Ketika diumumkan akan tayang di Prime Video dalam mini series, saya langsung antusias dan baru sekarang lah akhirnya punya kesempatan untuk menyelesaikan series Carrie.
Sebelum masuk ke dalam review series Carrie, saya akan disclaimer dulu. Cerita ini adalah remake dari filmnya yang rilis tahun 1976. Jujur saja, saya belum pernah menonton film versi tahun 1976.
Tapi pernah menonton remake lainnya yang rilis di tahun 2013, dan buat saya film tersebut berkalan membosankan buat saya.
Sekarang di tangan creator Mike Flanagan, Carrie dibuatkan remakenya dalam bentuk mini-series. Review ini saya buat bagi masyarakat yang mencari hiburan khususnya yang suka dengan cerita-cerita dari Stephen King.
Premis Series Carrie (2026)
Carrie (Summer H. Howell) adalah seorang remaja polos dan lugu yang kemudian baru beradaptasi dengan lingkugan saat pindah ke sekolah baru dan kemudian mendapatkan perundungan dari teman-temannya secara digital.
Review TV Series Carrie
Cerita dimulai dengan bagaimana keadaan yang tiba-tiba chaos di kota kecil bernama Chamberlain, Maine. Seluruh kota kemudian menjadi hal yang mengerikan dan membawa kehidupan di masa kini sekaligus mengarah pada satu nama, yaitu Carrie.
Permulaan ini merupakan gambaran dari bagaimana latar belakang Carrie di dalam seriesnya. Latar belakang ini mencakup bagaimana ia memasuki kehidupan baru yang selama ini belum ia jamah.
Bertemu dengan teman-teman seusianya yang hidup dalam pikiran modern, sementara itu Carrie terjebak dalam kehidupan kolot akibat sikap posesif dari Ibunya.
Dari sinilah berbagai plot dan konflik dibangun dan ditata dengan rapi. Semuanya dikisahkan melalui naskah yang memang benar-benar terstruktur oleh Mike Flanagan. Meskipun begitu, Mike Flanagan adalah sutradara untuk episode 1, 2, 7, dan 8.
Meskipun berganti-ganti sutradara di beberapa episode, tapi inti cerita memang sangat kuat. Menggambarkan Carrie yang untuh secara menyeluruh dan melewati tahapan-tahapan konflik yang berbeda-beda.
Karena naskahnya murni dari Mike Flanagan maka sangat mudah untuk mengenali apa yang ingin ditampilkan, tapi tetap saja tidak membosankan.
Mike Flanagan menyisipkan sebuah perasaan duka di awal karena kematian Ayah Carrie yang kemudian pada akhirnya membuat Carrie berada di sekolah yang penuh dengan perundungan. Pada bagian ini pula, Flanagan mengeksplorasi trauma yang berdekatan dengan sisi religi.
Ditambah lagi, perpaduan thriller psikologis yang dimainkan sang Ibu dengan konflik berlapis dan menyentuh sisi emosional penonton. Satu lagi, pace cerita yang lambat pun dimasukkan bahkan sejak awal.
Bagi saya yang menontonnya langsung justru terasa tidak membosankan, karena lapisan konflik yang terus dibangun dan dibangun melalui tiga sudut pandang remaja, orang tua, hingga kehidupan digital di masa kini.
Tak hanya itu, Mike Flanagan pun tidak lupa dengan asal-usul ceritanya dari mana. Benar saja, ini adalah karya dari buku yang dikerjalan leh Stephen King dengan cerita-cerita supernatural dan kemudian menjadi bagian dari semesta yang lebih besar.
TV Series Carrie Bukan Remake Asal-asalan
Saya sudah membuka sedikit bocoran di mana series Carrie ini menghubungkan semesta supernatural Stephen King. Artinya, akan ada potensi besar cerita-cerita dari Stephen King akan terbuka berkolaborasi dengan karakter-karakter andalan lainnya.
Tak hanya itu, Mike Flanagan menggiring remake cerita ini menjadi relevan dengan kejadian di era modern. Salah satunya adalah terlihat dari konflik awal sekaligus berlapis tentang bullying di era digital.
Semuanya bermula dari akun instagram Carrie Red yang dibuat oleh salah satu karakter bernama Chris Hargensen yang memang tidak suka dengan Carrie sejak awal. Akun instagram ini kemudian membuat konflik menjadi lebih luas.
Melibatkan pihak sekolah, masyarakat hingga perspektif masing-masing remaja di sekolah tersebut. Tak hanya itu, melibatkan kamera pengawas di dalam rumah Carrie semakin menguatkan cerita tersebut kemudian menjadi kian relevan dengan masa modern.
Ironi pun dibuat untuk melapisi konflik lebih tajam. Carrie, seorang remaja di masa modern tidak punya HP. Tapi, kemudian ibunya yang punya HP dan menjadi salah satu sumber kontrol Carrie itu sendiri agar tidak tercemar dari dunia luar yang dianggap berbahaya.
Perspektif kolot dan masa modern benar-benar dimainkan sebagai benturan peradaban yang justru relevan di sepanjang ceritanya.
Meskipun Carrie tidak punya HP, dan konflik ini melibatkan HP sebagai bentuk bullying digital, tapi Carrie punya kekuatan supernatural yang kembali menguatkan kontradiksi antara kehidupan masa kini dan kehidupan supernatural yang kerap dianggap adalah bagian dari budaya dan sejarah masa lalu.
Pada bagian ini, saya memberikan catatan tambahan. Pola yang terus berulang-ulang ditambah membuat saya melihat cerita menjadi bertele-tele dan terlihat seakan-akan hanya memanjangkan durasi saja.
Meskipun begitu, semuanya berhenti bertele-tele di episode ke 6 dan 7 dengan intensitas yang kembali tinggi untuk mencoba mengurai berbagai macam konflik yang terjadi.
Penampilan Para Pemeran dan Monolog Emosional

Akting Summer H. Howell sebagai Carrie memang akan menjadi pusat perhatian, karena ia pemeran utamanya. Tapi, jangan lupakan karakter-karakter lainnya.
Samantha Sloyan sebagai Ibu Carrie juga bermain bagus. Bahkan karakter sidekick seperti Alison Thornton yang jadi rival Carrie dengan peran sebagai Chris atau Kepala Sekolah yang diperankan Matthew Lillard bermain dengan cara-cara yang unik menurut saya.
Selain Summer H. Howell, mereka juga mampu menampilkan sisi dan ciri khas dari Flanagan dengan monolog-monolog yang terawa RAW dan bermain-main dengan emosi penonton. Ditambah lagi, pengambilan gambar yang fokusnya sangat tajam pada karakter-karakter tersebut menambah kesan bahwa porsi-porsi ini dibagi dengan tepat sesuai porsi cerita.
Baca juga: Ulasan Series “Scarpetta:” Premis Cerita Kriminal yang Menarik Tapi Kehilangan Fokus
Baca juga: Ulasan Series Steal: Sistem Keuangan Bobrok Berujung Kejahatan
Kontranya, cerita akan jadi terasa lambat dan bertele-tele karena fokus yang terlalu dalam pada karakter yang itu-itu saja. Secara keseluruhan serial ini tepat bagi yang ingin melihat pembaharuan dari karakter Carrie, baik dalam versi film pertamanya atau versi film remake yang sudah dilakukan beberapa kali.
Melalui mini series ini, pentonon akan diajak melihat sudut pandang baru yang segar dan tentu saja ending yang tidak biasa. Satu lagi, series ini masih akan bertahan lama di Prime Video, mengingat diproduksi sendiri oleh Amazon MGM. Bahkan, ceritanya pun masih akan relevan di waktu-waktu yang akan datang.
Penulis adalah mantan content editor yang sudah mengulas lebih dari 100 film dan tv series, jurnalis teknologi yang sudah mengulas lebih dari 500 gadget dan juga pegiat serta praktisi di bidang digital marketing serta SEO. Untuk lebih detil, bisa cek di tautan penulis ulasanwarga.com
