Ulasan “Night Shift for Cuties:” Realita Bertemu Impian Idola K-Pop

Series terbaru Indonesia yang tayang di Netflix yang saya tonton kali ini akan berbeda. Sebelum masuk ke pembahasan review serial tv berjudul “Night Shift for Cuties,” saya merasa series ini jadi pembeda, khusus untuk series original dari Indonesia.

Mulai dari premis hingga pemerannya yang didominasi oleh anak-anak muda dan tentu saja dengan style pop yang hadir di series ini.

Sinopsis “Night Shift for Cuties”

Dua sahabat penggemar K-Pop berjual untuk menemui idola mereka yang bernama Boki. Salah satunya adalah dengan bekerja di minimarket yang kental dengan suasana Korea.

Adalah Muti (Shenina Cinnamon) dan Jemar (Nadya Syariffa) yang kemudian berusaha keras mengumpulkan pundi-pundi uang untuk bisa bertemu dengan idol mereka langsung di Korea Selatan.

Impian ini bukan sekedar gengsi, tapi juga kemudian menjadi persaingan dan menghalalkan berbagai macam cara.

Bisakah Muti dan Jenar melewati semua ini dan kemudian bertemu dengan idola mereka di Korea Selatan?

Review Serial “Night Shift for Cuties”

“Night Shift for Cuties” dibuka dengan awal yang padat, ringkas dan tepat. Tidak ada yang terlalu istimewa. Seakan-akan 8 episode sudah bisa ditebak oleh penonton dengan mudah.

Bahkan, sub-konflik sudah dimunculkan di awal episode. Semakin lama-lama semakin terkuat beberapa sub-konflik yang dibuat dan dikemas di episode-episode berikutnya.

Puncak pertama di mulai di episode ke 4 yang semakin menajamkan konflik yang terjadi. Bukan lagi tentang satu-dua karakter. Tapi melibatkan banyak karakter.

Cara ini tampaknya dilakukan untuk menjaga tempo cerita agar penonton terus menyimak jalan ceritanya. Atau, setidaknya, jalan cerita yang awalnya dirasa mudah ditebak, tapi tetap membuat penonton terjaga dan menyelesaikan 8 episodenya.

Apalagi, di setiap episode, “Night Shift for Cuties” hadir dengan durasi yang tidak terlalu panjang. Saya menyukai tempo cerita yang satu ini.

Tak perlu bertele-tele, meskipun premisnya terlalu sederhana. Setiap ceritanya dirajut dengan padat, selalu on point di setiap episode.

Konflik yang dibangun pun dipisahkan dengan rapi. Mulai dari dua karakter utama yang ingin bertemu idola mereka, konflik di ruang lingkup keluarga masing-masing, di tempat kerja dan sub-sub konflik lainnya yang ditata dengan rapi.

Puncaknya, satu scene di kasir minimarket, hampir saja melibatkan semua konflik tersebut dan tentu saja di beberapa karakter. Tapi, hal ini menyenangkan, karena lucunya dapat, dramanya pun juga seru untuk disimak.

Untuk sebuah serial tv dengan genre drama-komedi tentunya saya tidak akan berekspektasi apa-apa. Saya hanya perlu mengikuti ceritanya dan menikmatinya sebagai sebuah hiburan yang menyenangkan di akhir pekan.

Chemistry Shenina Cinnamon dan Nadya Syariffa

review-series-night-shift-for-cuties

Nama Shenina Cinnamon mungkin sudah tidak asing lagi, Beberapa film dan series pernah diperankannya. Tapi, siapa Nadya Syariffa? Baru pertama kali ini saya mendengar namanya.

Tanpa harus melihat latar belakang aktingnya, saya mengikuti kedua aktor ini memainkan perannya masing-masing. Dan buat saya penampilan Shenina Cinnamon dan Nadya Syariffa menjanjikan menggambarkan dua anak muda yang masih belum stabil dalam ego, seringkali salah membuat keputusan dan bagaimana fanatiknya mereka tentang sosok idola.

Keduanya bermain aplik sebagai dua sahabat yang punya problem masing-masing. Selalu menempatkan diri mereka sebagai sebuah karakter yang sesuai dengan cerita adalah salah satu cara yang tepat dalam menjabarkan bagaimana premis cerita tersebut berjalan.

Khusus bagi Nadya Syariffa yang sebelumnya saya tidak pernah tahu dia siapa, ini jelas adalah hal yang menarik perhatian. Aktingnya menurut saya ok, dan rasanya di waktu yang akan datang perlu mendapatkan script yang tak kalah bagusnya dari cerita “Night Shift for Cuties.”

Selain kedua penampilan pemeran utamanya, series ini juga menampilan beberapa aktor senior. Mulai dari Asri Welas, Ibnu Jamil, Indra Birowo hingga Ersa Mayori yang semakin melengkapi sisi drama yang ingin ditampilkan di sepanjang ceritanya.

Baca juga: Ulasan Serial “Luka, Makan, Cinta:” Konflik Dari Dapur dan Realita Sosial

Baca juga: Ulasan “Something Very Bad Is Going To Happen:” Series Horor yang Komplit

Lagu-lagu K-Pop Pengiring Cerita

Film ini jelas sejak awal menjadikan Korea Selatan sebagai salah satu bentuk bagian ceritanya. Tujuan dua orang teman yang ingin mengunjungi idola mereka sebuah girl band yang sukses.

Untuk melengkapi vibes semua itu, sepanjang 8 episode, penonton akan disuguhkan dengan lagu-lagu K-Pop. Hampir di setiap episode selalu ada adegan dengan latar lagu-lagu Korea.

Semuanya dirancang dengan baik menurut saya. Lagu-lagunya easy listening, dan mungkin saja penonton yang baru pertama kali bisa kepincut dengan lagu-lagu yang ditawarkan di sepanjang series ini.

Serunya lagi, dua aktor utama Shenina Cinnamon dan Nadya Syariffa juga fasih menyenandungkan lagu-lagu ini, dan tentu saja lengkap dengan koreografi yang jadi andalan.

Visual yang Nge-Pop Penuh Warna

review-series-night shift-for-cuties

Sebagai sebuah serial TV yang menggambarkan kesenangan terhadap sosok idol, 8 episodenya menghadirkan visual-visual yang menarik. Jujur saja, jika dibuatkan urutan mana yang saya senangi setelah menonton semua episodenya, saya memilih visual sebagai yang pertama.

Lihat saja desain minimarket tempat Muti dan Jemar bekerja. Warna-warna cerah yang mencuri perhatian penonton. Lihat pula seragamnya.

Perhatikan juga detilnya ketika Muti dan Jemar sudah berhadapan dengan konflik keluarga mereka masing-masing. Semuanya menurut saya mengandung unsur warna pop yang kental.

Sederhanya, warna-warna yang memang disesuaikan untuk anak muda. Coba juga lihat bagaimana ketika pengambilan gambar dilakukan di Korea Selatan.

Semuanya sesuai porsi yang tepat dengan gradasi warna yang selalu menyegarkan. Untuk produksi dan visual, saya memberikan dua acungan jempol untuk series ini.

Sebagai penutup, saya melihat ini adalah bagaimana menyadarkan satu orang atau sekelompok orang terhadap idola mereka sendiri. Hal yang kemudian saya dapatkan gambarannya di media sosial, bahwa penggemar K-Pop terlalu fanatik. Saya tidak bisa bilang “iya” dan “tidak” tentang hal ini, karena saya tidak berada di dalam ruang lingkup tersebut.

Tapi, sebagai sebuah penggemar berat klub sepak bola, saya bisa bilang ini adalah sebuah serial tv yang mencoba memaparkan bahwa menjadi penggemar memang harus tahu batasnya. Dan hal ini berlaku untuk siapa saja. Tak hanya tentang K-Pop, sepak bola, tapi juga yang terlalu nge-fans berat dengan tokoh politik tertentu.

Bagi yang akhir pekan ini ingin bersantai dengan cerita-cerita ringan. serial tv “Night Shift for Cuties” sedang tayang di Netflix dan bisa jadi salah satu pilihan hiburan yang tepat untuk ditonton.

Leave a Comment