Ulasan Film “Backrooms:” Sensasi Horor Dari Visual Berwarna Kuning

Saya pernah menonton sebuah film horor, dan hanya dengan tampilan visualnya saja melalui pergerakan kamera. Tampilan visual ini sudah bikin bulu kuduk jadi bergidik. Dan udul film yang saya tonton saat itu itu adalah “Hereditary” yang rilis 2018 lalu dari rumah produksi A24.

Kali ini, saya mendapatkan pengalaman yang sama-tapi-berbeda. Sama-sama dari rumah produksi A24, sama-sama film horor, tapi dengan cara bercerita melalui visual yang berbeda. Sebelum menceritakan pengalaman sensasi horor dari sisi visual di review film “Backrooms” cek dulu sinopsisnya berikut ini.

Sinopsis Film “Backrooms”

Clark (Chiwetel Ejiofor) adalah seorang mandor yang punya masalah psikis yang harus diurus secara medis. Dibantu Mary (Renate Reinsve) sebagai terapis, ia berusaha untuk membantu Clark keluar dari masalahnya.

Tapi, ada kenyataan yang tak bisa diterima oleh Mary secara ilmu pengetahuan yang selama ini ia temukan. Ia melihat dengan matanya sendiri, Clark semakin brutal dan masalahnya menjadi sulit untuk diselesaikan.

Terutama Ketika Clark mempertontonkan sendiri bahwa ia bisa berpindah dari dimensi nyata dengan sebuah dimensi visual yang ternyata sangat mengerikan.

Review Film “Backrooms:” Horor Visual yang Bikin Bulu Kuduk Bergidik

Nama Kane Parsons adalah orang baru di dunia film. Usianya masih sangat muda, tapi mampu membuat sebuah film yang tidak terpikirkan, termasuk Ketika saya menonton film “Backrooms.”

Film ini datang dari kumpulan web series yang digarap oleh Parson. Disempurnakan Will Sodik sebagai penulis naskah film ini benar-benar memberikan gambaran mimpi buruk. Secara dialog dan gestur tubuh tidak ada yang istimewa.

Tapi, secara visual, ini jadi kengerian yang sulit dilupakan, mengingat Parson mempertontonkan filmnya dengan menggambarkan ruang-ruang kosong yang membuat bulu kuduk bergidik.

Ruang-ruang ini dibuat dengan komposisi-komposisi yang menarik. Gambaran gelap, dan ujung lorong yang sunyi. Bisa membuat siapa pun yang masuk di dalamnya binggung.

Bisa membuat siapa pun saja menjadi tertekan karena kemudian muncul sugesti di dalam kepalanya ia adalah orang yang tersesat dan tidak tahu arah jalan untuk pulang kembali ke titik awal.

Inilah visualisasi horor yang saya tangkap dari film ini. Menepikan bagian-bagian lain film ini. Berfokus pada Clark dan Mary yang kemudian terlibat dalam membagikan ketakukan mereka sendiri pada penonton.

Tidak peduli lagi dengan orang-orang yang menyiapkan sebuah kamera dan mengobservasi orang-orang yang tersesat di ruangan yang penuh kengerian.

Apa tujuan dari oberservasi ini? Apakah benar ada dimensi lain yang berhasil ditembus oleh Clark ketika pikirannya sedang kacau. Apakah ini adalah hasil kerjaan dari alien?

Semuanya itu ditepikan. Karena Clark dan Mary akan mengajak penonton menentukan apakah mereka akan ikut tersesat? Jadi yang benar atau salah baik dari sisi Clark dan Mary?

Film ini memberikan sentuhan baru. Membuat penontonnya mengingat core memory dari sebuah ruang kosong ke dalam hampanya fungsi otak, dan warna kuning yang seharusnya berubah menjadi mimpi buruk yang membuat saya ikut takut jika kembali mengingat potongan setiap adegannya.

Film yang Cocok Untuk Penggemar Horor Psikologis

Ada banyak sub-genre untuk film horor. Salah satunya adalah horor psikologis. Bagi yang menyukai genre sub-horor ini, maka film “Backrooms” adalah pilihan yang tepat untuk ditonton.

Tak hanya itu, untuk mendapatkan perspektif visual yang lebih lengkap dan merasakan kengerian yang dalam, maka menonton film ini di bioskop adalah hal wajib.

Berbagai sudut ruangan, warna kuning, hingga sudut pandang lorong-lorong gelap akan terasa sangat pas jika disaksikan di layar lebar, dibandingkan dengan menontonnya melalui platform streaming melalui medium seperti TV dengan resolusi 4K.

Warna Kuning dan Bermain dengan Komposisi

review-film-backrooms

Saya bukan ahli visual. Tapi, saya mengutip dari Binus Universty, dalam psikologi, warna kuning melambangkan kebahagiaan, optimisme, energi, dan kecerdasan.

Tapi ini tidak ada di film “Backrooms.” Kuning adalah warna yang menyedihkan, menakutkan, penuh dengan pesimisme, membuat lemas dan lebih mengandalkan emosi ketimbang kecerdasan.

Di sinilah Person dan juga orang-orang di visualnya menterjemahkan film ini dengan cara yang unik dan berbeda. Hampir semua warna yang muncul di dalam interior dan eksterior ruangan ini berwarna kuning.

Menekan penonton secara psikologis. Ikut menggiring penonton berada di ruang, lorong-lorong sempit dan kemudian berusaha melarikan diri dari kengerian itu sendiri.

Ditambah lagi dengan komposisi-komposisi peralatan rumah yang ditampilkan. Semuanya bermain dengan kekacauan yang mengerikan. Tumpukan kursi dengan latar warna kuning saja sudah bisa mengacauakan pikiran penonton.

Ditambah lagi ketika berada di sebuah desain set rumah yang seharusnya bisa dibuat untuk foto yang sekiranya instagramable, malah menimbulkan kengerian.

Seperti yang sudah saya sebutkan di paragraf awal, kengerian ini terasa sama ketika pergerakan kameranya seperti halnya film “Hereditary.”

Kamera bergerak pelan, fokus pada masing-masing karakter kunci dan memunculkan perspektif orang pertama seperti yang hadir di film-film pendek.

Ditambah dengan sound yang tipis seperti siratan suara langkah kaki yang misterius ketika berada di lorong yang kosong. Perpaduan ini menurut saya mampu memberikan kengerian pada penonton.

Semuanya berjalan sempurna dan memunculkan elemen yang berhasil sebagai sebuah horor yang menyeramkan. Untuk menyempurnakan, menyesatkan penonton dengan teror psikologis yang mereka mainkan di dalam film ini dan Chiwetel Ejiofor dan Renate Reinsve bermain sangat baik menebar ketakutan.

Sebagai tambahan, dengan menonton film ini langsung di bioskop tentunya memberikan pengalaman yang lebih seru. Layar yang lebih luas dan lebar akan semakin menajamkan kengerian visual yang ditampilkan di sepanjang film.

Baca juga: Review Film “Colony:” Ketika Teknologi Jadi Teror Horor Zombie

Baca juga: Ulasan“Send Help”: Film Suspense Menghibur Antara Bos vs Karyawan

Chemistri Chiwetel Ejiofor dan Renate Reinsve

Menyambung visualisasi horor yang mengerikan itu, Chiwetel Ejiofor dan Renate Reinsve bermain sangat-sangat baik di film ini.

Ketika film horor biasanya akan menambahkan makhluk seram atau hal-hal terkait mistis dan sekte yang secara visual mudah untuk dikenali, maka apa yang ditawarkan “Backrooms” justru sebaliknya.

Selain visual, dalam bentuk ruangan yang tidak ada ujungnya, furniture yang tidak tertata rapi-tapi tetap presisi, Chiwetel Ejiofor dan Renate Reinsve memberikan kengerian melalui akting mereka yang sangat mengerikan.

Berbagai mimick frustasi dari karakter Clark, dan kenyataan berupa ketakutan yang harus dihadapi oleh Mary adalah cara film ini berbicara kengeriaannya melalui karakter. Jujur saja, untuk beberapa bagian yang saya tidak kuat menyaksikan bagian itu, dan teror psikologisnya sudah membawa saya ke rasa ketakutan yang berujung pada frustasi.

Teror Psikologis dengan Sentuhan Sedikit Fantasi

Sebagai penutup dari review film “Backrooms” yang bermain dengan visual yang frustasi, saya menambahkan bahwa dengan menonton film ini seperti membangkitkan ingatan saya kepada beberapa film seperti “Hereditary” dan tentu saja “Shutter Island.”

Film ini mengajak penonton untuk mengukur rasa takut mereka, mencermati kondisi kecemasan dengan cara yang tepat. Tidak hanya teriak-teriak di media sosial, tapi kemudian berbicara kepada ahlinya dan kemudian mengambil kontrol diri yang baik sehingga tidak menimbulkan ruang fantasi berlebihan di kemudian hari.

Sebuah fantasi yang mengajak penonton melihat susunan benda-benda mati bak boneka yang seperti siap menambah kengerian, meskipun faktanya, penonton pun tidak bisa menebak apakah boneka tersebut nyata atau tidak.

Penonton hanya diajak untuk merenung kembali, bahwa kehidupan nyata memang sangat menyakitkan, tapi jangan biarkan fantasi itu merajalela di dalam pikiran dan mengambil alih kesadaran fungsi manusia seutuhnya.

Benar, agar kita semua tidak terjebak dengan Clark dan Mary yang kemudian tak tahu cara keluar dari lorong yang sunyi dan warna kuning (Yellow) yang tak seindah seperti dentingan lagu dari band Coldplay.

Bagi yang penasaran dengan cerita film ini, “Backrooms” akan tayang di bioskop-bioskop Indonesia mulai tanggal 10 Juni 2026.

Leave a Comment