Ulasan Film “Supergirl:” Pengenalan Superhero yang Mencoba Menghilangkan Trauma

Saatnya menghadirkan review film Supergirl, karakter DC Studios yang disiapkan untuk mengikuti kesuksesan Superman tahun 2025 yang lalu!

Film ini ditujukan bagi penggemar superhero, khususnya penggemar komik DC yang lebih spesifik lagi membaca komik Supergirl. Buat saya, Supergirl yang ditampilkan di dalam film mampu membentuk persepsi baru dan berbeda dari Superman. Selain itu ada beberapa bagian penting yang ingin diutarakan di dalam film ini.

Karakter dan asal-usul yang dalam tentang sosok Supergirl juga disematkan. Satu hal yang tidak ditemukan di film Superman tahun 2025 lalu.

Seperti apa cerita film yang disutradarai oleh Craig Gillespie ini? Cek dulu sinopsisnya berikut ini.

Sinopsis Film “Supergirl” 2026

Kara/Supergirl (Milly Alcock) memang tak pernah betah di bumi. Ia ingin selalu membutuhan hal baru, sambil menikmati dunianya sendiri.

Maklum, Kara saat ini dalam hitungan usia makhluk hidup di bumi baru berusia 23 tahun. Sembari merayakan kehidupannya, Kara yang bisa melakukan perjalanan lintas galaksi berpindah-pindah dari satu planet ke planet lainnya bersama anjingnya, Krypto.

Perjalanan ini yang pada akhirnya membuat isi kepala Kara berputar-putar. Di antara tugasnya sebagai seorang wanita yang memiliki kekuatan super, sifatnya yang rebel, hingga trauma masa lalu yang masih melintas di pikirannya.

Hal itu terjadi ketika ia bertemu dengan Ruthye Marye Knoll (Eve Ridley), seorang gadis muda yang ingin membalas kematian keluarganya karena dibantai Krem of the Yellow Hills (Matthias Schoenaerts).

Dari awalnya tidak peduli, Kara pada akhirnya ikut memburu Krem. Apa yang sebenarnya terjadi antara Kara dengan Krem? Apa alasan lain Kara akhirnya bertualang bersama Ruthye?

Kenapa Kara akhirnya bertemu dengan pemburu bayaran antar galaksi bernama Lobo (Jason Momoa)? Semuanya akan penonton temukan di film Supergirl persembahan DC Studios di bioskop.

Review Film “Supergirl”

Film ini dibuka dengan cara yang to the point. Supergirl langsung diposisikan sebagai seorang wanita muda yang masih hidup dengan kesenangannya sendiri. Rebel, dan hidup sesuka hatinya. Buktinya Kara selalu memilih planet merah untuk menetap, agar kekuatannya menurun, dan tidak digunakannya.

Yang penting, Kara hanya ingin menikmati hidupnya dengan gayanya sendiri. Selanjutnya, berbagai macam konflik dan sub-plot dimunculkan. Tidak terlalu bagus, tapi tidak terlalu jelek juga. Standar aja. Mulai dari pertemuannya dengan Ruthye dan bagaimana petualangan mereka berdua berlanjut antar galaksi dan antar planet.

Semuanya ditata dengan cukup baik. Tidak terlalu rapi, pun juga tidak terlalu berantakan. Beberapa poin penting di film ini mencoba mengangkat bagian-bagian ini dengan acak. Perputaran scene yang terlalu cepat bagi sebagian orang mungkin akan membingungkan, tapi ini yang mungkin juga ingin ditampilkan di film pertama Supergirl.

Pada akhirnya gaya berceritanya yang menjadi terasa kurang konsisten. Cepat di awal, tapi kemudian menjadi terlihat random di pertengahan. Fokus antar karakter menjadi tidak berjalan dengan baik, dan tidak ada pula latar belakang cerita yang dalam di antara karakter-karakter lainnya.

Selain pada bagian Supergirl, beberapa scene menjadi terlihat bertele-tele dan jujur saja, saya tidak merasakan adrenalin yang kuat ketika menontonnya.

Selain itu, lapisan konflik yang dibangun sebenarnya terlalu sederhana. Rasanya, terlalu mudah untuk ditebak. Konflik awal yang memicu Kara harus berhadapan dengan Krem seperti serasa menonton awal mula film “John Wick.”

Meskipun menjelang akhir, penonton bisa mengerti kenapa Kara akhirnya bersikap seperti gadis petantang-petenteng di antar galaksi. Karena latar belakang cerita tentang Supergirl punya dasar yang kuat. Sebuah pengenalan yang menurut saya sukses dan membuat penonton paham, apa perbedaanya dengan sang sepupu alias Kal-El atau Clark/Superman.

Terharu dan Tertawa Karena Krypto

review-film-supergilr-dc-studios-2026

Ini yang saya sebutkan tadi. Konflik yang dimunculkan datang dengan sederhana. Karena Krypto disakiti oleh Krem, Kara berniat untuk mencari sang villain dalam waktu yang terbatas. Krypto sudah menjadi sosok yang mencuri perhatian dan menggemaskan ketika dikenalkan melalui film Superman.

Di film Supergirl, pengkarakterannya dibuat lebih banyak dan lebih dalam lagi. Sebagai sebuah hewan bertenaga super, Krypto mampu membuat saya tertawa sekaligus terenyuh melihatnya.

Beberapa momen yang memang tidak bisa dilepaskan dari Kara, mengingat Krypto adalah peliharaan milik sang Supergirl. Keduanya menyatu bagaikan pemilik dan peliharaannya.

Di film ini pula diselipkan asal-usul pertemuan Kara dan Krypto pertama kali. Bagaimana kemudian Krypto akan menjadi trauma berikutnya dari Kara seperti halnya ketika sang superhero melihat planetnya sekarat dan kehilangan orang tua di usia muda.

Craig Gillespie berhasil membuat batasan ini menjadi padat dan tidak berlebihan. Khawatirnya, jika Krypto diberikan panggung yang lebih besar, ia bisa saja menjadi magnet baru yang tak membuatnya majikannya, Kara dilirik oleh penonton.

Kurang Gregetnya Karakter Villain

Satu hal yang membuat film ini masih memiliki catatan adalah ketka karakter villain yang kurang greget. Tak ada latar belakang cerita yang kuat. Mungkin memang dibuat seperti itu saja. Tidak lebih dan tidak dkurangi juga.

Tapi, penonton masih akan mendapatkan sisipan cerita, ketika Krem sebagai pemilim kelompok Brigands adalah pemburu yang punya misi ingin menculik perempuan muda untuk dijadikan sebagai istri atau hanya objek untuk pemuas hal-hal tetentu saja.

Sisanya, Krem sebagai antagonis utama tidak terlalu istimewa. Kekejamannya seakan tak punya arti, karena tak ada pendalaman karakter yang memang benar-benar ingin ditampilkan secara dalam di film ini. Alhasil, karakter ini bisa hilang begitu saja tanpa meninggalkan kesan yang dalam, khususnya untuk penonton saya.

Tapi, bagi yang membaca komik Supergirl: Woman of Tomorrow (2021),mungkin punya perspektif yang berbeda tentang Krem? Mari kita diskusikan.

Bumbu Petualangan Antar Planet dan Visual Effect yang Baik

Meskipun film ini disutradarai oleh Craig Gillespie dan James Gunn adalah sebagai produser, tapi film ini sangat terasa seperti James Gunn yang ingin mengenalkan karakternya untuk pertama kali.

Aroma film trilogi “Guardians of the Galaxy” masih sangat terasa kental. Perjalanan antar-galaksi, menetap di sebuah planet antah berantah, dan tentunya ditambahkan dengan lagu-lagu pop-rebel yang menggambarkan suasana atau ciri khas Supergil sebagai karakter yang penuh perlawanan.

Ditambah lagi dengan visual-visual yang menurut saya justru jauh lebih oke dibandingkan dengan Superman. Pengaruah visual effect dan adegan aksinya pun terasa lebih kuat dibandingkan dengan film Superman. Pertarungan dibuat seperti alami dan terlihat punya koreografi action yang lebih matang.

Plus, slow motion yang mengingatkan saya tentang ciri khas film-film James Gunn sekaligus film-film DC di era sebelumnya yang dikomandoi oleh Zack Snyder.

Tak hanya itu, pengenalkan karakter-karakter antar dimensi dan planet yang terlihat seperti monster tapi justru lucu dan konyol juga membawa saya ke suasana seperti film ini sedang ditangani langsung oleh James Gunn.

Beberapa selipan humor dihadirkan secara satir dan gelap. Mengingatkan saya juga kembali ke film-film DC yang sudah pernah rilis di tahun-tahun sebelumnya.

Menyelipkan Isu Trauma dan Pilihan yang Diambil Kara Sebagai Supergirl

Ini yang menurut saya jadi premis utama dari yang utama. Pengenalkan sosok Kara sebagai Supergirl dibahas lebih dalam. Penonton jadi paham kenapa Kara kemudian menjadi rebel, bahkan bisa dikatakan tak punya kompas moral seperti sepupunya.

Ia menyaksikan Argo City, sisa planet Krypton sekarat. Menggeret masa mudanya yang terlalu cepat kehilangan sosok orang tua. Kara masih menyaksikan bagaimana menderitanya kehidupan di masa kecil dan remajanya, sebelum akhirnya ia dikirim ke bumi menyusul sepupunya, Kal-El.

Kenangan pahit yang tersimpan di kepalanya tentang kehidupan di Argo City yang menjadi dasar kebimbangan pikirannya dan trauma itu disimpan bertahun-tahun. Mengisyaratkan bahwa ia tak betah di bumi, dan hidup seenaknya dan sesukanya di galaksi lain.

Trauma itulah yang membuat Kara tumbuh menjadi pribadi yang rasanya tak pantas membuatnya menjadi sosok superhero lain. Ini adalah pembeda bagus dan keunggulan film ini. Terasa gelap dan membuat Kara melepas kompas moral yang biasanya lebih tinggi dan lebih dalam dibandingkan superhero lainnya.

Buktinya, satu scene spesial di bagian menunjukkan Kara yang sebenarnya. Ia tetap menyimpan perih dan trauma itu, dan menjelaskan, bahwa Supergirl bukanlah sosok superhero biasa.

Baca juga: Ini Film Superhero Terbaru 2026 dari DC Comics dan Marvel

Baca juga: Ulasan Film “The Punisher: One Last Kill” Bukan yang Terakhir dari Frank Castle

Lobo Sang Pengacau

Ketika karakter villain tak mampu meninggalkan kesan bagi penonton, semuanya teralihkan pada peran yang dimainkan Jason Momoa sebagai Lobo.

Perannya hanya sebagai sidekick, tapi mampu mencuri perhatian sebagai pengacau yang membuat suasana menjadi lebih riuh dan menghibur. Buat saya, ia bahkan berhasil menepis karakternya sendiri sebagai Aquaman di DCEU.

Beberapa scene menjelaskan siapa Lobo sebenarnya dan itu sangat baik ketika ditampilkan di dalam film ini.

Film “Supergirl” (2026) bagi saya belum memuaskan seperti saat menonton “Superman” (2025). Tempo film yang cepat, cerita yang tidak fokus dan terkesan bertele-tele di beberapa bagian bagi saya adalah kenapa saya belum terlalu in to untuk film ini.

Namun, tampilan Kara yang punya trauma masa lalu dan menjadi dasar karakternya yang berbanding terbalik dengan sepupunya adalah poin utama dari cerita ini. Saya juga menyukai adegan aksi di film ini. Terasa lebih hidup, terutama ketika Kara tidak menggunakan jubah Supergirlnya.

Visual Effect yang jauh lebih clean meskipun hadir dengan tone gelap menurut saya adalah sebuah loncatan yang lebih baik dibandingkan film-film superhero lainnya.

Secara keseluryhan, sebagai sebuah hiburan, film ini sangat direkomendasikan untuk ditonton. Supergirl sudah mengenalkan dirinya ke dunia sebagai bagian dari DCU dengan cara yang berbeda dan unik. Bagi yang pertama kali menonton, tanpa pernah membaca komiknya, ini adalah awal yang baik untuk memulai dan mengikuti DCU yang lebih luas nantinya.

Bagi pembaca komiknya, saya yakin, film ini jadi wajib ditonton untuk melihat. Sambil bersantai menjelang akhir pekan, film Supergirl sudah bisa ditonton oleh semua warga di bioskop-bioskop Indonesia.