara Sidharta Tata yang juga terlibat sebagai penulis naskahnya bersama Rifki Ardisha.
Secara keseluruhan, apa yang disampaikan di dalam film memang menjadi ciri khas dari Sidharta Tata sendiri. Alur cerita film “Ikatan Darah” dibuat dengan latar belakang yang jelas dan tanpa masalah. Sebagai penonton, saya tidak melihat ada masalah yang terlalu besar di bagian cerita ini.
Secara keseluruhan tata cerita yang dikelola dan dimainkan oleh Sidharta Tata terbilang memuaskan. Digabungkan dengan action yang selalu nge-gas hampir di setiap adegannya.
Kemampuan mengelola cerita ini mungkin tidak lepas dari apa yang dilakukan Sidharta Tata di beberapa series. Beberapa judul seperti “Tunnel,” “Hitam,” “Pertaruhan: The Series,” dan “Zona Merah” adalah series-series terbaik yang pernah digarap oleh Sidharta Tata.
Dari sini, latar belakang ini secara keseluruhan film “Ikatan Darah” mampu memberikan sebuah sajian cerita yang baik, dan tidak hanya menjual action saja.
Meskipun begitu, ada satu catatan pada beberapa konflik. Penceritaan pada bagian ini terasa seperti sesuatu yang sengaja dipanjang-panjangkan.
“Ikatan Darah” Dimulai dari Realita Ekonomi
Kenapa saya menyebutkan latar belakang cerita ini kuat? Secara premis, latar belakang cerita sangat relevan dengan kehidupan ekonomi masyarakat.
Contoh nyata yang sudah ada adalah film “Sleep Call” yang punya latar belakang cerita situasi ekonomi yang semrawut, penagih utang, kejadian kriminal dan lain-lainnya. Hal yang sama kurang lebih jadi latar belakang cerita film ini.
Tapi, “Ikatan Darah” hadir dengan action yang semakin membuat realita ekonomi ini terasa sangat relevan.
Pertempuran dengan adegan action yang hadir di film ini tentunya tidak akan tercipta ketika karakter Bilal, yang terlibat dengan masalah utang dan susahanya mencari uang yang tidak bisa diselesaikannya sendiri.
Sebuah realita yang tidak hanya terjadi pada Bilal, tapi juga terjadi di banyak masyarakat beberapa waktu belakangan ini.
Hal yang juga terjadi dengan kisah kompleks Mega. Hidupnya menjadi tidak berjalan dengan baik setelah tak lagi menjadi atlit Pencak Silat dan menjadi seorang Pramusaji.
Latar belakang cerita semakin kuat dengan mengisahkan bagaimana sebuah gangster bekerja dan terlibat langsung dalam realita ekonomi yang sebenarnya. Sebuah realita yang mungkin tampak tabu, dan enggan dibicarakan karena rasa takut di dalam himpitan ekonomi.
Setiap poin dari latar belakang ini yang kemudian memenuhi cerita film “Ikatan Darah” dengan baik dikirimkan kepada penonton. Sehingga action yang dihadirkan punya dasar yang kuat, dan tidak lagi hanya adegan pukul-pukulan.
Action yang Sempurna
Terlepas dari tangan Sidharta Tata yang sudah punya pengalaman menggarap cerita-cerita dengan koreo action, nama Iko Uwais tentu saja tidak bisa dilepaskan di film ini.
Sebagai penonton, saya melihat film ini memenuhi standar action yang memang selalu menjadi ciri khas Iko Uwais. Meskipun begitu, adegan action yang disajikan tetap berdiri sendiri sesuai dengan ciri khasnya.
Kalau sudah begini, saya menyebut, action yang disajikan oleh film “Ikatan Darah” jelas sempurna. Hampir tidak ada yang meleset. Pergerakan kamera pun mengalir dengan sangat baik memberikan pilihan-pilihan aksi yang disuguhkan di sepanjang film.
Dilengkapi dengan adegan-adegan brutal yang pastinya memang menjadi ciri khas dari sebuah film action. Bicara seni bela dirinya pun terlihat lebih terasa universal, meskipun karakter Mega berangkat dari latar belakang sebagai seorang atlit Pencak Silat.
Pada bagian ini, saya memberikan dua jempol. Action dengan intensitas yang terjaga konsistensinya dan mampu memberikan hiburan yang kuat. Semua karakter piawai dalam memainkan peran action mereka masing-masing.
Satu saja usul saya, sebaiknya penonton film ini sudah berada di usia 17 tahun ke atas saja. Hal ini karena akan sangat banyak adegan action kasar yang cenderung brutal.
Baca juga: Ulasan Film “Na Willa:” Teman Cerita Imajinasi dan Masa Kecil yang Retro
Baca juga: Ulasan Film: “Tunggu Aku Sukses Nanti,” Ironi Lebaran yang Emosional
Karakter yang Ikonik

Satu hal yang kemudian mencuri perhatian saya adalah karakter-karakter antagonis yang ada di film ini. Mulai dari Primbon (Teuku Rifnu Wikana) hinggga Jabrik (Agra Piliang) ditampilkan dengan ciri khas yang unik.
Tak hanya sekedar dari sisi visual karakter, tapi bagaimana peran yang mereka mainkan. Tentunya hal ini bukan hal yang baru bagi Sidharta Tata.
Dari beberapa series yang pernah ia kerjakan, Tata selalu punya cara untuk menampilkan karakter-karakternya hingga dikenal menjadi karakter yang ikonik.
Tapi, masih ada catatan yang rasanya kurang. Catatan ini justru hadir di dua karakter utamanya, yaitu Bilal dan Mega.
Meskipun latar belakang karakternya terbilang kuat, tapi terasa kurang dieksplor lebih dalam lagi. Tapi, sekali lagi, catatan ini berhasil ditutup dengan adegan action yang disuguhkan oleh keduanya.
Selain itu karakter-karakter ikonik ini muncul lebih tegas ketika pemilihan pengambilan sudut pandang gambar seperti menempatkan mereka di tengah-tengah.
Tentu saja akan membuat penampilan setiap karakter semakin menjadi tegas dalam menceritakan siapa mereka sebenarnya di dalam film ini.
Sebagai penutup, dari review film Ikatan Darah” yang melibatkan Iko Uwais sebagai produsernya ini wajib ditonton di bioskop. Sekali lagi, film “Ikatan Darah” sedang tayang di bioskop-bioskop Indonesia, mulai hari ini, 30 April, 2026.
Penulis adalah mantan content editor yang sudah mengulas lebih dari 100 film dan tv series, jurnalis teknologi yang sudah mengulas lebih dari 500 gadget dan juga pegiat serta praktisi di bidang digital marketing serta SEO. Untuk lebih detil, bisa cek di tautan penulis ulasanwarga.com
