Dari pengalaman saya ada satu hal yang seru ketika me-marketingkan sebuah aplikasi. Bisa secara organic, aktivitas offline, dan tentu saja iklan digital melalui Google Ads atau Meta Ads.
Dari sini pula berbagai proses pembelajaran ini saya dapatkan ketika Google tidak pernah punya formula atau metrik resmi untuk menilai tentang bagaimana melihat rangking aplikasi di Google Play Store bekerja.
Contohnya saja di kategori Entertainment. Beberapa tahun yang lalu, layanan OTT seperti Netflix, Prime atau penjualan tiket bioskop seperti TixID selalu berada di rangking 5 besar. Per hari ini saya mempublish artikel ini aplikasi yang muncul rata-rata adalah aplikasi short drama, atau video-video pendek.
Lihat pula untuk kategori Travel & Local. Dulu, persaingan antara Tiket.com dan Traveloka sangat mendominasi. Sekarang sudah bercampur dengan aplikasi ojol seperti Gojek, Grab atau bahkan aplikasi pembelian tiket kereta Api dari KAI.
Tulisan ini juga akan jadi pembelajaran buat saya dan tentu saja bagi yang ingin mengetahui bagaimana kemudian memasarkan aplikasi dan mengelolanya dengan baik mulai dari sekarang hingga di waktu-waktu yang berikutnya.
ASO Bukan Lagi Penentu Satu-satunya
Saat saya bekerja di awal-awal dan tentu saja sembari belajar bagaimana memasarkan aplikasi melalui iklan, saya mengenal istilah tentang ASO atau dikenal juga dengan App Store Optimization.
Saya belajar dari praktisi ASO lainnya seperti AppRadar atau AppTweak untuk mendapatkan insight yang sifatnya indikatif dan subjektif plus, bergantung dengan lokasi dan bisnis apa yang ditawarkan di dalam aplikasi.
Meskipun Namanya App Store dan terdengar dekat dengan App Store, ASO juga berlaku di Google Play Store. Mulai dari judul, deskripsi aplikasi di Google Play Store, visual dan video dengan ukuran yang tepat dan pesan lain yang tersedia Google Console.
Bagian lainnya yang perlu dipertimbangkan Rating dan tentu saja Download. Tapi, hal ini sudah tidak berlaku lagi di masa sekarang.
Pentingnya Android Vitals dan Belajar Algoritma Google Play
Meskipun Google tidak pernah mengucapkan sendiri metrik apa yang perlu diperhatikan, tapi ada dokumentasi penting dari Google yang terkait Android Vitals yang berbicara sangat teknis.
Di satu sisi ini jelas bukan bagian dari pekerjaan saya sebagai pegiat digital marketing. Namun, sebagai pembelajaran ini penting untuk saya ketahui dan kemudian menjadikannya sebagai insight dalam menjalankan strategi marketing.
Volume Instal Tak Lagi Jadi Acuan Tapi Kualitas dan Retensi
Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, Android Vitals adalah hal penting dan sudah jadi acuan dari Google dan sudah ada di Android Developers.
Beberapa metrik yang disampaikan oleh Google adalah user-perceived crash rate, user-perceived ANR rate, excessive partial wake locks, penggunaan memori, dan penggunaan bitmap memory. Apakah ini jadi bagian dari pekerjaan dari digital marketing? Jawabannya tentu saja tidak.
Tapi, apakah ini jadi pembelajaran bagi saya? Jawabannya adalah iya. Dari sini, jika divisi terkait yang mengembangkan aplikasi mau berbagi, tentu saja saya pun nantinya melihat sisi ini sebagai bagian dari strategi digital marketing, khususnya saat memasarkan aplikasi.
Apa yang saya pelajari dan dapatkan adalah perhitungan ini dilihat secara persentasi pengguna harian, bukan session. Crash rate 1% pada aplikasi dengan 2 juta DAU (Daily Active Users) berarti 20.000 orang per hari.
Data Android vitals ini hanya tersedia di tim terkait dalam hal ini tim Tech dan semuanya tersedia 90 hari di Play Console dan tiga tahun lewat Play Developer Reporting API, dan diperbarui secara berkala dan bukan tidak mungkin secara harian juga.
Sebagai catatan tambahan, metrik ini tidak menghitung masalah di perangkat tidak tersertifikasi atau instalasi di luar Google Play. Misalnya, jika ada yang mengunduh aplikasi di Get Apps dari Xiaomi atau Galaxy Store dan Samsung.
Peran Digital Marketing Dalam Aplikasi
Meskipun metrik ini secara keseluruhan berada di luar jangkauan digital marketing, bukan berarti digital marketing tidak melakukan apa-apa.
Dalam perjalanannya, berikut beberapa hal penting yang saya pelajari.
Retensi dan User Behaviour Setelah Instal
Seberapa banyak user yang kembali menggunakan aplikasi dan melakukan hingga pembelian di dalam aplikasi. Ini yang jadi bagian dari retensi. Inilah bagian dari kolaborasi digital marketing dan tim produk. Lihat juga perilaku user setelah instal. Apakah mereka memberikan ulasan yang positif atau negatif?
Berapa user yang kemudian melakukan uninstall? Ini yang harus dibicarakan dan terus dikaji di setiap waktu. Saya tidak bisa menggambarkannya secara general. Karena ini sangat bergantung pada internal bisnis yang berjalan. Misalnya, saya pernah menjalankan pemasaran aplikasi dengan kategori shopping.
Hasilnya, akan berbeda dengan kategori Entertainment atau Lifestyle. Tapi, yang perlu disimak adalah penilaian dan ukurannya dilakukan mulai dari hari pertama, hari ke 7 hingga hari ke 30 atau frekuensi selama satu bulan.
Metadata dan Kata Kunci
Meskipun titik beratnya ada pada bagian Android Vitals, tapi jangan lupakan juga Metadata dan Kata Kunci. Meskipun Google tidak selalu transparan soal algoritma dan tidak ada panduan konkrit memaksimalkan aplikasi di rumahnya sendiri, tapi algoritma Google Play ternyata mengindeks lebih banyak teks.
Saya sendiri pernah melakukannya untuk aplkasi kategori Shopping. Perubahan masif yang dibuat di dalam deskripsi danm relevansi kata kunci yang sesuai dengan aplikasi ternyata masih sangat berpengaruh. Meskipun tidak selalu menjadi penentu mendongkrak rangking sebuah aplikasi.
Baca juga: Cara Menaikkan Rangking di Google Search di Tengah Tren AI
Mengelola Aplikasi Sebagai Bagian Dari Digital Marketing

Cara bagaimana Google menilai rangking aplikasi di Google Play Store sudah jelas berpatokan pada Android Vitals dan optimasi ASO yang jadi bagian dari digital marketing. Lalu, bagaimana mengelolanya? Ini adalah kerjasama tim. Misalkan saya, yang kemudian diminta untuk memasarkan aplikasi.
Pilihan yang saya lakukan tentu saja adalah dengan memasarkannya secara online melalui iklan digital dan juga aktivitas offline. Tapi, hal ini tidak akan berlaku jika pihak-pihak lain tidak berpartisipasi.
Dari pengalaman saya dalam memasarkan aplikasi, beberapa hal berikut ini menjadi bagian penting dari mengelola sebuah aplikasi khususnya di Google Play Store:
1. Rasio Konversi Ikut Berpengaruh
Memasarkan aplikasi melalui iklan digital tak lagi hanya bicara tentang instal. Tapi, sudah berapa user yang kemudian login. Apakah aplikasi terindikasi instal fraud atau tidak. Sampai pada akhirnya rasio konversi.
Ini adalah tantangan yang kemudian saya dapatkan selama mengelola pemasaran aplikasi. Tidak bisa dipungkiri, sebelum mengetahui siapa saja yang kemudian login, saya pastinya akan memulai iklan dengan menggunkana objektif instal. Tanpa ini, siapa yang akan menggunakan aplikasi?
Tapi di sisi lain, volume instal bukanlah hal yang paling tinggi. Tapi apa program marketing dan tim business yang sedang berjalan di aplikasi untuk kemudian mengajak user bertransaksi sehingga kemudian dihitung menjadi konversi. Ini adalah hal yang paling sering dijadikan sebagai bahan pembelajaran dari waktu ke waktu.
Satu hal lagi yang perlu dipahami dan disepakati adalah rasio konversi tidak selalu berkaitan dengan berapa profit atau revenue akhir yang diterima oleh sebuah bisnis, Tapi persentase dan angka-angka ini pun masih akan bergerak dinamis dan terjadi karena berbagai faktor.
Inilah yang sering kita lihat di Play Store. Rangking-ranging 5 besar artinya, konversi yang dihasilkan oleh user dari aplikasi tersebut berjalan dengan baik dan terjadi secara berkala.
2. Rating dan Ulasan
Sebelum makin meluas ke bagian lain, saya sisipkan juga hal penting yang dianggap sepele dan bisa diperjual-belikan begitu saja.
Rating, sentimen ulasan (positif-negatif) dan respon dari developer atau CS juga hal yang penting. Dan yang paling penting menurut saya rating dan ulasan ini datang secara organic.
Saya tidak mau munafik. Saya pernah menyewa jasa melalui akun-akun tertentu untuk memberikan ulasan yang positif, ketika aplikasi yang saya kelola secara marketing mendapatkan ulasan negatif.
Hasilnya, justru tidak membaik. Sentimen negatif tetap muncul, karena berkaitan dengan bagian Android Vitals yang sudah jadi bagian mutlak dari Google.
Penlaian crash/ANR, uninstall tinggi, konversi listing rendah, akan berarah ke ulasan negatif. Sementara itu, ulasan yang dimanipulasi akan justru memberikan sinyal yang lebih buruk. Bukan hanya untuk aplikasi, tapi bagi bisnis itu sendiri. Dan tentu saja, akan buruk bagi rangking aplikasi.
3. Update yang Berkualitas
Pernah menemukan aplikasi yang sering update? Saya pernah, namanya aplikasi X atau dikenal juga dengan Twitter dulunya. Pertanyaanya, apakah update yang dibawa oleh X adalah yang penting? Ini sulit untuk dilihat jika kita berada di luar atau hanya sebagai penggunanya.
Tapi, jika berada di dalam dan bekerja serta berkomunikasi dengan tim-tim terkait seperti produk dan tech, maka update yang berkualitas secara berkala ikut menjadi penentu sinyal yang mendongkrak rangking aplikasi.
4. Backlink yang Berkualitas
Inilah relevansi yang kemudian saya sempat sampaikan dalam tulisan saya tentang relevansi backlink. Backlink tidak hanya untuk web, tapi juga untuk aplikasi. Jika url dari aplikasi tersebut kemudian ditaukan di sebuah laman web yang berkualitas juga akan memberikan sinyal dan bisa memperbaiki rangking.
Dari pengalaman ini saya terus belajar untuk kemudian bagaimana mengelola aplikasi dan memasarkannya dalam satu keputusan strategi yang tepat. Tulisan ini saya tujukan juga bagi para pemilik bisnis yang mengandalkan aplikasi sebagai salah satu strategi marketingnya.
Penulis adalah mantan content editor yang sudah mengulas lebih dari 100 film dan tv series, jurnalis teknologi yang sudah mengulas lebih dari 500 gadget dan juga pegiat serta praktisi di bidang digital marketing serta SEO. Untuk lebih detil, bisa cek di tautan penulis ulasanwarga.com
