Review Series Cape Fear: Remake Kembalinya Psikopat yang Kehilangan Kendali

Salah satu series yang sedang saya ikuti sekarang dan tersedia di Apple TV adalah Cape Fear. Series ini awalnya merupakan sebuah novel berjudul The Executioners.

Kemudian diadaptasi menjadi film di tahun 1962 dan dilanjutkan lagi dengan film baru yang rilis di tahun 1991.

Kini, Cape Fear hadir dalam 10 episode yang menegangnkan dan menguras emosi. Series ini cocok bagi penggemar yang menyukai cerita slow burn, brutal dan menegangkan. Sebelum masuk ke review series Cape Fear, saya akan ceritakan sinopsis singkatnya terlebih dahulu.

Sinopsis Cape Fear (Apple TV)

Keluarga bahagian yang terdiri dari Anna dan Tom Bowden beserta anak mereka Natali dan Zack tiba-tiba terusik setelah Max Cady dinyatakan bebas dari hukuman yang menimpannya.

Anna dan Tom yang bekerja di bidang hukum mulai dihantui oleh pekerjaan masa lalu mereka, yaitu memenjarakan Max Cady dengan alasan tindakan kriminal.

Kini, Anna dan Tom bersama anak-anaknya hidup dalam bahaya dengan kegilaan dari Max yang mulai mampu merebut hati warga sekitar karena ia mengklaim dirinya tidak bersalah.

Siapa yang sebenarnya bermain-main dengan hukum? Anna dan Tom? Atau Max Cady?

Review Serial TV Cape Fear

Bagi yang tidak pernah menonton filmnya, tidak perlu khawatir. Cape Fear versi series akan memulai semuanya dari awal. Menceritakan latar belakang dengan bagian-bagian alur yang dibuat maju-mundur.

Tak perlu binggung, karena pace yang dihadirkan juga terbilang lambat. Alhasil semua konflik yang ada di film dan karakternya diceritakan secara pelan dan detil.

Mengajak penonton untuk ikut terbawa suasana pembalasan dendam dari Max Cady. Bahkan, ada kecenderungan, di tiga episode awal, semua yang diceritakan berjalan sangat lamban. Jika tidak siap, penonton yang tidak etrbiasa menonton serieal thriller dengan sub genre slow burn akan merasa bosan.

Untungnya semua ini bisa segera diatasi mulai dari episode 4 hingga episode 10. Pelan-pelan ketegangan dibangun dengan intensitas tinggi. Naskah yang tepat di tangan para aktor dan aktris yang tepat juga membuat series ini kemudian semakin menarik untuk diikuti.

Tidak hanya mengulas apa penyebab Max Cady sampai dipenjara. Namun, juga membongkar bagaimana Anna dan Tom yang sosoknya begitu dihormati di mata hukum kemudian menjadi punya cacat identitas.

Sisanya, penonton akan disuguhkan dengan anti-klimaks karakter yang sebenarnya. Identitas psikopat yang melekat pada Max Cady kini menjadi terbagi melalui sub-plot keluarganya sendiri.

Belum lagi tentang sisi psikologis dari karakter-karakter yang dianggap protagonis seperti Anna dan Tom yang ternyata punya sisi-sisi kelamnya sendiri.

Ketika semuanya beradu, di babak akhir, atau tiga episode terakhir semua cerita menjadi terang-benderang. Penonton kemudian diajak masuk untuk memilih siapa yang sebenarnya protagonis-antagonis di series ini.

Terlepas dari apiknya cerita yang disuguhkan, semua yang ditampilkan di dalam Cape Fear tentunya tidak bisa dilepaskan dari siapa pemicunya.

Dia adalah karakter Max Cady yang dimainkan dengan baik oleh Javier Bardem.

Penampilan Brilian Javier Bardem

Pemicu ketegangan di series ini tak bisa dilepaskan dari karakter Max Cady. Tersangka pembunuhan yang dibebaskan karena kemudian berhasil membuat jaksa menarik kembali dakwaannya.

Selepas dari kebebasannya, Max Cady justru ingin balas dendam. Ia ingin membuat Anna dan Tom, jaksa dan pengacara yang dianggap membuat dirinya masuk penjara. Tak hanya Anna dan Tom, namun juga anak-anak mereka.

Bahkan, lebih liar lagi, Max rela membunuh siapa saja yangmenghalangi jalannya untuk menghancurkan Anna dan Tom. Tak hanya itu, Max Coady tak ubahnya sebagai seorang psikopat yang selalu murah senyum dan baik hati di tengah masyarakat, namun ia adalah seorang penjahat kelas atas.

Bahkan, ketika sedang berhadap-hadalan dengan Anna dan Tom pun ia masih berusaha melakukan provokasi-provokasi dengan senyum mengerikan yang jadi khasnya.

Pada tahapan ini, aktor Javier Bardem yang memerankan karakter Max Cady sudah mengeluatkan kemampuan terbaiknya. Sejak dari episode 1 dan episode 10, Javier Bardem menjalankan karakternya sebagai seorang kirminal yang psikopat.

Saking gilanya, karakter ini mampu dimainkan dengan konsisten di setiap plot cerita. Bahkan, ketika scene yang menampilkan bagaimana Max Cady sedang disiksa dipenjara juga dipaparkan dengan detil.

Baca juga: Ulasan “Hijack” Season 2: Ketika Sang Negosiator Cerdik Menjadi Pembajak

Baca juga: Review Serial TV ”Margo’s Got Money Troubles”: Komedi Warna-Warni

Slow Burn Tapi Menantang

Meskipun di setiap episodenya series ini tampil dengan pace yang terasa lamban, namun sesekali penonton akan dikejutkan dengan adegan-adegan yang menantang nyali dan adrenalin.

Mulai dari pertengahan episode, akan ditemukan banyak adegan-adegan yang berbau kekerasan. Apple TV pun sebelum memulai setiap episode terbarunya selalu memberikan warning ini untuk penontonnya.

Satu lagi trik yang menarik adalah pemarinan kamera yang baik dan membuat tantangan itu harus dijawab sendiri oleh penontonnya.

Yang paling ikonik tentu saja ketika kamera fokus pada karakter Max Cady. Ekspresi dari depan, samping, belakang mampu dimainkan untuk menampilkan kengerian yang ditunjukkan Javier Bardem dalam perannya.

Pada akhirnya, tidak semua episode berjalan padengan pace yang lambat. Kepiawaain pergerakan kamera menangkap ekspresi para karakternya dan kemampuan karakter Max Cady mengacak-acak emosi penonton menjadikan series ini punya fondasi kuatnya sendiri.

Meskipun begitu, series ini punya beberapa catatan yang saya rasa perlu dipertimbangkan sebelum ditonton. Karena hadir dengan pace yang lambat, beberapa alur cerita dibuat bertele-tele dan ini ditambah dengan kekonyolan yang dirasa tidak perlu dari para karakternya.

Seakan-akan terlihat sebuah episode sengaja dibuat lebih terlihat panjang agar bisa memenuhi kutao 10 episode. Selain itu peran Anna yang dimainkan Amy Adams dan Tom yang diperankan oleh aktor Patrick Wilson tampil datar-datar saja.

Seperti tidak ada kegetiran yang sakit ketika berhadapan dengan Max Cady yang lebih gila lagi. Pada akhirnya mengadopsi film dengan durasi kurang lebih 2 jam ke dalam satu series dengan 10 episode bukanlah hal yang mudah.

Series Cape Fear mencobanya, namun tidak berjalan mulus, kecuali penampilan Javier Bardem sebagai Max Cady yang menyelamatkan ceritanya di setiap episode dengan konsisten.

Baca juga: Review Serial TV ”Margo’s Got Money Troubles”: Komedi Warna-Warni

Bagi yang ingin menonton series ini Cape Fear saat ini tersedia dan dapat ditonton di Indonesi dengan berlangganan langsung Apple TV +