Ulasan Film “The Odyssey:” Ketika Christopher Nolan Kisahkan Mitologi Yunani Kuno dengan Sound yang Apik

Saya mendapatkan kesempatan unik saat melihat trailer singkat film “The Odyssey” selama kurang lebih 2-3 menit sebelum rilis di bioskop beberapa waktu yang lalu. Hasilnya? “Film ini harus ditonton di IMAX!”

Tentu saja ini bukan karena Christopher Nolan yang menggunakan kamera IMAX untuk memproduksi filmnya. Awalan yang sangat terasa adalah tentang sound yang digunakan di dalam film ini. Istimewa! Lebih istimewa dari film “Interstellar” yang juga disutradarai oleh Christopher Nolan beberapa tahun yang lalu.

Review film “The Odyssey” saya buat bukan hanya untuk penggemar karya-karya Christopher Nolan. Tapi buat penyuka film secara keseluruhan. Film ini adalah sebuah visualisasi, bagaimana ketika mitologi menjadi satu ilmu pengetahuan dari segala aspek.

Bagaimana sebuah sound dirancang sedemikian rupa untuk membuat penonton ikut berada di dalam mitologi itu sendiri.

Ini tidak lagi hanya tentang cerita petualangan bagaimana Odysseus (Matt Damon) setelah perang Troya. Kehidupan di Ithaca yang harus dihadapi oleh Telemachus (Tom Holland) dan Penelope (Anne Hathaway).

Bukan juga tentang bagaimana kemudian berdendang dengan narasi, masa lalu, sekarang dan masa depan yang disampaikan oleh karakter-karakter seperti Calypso, Athena, Menelaus.

Bagi saya ini adalah salah satu karya terbaik dari pencerita ulung bernama Christopher Nolan.

Review Film “The Odyssey”

Sebagai pembuka ijinkan saya memperlihatkan sebuah pin khusus bagi yang ikut merayakan menonton film “The Odyssey” pemberian Universal Pictures Indonesia saat screening perdana film ini beberapa hari yang lalu.

Apa yang biasa penonton dapatkan ketika menyaksikan film-film karya Christopher Nolan? Lapisan narasi yang padat, panjang tapi tetap jelas dan mengajak penonton ikut terbawa seolah-olah punya peran di dalam narasi itu sendiri.

Konsep memori dan waktu? Meskipun ini adalah film tentang mitologi Yunani Kuno, Christopher Nolan mampu mengisahkannya dengan epic!

Tentu saja, ciri khas paling kentara adalah bagaimana alur Non-linear yang dibangunnya tersusun dengan rapi. Hal yang membuat saya selalu berpikir bagaimana cara Christopher Nolan menulis untuk setiap filmnya.

Ciri khas ini sudah terlihat dan dibuka di awal film. Kehadiran cerita dengan alur Non-linear yang tidak berurutan dari awal hingga akhir ditampilkan dengan sangat efisien di film ini. Dilengkapi dengan narasi-narasi yang padat.

Dari berbagai macam ciri khas ini, buat saya Christopher Nolan dengan sangat berani tak lagi menampilkan narasi penuh teka-teki. Hal yang kurang lebih sama seperti yang ditampilkannya di film “Oppenheimer.”

Sebagai gantinya, menurut saya Christopher Nolan mengguatkan skala emosi yang melibatkan antara satu karakter dengan karakter lainnya. Ini yang terlihat seperti terkadang muncul dan terkadang tidak di film Christopher Nolan.

Sebagai pengingat, kita bisa komparasikan dengan film “Interstellar” atau trilogi Batman. Bedanya, skala emosi di film ini lebih kompleks. Menghubungkan antara satu karakter dengan karakter lainnya, tapi tidak menganggu dengan berbagai macam sub-plot yang seperti sengaja dibuat untuk membuat sebuah cerita menjadi seru.

Inilah kenapa saya menilai bagaimana Christopher Nolan adalah pencerita ulung di film “The Odyssey.”

Ciri khas Christopher Nolan tidak berhenti di situ. Untuk menambah kemegahan narasi dan emosi yang dibangun di dalam filmnya. suara-suara lewat sound megah pun ditampilkan di dalam film ini.

Dan satu hal yang pasti semakin membuat saya terkesima dengan filmnya.

Composer Megah dari Ludwig Göransson

Ini yang saya maksud. Sewaktu dikenalkan dengan trailer atau mungkin sebutannya sneak peak selama kurang lebih 2 menit, saya sudah merasakan energi sound di film “The Odyssey” akan membakar energi.

Dan benar sama Ludwig Göransson yang ditunjuk menjadi composser untuk film ini memberikan energi tersebut kepada penonton.

Untuk beberapa scene sound yang digarap oleh Ludwig Göransson ikut membuat saya gelisah. Ikut membuat saya terbawa dalam situasi yang ada di film. Bahkan ada satu scene khusus yang menurut saya hadir dalam tempo yang panjang.

Seolah-olah film ini berbicara lewat sound “kamu para penonton, belum selesai sampai di sini.”

Ini adalah realitas yang biasa dimainkan bersamaan dengan eksplorasi waktu Nolan kemudian diubah menjadi sebuah sound. Realitas yang mengajak penonton berada dalam film tersebut.

Berada dalam sebuah kapal yang terombang-ambing, perang, hingga rasa pilu yang tak terhankan ketika memori menghilang beranjak pergi. Degupan sound yang membuat hati berdegup kencang hingga sedih ketika merasa ditinggalkan.

Di sisi lain, ada satu bagian sound yang juga saya dengarkan terasa seperti menggabungkan musik elektronik dengan musik klasik yang semakin membuat suasana sebuah scene menjadi sangat megah.

Meskipun tak lagi ditemani Hans Zimmer, nyatanya Ludwig Göransson mampu menghadirkan keunikannya tersendiri. Apalagi, namanya dikenal ketika menjadi composer untuk film Black Panther. Berlanjut dengan kemampuannya mengolah musik di salah satu film terbaik tahun 2025 yang lalu yaitu Sinners.

Dan kini, Ludwig Göransson seperti sudah menjadi partner baru bagi Christopher Nolan. Mulai dari film “Tenet,” Oppenheimer” dan tentu saja “The Odyssey.”

Sebagai bagian dari rasa, pendengeran kita tentunya tidak sama. Sekarang, giliran penonton yang bisa langsung merasakan energi dari composer mewah yang dibawakan oleh Ludwig Göransson, langsung di bioskop.

Ketika saya ingin mencoba membuat review film “The Odyssey” karya Christopher Nolan dan fokus pada sound saja rasanya tidak tepat. Film ini terlalu komplit dari berbagai sisi.

Punya Nuansa Politik yang Kuat

Saya tidak tahu, apakan di bagian ini penonton akan setuju atau tidak. Tapi ini yang saya dapatkan ketika menonton film ini. Sedari awal, Christopher Nolan ingin membahasakan politik melalui narasi-narasinya dengan sederhana.

Saya melihat Odysseus dan Penelope berbincang-bincang di tengah romansa mereka mengatur strategi, terlibat dalam rencana-rencana politik sebuah kekuasaan. Tapi, hal ini sangat dibacarakan dengan sederhana.

Tentang bagaimana Odysseus ketika pergi, bagaimana tindak lanjut Agamemnon ketika perang terjadi, bagaimana dengan nasib anaknya dan lain-lainnya.

Lihat pula bagaimana ketika Odysseus berbicara leadership dalam perannya sebagai seorang Jendral taktis yang dipercaya Agamemnon. Ia membutuhkan pengalaman panjang untuk membuktikan bagaimana setiap pemimpin harus menerima kesalahannya.

Setiap pemimpin harus menanggung konsekuensinya. Bukan masyarakatnya. Bukan pula prajuritnya. Tapi pemimpinnya. Meskipun ini cerita dari mitologi Yunani kuno, tapi bagaimana politik merasuk ke dalam cerita fiksi ini lebih bagus dan lebih kuat dibandingkan dengan membaca buku Paulo Coelho dan kemudian menasbihkan diri sebagai pemimpin yang paham dengan leadership.

Dan untuk hal ini, terima kasih kepada Christopher Nolan, karena memberikan satu sudut pandang dengan konsep memori yang relevan dengan situasi yang terjadi di negara saya akhir-akhir ini.

Narasi Subjektif Dari Para Karakter

Soal karakter, dari nama pemeran-pemeran yang ditampilkan saya sudah tidak mabil pusing. Semuanya adalah aktor dan aktris utama yang tampil memukau. Isu tentang misscasting adalah cara bodoh untuk mendeskripsikan bagaimana seorang aktor dan aktris memerankan karakternya.

Sebagai penonton yang sudah membayar tiket pun saya melihat casting director jelas lebih punya pengalaman ketimbang saya.

Namun, yang membuat karakter ini begitu menyatu dan kuat adalah lagi-lagi ciri khas film Christipher Nolan yaitu kehadiran narasi subjektif.

Narasi ini dibentuk sedemikian rupa, mencoba mengunci ingatan dan pikiran penonton pada satu karakter utama. Tapi, perbedaan yang sangat berani dimainkan Nolan di film “The Odyssey” adalah ia tak lagi meletakkan narasi ini pada karakter utama saja.

Karakter-karakter lain pun juga ikut terlibat dalam, bahkan terbilang sangat dalam. Mulai dari karakter Calypso yang diperankan Charlize Theron, Menelaus yang diperankan oleh Jon Bernthal dan Eumaeus(John Leguizamo)

Semuanya menyatu memainkan narasi-narasi subjektif ini. Mengajak penonton melihat dari berbagai macam sudut pandang yang berbeda, tapi tetap punya satu kesatuan seperti bagaimana mereka melihat Odysseus sebagai seorang panglima perang dan seorang pemimpin dalam satu waktu.

Langkah baru Nolan yang memang tidak biasa. Tapi, ini jelas angin segar. Sebagai penggemar film pun saya tidak ingin sutradara favorit saya ini terjebak dalam frame yang sama di setiap filmnya.

Baca juga: Ulasan Film The “Death of Robin Hood:” Kisah Kelam Pendosa yang Lelah Bertarung

Baca juga: Review Film “Disclosure Day:” Ujian Manusia dan Alam Semesta

Ending Padat dan Tanpa Eksplorasi Waktu dan Realitas

Hal lain yang membuat film ini menjadi semakin menarik adalah ketika pelan-pelan Christopher Nolan pelan-pelan membuat ciri khas cerita filmnya yang bermain-main dengan eksplorasi waktu dan realitas menjadi berkurang.

Terlepas dari semua itu, permainan waktu dan realita itu sebenarnya masih terasa kuat ketika agaimana tutur narasi non-linear tetap terjaga dengan baik.

Sebagai penutup Review film “The Odyssey” ending yang dihadirkan Christopher Nolan pun indah. Seindah bagaimana puisi-puisi dari mitologi Yunani kuno ini dinyanyikan dengan cara bertutur yang baik dari dua pemeran utama mereka yaitu Matt Damon dan Anne Hathaway.

Saran saya, untuk menonton film ini siapkan cemilan terlebih dahulu. Waktu 2 jam lebih akan membuat penonton tidak ingin merasakan lapar ketika energinya terpaku pada keanggunan film “The Odyssey.”