Sudah lama tidak menonton series dari Eropa di Netflix. Dan kemarin, saya menemukan satu series dari Swedia dengan hanya 5 episode, dan tentunya bisa saya tuntaskan menontonnya dengan cepat.
Berjudul Blood Sacrifice, series ini kabarnya sudah tayang sejak Agustus 2026. Tapi, karena Netflix punya algoritma sendiri dan menyesuaikannya dengan preferensi series yang saya suka.
Pada akhirnya, Blood Sacrifice baru saya temukan di konten depan Netflix dengan status “Recently Added” di bulan Oktober 2026 ini.
Tapi tetap saja, bagi yang suka series-series unik dengan cerita berlatar Skandinavia, Blood Sacrifice adalah pilihan tepat.
Apalagi, data dari Rotten Tommatoes menunjukkan series ini punya skor atau rating yang tinggi dan menyentuh angka 91% hingga tulisan ini dimuat.
Buktinya, series ini masih tetap bertahan lama dan tentu saja akan tersimpan lama dan jadi tontonan terbaru saya. Ditambah lagi, karena ini merupakan bagian dari produksi Netflix, tentunya bisa ditonton lagi di waktu yang akan datang dan kapan saja.
Bagi yang suka dengan cerita series yang terkait dengan genre crime-thriller ala Skandinavia yang gelap, dan menampilkan kebrutalan yang absurd, maka review Blood Sacrifice ini bisa jadi preferensi bagi penonton.
Premis Series Blood Sacrifice
Seorang detektif polisi Thomas Berg (Jakob Oftebro) kehilangan banyak teman-temannya dengan cara yang brutal dan mengerikan, dan ia harus segera menyelidiki kasus ini karena terdapat sebuah keunikan dan pola yang terus berulang, karena kejadiannya selalu terjadi di setiap jam 1:15 pagi waktu Swedia.
Review Series Blood Sacrifice
Dari episode pertama penonton sudah diperlihatkan bagaimana gambaran series Eropa, khususnya Swedia ditampilkan. Kasus kriminal yang brutal dan absurd.
Visual yang lembab bercampur suasana kemarau di Swedia. Pace yang lambat dan dialog-dialog kaku yang mungkin tidak nyaman didengarkan jika menggunakan audio berbahasa Swedia. Inilah gambaran umum dari serieal Blood Sacrifice.
Karena hanya 5 episode dan terbilang singkat, saya dengan cepat melahap setiap episodenya dengan mudah dan dimengerti. Mulai dari rentetean kasus pembunuhan terhadap polisi, pertemuan Thomas dengan Ayahnya yang juga mantan seorang detektif, pergulatan moralnya.
Pace cerita memang berjalan lambat, dan inilah salah satu ciri khas series dari Eropa. Meskipun begitu, saya menikmati untuk menontonnya. Salah satu faktornya adalah karena jumlah episodenya yang hanya 5 saja.
Cerita kemudian menjadi terasa tidak dipanjang-panjangkan, dan selalu to the point. Bagi yang suka dengan cerita-cerita detektif atau penyelidikan, Blood Sacrifice pun tepat untuk ditonton.
Tutur ceritanya secara keseluruhan memang menggambarkan cerita yang berkaitan dengan hal-hal yang terjadi di dunia kriminal.
Bahkan, ada satu sisipan yang menarik, yaitu series ini memperlihatkan bobroknya sistem birokrasi dalam sebuah institusi kepolisian di Swedia. Meskipun ini adalah kisah fiktif, tapi bukan tidak mungkin ada sesuatu yang terjadi di negara sana, sampai pada akhirnya cerita ini mengalir dalam series Blood Sacrifice.
Meskipun begitu, series ini punya beberapa catatan. Alasan-alasan yang muncul dari Alfred dan caranya mendalami kasus dan memengaruhi anaknya Thomas terkadang tidak masuk akal.
Plus, ketika di episode terakhir, motif dari pembunuhan terungkap pun buat saya terasa aneh. Tapi, inilah keunikan dari series-series yang diproduksi Eropa. Kreasi dan imajinasi mereka selalu unik.
Satu lagi, fokus akan mengarah pada Thomas Berg dan Ayahnya, Alfred Berg (Peter Andersson) yang saling beradu akting dengan gemilang.
Adu Akting Para Karakter yang Gemilang
Ketika Thomas sulit untuk memecahkan kasus pembunuhan yang terjadi pada teman-temannya, ia mendatangi rumah Ayahnya, yaitu Alfred (Peter Andersson)
Seorang mantan detektif yang dikenal karena punya reputasi buruk dan sudah pensiun. Bahkan, hubungan personal antara ayah dan anak antara Thomas dan Alfred pun sebenarnya tidak pernah baik.
Tapi, semua itu luluh ketika Thomas datang kepada Ayahnya yang secara insting mengetahui kesulitan yang akan dihadapinya. Di sinilah keduanya mulai beradu akting.
Fokus kamera dibuat mengarah pada karakter Thomas dan Alfred yang sama-sama dingin dalam menyikapi sesuatu. Dialog-dialog keduanya pun cair, meskipun kesannya adalah monolog.
Ini yang kemudian menjadi salah satu penyebab kenapa series Blood Sacrifice punya pace yang lambat, dan jika tidak siap malah akan membuat mata menjadi mengantuk.
Selain itu, kontradiktif dari dua karakter ini juga ditampilkan secara gamblang bahkan sejak awal-awal episode. Meskipun Afred dan Thomas bekerjasama, namun hubungan antara keduanya adalah hubungan keluarga yang tidak rukun.
Visual yang Modern Sekaligus Kelam dan Tertekan

Visual modern sudah dimulai sejak episode awal. Di mana di dalam sebuah rumah minimalis modern yang estetik terjadi sebuah peristiwa pembunuhan terhadap dua orang polisi.
Dari sini, saya menangkap hal-hal yang menarik lainnya dari visual. Termasuk ketika melihat rumah Thomas dan Afred yang ditaburi dengan suasana musim panas di kota Stockholm, Swedia.
Meskipun begitu warna yang dimainkan tetap saja kelam dan lembab. Sehingga perpaduan ini menjadi terasa estetik di mata saya.
Pada akhirnya visual estetik ini kemudian digunakan sebagai pengguncang intensitas cerita dan tak ubahnya seperti series Jo Nesbo yang pernah saya ulas, yang juga datang dari Skandinavia.
Satu lagi yang menarik adalah meskipun sebenarnya film ini punya bagian-bagian kekerasan, tapi sudut pandang pengambilan gambarnya unik. Hal ini terlihat melalui kamera tidak mempertontonkan langsung gambar tersebut.
Di luar dugaan kamera mengambil gambar yang tidak merekam hal-hal yang terkait dengan kekerasan secara langsung. Kengerian dari kejadian pembunuhan pertama ditampilkan tidak terlalu gamblang.
Baca juga: Ulasan Series “Salvador”: Rasisme, Sepak Bola dan Pencarian Keadilan
Baca juga: Ulasan “Hijack” Season 2: Ketika Sang Negosiator Cerdik Menjadi Pembajak
Bahkan, gabungan pengambilan gambar dan arahan sutradara hanya menampilkan bagaimana Thomas membuka kantong jenazah rekannya.
Hal-hal lain yang ditangkap dalam pengambilan gambar melihat bagaimana proses TKP, sehingga penonton bisa melihat sendiri bagaimana para karakter utama bereaksi untuk melihat kejadian sebenarnya dan diterjemah secara visual.
Penulis adalah mantan content editor yang sudah mengulas lebih dari 100 film dan tv series, jurnalis teknologi yang sudah mengulas lebih dari 500 gadget dan juga pegiat serta praktisi di bidang digital marketing serta SEO. Untuk lebih detil, bisa cek di tautan penulis ulasanwarga.com
