Ulasan Film “The Punisher: One Last Kill” Bukan yang Terakhir dari Frank Castle

Film yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga.“The Punisher: One Last Kill” dari Marvel, akhirnya rilis di bulan Mei 2026 ini di Disney +.

Sebelum masuk ke review film “The Punisher: One Last Kill” saya menampikkan apa yang sudah pernah saya tonton Ketika Frank Castle/ Pusnisher (Jon Bernthal) tampil di versi series yang tayang di Netflix beberapa tahun yang lalu.

Kali ini saya benar-benar mencoba melihat sang vigilante dari sisi yang berbeda. Untuk mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Frank Castle, cek dulu yang satu ini.

Sinopsis “The Punisher: One Last Kill”

Frank Castle tampak masih bergelut dengan dirinya sendiri. Dari mantan perwira militer dan berhadapan dengan hal-hal yang terkait dengan putrinya. Satu bagian dari Frank yang sulit padam ini tentunya sudah pernah disaksikan oleh penonton yang menonton seriesnya.

Tak cukup di sana, gejala PTSD yang didapatkannya pun sudah tergambar di serial TV Daredevil Born Again Season 1.

Kehadirannya, seperti orang kusut yang sulit untuk Kembali dalam keadaan normal. Hal ini diperparah Ketika lingkungan sekitar New York yang semakin berantakan Ketika Wilson Fisk tak lagi memimpin menjadi walikota dan Matt Murdock alias Daredevil berada di dalam penjara.

Kejahatan Kembali merajalela, dan Frank terjebak dalam bayang-bayang kegelapan masa lalunya sekaligus menyalurkan Hasrat balas dendamnya yang belum terbayar tuntas.

Bisakah ini menjadi yang terakhir bagi Frank Castle A.K.A The Punisher?

Review Film “The Punisher: One Last Kill”

Sebagai sutradara, Reinaldo Marcus Green tahu betul apa yang ingin diceritakan di dalam filmnya. Bersama Gerry Conway dan Jon Bernthal sebagai penulis naskah, arah cerita dibuat padat tanpa bertele-tele. Tak salah rasanya “The Punisher: One Last Kill” menampilkan status origital title berupa “A Marvel Television Special Presentation: The Punisher: One Last Kill.”

Penonton hanya butuh waktu sekitar 20 menit untuk mengenali latar belakang masalah Frank Castle sebagai The Punisher. Selanjutnya, ini adalah presentasi tentang sosok vigilante yang tampaknya punya penampilan spesial di dalam jagat Marvel Cinematic Universe.

Film ini berdurasi singkat. Kurang lebih 50 menit. Alur cerita yang disampaikannya pun jelas meskipun terbilang singkat. Meskipun ada beberapa catatan yang sebenarnya tidak perlu ditampilkan, tapi “The Punisher: One Last Kill” mampu tampil apik.

Sekilas seperti kembali ke latar belakang kisah Frank di versi series yang tayang di Netflix. Tapi, di waktu berikutnya, ini adalah apa yang ingin ditampilkan dalam versi Disney atau setidaknya di dalam dunia Marvel.

Secara linimasa, film ini mengisahkan pasca “Daredevil: Born Again.” Angka kriminalitas semakin menggila, penduduk sekitar saling baku hantam, tanpa alasan yang jelas.

Frank yang selama ini enggan kembali ke kehidupannya karena merasa balas dendamnya dianggap sudah selesai, “dipaksa” keluar dari apartemen kecilnya yang berdebu dan dihantui oleh apa yang sudah dilakukannya di masa lalu.

Pertemuannya dengan Ma Gnucci pun bukan tanpa alasan. Semuanya diceritakan dengan cara yang santai dan tidak terburu-buru. Hal yang menceritakan bahwa “The Punisher: One Last Kill” bukan lagi sekedar gimmick dari Marvel sembari menunggu Avengers Doomsday di tahun ini.

Saya sungguh menikmati apa yang ditampilkan Frank di Marvel’s The Punisher versi Netflix. Tapi, saya juga sangat-sangat mengagumi apa yang ditampilkan Frank Castle dan kembali hadir melalui versi film pendek ini.

Action yang Brutal

ulasan-film-the-punisher-one-last-kill-disney-2026
Sumber: IMDB/Disney

Disney dikenal punya “etika” dalam menghadirkan film atau series. Bahkan, saya akan klaim saja di tulisan ini, tidak ada adegan brutal atau berdarah-darah.

Tapi, apa yang ditampilkan di “The Punisher: One Last Kill” adalah sebaliknya. Mungkin jika Marvel masih berdiri sendiri, dan tidak diakuisisi Disney, film ini memang sudah jadi takdirnya sendiri.

Tapi, setelah diakuisisi, seperti ada tata-tertib yang harus dipatuhi untuk menampilkan sebuah film yang brutal. Ini yang disajikan di film “The Punisher: One Last Kill.”

Tak ada basa-basi, selepas 20 menit pengenalan latar belakang Frank Castle, sisanya ini adalah action yang brutal. Saya melihat ini seperti gaya action masa kini. Terlihat seperti perpaduan John Wick dan Jason Bourne.

Keahlian Frank Castle pun ditonjolkan di dalam kemampuannya One-Person Army Action. Baik dengan tangan kosong, pistol, pisau hingga sepucuk pensil kecil.

Frank Castle tidak perlu lagi malu-malu untuk menunjukkan siapa dirinya ketika rasa takut dan balas dendam dari masa lalu ternyata masih hidup di dalam kepalanya.

Visual yang Terang Tapi Gelap

Dasar ceritanya yang kuat memang memberi arti bahwa Frank Castle bukan lah superhero. Ada sisi gelap dirinya yang tidak pernah berubah hingga kini. Ini yang ditangkap dengan baik di sepanjang cerita filmnya.

Tapi, di sisi yang lain, secara visual film ini sengaja ditabrakkan secara kontradiktif dengan karakter Frank Castle itu sendiri. Belum lagi, jika dibandingkan dengan penampilannya di versi series yang selalu keluar di malam hari.

Kali ini Frank Castle tampil di siang bolong. Ia tak perlu ragu lagi tampil menghabisi siapa pun dan tidak hanya di malam hari. Tapi di siang hari, Frank akan menyikat apa yang dianggapnya sebagai sebuah kekecewaan.

Sepanjang film kombinasi visual yang gelap dari Frank dan visual yang terang khas kota di Amerika ditampilkan secara gamblang. Sekaligus, visual ini seperti mengenalkan lagi, siapa Frank Castle sebenarnya.

Penampilan Jon Bernthal yang Maksimal

Nama Jon Bernthal jarang disebut. Sekali tampil di beberapa film, sang aktor lebih banyak tampil sebagai sidekick saja. Tapi saya menilai Jon Bernthal adalah aktor yang underated.

Satu film ini sudah menjelaskan kemampuannya. Okelah anggap dia tak harus selalu lekat dengan karakter The Punisher, tapi kita lihat dari sisi yang lain.

Dalam film ini Jon Bernthal juga terlibat dalam penulisan naskahnya. Artinya, Jon Bernthal punya andil membuat cerita ini menjadi padat dan singkat, tapi tetap punya kualitasnya sendiri.

Satu cerita yang mungkin dianggap tidak penting, tapi menjadi sangat penting, karena ternyata Frank Castle A.K.A The Punisher masih akan berlanjut dalam bagian Marvel Cinematic Universe.

Dan John Bernthal adalah satu-satunya yang bisa melakukan ini.

Baca juga: Ulasan “Daredevil: Born Again” Season 2, Pertarungan Pikiran Matt vs. Wilson Fisk

Baca juga: Ulasan “Wonder Man”: Series Marvel yang Mementingkan Kualitas

Bukan yang Terakhir Untuk The Punisher

Dalam bagian ending, sudah dijelaskan, Frank Castle alias The Punisher sudah tidak malu-malu lagi. Ia kini menggunakna kostum lengkapnya dan bertarung langsung dengan penjahat-penjahat.

Ini bukan lagi pelarian dari PTSD atau dendam masa lalu yang tidak menghantuinya. Ini seperti jadi tanggung jawabanya sendiri. Apalagi, mungkin saja karena Matt Murdock alias Daredevil masih di dalam penjara.

Tapi, film pengenalan The Punisher ini tidak hanya itu saja. Frank Castle juga akan tampil di film “Spider-Man: Brand New Day.” Marvel punya cara lain untuk mencoba bangkit kembali setelah hancur-hancuran pasca “Avengers: Endgame.”

Dan keterlibatan setiap karakternya kini menjadi penting dari puzzle cerita, termasuk pada karakter The Punisher. Jadi, bagi para penggemar The Punisher, sampai berjumpa lagi di film “Spider-Man: Brand New Day.”

Bagi yang tidak ingin melewatkan film ini, “The Punisher: One Last Kill” saat ini sedang tayang di Disney+.

Leave a Comment