Meskipun saya bukan penggemar gamenya, tapi semua film Resident Evil yang pernah tayang dan diadaptasi dari game versi Paul W. S. Anderson yang identik dengan karakter Alice dan diperankan Milla Jovovich atau versi produksi Netflix tak ada yang memuaskan saya.
Sampai pada akhirnya saya menonton reboot dari film Resident Evil yang baru saja tayang di bioskop Indonesia, mulai tanggal 16 September 2026. Sebelum memulai review film Resident Evil, ekspektasi saya memang tinggi.
Maklum ini film reboot yang artinya pembaruan dari versi sebelumnya. Semua unsur di dalam ceritanya ditata ulang. Plus, film ini disutradarai oleh Zach Cregger yang membuat saya terpukau dengan ide ceritanya di film berjudul Weapon, tahun lalu.
Sinopsis Resident Evil (2026)
Pekerjaan menjadi kurir memang membutuhkan banyak tantangan. Hal ini yang terjadi pada Bryan (Austin Abrams)
Di saat pekerjaannya sudah hampir selesai, ia tergiur dengan bayaran tinggi pengiriman sebuah barang yang menuju ke Rumah Sakit di Racoon City.
Pekerjaan yang ternyata tidak disadari oleh Bryan, bahwa ini bukanlah pekerjaan mengirimkan sebuah paket. Tapi, bisa menantang maut dan hal-hal yang tak pernah terpikirkan oleh Bryan sebelumnya.
Saat tugas itulah Bryan mendapati hal-hal yang tidak nyaman, sekaligus mengerikan. Bisakah Bryan menyelesaikan misi mengantarkan paket spesial ini menuju ke sebuah tempat di Racoon City?
Review Film Reboot Resident Evil

Zach Cregger membuka cerita ini dengan sederhana. Mengenalkan kekikukkan Bryan di rumah sakit. Pada satu kesempatan, Bryan menerika pekerjaan untuk mengantarkan paket ke Racoon City, melewati pegunungan yang gelap dan di musim dingin.
Setelah itu penonton tidak pernah berhenti dibawa ke dalam ketegangan demi ketegangan yang terus berlanjut hingga akhir film.
Untuk sebuah film reboot, Resident Evil di tahun 2026 menurut saya berhasil. Bukan tentang bagaimana adaptasinya yang dari game saja, tapi membangun kengerian yang terus dilakukan secara berkala.
Zach Cregger buat saya adalah salah satu sutradara yang tergolong baru, tapi bisa memahami sekaligus menjterjemahkan apa yang ada di kepalanya, khususnya untuk sebuah film dengan narasi yang parallel dengan game Resident Evil 2 secara orisinal.
Faktanya, penonton akan dibawa masuk ke dalam sebuah kengerian Racoon City yang tidak pernah digambarkan secara detil di film-film Resident Evil sebelumnya.
Poin antar setiap konflik di dan masing-masing babak, seperti mulai dari di rumah sakit, di tengah hutan, di rumah kosong hingga Racoon City selalu ditampilkan secara to the point. Ini tergambar secara visual, di mana kamera akan terus bergerak fokus pada karakter Bryan yang terus bergerak mengikuti latar dan set yang sudah ditentukan.
Pada akhirnya, ini film ini disusun dengan cerita yang rapi dan lurus. Penonton mana pun akan dengan mudah memahami bagaimana perjalanan Bryan dari awal hingga akhir sebagai tokoh utama di dalam film.
Inilah yang kemudian ditangkap sebagai kengerian yang berbeda dibandingkan dengan film-film Resident Evil sebelumnya.
Bahkan, lebih horor dari horor yang sudah ada selama ini. Hal yang pada akhirnya membuat saya menyenangi film ini dari awal meskipun tak kuat menghadapi hantaman-hantaman kengerian yang dibawa Zach untuk film ini.
Resident Evil (2026) adalah Film Horor
Meskipun di beberapa katalog film ini punya banyak sub-genre, tapi bagi saya ini adalah murni film horor. Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, penonton hanya diberi beberapa menit saja untuk kemudian bisa bernafas lega, sebelum dikagetkan atau diajak berlari mengikuti langkah Bryan dari satu tempat ke tempat lainnya.
Pendekatan horor yang dibawa oleh Zach sendiri menurut saya terbilang klasik. Ada jumpscare yang meskipun sudah sering saya temukan di film-film horor lainnya menjadi terasa berbeda dengan permainan narasi horor psikologis.
Sebagai penonton, saya melihat Zach sukses menterjemahkan desain dari bagaimana kepanikan dan rasa cemas dimainkan di dalam film ini. Penempatan konsep-konsep keterbatasan adalah pendekatan yang dipiih.
Melintasi hutan yang gelap dan dingin, tak bisa membuka gembok kunci, masuk ke dalam rumah tak berpenghuni melewati jalananan yang kosong, hingga masuk ke dalam selokan air adalah bagaimana kengerian tersebut dibangun berdasarkan keterbatasan yang disampaikan lewat karakter Bryan.
Dan buat saya ini adalah hal yang brilian!
Baca juga: Ulasan Film Hope: Action Sci-Fi yang Mengundang Penonton Untuk Bertanya diantara Ketegangan
Baca juga: Ulasan Film “Supergirl:” Pengenalan Superhero yang Mencoba Menghilangkan Trauma
Visual dan Penggambaran Monster
Di awal, permainan visual sangat kuat untuk memainkan sentimen cerita horornya. Sorot lampu dari mobil saat melintasi jalan menuju Racoon City berhasil diterjemahkan dengan baik. Buat saya ini adalah penanda kuat bawah ini adalah film horor. Sisanya, tanpa harus memainkan visual dengan warna-warna dari lampu mobil pun, penonton akan digiring dalam kengerian yang intens dan tak ada habisnya.
Sebagai pelengkap, visual monsternya juga menarik. Saya melihat bagaimana anatomi tubuh manusia berhasil diubah menjadi sebuah kengerian. Jadi, ini bukan lagi sekedar zombie yang muncul karena wabah virus. Namun, mutasi kengerian yang lebih luas lagi dan menjadikan manusia yang terinfeksi sebagai monster.
Bahkan, kabar yang saya dapat dari IXBT Games, Zach sebagai sutradara tak ingin ada banyak efek CGI dan ingin penciptaan monster ini lebih praktikal. Alhasil, kalau sudah begini permainan kamera pun digerakkan secara kreatif.
Hasilnya, penggabungan anatomi tubuh menjadi satu monster sudah membuat penonton seperti saya langsung merasakan kengerian. Salah satunya adalah adegan momen, dua tubuh menjadi bersatu ketika Bryan tersesat di rumah kosong saat perjalanannya di tengah hutan menuju Racoon City.
GamePlay Video Game dan Film
Tak sahih rasanya membicarakan sebuah film yang diadaptasi dari game melalui dinamikanya. Dan saya punya beberapa alasan film ini akan disukai oleh para gamer, khususnya yang pernah memainkan Resident Evil.
Saya adalah pemain game Resident Evil 2 di rental PlayStation pada masanya. Ada beberapa hal detil yang kemudian membuat saya teringat dengan alur cerita game itu sendiri.
Yang paling sederhana dan mudah dimengerti adalah Resident Evil versi game bergenre horror. Nuansa dan tempo dari video game aslinya ini kemudian saya lihat Kembali dalam reboot film Resident Evil itu sendiri.
Beberapa elemen survival yang mengerikan dan menegangkan, bagaimana kondisi peluru yang tidak banyak dan suasana lorong yang mencekam disajikan di dalam film ini.
Oleh karena itu, inilah alasan saya menyebutkan bahwa film reboot Resident Evil di tahun 2026 ini adalah murni horor.
Karena ini sangat relate dengan game Resident Evil 2, maka ceritanya pun beririsan dengan game aslinya. Saya melihatnya sebagai sebuah garis paralel antara game dengan apa yang ingin diceritakan di dalam film ini.
Penampilan Menjanjikan dari Austin Noah Abrams
Austin Noah Abrams yang memerankan karakter Bryan adalah satu tokoh utama yang jadi tumpuan di dalam film ini. Jika ia tak mampu tampil baik, maka sekuat apa pun penceritaan dari sang sutradara akan membuat cerita menjadi terasa canggung.
Tapi, saya justru melihat ini berbeda. Karakter Bryan dimainkan dengan sangat baik oleh Austin Noah Abrams. Pria kikuk dan canggung yang tak mengerti apa-apa harus dihadapkan pada kengerian yang membuatnya tidak pernah percaya dengan apa yang ia lewati.
Gugup dan kepanikan, ngomel, ketakutan bisa dimainkan oleh Austin Noah Abrams dengan tepat di sepanjang film. Membuat energi bahwa ini adalah film reboot dan beririsan dengan latar game Resident Evil 2 menjadikan semuanya terlihat sempurna.
Film reboot Resident Evil (2026) ini sangat cocok untuk penggemar horor, penggemar game Resident Evil, hingga penonton yang selama ini skeptis, film adaptasi khususnya Resident Evil sebelumnya yang sering mendapatkan kritik dan dianggap gagal total, akan merasakan atmosfer yang baru dan sangat segar.
Komedi Khas dari Zach
Sebelum film ini tayang, saya mendapatkan informasi, jika Zach memotong beberapa adegan komedi yang menurutnya tidak relevan dan tidak diskuai saat pre-screening test yang dilakukan sebelum filmnya dirilis.
Tapi, menurut saya, komedi satir khas penyutradaraan Zach di film ini terasa sangat pas. Tidak lebih dan tidak kurang. Mungkin pengeditan itu punya alasan sendiri, dan jujur saja. Saya puas dengan gaya komedi yang disampaikan di sepanjang film ini.
Rating saya secara keseluruhan? 4,7 dari 5.
Penulis adalah mantan content editor yang sudah mengulas lebih dari 100 film dan tv series, jurnalis teknologi yang sudah mengulas lebih dari 500 gadget dan juga pegiat serta praktisi di bidang digital marketing serta SEO. Untuk lebih detil, bisa cek di tautan penulis ulasanwarga.com
