Ulasan Film The “Death of Robin Hood:” Kisah Kelam Pendosa yang Lelah Bertarung

Cerita legenda memang selalu menarik untuk diulang-ulang dan biasanya berisi yang baik dan bagus-bagus saja. Tapi, bagaimana ketika cerita legenda itu kemudian brutal, kelam dan tak seindah yang dibayangkan pendengarnya?

Inilah yang akan saya tulis di review film “The Death of Robin Hood.” Film yang memang diperuntukkan bagi penggemar kisah-kisah klasik dan legendaris Robin Hood yang selama ini dikenal manis. Atau, bagi penggemar film yang ingin selalu melihat kisah-kisah kontradiktif atau ingin mendapatkan pespektif lain.

Kisah sang pencuri budiman yang sering merampok kaum kaya dan jahat untuk membantu rakyat miskin ternyata tak selalu sama dan berakhir indah.

Namun, penuh dosa yang menyeramkan.

Sinopsis “The Death of Robin Hood”

Seorang pria tersungkur di tanah. Bersamaan dengan lumpur dan darah yang membasahi hampir seluruh tubuhnya. Sejak malam itu, kehidupan Robin (Hugh Jackman) tak lagi sama.

Ia bertemu dengan lingkungan baru yang membuatnya menyadari dosa-dosanya selama ini. Pertemuannya dengan Sister Brigid (Jodie Comer) dan little Margaret (Faith Delaney) di sebuah biara yang berada di pulau terpencil mengubah segalanya.

Robin bukanlah seperti apa yang selama ini didengarkan oleh orang-orang dari generasi ke generasi. Siapa Robin sebenarnya?

Review Film “The Death of Robin Hood”

Bagi sutradara Michael Sarnoski, jelas ini bukan film pertamanya. Tapi mengambil cerita legendaris tentang Robin Hood pun tidak bisa sembarangan untuk diceritakan.

Sejak awal film dibuka, Michael Sarnoski punya nyali untuk mengubah cerita dan persepsi tentang legenda yang selama ini saya dengarkann dengan cerita yang happy ending.

Kisah petualang yang datang mencuri dari orang-orang kaya dan penjahat yang biadab. Curiannya kemudian dikembalikan untuk rakyat jelata.

Tapi, ini tidak terjadi di pembukaan cerita film “The Death of Robin Hood.” Tak ada drama-drama romantisme masa lalu.

Bagian awal-awal adegan film ini dibuka dengan brutal dan kasar. Menggambarkan bagaimana cerita tersebut kemudian membuat penasaran penonton. Apa yang sebenarnya terjadi.

Jalan pembuka ini kemudian dirajut dengan cerita yang penuh dengan pertarungan psikologis dan kisah-kisah yang tak kalah kelamnya. Sarnoski ingin menunjukkan bahwa Robin Hood adalah manusia pendemdam yang sudah rapuh karena lelah bertarung dengan dirinya sendiri.

Bagi saya ini adalah sebuah cerita yang segar, meskipun saya yakin juga belum tentu dinikmati oleh semua orang. Saya tidak melihat bagaimana seorang legenda klasik yang terus diulang-ulang dan mungkin membosankan.

Tapi, ini adalah kisah pria yang mencoba berdamai dengan dirinya sendiri. Penonton kemudian diajak untuk melihat runutan cerita ini dengan sabar dan tenang. Beberapa bagian yang pada akhirnya membuat film hadir dengan pace yang lambat. Berbagai sisi tentang hati yang tidak tenang divisualkan secara gamblang.

Bagaimana sosok legendaris tersebut mencoba untuk berdamai dengan dosa-dosanya selama. Merekonstruksi lagi ingatan di dalam pilikannya untuk kemudian memilih satu hal yang selama ini tidak ada di dalam kepalanya.

Film ini menggambarkan transisi yang kontras di setiap sesinya. Baik di awal, pertengahan hingga akhir. Tak ada lagi adegan pertarungan atau petualangan, tapi lebih pada bagian-bagian psikologis dan penuh dengan kontemplatif.

Hugh Jackman Aktor Luar Biasa Untuk Robin Hood yang Sudah Tua

review-film-the-death-of-robin-hood

Sepertinya memang tidak ada yang meragukan kemampuan dan kapasitas aktor Hugh Jackman dalam memerankan setiap karakternya.

Tak ada lagi tentang Wolverine yang selalu akrab bagi penggemar film. Tapi, Hugh Jackman menjadi Robin yang sudah tua, keras kepala, ingin menyudahi kehidupan versinya sendiri, dan tak lagi harus frustasi karena dosa-dosa di masa lalu.

inilah yang ditampilkan sang aktor selama tampil sebagai pemeran utama di film “The Death of Robin Hood.” Pria tua yang rapuh dan ringkih, sudah tercabik-cabil secara emosi.

Hampir 80% film ini adalah tentang bagaimana Hugh Jackman menavigasikan cerita dari sudut pandang Robin yang tak pernah saya pikirkan selama ini.

Ditemani dengan aktris lainnya seperti Jodie Comer yang merawat lukanya dan mampu tampil dengan porsi yang sangat pas. Memberikan sentuhan yang membuat penonton gundah di seperempat bagian akhir film.

Secara keseluruhan, Hugh Jackman bermain baik di film ini. Mencoba melepas luka-luka rapuhnya yang sudah tak tertahankan lagi.

Visual Gelap, Lanskap Indah dan Sound Klasik Penebus Dosa

Dari sisi visual, film ini menurut saya juga tepat disampaikan. Tone-tone gelap di awal film disesuaikan dengan bagaimana cerita seorang Robin yang brutal. Kemudian dibagikan lagi ke dalam lanskap cantik yang menampilkan perbukitan, hutan, dan pulau terpencil.

Kemudian, ketika Robin ditampilkan sedang gundah lagi, tone-tone ini kembali terasa gelap. Beriringan dengan karakter suster Brigid yang bijak, penyabar dan ternyata punya satu luka kecil yang tersembunyi di dalam hatinya.

Perpaduan semua ini mampu menghodupan suasana dan tentu saja inti cerita di film ini. Bahkan, lebih terlihat ke bagian-bagian frustasi tapi tetap menjaga bagian melankolis yang kuat.

Baca juga: Ulasan Film “The Sheep Detectives:” Saat Domba-domba Pecahkan Misteri

Baca juga: Review Film “Disclosure Day:” Ujian Manusia dan Alam Semesta

Sebuah Perjalanan Apik dengan Cerita yang Kuat

Setelah menonton film “The Death of Robin Hood” saya menyadari, kisah-kisah petualangan memang punya sisi kelamnya. Karena Robin berbicara cerita tentang penyesalan, meminta pengampunan, dan sebuah penilaian yang harus dilakukan seseorang untuk mendapatkan kesempatan kedua.

Jika penonton masih berharap ini adalah tentang petualangan merampok orang jahat dan mengembalikannya kepada yang berhak, jangan pernah berharap ini terjadi. Robin tidak akan melakukannya. Tapi, mengakui adalah pendosa yang hobi membantai di tengah kegelisahan dan ekspektasi masyarakat sendiri pada saat itu.

Dibalik itu semua, film ini punya beberapa catatan penting yang wajib saya beritahukan sebelum menonton filmnya. Daripada menghadirkan aksi dan petualangan bersama panah andalannya, Robin diceritakan lebih lambat sesuai dengan usianya.

Cerita Robin lebih gelap, emosional, sunyi di dalam kesendirian dan dosa-dosanya. Ini yang mungkin tidak akan sama ketika menonton film-film Robin Hood lainnya.

Tapi, jika ingin perspektif yang berbeda maka “The Death of Robin Hood” adalah pilihan yang tepat. Sebuah pemahaman penting tentang bagaimana seorang legenda ingin menerima takdirnya dan menghadapi akhir perjalanan hidupnya yang sudah renta dan penuh dengan dosa masa lalu.

Bagi yang penasaran, film “The Death of Robin Hood” baru saja tayang sejak hari Rabu, 1 Juli 2026. Sekarang warga bisa menontonnya langsung di bioskop-bioskop Indonesia.