Punya brand baru dengan produk-produk yang lebih baru, atau mencoba menyaingi produk dari kompetitor? Membangun brand baru di era digital bukan sekadar membuat akun media sosial dengan mindset, konten harus viral. Atau, membuat website hanya untuk sekedar pajangan dan kemudian berharap pelanggan datang sendiri.
Faktanya, ada bayak cara yang dibutuhkan untuk membuat strategi digital marketing yang terstruktur khususnya untuk brand baru. Sehingga akhirnya media sosial tidak hanya lagi mengandalkan “konten harus viral” atau website yang bahkan tidak bisa dibuka setelah hosting berakhir.
Kenapa Brand Baru Wajib Punya Strategi Digital Marketing?
Saya kerap menemukan pemilik bisnis atau brand baru langsung terjun ke media sosial. Sekali lagi, yang sering muncul dan saya temukan, bikin video dengan segala software seperti Adobe atau Canva, dan yang penting viral. Alhasil, arah marketing yang dibuat menjadi tanpa arah dan tidak jelas.
Posting konten secara sporadis, tanpa harus menggunakan Ads, dan berhadap pengunjung datang untuk membeli produk mereka. Lalu, merasa digital marketing secara keseluruhan tidak berjalan dengan baik hanya dalam hitungan minggu atau bulanan.
Padahal, masalahnya bukan di platfom, tapi menuju bagian strategi. Bahkan, jika bicara keseluruhan ini bisa meliputi produk, operasional dan proses bisnisnya.
Khususnya untuk strategi digital marketing, bukan lagi tentang dokumen dalam bentuk PowerPoint. Bukan juga data-data di dalam bentuk Excel. Digital marketing bisa kompas yang memandu setiap rencana konten yang dibuat, budget yang jadi prioritas dan kemudian menuju sebuah keputusan strategis yang memberikan dampak pada bisnis.
Mengenal Target Audiens itu Penting
Langkah awal dalam menyusun strategi digital marketing untuk brand baru yang bisa dimulai adalah dengan melakukan riset audiens, karena produk yang dijual tentunya tidak dibutuhkan atau dijual untuk semua orang.
Siapkan Buyer Persona
Buyer persona merupakan sebuah representasi semi-fiktif dari pelanggan ideal yang ditentunkan oleh pemilik bisnis. Hal yang paling akurat tentu saja berdasarkan data nyata dan asumsi yang sudah diuji secara ilmu pengetahuan.
Pertimbangkan Faktor Demografis dan Perilaku Digital
Faktor demografis memang sangat kuat, sekaligus bergerak dinamis dari waktu ke waktu. Berbagai hal yang terkait dengan niat, minat gaya hidup dan nilai dari sebuah user adalah hal yang penting untuk disiapkan.
Faktor berikutnya yang tidak boleh dianggap sepele adalah perilaku digita. Terlepas dari algoritma yang terus berubah-ubah, jangan lupakan karakter jenis platform yang digunakan. Jenis konten hingga faktor jam aktif.
Pain point: Temukan Solusi Dari Masalah Buyer
Lihat, amati dan tiru mungkin ada benarnya. Tapi bisakah sebuah brand melalui produknya menemukan solusi dari masalah yang ingin diselesaikan oleh buyer atau user?
Hal ini yang tidak bisa asal-asalan hanya dengan melihat, amati dan tiru. Yang unik, punya otoritas tinggi dalam menyelesaikan masalah dan memberikan solusi memiliki nilai yang tinggi bagi sebuah brand.
Dalam konteks digital, SEO sekarang sudah sangat ketat dengan E-E-A-T. Di media sosial X, saya seperti sedang mempelajari dan membaca hal yang sama, konten yang dibuat sebaiknya unik untuk mendapatkan niche yang jelas.
Segmentasi Audiens Berdasarkan Search Intent
Dalam konteks SEO yang menjadi bagian dari digital marketing, search intent (niat pencarian) adalah faktor penting. Inilah yang menjadi kekuatan penting ketika menjalankan strategi SEO.
Secara volume search intent mungkin akan kecil, yang berimbas pada trafik website menurun. Tapi di sisi yang lainnya, calon buyer atau user yang didapatkan punya potensi user yang berkualitas yang benar-benar ingin mendapatkan solusi dan brand dari sebuah produk tersebut adalah solusinya.
Dalam search intent, ada empat hal yang secara umum dijadikan sebagai bahan pembuatan konten. Mulai dari search intent informational, navigational, commercial dan transactional.
Strategi konten yang baik dan ideal mampu menghadirkan search intent ini secara bersamaan dan membantu menemukan audiens yang benar-benar berkualitas.
Selain menggunakan search intent SEO, pilihan berikutnya yang bisa digunakan untuk melakukan segmentasi audiens adalah dengan mencoba menganalisa audiens seperti apa yang dimiliki oleh kompetitor.
Tentukan KPI yang Realistis Dari Awal
Kecenderungan yang selalu muncul dalam digital marketing adalah cara berpikir instant. Hasilnya selalu ingin cepat dan langsung memberikan dampak pada tujuan bisnis. Jika seperti ini, bisnis biasanya akan berjalan tanpa tujuan yang jelas.
Cara awal yang biasa sering saya lakukan adalah dengan SMART Goals: Specific, Measurable, Achievable, Relevant, dan Time-bound. Dengan cara ini langkah awal untuk melihat bagaimaan respon calon buyer atau audiens.
Langkah ini nanti disesuaikan di tahap awal bersamaan dengan KPI yang sudah disiapkan. Beberapa pilihan KPI yang sebaiknya dilakukan diantaranya adalah
1. Brand Awareness
Melihat, membaca, menganalisa dan mengambil kesimpulan dari konten dengan melihat jumlah tayangan (impressions), jangkauan (reach), pertumbuhan followers. Langkah awal ini sebaiknya dilakukan oleh brand baru terlepas dari produk yang diluncurkan juga masih baru atau bahkan produk yang sudah ada di market.
Awareness ini biasa dilihat di hampir semua platform. Mulai dari media sosial hingga hasil pencarian Google.
2. Website Traffic
KPI berikutnya adalah dengan melihat jumlah sesi, pengguna baru, durasi kunjungan dan melacak alur penemuan yang dilakukan user melalui website. KPI ini diukur karena akan erat kaitannya dengan proses SEO yang dilakukan secara organik.
3, Lead Generation
Penentuan KPI ini biasanya dilakukan ketika secara bersamaan pertumbuhan bisnis sudah mulai berjalan. Semua platform sudah menemukan formula yang tepat.
Lead Generation identik dengan jumlah form terisi, atau berlangganan newsletter. Bahkan cara ini bisa dilakukan untu memaksimalkan atau memulai penjualan.
4. Konversi dan Penjualan
KPI berikutnya adalah proses yang cukup panjang dan perlu dipantau dengan sabar. Sembari konsisten dan update dengan perkembangan teknologi di masing-masing platfom. Penghitungan KPI conversion rate, revenue dari tiap channel, return on ad spend (ROAS), customer acquisition cost (CAC) sudah bisa dianalisa dan diketahui untuk kemudian membuat campaign yang akan dilakukan menjadi lebih terukur.
5. Retensi Pelanggan
Cara ini meliputi hal yang lebih luas lagi. Tak lagi hanya bergantung pada bagian digital marketing. Selain digital marketing, pastikan proses bisnis, operasional, kualitas produk (baik barang atau jasa)
Retensi akan meliputi repeat purchase rate, churn rate, customer lifetime value (CLV). Cara ini juga dapat dilihat untuk mengamati bagaimana loyalitas buyer terhadap produk.
Pilih Platform Digital yang Relevan

Cara membuat strategi digital marketing untuk brand baru juga harus disesuaikan dengan platform. Beberapa kesalahan umum yang dilakukan brand baru rata-rata adalah selalu ingin mendapatkan hasil yang instan dari platform tersebut.
Idealnya, memang sebaiknya platform dijalankan berbarengan. Tujuannya untuk melihat efektifitasnya di kemudian hari. Tapi, karena ingin hasil yang instan, konten yang dibuat terkesan tidak maksimal, tim yang mengerjakan menjadi kelelahan. Jika ini terjadi tujuan yang ingin dicapai pun menjadi tidak berjalan maksimal.
Sebagai tambahan, untuk setiap brand baru, saya menyarankan kehadiran website itu penting. Sederhananya, dengan informasi di website yang jelas, otoritas dari dunia maya akan jauh lebih dipercaya dalam ekosistem digital.
Kali ini, saya akan coba membagikan platform apa yang sebaiknya dioptimalkan untuk masing-masing brand.
B2C (Business to Consumer)
Jika brand fokus pada B2C, maka media sosial seperti Instagram dan TikTok adalah pilihan yang tepat untuk memulai awareness. Jika ingin menjual secara langsung, maka Marketplace seperti Shopee bisa jadi pilihan.
Lalu, bagaimana dengan Website dan SEO? Platform ini juga penting untuk menjangkau konsumen yang aktif mencari di Google atau bahkan AI sekalipun.
Meskipun Website tidak menyediakan penjualan langsung, namun menjaga awareness hingga optimasi pencarian AI akan sangat penting dengan memanfaatkan website sekaligus menjaga awareness.
B2B (Business to Business)
Bagi yang punya brand dengan model B2B, maka media sosial seperti Linkedin bisa jadi pilihan. Sementara itu, website wajib dioptimalkan beserta dengan blog untuk menarik leads, atau subscription melalui email marketing. Sementara itu, jika ingin beralih ke iklan digital, syarat website yang baik akan membuat pengalaman iklan dengan menggunakan Google Ads bisa dijadikan andalan utama untuk menjangkau buyer yang mencari solusi spesifik.
Lokal / Toko Fisik
Toko fisik di daerah-daerah juga bisa memanfaatkan digital marketing. Gunakan Google Business Profile yang wajib dioptimalkan dengan SEO lokal. Kuatkan dengan website sebagai penunjang dengan aset yang lebih lokal. Untuk menjaga awareness siapkan konten di Instagram dan TikTok.
Strategi SEO Untuk Brand Baru
Saya tidak akan pernah mengatakan SEO adalah gratis. Tapi, jika bicara platform yang cost-effective dan sangat efektif untuk jangka panjang maka SEO dengan pembuatan website, mengelola konten, pencarian keyword adalah hal yang paling efisien.
Trafik organiknya tidak akan instan. Pengunjung yang datang tidak akan selalu menjadi leads, atau konversi. Tapi, bisa digunakan untuk berkelanjutan dan hanya perlu di maintenance secara berkala, bahkan ketika algoritma Google terus berubah-ubah.
Salah satu cara yang kekinian untuk mengeola SEO bagi brand baru adalah dengan menggunakan keyword long tail untuk niche yang lebih kompetitif. Salah duanya, keyword yang lebih fokus pada search intent akan membantu pemilik brand menemukan audiens atau buyernya.
Search Engine Optimization (SEO) adalah investasi jangka panjang yang paling cost-effective untuk brand baru. Meski hasilnya tidak instan, traffic organik yang dihasilkan bersifat berkelanjutan dan gratis.
Jangan lupa, Google sudah menerapkan E-E-A-T untuk membuat brand menjadi punya otoritas tinggi di mata audiens. Butuh waktu yang cukup panjang untuk melihat hasilnya, terutama bagi brand baru. Tapi, begitu otoritas ini dipercaya Google, user akan selalu menemukan apa yang mereka dicari dengan mengunjungi website.
Strategi Media Sosial Untuk Brand Baru
Media sosial bukan sekadar tempat memposting foto produk. Untuk brand baru, media sosial bertujuan untuk membangun awareness, komunitas, mendapatkan kepercayaan, dengan tujuan untuk membentuk identitas brand secara konsisten.
Cara mengukurnya, lihat engagement dulu, promosi kemudian: Balas komentar dan jangan takut untuk dikritik atau dikomplain, dan berikan feedback melalui Direct Message.
Jangan lupa juga pantau dan pahami algoritma masing-masing platform yang kerap berganti-ganti sambil konsisten menyiapkan konten yang relevan untuk penggunnya.
Media sosial seperti Instagram dan TikTok adalah yang paling populer saat ini, Kuatkan bukti sosial organik sebelum menjalankan iklan digital.
Lalu, “bagaimana penyiapan budget yang tepat?” Jawabannya tergantung pada industri, target audiens, dan channel yang dipilih.
Baca juga: Membedakan SEO dan Iklan Digital Dalam Strategi Digital Marketing
Baca juga: Strategi SEO Saat Search Intent Lebih Penting dari Keyword
Panduan Alokasi Budget Digital Marketing

Dari pengalaman saya, faktor industri dan target audiens sangat berpengaruh dalam menentukan budget. Saya akan mencoba untuk membaginya secara general berikut ini.
Di tahap awal, siapkan budget 40% untuk konten di media sosial dan SEO secara organik. Tugasnya, untuk pembuatan artikel, desain grafis, video, optimasi dan maintenance website.
Setelah mendapatkan target yang matang secara organik, pelan-pelan kelola iklan digital dengan budget 30%. Coba lakukan A/B test terlebih dahulu untuk memilih keyword broad match untuk Google Ads. Sementara itu mulailah awareness di media sosial seperti di ekosistem Meta Ads dan TikTok Ads.
Secara bertahap, coba lakukan retargeting untuk menjangkau audiens yang sudah dipahami pola dan minatnya.
Jika sudah melalui fase ini, mulai gunakan tools lainnya untuk otomasi dan siapkan 20% budget dari total budget. Beberapa diantaranya adalah dengan menggunakan marketing platform lain seperti iklan digital di luar ekosistem Google Ads, email marketing, dan alat-alat analitik yang lain untuk melihat perspektif data.
Sisanya, 10% coba berkolaborasi dengan mikro influenser atau menggunakan Off Page sebagai bagian dari strategi SEO.
Untuk brand baru yang mungkin saja punya anggaran terbatas, prioritaskan konten media sosial organik dan SEO terlebih dahulu.
Iklan digital akan lebih lebih efektif ketika konten di media sosial dan organik sudah mendapatkan hasil yang jelas.
Analisa dan Ukur Secara Berkala
Hasil dari digital marketing akan sangat dinamis. Salah satu poin pentingnya adalah kualitasnya akan terus diimprove berdasarkan data dan bukan asumsi subjektif. Apalagi bicara like dan dislike.
Oleh karena itu pantau secara mingguan, bulanan, hingga kuartal untuk melihat apa yang sudah dikerjakan selama ini. Caranya, bisa menggunakan Google Analytics 4 dan Search Console untuk SEO.
Sementara itu, gunakan Meta Business Suite untuk memantau performa konten dari Facebook dan Instagram. Gunakan juga TikTok Analytics untuk melihat performa video dan audiens yang didapat.
Cara mendapatkan hasil dari membuat strategi digital marketing untuk brand baru ini butuh waktu dan dipelajari. Jadi, jangan pernah langsung menyerah ketika hasilnya belum mencapai tujuan yang ingin dicapai.
Penulis adalah mantan content editor yang sudah mengulas lebih dari 100 film dan tv series, jurnalis teknologi yang sudah mengulas lebih dari 500 gadget dan juga pegiat serta praktisi di bidang digital marketing serta SEO. Untuk lebih detil, bisa cek di tautan penulis ulasanwarga.com
