Ulasan Film “Obsession:” Horor Klenik yang Menjangkit di Tengah Romansa

Dari sekian banyak film Hollywood yang rilis di tahun 2026, ternyata ada beberapa nama yang semula dianggap tidak box office, tapi mampu menunjukkan tajinya. Kali ini, dalam review film “Obsession” yang bergenre horor akan saya bahas dan kenapa film ini menjadi salah satu cara menunjukkan horor yang unik dan penuh goncangan psikologis.

Satu hal yang akan saya berikan petunjuk. Film ini ditujukan bagi penonton yang masih menganggap klenik adalah hal yang mustahil. Faktanya, film ini menyajikan bahwa hal-hal terkait mistis masih terjadi di masa modern seperti sekarang ini dan ironisnya muncul dari dua anak muda yang sedang jatuh cinta.

Sinopsis Film “Obsession”

Bear (Michael Johnston) adalah pria pemalu yang yang tak pernah berani mengungkapkan cintanya pada Nikki (Inde Navarrette). Perasaan yang selalu dipendam ini ternyata memberikan hal yang justru tidak memotivasinya.

Alih-alih menggunakan kemampuannya sebagai seorang Pria, Bear menggunakan trik “One Wish Willow” untuk memenangkan hati gadis pujaannya.

Tanpa disangkat trik itu berhasil. Tapi, Bear tidak menyadari konsekuensi yang muncul dari pilihannya untuk mendapatkan Nikki. Dari cinta, menjadi obsesi.

Dari obsesi menjadi possesif. Dan pada akhirnya, mengubah cinta dan pertemanan menjadi hal yang sangat mengerikan.

Review Film “Obsession”

Film ini sejatinya masuk di bulan Mei 2026 secara global. Tapi, di Indonesia baru tayang di bioskop-bioskop Indonesia pada bulan Juni 2026.

Ulasan yang sangat positif dari kritikus, termasuk kritikus di Rotten Tomatoes membuat saya terbujuk untuk menonton film Obsession di bioskop.

Pada akhirnya saya memang melihat film ini lebih fokus pada horor dan ketegangan yang dibangun. Awal cerita dibuat sederhana, bajkan terlihat seperti drama pop para anak-anak muda di Amerika. Seperempat jalan, film ini mulai hadir dengan kengerian yang pelan-pelan masuk ke dalam pikiran penonton.

Bukan lagi drama posessif anak muda yang sedang jatuh cinta, tapi pada keburtalan yang tak disangkat. Dan sutradara Curry Barker mampu meramunya dengan baik.

Tidak perlu terburu-buru. Sedikit panjang, jelas dan pelan-pelan, penonton akan masuk ke dua karakter yang tidak perlu dijelaskan dengan latar belakang kehidupan mereka masing-masing secara detil.

Dari bagaimana Curry Barker meramu semua ini, film ini menjadi terasa sangat nyaman untuk ditonton. Penonton seperti saya ikut masuk ke dalam ramuan cerita yang digiring.

Masuk ke awal pertengahan, bentuk-bentuk obsesif dan possesif disajikan. Membuat penonton juga menjadi binggung sekaligus kesal dengan Bear.

Pilihan konyolnya membuat kepala menjadi pening dan tak nyaman di lihat di sisa hingga bagian ending film.

Sekali lagi, yang saya suka dari film ini adalah tahapan cerita yang dibangun Curry Barker. Rapi, dan padat. Membuat penonton bisa memilih atau menggabungkan bagaimana hubungan posesif yang terkadang sering ditemukan di dalam keseharian, hingga obsesi yang berbayaha.

Tak hanya cara yang cerdas dan kelam tentang bagaimana memaknai sebuah hubungan yang hubungan toksik tapi sebuah hubungan yang seharus romantis bisa menjadi kengerian yang tak terbayangkan.

Mengandalkan Horor Psikologis

ulasan-film-obsession

Kengerian yang tidak terbayangkan ini bukan tentang bagaimana sosok hantu atau misterius. Bukan pula tengan suara pintu yang berderit saat dibuka.

Kengerian yang dibangun justru datang dari karakternya-karakternya. Inde Navarrette yang memerankan karakter Nikki berhasil memainkan semuanya dengan baik.

Dimulai dari gadis yang friendly kepada semua orang, bawaannya yang santai hingga berubah menjadi sosok yang obsesif, kehilangan kesadaran dan jati dirinya hingga menjadi pembunuh yang paling mengerikan.

Perpaduan ramuan sang sutradara dan tentunya naskah yang tepat membuat Nikki saya yakini memberikan performa terbaiknya untuk film ini. Setiap momentum yang muncul untuk karakternya dimainkan dengan tepat dan berjalan dengan sangat baik.

Nikki bisa tersenyum bahagia, dan bisa juga tersenyum menakutkan. Untuk beberapa momen penampilan Nikki mengingatkan saya tentang megan, robot mengerikan yang sempat muncul di beberapa film horor di tahun-tahun sebelumnya.

Untuk menguji kualitas akting Nikki, tentunya ia layak diberi kesempatan untuk tampil lebih banyak lagi di berbagai macam film. Penampilan Nikki disandingkan dengan karakter Bear yang dmainkan oleh Michael Johnston.

Pria kikuk tak percaya diri kemudian menjadi penakut yang pecundang adalah gambaran yang juga samai baiknya dimainkan oleh Bear. Ibaratnya dua chemistry ini disatukan di cerita yang menarik, ramuan sutradara yang tepat dan naskah yang bagus.

Baca juga: Ulasan Film “Backrooms:” Sensasi Horor Dari Visual Berwarna Kuning

Baca juga: Ulasan Film The Bride! Impresif dengan Set Produksi Memesona

Mistis dan Brutal

Premis film ini sebenarnya sederhana. Yang membuat filmnya menjadi luar biasa adalah bagaimana konsep mistis di masa lalu dan brutalitas obsesi yang berbahaya disatukan di era modern.

Sederhananya ini adalah pengulangan yang kurang lebih sama dengan beberapa film horor yang sudah ada sebelum-sebelumnya. Tapi, permainan para karakternya yang baik menjadikan premis cerita ini merasa terpinggirkan. Beberapa orang mungkin akan tidak fokus, apakah ini tentang hubungan yang toksik atau konsekuensi bermain-main dengan mistis.

Atau menggabungkan keduanya? Obsesi yang tidak pernah tuntas, hingga pada akhirnya terjebak dengan konsekuensi mistis. Apa pun pilihannya ini adalah cara yang sama dengan beberapa film horor lainnya.

Selain karakter, penajaman piihan pengambilan gambar justru memperkuat filmnya. Mungkin saja pilihan yang diambil adalah pergerakan kamera yang fokus pada karakter-karakternya.

Tak jarang, karakter Nikki dan Bear terlihat jelas di mata penonton, dan dari sanalah kebrutalan yang mengerikan itu muncul.

Film “Obsession” memangmendulang respon positif. Tapi, ada beberapa catatan yang ingin saya sampaikan untuk film ini. Beberapa sub-plot seperti Ayah Nikki atau cerita-cerita di tempat para karakter ini bekerja sebenarnya tidak perlu ditambah-tambahkan.

Alhasil, beberapa kesan seperti penyampaian cerita yang bertele-tele tampak di beberapa scene. Sementara itu, adegan brutalnya pun sebenarnya bukanlan bagian horor klasik. Lebih ke horor seperti film-film Scary Movie atau horor-komedi yang poopuler di akhir ’90-an atau awal ‘2000-an.

Meskipun bagus untuk tidak menggamblangkan bagaimana latar belakang para karakternya, tapi, latar belakang cara kerja kutukan “One Wish Willow” pun tak tersampaikan secara singkat, padat tapi detil.

Secara keseluruhan, film ini cocok ditonton bagi penggemar horor yang ingin bermain-bermain dengan psikologi dan juga horor yang berbau klenik dengan balutan drama percintaan.

Terlepas dari semua itu, “Obsession” tetaplah film horor yang segar, menyerang psikologis penonton dengan balutan drama percintaan yang toksik.

Saat ini film “Obsession” sedang tayang di bioskop-bioskop Indonesia.