Ulasan Film Heart of the Beast: Premis Sederhana, dan Petualangan Penuh Haru di Alaska

Satu film yang yang tidak disangka masuk ke bioskop Indonesia akhirnya saya tonton juga. Mengambil jam tayang di malam hari, kali ini saya akan buatkan review film Heart of The Beast.

Selain Brad Pitt yang menjadi pemeran utama di film ini, alasan saya menonton film ini adalah dengan menempatkan seekor hewan sebagai teman karakter Brad Pitt di sepanjang film.

Bagi yang suka dengan film-film petualangan, Heart of The Beast adalah tontonan yang saya rekomendasikan sebagai sebuah hiburan.

Bagi yang suka dengan film yang menempatkan hewan sebagai bagian dari alur ceritanya, maka Heart of The Beast juga pilihan yang tepat untuk ditonton.

Premis Film Heart of The Beast

James Belmont (Brad Pitt) datang ke Alaska untuk menikmati hidup bersama bersama seekor anjing tempur bernama Odin dan sayangnya petualangan itu tidak berbuah manis, karena James yang sudah menua tak bisa sendirian menghadapi ganasnya alam di hutan.

Review Heart of The Beast: Petualangan Penuh Tantangan di Alaska

Alasan saya menonton film sebenarnya ada dua. Sebagai sebuah hiburan dan memang saya suka dengan film-film yang menampilkan binatang sebagai salah satu karakter pentingnya.

Apalagi, di film ini Brad Pitt yang memang selalu total memainkan karakternya. Terlebih lagi ada David Ayer sebagai sutradara di film ini. Satu nama yang mengingatkan saya bahwa ia pernah bekerjasama dengan Brad Pitt di film berjudul Fury.

Terlepas dari itu, pengenalan dan pembukaan cerita film ini sebenarnya bisa dibilang cepat dan jelas. Seorang wanita menemukan Odin di tengah jalan. Sebuah cerita yang kemudian menjelaskan bagaimana kisah Odin dan James.

Tak ada waktu untuk bertele-tele. James diceritakan langsung bersama dengan Odin di dalam sebuah pesawat kecil yang membawa mereka bertualang di Alaska.

Satu pengenalan yang dilakukan David Ayer sekaligus membuat penonton pun paham bagaimana kelanjutan ceritanya. Satu hal yang saya suka di sini adalah bagaimana pengalaman Brad Pitt sebagai aktor senior mampu memainkan perannya dengan baik.

Momen-momen PTSD yang terjadi pada James dan kembali mengingat masa-masa perangnya sambil membawa Odin, sakit yang dirasakannya, keputusasaan, startegi bertahan hidup hingga keikhlasan yang harus dipilih oleh James merupakan pembawaan cerita yang baik.

Sementara itu, Odin yang nama aslinya adalah Uber juga sosok anjing terlatih yang mampu mengimbangi peran Brad Pitt di dalam film ini.

Dari awal hingga akhir kebersamaan keduanya adalah pencair cerita yang sudah pasti diketahui penonton, namun tetap bisa dinikmati hingga akhir.

Ratingnya di Rotten Tomatoes hingga saya menuliskan review film Heart of The Beast terbilang tinggi yaitu dengan skor 89%. Buat saya artinya, dengan alur ceritanya terlalu mudah ditebak, film ini masih menyimpan banyak keistimewaan.

Haru, Tapi Tidak Membuat Saya Menangis

review-film-heart-of-the-beast

Setiap menonton film yang menyelipkan karakter hewan pastinya akan membuat saya menangis atau, setidaknya menitikkan air mata. Hal yang kemudian sempat membuat saya ragu menonton film Heart of The Beast di bioskop.

Tapi, hal itu justru tidak terjadi. Film ini memang memberikan rasa haru kepada saya ketika bagaimana Odin dengan setia selalu berada di sisi James.

Apalagi, Odin sebenarnya tidaklah sempurna. Di giginya ada titanium yang dipasangkan. Sementara kaki depan sebelah kanannya sudah dipasangkan kaki palsu.

Ketika penonton melihat filmnya langsung di bioskop, ada alasan khusus kenapa Odin menggunakan alat-alat itu di tubuhnya. Meskipun punya keterbatasan, namun Odin adalah anjing yang setia. Anjing yang punya hati besar, karena dekat dengan orang yang sudah bersamanya sejak kecil, yaitu James.

Odin rela menolong James dan mengangkatnya dari derasnya air yang mengalir di hutan Alaska. Ia tetap berdiri di samping James, ketika ada beruang dan segerombolan serigala yang mencoba menganggu James.

Bahkan, hingga akhir hayatnya James. Ini yang membuat rasa haru tersebut muncul. Tapi saya tidak menangis. Haru yang muncul adalah tentang bagaimana kesetian dan keikhlasan. Sebuah perasaan yang tulus dan datang dari makhluk hidup.

Sebuah rasa yang tidak akan bisa diukur dengan metriks atau teknologi tinggi mana pun.

Latar Belakang Alam yang Menantang

Sesuai dengan premis filmnya yang mengisahkan bagaimana James dan Odin bertahan hidup di alam yang liar membuat setiap penonton bisa mendapatkan pemandangan-pemandangan indah.

Berbagai sudut kameranya memang tidak istimewa, tapi fokus yang diambil pada karakter-karakter semakin kuat dan menjelaskan bagaimana kegetiran keduanya bertahan hidup di alam yang ganas.

Poin-poin ini membuat suasana Alaska yang membuat kita penasaran selama ini menjadi terasa dalam. Padahal, David Ayer sebagai sutradara tidak melakukan pengambilan gambar di Alaska.

David Ayer justru melakukan pengambilan gambar di New Zealand yang punya alam bagus dan justru tidak kalah ganasnya. Tetap saja, untuk menambah ketegangan tersebut, tentunya dibutuhkan CGI yang berkualitas.

Setidaknya dari pengalaman saya menonton langsung filmnya ini terlihat pada penggambaran beruang dan kawanan serigala yang mencoba menyerang dan menyerga James serta Odin.

Kualitasnya tidak terlalu buruk dan tidak juga terlalu bagus. Terbilang cukup untuk menambah ketegangan-ketegangan yang ada di sepanjang filmnya.

Apalagi, bagian ketegangannya itu sebenarnya justru datang dari masa lalu James yang kehilangan pasukannya dan masih trauma serta Odin yang meskipun sudah melalui banyak pertempuran dan mengalami gangguan PTSD.

Baca juga: Ulasan Film “Apex:” Seni Bertahan Hidup di Keindahan Alam Australia

Baca juga: Ulasan “Send Help”: Film Suspense Menghibur Antara Bos vs Karyawan

Akhir yang Bijak

Awal pembukaan film ini adalah akhirnya. Dan seperti yang sudah saya catatkan tadi, alur cerita film ini terlalu mudah untuk ditebak. Namun tidak di bagian akhirnya. Ketika saya melihat James (Brad Pitt) yang ternyata punya masalah pada jantung tak mampu lagi melanjutkan perjalanan bersama sahabatnya Odin.

Inilah pilihan yang tidak bisa saya tebak. Sebuah akhir yang bijak dan ditulis dalam catatan kecil oleh James. Membuat perspektif bahwa cerita tentang pershabatan manusia memang tidak selalu berakhir dengan indah.

Harus ada yang direlakan pergi lebih dahulu untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Bagi yang suka dengan film-film petualangan bertahan hidup dan persahabatan manusia dengan binatang, Heart of The Beast adalah film yang wajib warga tonton.