Naver Map dan Papago Aplikasi Bagi Wisatawan yang Baru Pertama Kali Liburan di Korea

Tidak terbayangkan rasanya berkesempatan ke Korea Selatan. Sebenarnya ini adalah acara yang memang ditujukan bagi istri saya untuk meliput sebuah acara jam tangan di Seoul, Korea Selatan. Saya hanya ikut saja, sekalian liburan sebentar. Jadi, selama kami di Korea Selatan yang hanya 3 hari 2 malam saja, kami tidak banyak berjalan-jalan ke tempat lain. Hanya ada di Seoul saja, tapi tetap tidak membosankan.

Selain ikut melihat reaksi masyarakat Korea Selatan yang nobar Meksiko dan Korea Selatan, saya menyempatkan menggunakan pengalaman menggunakan layanan transportasi publik dan kuliner halal di sekitar kami tinggal.

Untuk membantu kami, mengenali papan petunjuk jalan yang menggunakan aksara Hangul dan mengenali stem transportasi umum Seoul kami memanfaatkan teknologi.

Di sinilah dua aplikasi digital yang pada akhirnya saya unduh setelah sampai di Korea Selatan. Aplikasi penting yang sebaiknya disiapkan bagi wisatawan Indonesia yang nantinya berencana atau sedang liburan di Korea Selatan.

Naver Tidak Hanya Bikin LINE

Mendengar nama Naver, pikiran saya langsung mengarah ke LINE. Aplikasi percakapan sosial yang populer di awal-awal tahun 2010-an. LINE saat itu bersaing dengan WhatsApp atau perusahaan lainnya KaKao Talk yang juga masuk ke Indonesia.

Tapi, setelah itu nama LINE tenggelam, tapi tidak dengan Naver. Berdiri sejak 1999, Naver ternyata punya banyak aplikasi lain yang hadir dalam produk mereka.

Dan saat berada di Korea Selatan, barulah saya mengetahui bahwa Naver Map dan Papango adalah aplikasi besutan dari Naver. Lalu, kenapa saya bisa menyebut aplikasi Naver Map jauh lebih baik dibandingkan dengan Google Maps yang selama ini populer di Indonesia?

Pengalaman Menggunakan Naver Map di Korea Selatan

Aplikasi pertama yang cocok bagi wisatawan indonesia yang liburan di Korea adalah peta digital.

Naver Map begitu populer karena digunakan oleh pengemudi, pejalan kaki, pengguna transportasi umum, hingga pengantar makanan. Tidak hanya oleh turis, tapi oleh penduduk lokalnya sendiri.

Jadi, dari kesan pertama yang saya dapat, ada awareness yang tinggi dari masyarakatnya sendiri untuk menggunakan aplikasi ini. Tidak pakai buzzer, tidak dibuat dadakan, tapi memang karena ada hal penting yang ingin saya sampaikan di sini.

Mengutip dari The Korea Herald, Naver menggunakan data dari pemerintah Korea Selatan itu sendiri.

Peta digital yang dihadirkan untuk masyarakat adalah skala 1:5.000 yang dibuat dan dikelola oleh National Geographic Information Institute (NGII sebuah lembaga pemerintah di bawah Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, dan Transportasi Korea.

Peta ini didanai publik, dimaintenance, diperbarui setiap tahun, dan mencakup jaringan jalan, garis bangunan, serta infrastruktur perkotaan.

Ini yang tidak saya temukan di negara sendiri.

Naver Map Lebih Unggul dari Google Maps di Korea

Kemitraan antara pihak swasta dan pemerintah yang diwakili oleh National Geographic Information Institute, sebuah lembaga pemerintah di bawah Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, dan Transportasi Korea.

Ini yang membuat Naver jaduh lebih dihargai oleh masyarakatnya sendiri. Ada kemauan dan keinginan dari pihak swasta dan pemerintah untuk memanfaatkan dana publik menjadi sangat berguna.

Tidak hanya untuk masyarakatnya sendiri tapi juga wisatawan yang datang.

1. Data transportasi umum yang jauh lebih akurat

Naver Map terintegrasi dengan semua sistem transportasi Seoul Metropolitan Area (SMA). Semua informasi tentang jadwal real-time bus kota, nomor jalur subway, estimasi waktu tiba yang diperbarui secara langsung. Ketika saya berbincang-bincang dengan salah satu warga lokal, hal yang sama tidak ditemukan di Google Maps.

G-Maps masih kerap meleset soal jadwal bus lokal dan rute jalur kecil yang di luar Seoul. Saya mencoba melihat dua-duanya, ada beberapa perbedaan mendetil. Terutama tentang estimasi waktu.

Mengutip informasi dari Bussiness Korea Kemitraan Naver dan National Geographic Information Institute mencakup data foto udara, citra satelit, orthophoto, dan data spasial 3D milik NGII yang akan dikombinasikan dengan teknologi kecerdasan spasial Naver Labs untuk meningkatkan presisi dan akurasi lokasi.

Intinya, Naver menggunakan data citra satelit dan berasal dari pemerintah, bukan dari satelit komersial milik Google.

2. Akurasi Lokasi di Dalam Gedung

Saya termasuk orang yang terbilang katrok. Jika sudah masuk gedung seperti perkantoran atau mall masih sering nyasar. Bahkan, Google Maps pun tak mampu menolong.

Konon, Naver Map lebih canggih lagi. Nah, Naver Map memiliki fitur peta di dalam gedung untuk banyak lokasi. Mulai dari stasiun kereta hingga pusat perbelanjaan.

Jujur saja, saat berada di Korea Selatan, saya tidak menggunakan fitur ini, karena memang tidak masuk ke dalam gedung perkantoran dan mall. Pun, kalau di hotel terbilang mudah untuk menemukan kamar yang saya tuju.

Tapi, jika fitur ini tersedia di Naver Map, hal ini sangat terbilang canggih dan memudahkan siapa saja, termasuk turis yang berkunjung ke Korea Selatan.

3. Ulasan dan Informasi Bisnis Tersedia di Naver Map

Jika kita melihat Google Maps, maka bisa menemukan informasi bisnis lokal dengan ulasan. Hal yang sama juga ada di muncul Naver Map.

Saat mencari makanan saya mencoba mencari rekomendasi menu makanan yang halal. Dan hal ini muncul juga di Naver Map. Lengkap dengan informasi bisnis lokal serta ulasannya.

4. Fitur Bahasa Inggris

Naver Map tak hanya berbicara dengan “bahasa” Korea. Untuk lebih memudahkan penggunanya dari berbagai negara, tersedia juga bahasa Inggris.

Bagi saya tampilan bahasa Inggris yang disediakan sudah sangat cukup untuk navigasi yang saya butuhkan hanya dalam beberapa hari kunjungan saya ke Korea Selatan.

Fitur-Fitur Utama yang Saya Coba dengan Naver Map

Sesuai dengan fitur yang tersedia tadi, saya mencoba fitur-fitur utama yang disediakan Naver Map berikut ini.

a. Pencarian Tempat dengan Detail Lengkap

Ketika melakukan nama tempat wisata dalam bahasa Inggris Naver Map akan menampilkan lokasi tepat beserta foto, jam operasional, nomor telepon, ulasan pengunjung. Tentu saja, ini jadi informasi sangat membantu untuk merencanakan kunjungan ke tempat-tempat wisata yang dituju bagi para turis.

Jika ingin mencari sebuah tempat, sebaiknya gunakan bahasa Inggris. Misalnya ketikkan “Gyeongbokgung Palace”, tanpa perlu mengetik dalam Hangul.

b. Panduan Rute Multimoda Transportasi

Buat saya, ini adalah fitur terbaik Naver Map untuk wisatawan. Masukkan titik awal dan tujuan, lalu pilih mode transportasi:

Kombinasi antara jalan kaki, subway, bus antar kota semuanya muncul. Sekilas, terlihat sama dengan Google Maps, tapi apa yang membuat saya kagum adalah akurasi-akurasi detilnya.

Mulai dari kapan harus transit dan ganti moda transportasi, posisi turun, hingga pintu keluar stasiun subway Tak hanya itu, akurasi kedatangan dan keberangkatan pun bisa dibilang lebih baik dari Google Maps.

Bicara akurasi, saya akui ini jauh lebih baik. Tidak sama dengan moda transportasi umum seperti di Jakarta. Selain moda transportasi umum, tersedia juga pilihan informasi seperti estimasi ongkos taksi, atau berkendara dengan kendaraan pribadi.

Selain itu, informasi detil pun disampaikan melalui aplikasi ini. Misalnya, perhatikan nomor pintu keluar subway karena Naver Map biasanya mencantumkan pintu keluar (exit) yang paling dekat.

c. Informasi Jalur Bus secara Real-Time

Karena saya menggunakan moda transportasi bus, maka yang saya pilih adalah informasi jalur bus. Real-Time yang sangat berbeda terjadi daripada Transjakarta. Posisi bus secara real time benar-benar sesuai dengan estimasi bus tiba di tempat halte saya sedang menunggu.

Hal ini penting bagi saya mengingat ini kunjungan pertama saya ke Korea Selatan. Dan di Korea Selatan, penomoran busnya juga terbilang membinggunkan bagi saya yang masih awam.

Sepanjang yang saya temukan, ada bus merah, biru, hijau, dan kuning yang tujuan dan fungsinya memang benar-benar berbeda.

Apakah, jalan bus steril? Saya tidak akan bilang, Seoul tidak macet. Tapi, tata tertib dan disiplinnya tinggi, dan hal ini yang kemudian membuat perjalanan menggunakan moda transportasi umum seperti bus menjadi terasa nyaman.

Selain itu, masih ada fitur lainnya seperti Street View dan Foto 360° hingga Peta Offline yang tidak pernah saya unduh saat berada di Korea.

Tapi, semua itu akan sangat berguna ketika digunakan oleh warga Indonesia khususnya yang ingin berwisata atau melakukan perjalanan bisnis pertama kali di Korea Selatan.

Papago, AI Translator Untuk Bahasa Korea

Secara global, ada Google Translate yang bisa dimanfaatkan. Tapi, di Korea Selatan, coba unduh aplikasi Papago.

Aplikasi Papango adalah aplikasi penerjemah berbasis kecerdasan buatan yang dikembangkan oleh Naver.

Papago mendukung penerjemahan antara lebih dari 15 bahasa, termasuk pasangan bahasa yang relevan bagi wisatawan Indonesia.

Mulai dari bahasa Indonesia ke Korea atau bahasa Inggris ke Korea.

Papago Lebih Bisa Diandalkan Dibandingkan Google Translate

Saya jelas tidak bisa bahasa Korea, tapi istri saya bisa sedikit hasil belajarnya dari menonton drama Korea atau menggunakan aplikasi belajar bahasa.

Istri saya menyebut, Papago dianggap lebih unggul dibandingkan Google Maps. Beberapa diantaranya bagaimana aplikasi ini mampu menangkap konteks bahasa Korea lebih dalam.

Apalagi, bahasa Korea terbilang kompleks dan Papango mampu menangkap terjemahan yang sesuai dengan konteks. Jelas saja, ketika istri saya menggunakan aplikasi ini dan bertanya langsung ke warga sekitar Korea saya tidak paham. Tapi, dari pengalaman yang saya dapat jawabannya diberikan baik dari sisi aplikasi mapun dari warga Korea sendiri sangat tepat.

Tak hanya itu, terjemahan dari bahasa Indonesia ke Korea pun lebih natural. Jika mendengarkan melalui fitur suara, kalimat yang diterjemahkan pun terdengar seperti cara orang Korea berbicara seperti di film-film atau series Korea yang pernah saya tonton.

Fitur-Fitur Unggulan Papago yang Saya Coba

Beberapa fitur unggulan yang saya rasa tepat digunakan bagi yang pertama kali melakukan perjalanan ke Korea Selatan adalah bisa menggunakan terjemahan teks manual, terjemahan suara, terjemahan menggunakan kamera dan foto serta percakapan dua arah.

Manfaatkan Fungsi Dua Aplikasi Ini Secara Bersamaan di Korea

Bagi saya, Naver Map dan Papago sangat efektif ketika digunakan bersamaan saat naik bus untuk pertama kali. Setelah membuka Naver Map dan memasukkan tujuan, lalu, saya mengingat nomor bus dan nama halte yang akan dituju.

Ketika sudah tiba di halte, saya mencoba menggunakan Papago untuk membaca informasi yang tertera di papan halte. Jika masih ragu gunakan voice translation untuk bertanya dengan petugas yang ada di sekitar sana. Ingat, tidak semua orang Korea pun bisa berbahasa Inggris dengan baik.

Baca juga: 4 Aplikasi Produktivitas Terbaik Untuk Menunjang Aktivitas Kerja

Baca juga: Ulasan Singkat Apa itu XChat Aplikasi Komunikasi Dari X?

Aplikasi Digital Tetap Punya Keterbatasan

Meski sangat berguna, aplikasi digital mana pun tetap punya keterbatasan, termasuk dua aplikasi yang saya gunakan ketika berada di Korea Selatan ini.

Keterbatasan Naver Map

Dari pengalaman saya, penggunan konten dalam bahasa Korea masih dominan jika dibandingkan dengan bahasa Inggris secara langsung. Khususnya ketika sudah mengatur penggunaan bahasa dalam bahasa Inggris.

Keterbatasan Papago

Seperti semua AI translator, aplikasi Papago masih bisa melakukan kesalahan pada kalimat yang panjang. Ini saya coba ketika saya melihat warga Korea menonton pertandingan sepak bola antara negaranya sendiri melawan Meksiko.

Maksud hati ingin mengobrol dan mendengarkan antusiasme mereka langsung, dan menanyakan hal-hal teknis tentang sepak bola, tapi Papago menurut saya masih memiliki keterbatasan atau kekurangan.

Begitu pula dengan fitur voice input Papago yang harus membuat penggunanya berbicara dengan jelas dan tidak terlalu cepat. Meskipun bahasa Inggris saya tidak terlalu bagus, tapi ketika mencoba berbicara dengan tidak terlalu cepat, pengalaman yang saya dapat adalah warga Korea yang ingin saya ajak berbicara tidak mengerti meskipun sudah ditranslate ke bahasa Korea.

Sekian pengalaman saya menggunakan aplikasi bagi wisatawan indonesia yang liburan di Korea. Sebuah pengalaman baru untuk pertama kalinya dan tentu akan menjadi contoh yang baik bagaimana mengelola teknologi dan menghubungkan antara swasta dan pemerintah untuk berkolaborasi di bidang teknologi untuk kepentingan publik.