Ulasan Serial TV Action A Shop for Killer: Action-Futuristik yang Menegangkan

Sebelum menulis review serial tv A Shop for Killers Season 2 yang baru saja selesai di episode 8, saya bisa sebutkan ini adalah salah satu series bergenre action terbaik yang pernah saya tonton.

Mulai dari ide cerita hingga action visual effect yang akan sangat relevan dari waktu ke waktu, termasuk ketika season 1 nya dirilis hingga di masa depan.

Apa yang membuat cerita serial tv ini kemudian menjadi unik dan punya ciri khasnya sendiri?

Saya akan coba rangkum premisnya dari season 1 hingga season 2 berikut ini.

Sinopsis Serial TV A Shop for Killers

Di season 1, Jeong Ji-an (Kim Hye-jun) yang nyaman dengan kehidupannya sebagai mahasiswi terkejut karena ia tiba-tiba diteror oleh sekelompok pembunuh bayaran dalam sebuah organisasi criminal Bernama Babylon. Hal ini terjadi bersamaan dengan kematian pamannya Jeong Jin-man (Lee Dong-wook)yang selama ini sudah merawat dan membesarkan Jeong Ji-an.

Sementara itu, di season 2, Jeong Ji-an akhirnya mengetahui kenapa ia diserang. Kenapa Jeong Jin-man kemudian memilih untuk merahasiakan “kematiannya.”

Permasalahan semakin pelik ketika Babylon yang sekarang tidak dipimpin lagi oleh orang yang pernah menyerang Jeong Ji-an.

Pemimpin yang baru lebih burtal dan serakah. Tidak lagi hanya menginginkan kematian permanen untuk Jeong Ji-an dan Jeong Jin-man, namun juga mengginginkan teknologi Murthehelp yang pernah dibangun Jeong Jin-man dan dianggap menganggu bisnis Babylon.

Review Serial A Shop for Killers

Kenapa saya menyebutkan cerita ini unik? Sebagai sebuah serial bergenre action, hal utama yang dijual dari serial ini tentu saja action. Namun, bagi saya ini adalah hal yang tidak tepat.

A Shop for Killers baik di season 1 atau season 2 ternyata punya alur cerita yang kuat. Ada latar belakang cerita sangat kuat, kenapa Babylon begitu kesal dengan Jeong Jin-man dan ikut menyeret Jeong Ji-an.

Dari satu garis besar cerita utama yang dimulai dari penyerangan Babylon kepada Jeong Ji-an ikut menyeret karakter-karakter lain seperti Pasin atau Brother yang begitu kuat.

Dasar cerita ini kemudian terhubung rapi Jeong Jin-man disertai dengan alasan yang lebih dalam lagi, tentang keterlibatan-keterlibatannya dengan Babylon.

Plot dan sub-plot yang diselipikan di antara konflik juga tak sembarangan dibuat. Ada skenario yang berjalan. Ada rencana-rencana yang disiapkan dengan matang ketimbang hanya menyelipkan adegan action yang juga sangat bagus.

Penonton tidak akan dibuat binggung, ketika munculnya Bale yang mencoba menghancurkan Jeong Ji-an di season 1. Lalu, kedatangan So Min-hye dan Pasin yang juga punya ceritanya masing-masing.

Ketika konflik semakin meluas di season 2, ditambah dengan pengenalan karakter seperti Q, J, dan Kusanagi ditampilkan pun penonton tetap bisa mengikuti ceritanya dengan baik.

Bahkan, ketika ceritanya diarahkan kembali ke masa lalu di mana Q bertemu dengan Jeong Jin-man juga ditata dengan rapi. Penonton pun tahu persis apa sebenarnya konflik yang terjadi antara masa lalu dan di masa kini.

Penghubung cerita yang rapi ini terasa pas, tidak berlebihan. Padat sesuai dengan porsinya dan tidak perlu dipanjang-panjangkan untuk membuat episodenya terlihat banyak.

Sajian utamanya? A Shop for Killers sangat disempurnakan dengan action yang luar biasa, cenderung brutal dan menurut saya diberi sentuhan futuristik.

Action Berkualitas dan Menegangkan

review-serial-a-shop-for-killers

Pujian dari saya datang ketika action yang disuguhkan di dalam serial ini. Khusus untuk season 1, action yang berlimpah akan sering terlihat di bagian-bagian episodenya.

Namun, di season 2 action yang disajikan benar-benar luar biasa. Sudah dimulai sejak awal episode. Penonton pun akan dibuat kagum dengan apa yang ditampilkan oleh para aktornya. Koreografi yang dihadirkan juga terasa sempurna ketika pertarungan tangan kosong atau senjata-senjata kecil.

Adegan beladirinya tampak seperti adegan yang sudah matang dan disiapkan secara serius. Plus, pergerakan kamera yang sangat bagus, membuat pertarungan tangan kosong menjadi terlihat sempurna.

Pada bagian pertarungan dengan menggunakan senjata pun sama. Terlihat pola yang tampak seperti profesional. Menggambarkan bagaimana Babylon sebagai sebuah organisasi kriminal, bertemu dengan para penjahat-penjahat lainnya memilih di luar Babylon terlihat seperti sangat berpengalaman.

Cara memegang senjata, menembak, melepaskan bom dan masih banyak lainnya disajikan dengan matang. Meskipun begitu, ada satu catatan kecil di mana saya tidak merasakan energi action yang sama di episode 8 season 2 atau di bagian akhirnya. Satu adegan di mana Kusanagi melindungi dirinya dengan tameng sambil membawa beberapa senjata sekaligus terasa tidak masuk akal.

Mengambil konsep seperti John Wick-esque, tampak seperti hal yang sia-sia di bagian ini.

Selain itu konsep relevan yang tak akan lekang dimakan waktu adalah ketegangan yang dibangun di dalam action itu sendiri adalah konsep futuristik yang dibenamkannya.

Drone, satelit, monitor layar besar hingga robot yang bertarung dengan Jeong Jin-man yang saat itu sedang menyamar sebagai Bale juga disajikan sempurna.

Visual efek dan pergerakan kamera buat saya memengaruhi hal-hal seperti ini, dan semuanya sudah ditata rapi dengan editing yang menarik.

Relevansi teknologi semakin menguat ketika cerita di film ini menyelipkan hacker dan server yang dirancang sedemikian rupa sehingga membuatnya terlihat masuk akal.

Perpaduan ini yang kemudian membuat ceritanya menjadi sangat menarik untuk ditonton, khususnya penggemar action.

Persaingain Bisnis yang Relevan

Satu hal yang perlu saya tambahkan adalah A Shop for Killers tidak menawarkan karakter protagonis-antagonis. Siapa yang baik dan siapa yang jahat. Bagian intin dari cerita ini dimulai dari persaingan bisnis antara Babylon dan Murthehelp. Ditambah lagi, karakter utama di serial ini Jeong Jin-man adalah mantan anggota dari Babylon.

Penggambaran dari sosok baik dan jahat ini dimainkan sempurna oleh hampir semua karakter. Tentu saja, karena begitu tampil baik, penonton pada akhirnya tetap memilih dan menegaskan Jeong Jin-man dan Jeong Ji-an sebagai karakter yang baik.

Meskipun begitu pada dasarnya ini adalah tentang persaingan bisnis. Sebuah hal yang yang selama ini tidak tampak di mata, namun justru ini adalah salah satu fakta yang tidak bisa dihindari meskipun dibalut dengan kisah fiktif.

Sebagai tambahan, A Shop for Killers masih memiliki beberapa catatan yang rasanya mengganjal. Dialog-dialog yang terlihat kaku hingga latar belakang karakter penting yang kemudian terasa tanggung.

Namun, di satu sisi, hal ini bisa saya pahami mengingat terlalu banyak karakter di dalam serial ini. Membahasnya secara satu per satu dengan dalam hanya akan membuat pace yang disuguhkan akan terasa lamban dan bertele-tele.

Baca juga: Ulasan Serial TV “Agent Kim Reactivated:” Action Lugas yang Penuh Kehangatan Keluarga

Baca juga: Ulasan “Wonder Man”: Series Marvel yang Mementingkan Kualitas

Terlepas dari semua itu, A Shop for Killers sangat tepat dijadikan sebagai salah satu series action yang relevan dan waktu ke waktu.

Belum menonton series ini? A Shop for Killers saat ini sedang tayang di Disney+.