Ulasan Serial TV “Man on Fire:” Intrik Politik Pemilihan Presiden di Tanah Brazil

Masih ingat kisah Denzel Washington sebagai John W. Creasy di film “Man on Fire” yang rilis di tahun 2004? Kini, John Creasy kembali hadir dengan wajah baru dan diadaptasi langsung dari film dalam bentuk tv series. Sebelum membahas review serial TV “Man on Fire” yang tayang di Netflix, ada beberapa hal penting yang wajib diketahui terlebih dahulu.

Kilas Balik “Man on Fire”

Di filmnya, peran John Creasy dimainkan dengan apik oleh aktor Denzel Washington sebagai seorang mantan anggota CIA yang sedang bertugas di Meksiko dan menjadi kepala keamanan yang bertugas melindungi sebuah keluarga. Uniknya, meski diadptasi untuk serial TV, tapi ada hal yang berbeda.

Untuk versi serial tv, karakter John Creasy diperankan oleh Yahya Abdul-Mateen II yang juga tak kalah bagusnya. Apakah latar belakang cerita yang dimainkan John Creasy versi serial tv sama dengan versi film? Kita lanjut ke sinopsisnya dulu.

Sinopsis Serial TV “Man on Fire”

Trauma masa lalu memang menyakitkan. Hal yang sama terjadi pada John Creasy (Yahya Abdul-Mateen II) ketika timnya dihabisi dalam sebuah operasi intelijen.

Tapi, John adalah pria yang profesional dalam pekerjaannya. Ketika teman lamanya meminta John untuk bekerja melindunginya di Brazil, ia kembali berhadapan dengan trauma masa lalunya.

Keluarga temannya dihabisi oleh komplotan kriminal berkedok instansi pemerintah. Permainan politik dimulai. John kini punya satu tugas. Melindungi satu-satunya anggota keluarga yang selamat sekaligus membongkar kebobrokan birokrasi politik antara intelijen Amerika dan Politisi Brazil.

Review Serial TV “Man on Fire”

Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, serial tv ini diadaptasi dari filmnya. Nama pemeran karakternya pun masih sama, John Creasey. Tapi, ada hal yang menarik dari versi seriesnya.

Alur cerita dibuat dengan tegas. Pada episode awal dengan latar belakang negara Meksiko, di mana John mengalami traumanya. Mengingatkan para penonton “Man on Fire” versi filmnya. Sebuah sambungan cerita yang natural, tidak dipaksakan, tapi ngena bagi yang sudah pernah menyaksikan film “Man on Fire” sebelumnya.

Tapi, dengan secepat kilat pun alur cerita dibuat lebih tegas. “Man on Fire” versi serial tv ingin berdiri di kakinya sendiri. Meksiko adalah masa lalu, tapi karakter John Creasy kini punya kisah baru yang akan menceritakan kehidupan di masa kini.

Dalam tiga episode awal, penegasan ini sangat terasa kuat. Selain bagaimana John punya misi yang kurang lebih sama dengan versi sebelumnya. Tapi lebih tertata dengan baik.

Selanjutnya, di tiga episode berikutnya, plot penting yang dialirkan pun juga terbilang rapi. Masuknya intrik politik lebih terasa menjadi bagian penting cerita. Di sini yang menjadikan “Man on Fire” versi series terbilang berbeda dengan versi filmnya.

Bukan hanya untuk memanjang-manjangkan cerita, tapi John Creasy punya alasan yang kuat untuk melindungi satu-satunya anak dari kerabatnya yang masih selamat, yaitu Poe yang dimainkan dengan apik oleh Billie Boullet.

Sayangnya, di saat yang bersamaan alur cerita pun akan dibuat terasa lebih lambat bahkan ada beberapa sub-plot yang dibuat menjadi terlihat bertele-tele.

Meskipun begitu masih ada bagian-bagian tertentu yang punya intensitas tinggi. Intensitas semakin menguat di episode terakhir, alias episode 7. John Creasy bertempur dengan bantuan warga lokal dari Brazil untuk melindungi Poe sekaligus membuka tabir buruk dari permainan politik agen CIA.

Sayangnya, eksekusi di episode terakhir ini terlalu lemah. Selain action dengan intensitas yang ditunggu-tunggu, beberapa adegan terasa dipaksakan. Dialognya canggung dan membuat ceritanya menjadi kehilangan kekuatannya.

Billie Boullet yang Mencuri Perhatian

Didapuk sebagai pemeran utama, siapa yang bisa meragukan kualitas akting dari Yahya Abdul-Mateen II. Bahkan, ketika naskah dan eksekusi series ini jauh dari sempurna, sang aktor lah yang mungkin jadi kuncinya.

Tapi, Yahya Abdul-Mateen II bukan satu-satunya. Billie Boullet , sebagai Poe juga ikut menarik perhatian. Ia memang bukan gadis kecil yang dilindungih John versi Denzel Washington di versi filmnya.

Tapi, Billie Boullet tetap punya potensi yang baik memerankan karakternya hingga semua episode. Seorang gadis yang congkak, tak akrab dengan keluarganya, tapi punya ikatan kuat dengan John yang juga sahabat karib Ayahnya menjadikan chemistry di sepanjang episodenya mampu menyelamatkan serial tv “Man on Fire” yang berantakan.

Meskipun masih ada beberapa nama aktor lain yang wajahnya familiar mampu menjadi sidekick yang tepat untuk film ini. Tidak sempurna memang, tapi kehadiran aktor-aktor senior tersebut sudah cukup memanjakan penonton serial tv ini nantinya.

Intrik Politik yang Tak Dieksplorasi

Bagian lain yang sebenarnya bisa dibilang menarik dari serial tv ini adalah perpanjangan ceritanya yang memang dibuat lebih rumit dan kompleks. Ada kepentingan politik yang diselipkan dalam cerita ini.

Bak cerita-cerita dokumen intelijen yang selama ini saya dengarkan di media. Bagaimana seorang Agen CIA bernama Henry (Scoot McNairy) ikut campur dalam urusan pertarungan calon Presiden di Brazil.

Bekerja dengan seorang dalam Brazil mereka sudah berencana untuk membuat calon Presiden tertentu menang. Salah satu caranya adalah dengan menyingkirkan seorang konsultan yang menjadi teman baik John, sekaligus orang yang dikawalnya.

Meskipun punya intensitas politik-thriller yang ingin disampaikan, sayangnya bagian ceritanya jalan di tempat. Seperti menutup ruang eksplorasi yang kemudian membuat penonton mudah menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.

Visualisasi Brazil

Sepanjang saya menonton 7 episodenya, serial tv “Man on Fire” mengambil latar belakang Brazil. Penggunaan bahasa latin, Brazil pun sering disampaikan dalam dialog-dialognya. Tak hanya itu, sisi-sisi kemewahan Brazil hingga kelas menengahnya juga disampaikan dengan baik.

Sebuah pelipur lara ketika eksekusi tidak berjalan dengan baik dan mulus. Visualisasi Brazil juga menggambarkan bagaimana relasi yang dibangun dengan Amerika dan tentu saja kepentingannya.

Sebuah realita yang mungkin tidak lagi hanya sekedar cerita fiksi, tapi memang benar-benar ada. Hal yang membuat karakter John dan teman-teman Brazilnya jauh lebih erat dibandingkan cerita yang kuat.

Brazil yang menyegarkan mata adalah salah satu keunggulan serial tv ini.

Sebagai penutup untuk review “Man on Fire” yang sedang tayang di Netflix, serial tv ini adalah salah satu rekomendasi bagi yang membutuhkan tontonan ringan.

Baca juga: Ulasan “Something Very Bad Is Going To Happen:” Series Horor yang Komplit

Baca juga: Ulasan “The Night Agent” Season 3: Thriller Politik yang Melibatkan Pencucian Uang

Bagi yang ingin mengulang nostalgia melalui filmnya, jangan berharap sama, meskipun secara premis dan eksekusinya terbilang tidak jauh berbeda.

Leave a Comment