Ulasan Apple Music: Akhirnya Saya Mencobanya dan Efeknya Setelah Update ke iOS 27

Butuh 11 tahun akhirnya bagi saya untuk mencoba Apple Music dan memberanikan diri untuk menulis reviewnya di sini. Jika kembali ke masa lalu, Apple Music mungkin bukan top of mind saya sebagai layanan pemutar musik secara online.

Selain Spotify, pada masanya ada Deezer dan Joox yang dulu juga ikut bersaing dan sempat hadir serius di market Indonesia. Dan yang paling sering saya gunakan? Tentu saja adalah Spotify.

Tapi, semuanya berubah setelah update ke iOS 27. Melalui pembaharuan perangkat lunak ini, saya mendapatkan lagi penawaran untuk mencoba Apple Music.

Sependek ingatan saya, notifikasi ini pernah muncul beberapa tahun yang lalu, dan saya masih enggan menggunakan Apple Music meskipun sudah mengambil penawaran gratis tersebut.

Dan bahkan sependek ingatan saya, saya pernah menggunakan Apple Music ketika layanan ini memasang Adele untuk promosi, cover penawaran pengguna baru, hingga promosi uji coba gratis (free trial) di tahun 2021 yang lalu.

Selain itu, sejak tahun 2021 yang lalu saya punya satu iPhone lagi, yaitu versi 13 dan belum menggunakan Apple Music hingga kini. Dan penawaran gratis 3 bulan yang saya dapatkan ini saya asumsikan sebagai “perangkat promo baru.”

Jadi, review Apple Music kali ini akan lebih terasa dalam berdalam berdasarkan pengalaman saya sendiri yang mencoba benar-benar menggunakannya dengan intensitas tingggi dibandingkan dengan tahun 2021 yang lalu.

Review Apple Music: Lebih Segar Dari Sisi Subjektivitas Saya

Mungkin, saya orang yang telat move on. Sudah bertahun-tahun pakai iPhone, dan masih belum terlalu optimal menggunakan iPhone. Kalau konteksnya adalah hiburan, saya hanya menggunakan Apple TV. Dan dari sanalah saya menonton film atau series Apple Original dan juga sering saya tulis di kanal film atau series.

Tapi, tidak dengan Apple Music. Meskipun Apple Music sudah langsung “nempel” begitu saja di HP dan masuk menggunakan Apple ID yang sama, saya tidak pernah melakukannya. Sampai akhirnya, setelah update iOS 27, satu notifikasi di pengaturan memberikan saya jalan untuk mengakses Apple Music secara gratis 3 bulan.

Setelah 2-3 hari menggunakan Apple Music, saya berpikir. Ternyata ini beda dibandingkan dengan Spotify yang selama ini selalu saya gunakan.

Beberapa hal berikut ini yang kemudian membuat saya menjadi yakin, Apple Music adalah layanan musik streaming yang tepat bagi saya. Karena bicara kualitas siapa saja musisinya, buat saya kedua-duanya hampir sama saja.

Kualitas Audio Lossless, Tanpa Biaya Tambahan

Hal penting yang sudah sering dibicarakan oleh pengguna Apple Music sejak dahulu. Audio Lossless! Ini juga pengalaman yang saya dapatkan setelah mencoba Apple Music untuk pertama kalinya.

Semua katalog lagu dan artisnya sudah menghasilkan kualitas audio lossless dan memang benar-benar bisa didapatkan tanpa biaya tambahan melalui aplikasi Apple Music. Dan jika dikomparasi dengan Spotify HiFi yang baru juga rilis, jujur saja saya memilih Apple Music.

Bahkan, Apple Music juga menghadirkan kualitas Hi-Res Lossless yang diklaim berkualitas tinggi hingga 24-bit/192 kHz. Untuk mendapatkan kualitas ini dibutuhkan seperti Digital-to-Analog Converter (DAC) eksternal agar hasilnya maksimal. Buat saya, untuknya sudah tidak menggunakan TWS atau karena memang saya tidak punya AirPods saja.

Seperti yang sudah pernah saya tulis sebelumnya, saya sudah beralih dari TWS ke earphone kabel. Artinya, saya bisa mendapatkan kualitas Hi-Res Lossless dari Apple Music dengan praktis.

Kurasi Musik Masih Berdasarkan Kemampuan Tim Editorial

review-apple-music

Meskipun terjadi lay off di mana-mana dan efisiensi kerjasama termasuk di Apple itu sendiri, saya sungguh senang karena ada beberapa pekerjaan khusus yang masih mengandalkan manusia.

Poin saya adalah Apple Music masih mengandalkan telinga dan rasa manusia untuk menghadirkan kurasi musik bagi pendengarnya. Apple Music masih mengandalkan banyak kurasi manual dari tim editorial mereka, yang berlokasi di berbagai tempat seperti London, hingga Tokyo.

Dan ini terlihat dari yang muncul di top charts yang tersedia di Apple Music. Buat saya sebagai pendengar, musik yang ditawarkan menjadi lebih bervariasi dan relevan untuk didengarkan.

Hal ini berbanding terbalik Spotify yang cenderung lebih algoritma-sentris yang hadir berdasarkan data streaming semata.

Lebih Tegas Tanpa Iklan

Apple Music Radio adalah salah satu fitur yang saya suka. Kurasi dari editor musik di Apple memang menarik. Dan saat saya pernah menggunakannya di tahun 2021 yang lalu, fitur ini bisa didengarkan tanpa iklan, bahkan buat yang belum berlangganan sekalipun.

Ada beberapa fitur yang dirasa membuat pengguna ekosistem Apple sangat bahagia ketika mennggunakan Apple Music. Mulai dari Spatial Audio dan dukungan Dolby Atmos yang membuat suaranya lebih terasa ketika menggunakan AirPods dan integrasi ekosistem Apple yang mulus bagi terutama jika dihubungkan dengan Siri, HomePod, Apple Watch, sampai CarPlay.

Sayangnya, hingga saat ini saya belum punya kesempatan untuk mencoba semua ekosistem ini. Saya tak punya AirPods, tak punya AppleWatch, bahkan Siri AI yang baru saja mendpaatkan upgrade besar setelah pembaruan perangkat lunak melalui iOS 27.

Baca juga: Ulasan Leica Lux: Aplikasi yang Mengubah Hasil Foto Terasa Kamera Premium

Baca juga: Ulasan Aplikasi Apple Sports: Berkembang Atau Stagnan dengan Fiturnya di Indonesia

Pembaruan Apple Music Setelah Update ke IOS 27

Pembaruan perangkat lunak iOS 27 yang sudah berlangsung sekitar seminggu lebih ternyata juga berpengaruh ke performa Apple Music sendiri.

Berikut beberapa pengalaman yang saya dapatkan setelah menggunakan Apple Music di tahun 2026.

AutoMix ditingkatkan

Di Apple Music ada satu fitur menarik yaitu, AutoMix yang biasanya berada di genre house, techno, dan pop, dengan transisi yang kadang memotong bagian akhir lagu.

Sementara itu, setelah update iOS 27, algoritmanya menghasilkan transisi yang lebih dinamis dan alami untuk tiap genre. Jadi, pergantian lagunya pun berjalan mulus. Bahkan, untuk lagu-lagu yang belum saya kenal dan dengarkan sama sekali.

Tampilan Baru di Bagian Artis

review-apple-music

Re-design halaman agar jadi lebih baru u kini menyatukan gambar artis secara lebih elegan dengan konten di bawahnya, dengan skema warna yang senada dengan visual awalnya.

Sementara itu, bagian Info artis, tombol putar, dan tombol favorit kini ditempatkan tepat di bawah nama artis, sementara musik unggulan (rilisan terbaru atau karya mendatang) dipisahkan dalam kotak tersendiri. Dan saya lihat khusus untuk Taylor Swift terlihat seperti menggunakan font khusus untuk nama mereka.

Pembaruan Tata Letak dan Widget

Satu lagi hal yang menarik adalah saat iPhone diputar ke posisi horizontal, artwork dan kontrol pemutaran kini tampil berdampingan dengan lirik di sampingnya.

Dulu seinget saya hal ini tidak ada. Tentunya, hal ini akan memudahkan pengguna yang suka mendengarkan musik dari perangkat Apple mereka secara horizontal di atas meja. Atau sekedar mencari informasi tambahan dengan menginginkan cakupan layar lebih luas secara horizontal.

Tulisan ini saya buat bagi yang mungkin sedang mempertimbangkan untuk pindah ke Apple Music ketimbang Spotify. Atau, yang selama ini masih ragu untuk memilih, aplikasi streaming musik mana yang terbaik. Faktanya, Apple Music tidak hanya tersedia di iOS saja.

Karena, Apple Musik juga bisa dinikmati oleh pengguna Android.