Jadi sekuel dari film pertamanya yang berjudul “Evil Dead Rise” yang rilis 2023 lalu, kini kengerian supranatural dari buku kuno Necronomicon Ex-Mortis terus berlanjut. Sebelum lanjut ke review film “Evil Dead Burn” (2026) saya menyarankan pada penonton yang ingin menyaksikan kengerian film ini untuk menonton “Evil Dead Rise” terlebih dahulu.
Selain itu, film “Evil Dead Burn” memang dibuat dan dikhususkan bagi yang menyukai tontonan horror yang brutal dan sadis. Jadi, bagi yang menyukai sub-genre horor seperti ini, “Evil Dead Burn” tentunya tontonan yang tak boleh dilewatkan.
Sinopsis Film “Evil Dead Burn”
Sebuah musibah seharusnya merekatkan anggota keluarga. Tapi ini tidak terjadi pada Alice (Souheila Yacoub)
Kematian suaminya yang tragis membuatnya membutuhkan kehangatan yang lebih dalam. Berkunjung ke rumah keluarga sang suami adalah salah satu pilihan yang tepat.
Tapi kehangatan itu berubah menjadi teror mengerikan dan tidak bisa dilupakan oleh Alice. Teror justru semakin dating karena adanya iblis yang terus mengekor pada keluarga ini.
Satu kutukan yang tak pernah selesai satu per satu menghadirkan kengerian yang tidak terlupakan. Siapa yang bisa lari dari kutukan ini?
Apakah manusia bisa mengendalikan emosi mereka yang dangkal ketika berdekatan dengan kutukan Deadite?
Review Film “Evil Dead Burn” (2026)
Beberapa kritikus memuji film ini. Data dari Rotten Tomatoes menunjukkan angka 71% dari para kritikus untuk film ini.
Atas dasar ini, saya pun penasaran, meskipun saya bukan penggemar film horor dengan sub-genre gore dan slasher.
Sébastien Vaniček didapuk sebagai sutradara “Evil Dead Burn” memang tak perlu pembukaan yang terlalu panjang. Cerita langsung diarahkan pada poin kutukan teror iblis (Deadites)
Tanpa perlu drama yang berkepanjangan kutukan ini menular berkunjung dari satu karakter ke karakter lain.
Poin utama dan sumber masalah pun sudah ditampilkan sejak awal. Mulai dari sebuah buku terkutuk, belati penangkal mistis dan iblis Deadite yang merasuki manusia secara bergantian dan menyerang manusia normal adalah dasar dari cerita ini.
Intensitas sumber kengerian ini yang langsung dibangun dan dilanjutkan tanpa henti dari awal hingga akhir film.
Dilengkapi dengan adegan menjijikkan, penuh darah dan tanpa ampun. Semuanya tersambung, membuat penonton “lelah” dan frustasi di hampir setiap filmnya.
Ditambah dengan lapisan emosi yang teraasa lebih dalam dari masing-masing karakter dan punya masalahnya masing-masing. Ini yang kemudian jadi fondasi kenapa Deadite begitu mudah merasuki masing-masing karakter di film ini.
Memengaruhi karakter, mengubah persepsi dan pikiran sampai pada akhirnya saling bantai satu sama lain. Meskipun begitu, secara keseluruhan film ini masih punya satu catatan yang rasanya hilang.
Sentuhan komedinya terasa berkurang jika dibandingkan Evil Dead Rise. Hal yang lebih terasa, ternyata fokus film lebih dikhususkan pada bagian gore yang memang sangat brutal.
Bermain-main dengan Lapisan Emosional
Narasi utama yang dibangun di dalam ini berdiri atas emosional. Satu emosi karakter, kemudian melibatkan emosi karakter lainnya. Semuanya saling berhubungan dan terikat. Hal ini yang memuat Deadite begitu mudah merasuk dan menjalankan misinya menghancurkan manusia lewat kutukan-kutukannya.
Sebuah konsep yang bagus untuk menggambarkan bahwa film horor ini tidak hanya sekedar brutal saja. Tapi, tetap ada dasar cerita yang kuat.
Narasi ini dibangun berlapis-lapis yang bisa membuat saya sebagai penonton sempat merasa ini adalah akhirnya. Tapi, apa yang ditampilkan tidak seperti itu. Masih ada lanjutannya. Masih ada kejutan-kejutan kecil tapi tetap intens dan menjadikannya sebagai sebuah cerita yang komplit.
Meskipun begitu, film ini punya satu catatan bahwa emosi tersebut terasa kurang digali terlalu dalam untuk setiap karakternya. Bagaimana hubungan antara Alice dan Suaminya sebenarnya.
Lalu, bagaimana hubungan antara adik suami dan Alice, serta keluarga besar suaminya. Ini yang menurut saya membuat latar belakang cerita dari sisi lapisan emosinya terasa sedikit lemah.
Tak ada dasar yang kuat selain masa lalu, mitologi dan tentu saja kutukan Deadite yang menghubungkan semua ini.
Baca juga: Ulasan “Send Help”: Film Suspense Menghibur Antara Bos vs Karyawan
Baca juga: Ulasan Film “Ready or Not 2: Here I Come” Permainan Orang Kaya yang Semakin Bengis
Angle Kamera dan yang Menambah Intensitas Kengerian

Hal menarik lainnya dari film ini adalah pengambilan gambar yang terasa kasar, karena memang disesuaikan dengan visual yang brutal.
Selain itu, pengambilan gambar ini juga mampu memberikan tensi ketegangan yang terus-terusan kepada penonton. Inilah yang saya maksud dengan “lelah” di paragraf atas.
Jika tidak kuat dengan adegan film, penonton bisa menutupi wajahnya sembari mengintip bagian scene yang memang hampir semuanya brutal.
Di bagian akhir, cara kamera berputar untuk menampilkan 360 derajat sebuah karakter dari sudut pandang Alicepun menarik. Membuat penonton ikut merasakan betapa mualnya Alice mengalami situasi yang mengerikan dari emosi yang disalurkannya.
Selain itu, ada beberapa bagian lain yang menurut saya juga menarik untuk dilihat. Tampilan visual yang yang fokus pada objek-objek tertentu sebagai latar ceritanya dan hubungannya dengan karakter.
Mulai dari plafon rumah, jok mobil, peti mati dan beberapa benda lainnya mampu menghidupkan suasana kengerian. Ini dipadukan dengan beberapa alat-alat seperti alat pancing, jok mobil, kursi roda dan membuat visualnya tidak lagi terasa nyaman setelah menonton film “Evil Dead Burn.”
Visualisasi Warna yang Mengerikan
Selain angle kamera perpindahan warna-warna yang ditampilkan juga menarik. Meskipun didominasi dengan tone yang gelap, tapi beberapa bagian yang menarik justru mencuri perhatian.
Pertama, ketika salah satu karakter sedang meminum air dari lilin yang panas. Bagaimana efek warna bermain untuk memainkan kengerian kepada penonton.
Lihat juga transisi warna yang terjadi di bagian Alice ketika berhadapan langsung dengan Deadite. Dari warna merah ke biru dan kembali ke merah, ini adalah salah satu cara yang mengerikan untuk sajian sebuah film horor yang sadis.
Film Brutal yang Layak Ditonton Tahun Ini
Bagi saya, terlepas dari beberapa catatan di review film, “Evil Dead Burn” ada pesan kematian yang sangat brutal dan dikirimkan kepada penontonnya.
Film ini memang dirancang khusus untuk memenuhi hasrat film dengan sub-genre horor yang tanpa ampun dan menjijikkan.
Film ini memang tak sempurna karena lapisan emosional yang terasa kurang digali pada masing-masing karakter, terutama karakter utamanya.
Tapi, apa yang disajikan sudah sangat bagus untuk menghadapai kenyataan bahwa Deadite tak ubahnya seperti manusia. Tanpa sosok mitologis ini, manusia yang punya hasrat emosi yang tak keluar tetaplah sosok yang bahaya dan mengerikan.
Kedatangan Deadite bisa mengubah nasib manusia menjadi lebih buruk dan inilah yang ditampilkan di film ini secara ganas dan tanpa sensor.
Bagi penggemar horor brutal, “Evil Dead Burn” tentu adalah film yang tepat untuk ditonton akhir pekan ini. Sudah tayang di bioskop, segera dapatkan tiket bioskop warga untuk menyaksikan kengerian Deadite memangsa emosi manusia.
Penulis adalah mantan content editor yang sudah mengulas lebih dari 100 film dan tv series, jurnalis teknologi yang sudah mengulas lebih dari 500 gadget dan juga pegiat serta praktisi di bidang digital marketing serta SEO. Untuk lebih detil, bisa cek di tautan penulis ulasanwarga.com
