Bertahun-tahun belajar dan bergelut dengan dinamika SEO membuat saya mendapati banyak hal. Jika dahulu, saya dan tim saat itu berlomba-lomba mencari trafik dengan cara mendapatkan posisi paling atas di Google Search maka di era moden sekarang menjadi berbeda.
Pelan-pelan, secara bertahap muncul perbedaan mindset dan bagaimana cara bekerja SEO lama yang tradisional dan SEO di era sekarang, di mana AI menjadi salah satu rival, tapi sekaligus teman dalam SEO.
Memilih keyword dengan volume tinggi, menilai kuantitas keyword, membangun link building dan hal-hal yang erat kaitannya dengan SEO konvensional porsinya sudah berkurang.
Sekarang, di era modern, aturan mainnya sudah berubah secara fundamental. Bukan lagi hanya tentang AI tapi dengan Google Core Update dan algoritma yang tidak akan bisa ditebak akan mengubah cara saya untuk belajar memahami SEO dengan mindset yang berbeda.
Penerapannya, cara membuat konten pun menjadi berubah, bahkan hingga cara mengoptimasi website juga akan berganti secara menyeluruh.
Bagaimana SEO Bekerja di Era Lama
Saya akan coba kilas balik sebentar untuk menjelaskan beberapa hal yang terkait dengan SEO konvensional. Saya belajar dan mendalami SEO mulai dari 2010-an awal. Memulai dengan menjadi content writer dan jurnalis, apa yang saya pahami adalah algoritma Google relatif sederhana.
Kurang lebihnya, Google membaca sinyal-sinyal teknis yang yang menentukan otoritas sebuah website dan relevansinya. Hal ini dalam penerapan teknisnya akan bergantung pada hal-hal yang relatif mudah dipahami juga.
Beberapa diantaranya adalah volume keyword, optimasi konten, membangun link building secara masif dan masal hingga optimasi interface dari konten dan website secara bersamaan.
Lalu, bagaimana dengan perkembangannya hingga masuk ke dalam ekosistem AI Overview atau AI Search?
Mulai Berganti ke Ekosistem AI Search
Meskipun sudah mengarah ke ekosistem AI Search, hal yang saya pelajari secara keseluruhan adalah SEO konvensional atau SEO tradisional ini ternyata masih bisa digunakan untuk menjaga konsistensi konten untuk masuk ke ekosistem AI Search.
Sebelumnya, saya mencoba untuk mengingat lagi apa saja perubahan-perubahan besar yang terjadi dari Google untuk SEO.
Pada tahun 2015, Google mulai mengenalkan RankBrain dan algoritma machine learning. Selanjutnya, di tahun 2019, Google meluncurkan BERT yang bertujuan untuk memahami konteks bahasa alami.
Selanjutnya, di tahun 2021, mulai berglir Mulitask Unified Model yang jauh lebih kuat dari BERT. Barulah pada tahun 2023, hingga saat ini Search Generative Experience atau dikenal juga dengna AI Overviews yang sering dilihat muncul di Google Search.
Perubahan terbesar dari sisi pengguna adalah hadirnya AI Overviews di mana Google kini menampilkan jawaban sintetis yang dihasilkan AI langsung di bagian atas hasil pencarian, bahkan sebelum pengguna perlu mengklik situs manapun. Ini berdampak langsung pada traffic organik.
Perubahan Metrik SEO di Era AI
Dari berbagai studi hingga dampak yang saya rasakan adalah dengan kehadiran AI overview adalah penghitungan metrik
Click-Through Rate (CTR) untuk hasil pencarian posisi 1–3 menjadi turun, khususnya untuk query informasional. Alhasil, trafik yang dulunya tinggi juga akan otomatis menjadi turun.
Perubahan ini tidak hanya mencakup metrik. Hal ini dikarenakan Google menilai sebuah konten menjadi berevolusi juga. Dengan model bahasa LLM sebagai fondasi algoritma, Google kini lebih memahami niat (intent) dibalik sebuah query dan bukan lagi hanya tentang urutan kata dalam keyword.
Selanjutnya, konten juga dinilai bukan berdasarkan mengemas ulang informasi atau menulis ulang dengan bantuan AI, tapi apakah konten tersebut menjadi bermanfaat atau tidak.
Google juga mulai menjembatani sinyal kepakaran dan otoritas yang tersimpan di seluruh web, dan ini terus berganti melihat krediblitasnya sendiri.
Saya melihat juga media-media nasional pun tidak lagi mendominasi sebagai sumber informasi utama, tapi bisa disalip oleh website-website lain yang punya otoritas yang lebih baik.
Terakhir, yang saya pelajari adalah kesesuaian konten dengan kebutuhan spesifik pengguna dengan konteks yang lebih dalam dan detil.
Perbedaan Fundamental SEO Lama vs SEO Era AI
Dari hal-hal yang umum tadi, saya mencoba untuk membuat apa saja yang menjadi perbedaan SEO yang lama dan SEO era AI.
| SEO Lama | SEO Era AI |
| Mengulangi banyak keyword | Keyword lebih Intent & Topical Depth |
| Satu keyword utama per halaman | Belajar dan memahami intent user secara mendalam |
| Menerapkan kata kunci 3-5% dari total kata | Menulis konten lebih dalam dan komprehensif |
| Menempatkan keyword di struktur Heading | Menerapkan semantic keywords dan related entities |
| Menggunakan exatct-match keyword dan turunannya sebanyak mungkin | Membangun topical authority melalui content cluster |
Pada bagian ini, Google mencoba melakukan pemahaman semantik untuk mengevaluasi apakah sebuah konten benar-benar menjawab kebutuhan pembaca atau pengguna. Artikel yang terus-teusan menggunakan satu kata kunci tapi bisa saja kalah bersaing dengan artikel yang lebih detil, dan komprehensif serta menggunakan bahasa yang lebih alami dan bukan lagi re-write atau hanya berdasarkan AI.
SEO Lama vs SEO AI: Backlink vs Relevansi & Digital PR
| SEO Lama | SEO Era AI |
| Backlink masal | Authority dan relevansi |
| Menggunakan PBN | Membangun relasi digital PR |
| Directory submission | Link building dari website yang relevan |
| Komen spam di website dan blog lain | Membangun hubungan yang lebih nyata dengan industri terkait |
Secara umum, backlink dan link building masih sangat relevan digunakan di era SEO-AI Search. Hanya saja, pilihannya pun harus tepat dan strateginya juga harus berjalan.
Tujuannya adalah Google memahami konteks dan pembuatan tulisannya. Apalagi, tim Google Spam semakin canggih dalam mendeteksi link manipulatif.
Di era AI, link yang didapat secara natural akan bernilai tinggi dibandingkan dengan ratusan link dari website secara masif atau PBN.
Konten Volume vs Konten Berkualitas Tinggi

Pendekatan dari SEO yang lama adalah dengan membuat konten dalam volume besar dan juga dengan kualitas keyword yang pencariannya tinggi.
Sementara itu, di era AI akan ada banyak hal yang bertolak belakang. Beberapa hal yang saya pelajari adalah konten yang akan dipilih oleh Google untuk mendapatkan perhatian baik secara organik dan AI Search adalah
Pentingnya Data Primer dan Riset
Konten yang mampu menghadirkan data asli, studi kasus nyata, berdasarkan pengalaman langsung mendapat penilaian yang lebih diutamakan.
Dalam pembelajaran yang saya dapati, Google menyebut ini sebagai “first-hand experience” dalam panduan E-E-A-T.
Konten yang Deep dan Komprehensif
Satu artikel yang dibuat secara dalam dan komprehensif akan menjadi jawaban yang sangat bermanfaat di mata Google. Hal ini biasanya akan terjadi untuk topik khusus agar efektif.
Jumlah artikelnya bisa lebih panjang, bisa mencapai 1.500–3.500 kata. Alhasil, fungsi operasional pengerjaan sebuah konten pun akan jadi lebih lama. Sebuah konten tidak lagi bisa diproduksi hanya dalam hitungan 1-2 jam saja.
Bisa jadi, konten akan sangat membutuhkan waktu yang panjang. Mulai dari proses pembuatan, editing hingga publikasinya.
Helpful Content Standard
Satu hal yang membuat banyak pegiat SEO memang langsung mengubah strateginya, termasuk saya. Google pernah mengisyaratkan Helpful Content Update 2022 dan pembaruannya di 2023–2024.
Dalam hal ini Google akan menghukum konten yang tampak dibuat “untuk mesin pencari” daripada “untuk manusia”. Tanda-tanda seperti keyword yang berlebihan, konten generik tanpa sudut pandang unik hingga artikel yang tidak menjawab pertanyaan secara memuaskan menjadi faktor kenapa Google kemudian tidak memprioritaskannya.
Apakah Helfphul Content Standard hanya akan bergantung pada FAQ? Jawabannya tidak. Solusinya adalah konten dengan data primer, riset mendalam dan komprehensif akan dipertimbangkan Google sebagai persyaratan konten yang dibuat “untuk manusia”.
Optimasi Pengalaman Pengguna (UX)
Satu hal yang memang membuat saya belajar banyak. Hal-hal seperti ini dahulunya adalah hal-hal yang tidak diurus SEO secara langsung. Dulu pun, saya sangat kesal ketika sebuah website tampil buruk, bahkan tidak bisa dibuka alias ada yang eror.
Saya menemukan sebagian brand tidak peduli dengan hal ini. Tapi, sekarang hal ini sudah tidak boleh diabaikan lagi. Khususnya tentang kecepatan halaman sebuah website dan bahkan halaman-halaman lainnya, termasuk halaman blog yang akan digunakan untuk menunjang strategi SEO sebuah brand.
Hal ini tercermin dalam Core Web Vitals yang menjadi indikator resmi untuk mengukur bagaimana pengalaman pengguna ketika mengakses sebuah website.
Apalagi, Google sudah menjelaskan dari sejak dahulu, bahwa mereka akan mengindak versi mobile terlebih dahulu sebelum mengindeks versi desktop.
Konten yang Hidup Jadi Prioritas
SEO era lama sering membiarkan konten statis setelah dipublikasikan. Tapi hal yang berbeda justru terjadi di era AI. Google kini lebih aktif memantau penyegaran konten, terutama untuk topik yang berubah cepat seperti halnya media daring.
Artikel yang terus diperbarui secara berkala dengan informasi terbaru dan relevan akan diprioritaskan dan mendapat sinyal positif dari algoritma.
Dari sini juga, saya terus belajar bahwa konten yang terus relevan seiring perkembangan topiknya akan menjadi prioritas yang besar diutamakan leh Google
Silo ke Topical Authority & Content Cluster
Dalam proses pembelajaran ini, sebuah situs memiliki halaman-halaman yang tidak saling terhubung secara logis dan membuat artikel akhirnya sendirian. Hal ini biasa terjadi di SEO yang tradisional.
Di era AI, Google lebih dalam mengevaluasi topical authority, dengan cara seberapa dalam dan komprehensif sebuah situs membahas suatu topik utama dan juga beserta turunannya.
Saat ini, saya sedang mencoba mengembangkan content cluster yang membahas aspek spesifik secara mendalam dan saling terhubung melalui internal link yang relevan dan strategis.
Optimasi untuk Satu Platform ke Multi-Channel Search Ecosystem
SEO yang lama hampir seluruhnya berfokus pada Google web search. Sementara itu, di era AI, ekosistem pencarian lebih luas sekaligus kompleks.
Tak lagi hanya mengandalkan teks yang bisa melebar ke ChatGPT, Perplexity dan lain-lainnya. Tapi juga akan menyebar luas pada voice search dan visual search.
E-E-A-T: Fondasi Baru yang Tidak Bisa Diabaikan
Di beberapa artikel sebelumnya, saya sudah cukup sering berulang kali membahas E-E-A-T. Sebuah fondasi kuat yang dibangun Google dan tentunya tidak bisa diabaikan bagi yang menjalankan strategi SEO.
jHal ini adalah panduan evaluasi Google adalah evolusi dari E-A-T (Expertise, Authoritativeness, Trustworthiness) menjadi E-E-A-T dengan penambahan “Experience” sebagai pilar pertama.
Saya akan coba buatkan tabelnya seperti ini.
| Experience | Expertise | Authoritativeness | Trustworthiness |
| Pengalaman Langsung | Apakah penulis punya atau mendapatkan informasi yang erat dengan keahlian substantif | Situs memiliki otoritas yang diakui | Melibatkan kepercayaan pengguna |
| Apakah penulis ketika menulis benar-benar menggunakan produk yang diulas? | Tulisan akan melibatkan pengetahuan mendalam yang hanya dimiliki praktisi nyata | Sebuah situs dan konten mendapatkan sebutan dari sumber terpercaya di industri | Menyiapkan kebijakan privasi, syarat penggunaan yang jelas |
| Apakah konten artikel yang dibuat merupakan pengalaman nyata dan bukan sekedar kompilasi yang ditulis ulang? | Kemampuan konten untuk menjelaskan nuansa dan topik yang kompleks | Strategi backlink dari situs otoritatif yang relevan | Informasi penulis dan redaksi (khusus media) yang transparan |
| Bukti visual apakah pengalaman personal? | Konsistensi yang tepat sesuai dengan keahlian di seluruh konten situs | Rekam jejak bisa diverivikasi dan bukan robot | Dinilai berdasarkan akurasi informasi yang dapat diverifikasi |
Baca juga: Strategi SEO Terbaru di 2026: Kenapa Konten Berbasis (E-E-A-T) Kini Jadi Kunci Penting?
Satu hal tambahan yang akan saya bagikan, untuk konten yang terhubung dengan ekonomi, hukum dan kesehatan E-E-A-T adalah hal yang mutlak dilakukan.
Rekomendasi Strategi SEO di Era AI
Saya mencoba untuk menerapkan beberapa rekomendasi strategi yang bisa jadi pilihan bagi SEO di era AI
Bangun Topical Authority, Bukan Halaman Tunggal
Bangun niche yang spesifik dan tetap relevan dengan bisnis. Cobalah membuat konten dengan mengibaratkan website menjadi sumber yang lengkap.
Siapkan pillar page dengan kurang lebih 10 cluster artikel yang saling terkait. Selanjutnya, Google akan mengidentifikasi situs sebagai entitas yang relevan untuk sebuah topik.
Optimalkan Search Intent
Perbedaan SEO lama dan SEO AI yang sangat kental. SEO lama akan mengandalkan keyword, sementara itu SEO di era AI akan lebih fokus pada intent. Siapkan query informasional, komersial dan transaksional untuk membuat konten.
Author Authority yang Kuat
Siapkan halaman profil penulis yang kuat dan dengan kredensial lengkap. Portofolio, dan profil media sosial yang terverifikasi. adalah kuncinya.
AI Bukan Solusi, dan Jadikan Sebagai Asisten
AI generatif mungkin akan membantu, tapi jelas dia bukan solusi. Ingat konten SEO di era AI akan dilihat pada manusia. Bukan algoritmanya.
Keputusan menulis tetap akan ada di tangan manusia. Keputusan pengalaman dan analisa yang dalam tetap dari manusia.
Prioritaskan Core Web Vitals & Mobile UX
Ini bukan pekerjaan SEO seorang. Kolaborasi dengan produk dan tech untuk memastikan LCP (Largest Contentful Paint) di bawah 2.5 detik, INP (Interaction to Next Paint) di bawah 200ms, dan CLS (Cumulative Layout Shift) di bawah 0.1 adalah hal penting. Gunakan Google PageSpeed Insights berkala untuk mengetahui isu apa yang harus diperbaiki.
Baca juga: Strategi SEO Saat Search Intent Lebih Penting dari Keyword
Baca juga: Apakah Backlink Masih Penting Sebagai Strategi SEO di 2026?
Bangun Digital PR yang Nyata
Backlink tetap penting. Tapi, kembangkan strategi alternatif yang yang lain. Coba investasikan waktu untuk menciptakan konten yang dalam penuh riset, orisinil, dan dilengkapi dengan data eksklusif dan kemudian dikutip media online terpercaya dengan otoritas yang baik pula.
Satu backlink yang didapat dari media yang sudah punya otoritas yang baik akan lebih berharga dari ratulisan link yang dibeli dan dipaksakan sebagai sebagai strategi link building.
Penulis adalah mantan content editor yang sudah mengulas lebih dari 100 film dan tv series, jurnalis teknologi yang sudah mengulas lebih dari 500 gadget dan juga pegiat serta praktisi di bidang digital marketing serta SEO. Untuk lebih detil, bisa cek di tautan penulis ulasanwarga.com
