Ulasan Film The Last House: Premis Apocalyptic yang Menarik Sekaligus Tak Konsisten

Film The Last House jadi judul terbaru yang saya tonton di akhir pekan ini. Bergenre sci-fi thriller, film ini buat saya jujur saja terasa menjanjikan. Mengingat dalam beberapa bulan belakangan ini memang sering bermunculan film-film bergenre sci-fi dan dipadukan dengan thriller.

Sebelum membahas review film The Last House, satu lagi yang ingin saya tambahkan juga film ini juga punya tema survival. Jadi, di sini penonton akan mendapatkan suguhan sebuah kisah fiksi yang akan melihat mulai memudarnya peradaban manusia atau sekaligus dunia karena bencana yang terjadi di bumi.

Sinopsis Film The Last House

Sepasang suami istri Jason (Wagner Moura) dan Ann (Greeta Lee) dua anak mereka Ruth dan Graham adalah keluarga kecil yang bahagia dan sedang menikmati persiapan liburan Natal tahun itu.

Namun, sebuah kejadian yang tak terduga terjadi, Ketika berangkat mencari persiapan dan perlengkapan Natal, Jason tidak bisa membuka semua pintu di rumahnya.

Panik, mereka mencoba mencari tahu kondisi tetangga mereka. Hal yang sama juga terjadi di keluarga lainnya. Satu atau dua hari mungkin adalah hal yang biasa. Tapi kejadian ini sudah berlangsung hingga 5 tahun. Hanya Jason dan keluarganya yang bisa bertahan.

Sampai akhirnya rasa furstasi muncul, apa yang menjadi penyebab semua masalah ini? Kenapa mereka tersandera di rumah sendiri? Siapa pelakunya?

Bagi penggemar film bergenre sci-fi, thriller, bertahan hidup hingga drama, The Last House adalah film yang tidak boleh dilewatkan untuk ditonton.

Review Film The Last House

Awal film dibuka dengan sebuah pendahuluan yang memberikan sedikit tentang latar belakang keluarga Jason dan Ann. Dan kemudian dilanjutkan dengah konflik pembuka di mana Jason yang tidak bisa membuka pintu rumahnya sendiri.

Pada bagian ini, cerita ditampilkan dengan pace yang terbilang cepat. Berpindah fokus dari satu objek ke objek yang lain. Beberapa hal yang saya tangkap adalah, rencana membeli hadiah liburan Natal yang sedang diusahakan Jason dan Ann untuk anak-anaknya.

Kemunculan tetangga Jason dan Ann dan jadi satu-satunya orang yang ada di luar rumah saat itu di film. Pada satu poin cerita lainnya, kemudian berpindah cepat untuk melihat bagaimana situasi di dalam rumah.

Cuaca hujan, dan kemudian Jason bersama Ann yang masih “berpikir positif” bahwa kondisi mereka yang sedang terkunci di dalam rumahnya sendiri adalah hal yang wajar.

Berikutnya, berpindah lagi pada objek cerita di mana Jason dan Ann melihat bahwa tetangga mereka pun ada yang bernasib sama.

Perpindahan cerita yang cepat ini kemudian membuat cerita menjadi terlihat tidak konsisten. Tidak ada ketegangan yang dibangun. Emosi yang dimunculkan terasa kurang untuk diberikan bahwa cerita ini adalah thrriler.

Tak ada pesan bahwa ini adalah sebuah bencana besar yang begitu kuat dan diceritakan di dalam film The Last House. Meskipun begitu, di sisi kontrasnya karakter Jason dan Ann yang mencoba menyembunyikan situasi kepada anak-anak mereka yang masih kecil.

Bahkan, saat perayaan Natal yang saya pikir akan suram, tapi keluarga ini masih terlihat baik-baik saja dan memaklumi semuanya ini terjadi dengan begitu saja.

Saya tidak bisa merasakan emosi dan kegetiran ini ketika menonton The Last House. Begitu pun masuk di pertengahan cerita, dimana Jason dan Ann sudah terjebak hampir cukup lama yaitu dalam waktu 5 tahun sejak bencana misterius ini terjadi pada mereka

Cerita yang Kurang Maksimal, Ditopang Visual yang Baik

sinopsis-film-the-last-house

Meskipun secara cerita tidak meyakinkan dari awal hingga akhir, namun film The Last House masih ditopang dengan kualitas visual yang menarik.

Saya menikmati beberapa momen yang disuguhkan dengan baik secara visual. Suasana saat hujan. Penggunaan efek khusus untuk membentuk tarikan hujan yang seakan-akan membuat air menjadi bisa berbicara dengan si kecil Ruth adalah gambaran kualitas visual yang menurut saya sangat menarik.

Ditambah lagi dengan sisi lainnya, ketika cahaya matahari muncul, suasana di dalam rumah pun terasa sangat menyegarkan dan memberikan sedikit dahaga ketika sebenarnya Jason dan keluarganya tetap terancam.

Penciptakaan visual efek untuk monster yang terbilang biasa saja, menjadi menarik ketika digerakkan. Efek visual yang ditampilkan saat rumah diterjang air yang besar juga mampu menghadirkan sedikit bumbu ketegangan pada penonton.

Bagian-bagian ini yang kemudian pada akhirnya menopang bagaimana cerita film The Last House menjadi sebuah keunggulan yang terbilang cukup memuaskan.

Minim Emosi yang Membuat Semua Cerita Menjadi Anti-Klimaks

Secara keseluruhan, film ini gagal mengirimkan emosinya kepada penonton. Tak ada yang benar-benar menekan ketegangan penonton, atau kesedihan yang begitu perih.

Satu-satunya yang saya suka adalah ketika anjing, hewan peliharaan mereka yang sudah menua tak mampu bertahan hidup lama seperti para pemiliknya yang begitu menyayangi sang peliharaan

Film ini terlalu banyak menyia-nyiakan waktu untuk masuk ke dalam inti cerita. Itu sudah digambarkan sejak awal. Terlalu lama bermain-main dengan latar belakang cerita yang tidak didukungdengan kedalaman karakter, khususnya Jason dan Ann.

Ada plot-plot yang serba tanggung. Konyolnya lagi ini tidak terjawab sama sekali. Padahal, di awal sebuah kutipan kecil yang sangat ilmiah ditampilkan untuk mencoba meyakinkan penonton bahwa bumi sebetulnya tak ubahnya lautan yang luas dan tidak ada satu pun yang tahu misteri apa yang tersimpan di dalamnya.

Sayangnya, begitu masuk ke dalam seluruh cerita, semuanya menjadi berantakan. Film ini sudah hilang ketegangannya sejak awal. Ditutup di bagian akhir atau ending yang terasa sangat janggal.

Jika tujuannya open ending dan ingin dibuatkan sekuelnya di masa depan, rasanya film ini sangat tidak meyakikankan sama sekali.

Baca juga: Review serial TV “I Will Find You:” Misteri-Thriller yang Kehilangan Keseimbangan

Baca juga: Ulasan Film “Apex:” Seni Bertahan Hidup di Keindahan Alam Australia

Tak Mampu Menjadi Sci Fi Thriller yang Mengaduk Emosi

Secara keseluruhan, film The Last House tak memberikan ekspektasi apa pun sejak ceritanya dibuka. Plot cerita masih terlihat kacau dan sudah di pertengahan hingga akhir yang hanya akan menimbulkan tanda tanya jika ingin memberikan kesan cerita ini sebagai sebuah kisah yang happy ending.