Review Film “Colony:” Ketika Teknologi Jadi Teror Horor Zombie

Salah satu film horor zombie dari Korea masuk ke bioskop Indonesia minggu ini. Tidak main-main, Yeon Sang-ho yang menggarap salah satu film zombie yang disegani, “Train to Busan” adalah nahkoda untuk film terbaru yang berjudul “Colony.”

Sebelum membahas review film “Colony” mari kita bahas sinopsis filmnya terlebih dahulu.

Sinopsis Film “Colony”

Jika teknologi jatuh di tangan yang tepat, maka akan memberikan banyak manfaat. Tapi, jika teknologi dikelola dan jatuh di tangan orang yang salah, bisa sangat-sangat berbahaya.

Hal ini yang terjadi di Korea Selatan, ketika Profesor Se Jeong (Jun Ji-hyun) melihat sendiri bagaimana bio-teknologi sudah berkembang dengan cepat dan menjadi andalan manusia di masa depan.

Bio-teknologi ini dimodifikasi oleh orang jenius tapi dengan cara yang salah. Adalah Seo Yeong Cheol (Koo Kyo-hwan) yang melakukan semua itu.

Berkat kecerdasannya ia mengubah manusia menjadi sekelompok teror yang menghantam Korea Selatan. Yang membuat pemerintah pada akhirnya membuat keputusan yang sulit.

Tapi, di satu sisi, memaksa Profesor Se Jeong mencari jalan keluar untuk memutus mata rantai teror zombie yang sedang terjadi.

Review Film “Colony”

Film ini dibuka dengan padat. Tak ada pengenalan karakter yang terlalu panjang dan meletakkan fokus pada sosok-sosok tertentu.

Yeon Sang-ho sebagai sutradara tahu betul bagaimana memulai mengenalkan filmnya. Bahkan, premis dan konflik langsung dibuka di awal film.

Mulai sedikit berbeda dengan tema besar film yang melambungkan namanya di tahun 2016, yaitu “Train to Busan” Semuanya to the point dan sejak awal pula, nama-nama besar yang berperan di film ini dikenalkan satu per satu.

Sisanya, Yeon Sang-ho memilih sisipan teknologi atau Sci-Fi alih-alih drama. Dan di sinilah premis dan konflik semakin kuat, dan kenapa saya kembali melihat bahwa dari cerita fiksi penonton seperti saya melihat bahwa teknologi bisa sangat berbahaya ketika jatuh di tangan yang salah.

Secara ide, film ini terbilang ok dan berani menurut saya. Ketika orang-orang selalu melihat interfacenya saja pada teknologi, Yeon Sang-ho ingin membawanya lebih dalam. Bio-tech dan chip yang bisa masuk ke dalam tubuh manusia adalah hal ideal yang bukan tidak mungkin terjadi di masa depan.

Yeon Sang-ho hanya mengingatkan, jika dikelola dengan buruk maka teknologi akan berbahaya dan memberikan teror zombie yang mengerikan.

Pada bagian ini, saya melihat film dengan konflik yang semakin mengecil Profesor Se Jeong dengan Seo Yeong Cheol menjadi terasa berputar-putar lama di situ-situ saja. Bumbu-bumbu zombie yang ditawarkan memang mampu membangun ketegangan tersendiri, tapi saya melihat hal-hal yang datar saja.

Film ini terlalu standar dan biasa, dan hanya Seo Yeong Cheol yang menurut saya mampu memberikan akting yang bagus. Karena, sejak dari awal hingga akhir film karakter Seo Yeong Cheol sukses tampil mengesalkan.

Seo Yeong Cheol yang Mengesalkan

ulasan-film-colony-2026

Nama karakter Seo Yeong Cheol dimainkan dengan baik oleh Koo Kyo-hwan. Sosok antagonis yang ibaratnya adalah Joker di film ini. Setiap scene, setiap dialog, berhasil dimainkan dengan baik oleh Koo Kyo-hwan.

Perannya adalah seorang ilmuwan yang ingin menguji dan mengontrol manusia dengan bio-teknologi yang dibuatnya. Hanya berdasarkan pikiran yang ia mau, Seo Yeong Cheol bisa mengontrol orang-orang yang sudah terjangkit dengan gigitan dari “kasus 1” yang sudah dilakukannya sejak awal film.

Hal yang pada akhirnya membuat penonton memang merasa karakter ini sangat mengesalkan di sepanjang film. Cara Koo Kyo-hwan membawakan karakternya terbilang sangat baik. Mengingat sang aktor memang selalu lekat dengan karakter-karakter antagonis.

Transisinya sebagai seorang jenius yang bisa memodifikasi teknologi menjadi senjata berbahaya juga dimainkan. Punya satu selipan latar belakang cerita yang kuat kenapa kemudian karakter Seo Yeong Cheol menjadi sangat jahat.

Tanpa perlu diperjelas lebih dalam, apa yang ditampilkan Koo Kyo-hwan sudah sangat lengkap. Bahkan, jika dibalik dengan perspektif yang berbeda, karakter Seo Yeong Cheol bisa jadi pemeran utamanya.

Tanpa Drama yang Bertele-tele

Satu lagi buat saya nilai plus dari film ini adalah tanpa drama yang bertele-tele. Saya sempat mengira bahwa akan ada banyak unsur drama yang begitu bagus di film “Train to Busan” dan kembali dibawa untuk film “Colony.”

Tapi hal ini tak terjadi secara luas. Ada sisipan drama, tapi tak terlalu tajam. Lihat saja penggambaran film ini yang penuh bintang tak membutuhkan latar karakter yang luas. Semua sesuai porsinya.

Bahkan, sosok antagonis Seo Yeong Cheol dan protagonis Profesor Se Jeong pun langsung saling berhadapan tanpa harus membawa sikap moral mereka dengan perspektif drama. Keduanya langsung head-to-head dan saling mencari cara untuk saling menyingkirkan hingga akhir film “Colony.”

Film Penuh Bintang yang Sesuai Porsinya

Selain Koo Kyo-hwan sebagai sosok antagonis, dan Profesor Se Jeong (Jun Ji-hyun) sebagai protagonis, film ini bisa dibilang sebagai tempatnya perang bintang.

Masih ada karakter Choi Hyeon Hui yang diperankan dengan baik oleh Kim Shin-rock. Atau, karakter Choi Hyeon Seok yang diperankan Ji Chang-wook dan Han Gyu Seong (Go Soo).

Nama-nama tadi bukan sekedar gimmick yang dibuat untuk membuat film ini menjadi ramai ditonton. Tapi, peran mereka yang memang sengaja disisipkan untuk film ini.

Contohnya saja, Ji Chang-wook yang berperan sebagai security punya porsi yang pas untuk memainkan karakternya. Sementara itu, karakter yang dimainkan Kim Shin-rock sebagai pengunjung disabilitas pun juga akan membuat penonton gemas karena tingkah lakunya.

Bisa dibilang, mengesalkan, tapi bisa dibilang juga sebagai sosok yang “baik” karena ngemongnya sebagai sosok wanita dewasa. Meskipun begitu, karena ceritanya yang memang dilandasi oleh apa yang ada di pikiran sang sutradara, nama-nama besar ini memang pada akhirnya tidak punya porsi yang besar di sepanjang film.

Pada akhirnya memang cukup dan membuat film ini punya potensi kuat untuk menarik penonton karena banyaknya bintang-bintang besar yang ada di film ini.

Baca juga: Ulasan Film “Project Y:” Han So Hee dan Pelariannya Dari Gangnam

Baca juga: Ulasan Film “Humint:” Intrik Penuh Aksi Antara Intelijen Korsel dan Korut

Ciri Khas Film Zombie dari Sutradara Yeon Sang-ho

review-film-terbaru-colony-2026

Yeon Sang-ho adalah sutradara dibalik film “Train to Busan” yang mengesankan pada saat itu. Berbagai konflik yang dibuat memang membuat film ini bikin deg-degan pada masanya.

Ketika menonton film “Train to Busan” pada saat itu, saya sangat mengingat bagaimana cara manusia bisa bertahan dari gigitan. Yaitu, dengan melindungi bagian lengan-tangan dan kaki melalui alat-alat yang sekiranya mencegah manusia terpapar gigitan zombie.

Formula yang sama juga diulangi Yeon Sang-ho di film “Colony.” Beberapa adegan dengan gamblang menjelaskan hal ini. Buat saya cara ini hanyalah mengulang formula yang sama untuk menutupi logika yang terjadi ketika bagaimana manusia bisa bertahan jika serangan zombie memang benar-benar terjadi.

Pada akhirnya, film “Colony” adalah pilihan yang tepat bagi yang menyukai film-film zombie. Meskipun pada dasarnya, tidak ada hal-hal yang memang baru di film ini, selain pengaruh teknologi yang sudah terlalu tinggi dan jatuh di tangan orang yang salah.

Seperti mengingatkan penonton bahwa teknologi bisa menjadi sangat berbahaya jika jatuh dan dikelola di tangan orang yang salah.

Bagi yang ingin penasaran dengan film ini, “Colony” saat ini sedang tayang di bioskop-bioskop Indonesia.

Leave a Comment