Ulasan Film Hope: Action Sci-Fi yang Mengundang Penonton Untuk Bertanya diantara Ketegangan

Progres bagaimana film-film Korea terus membuat kemajuan akhirnya bisa saya saksikan ketika menonton film Hope yang baru saja rilis hari ini, 9 September 2026 di bioskop-bioskop Indonesia.

Sebelum masuk ke review film Hope, karya sutradara Na Hong-jin ini ternyata masuk dalam daftar Festival Film Cannes 2026. Setidaknya, ini yang saya dapat lihat langsung ketika pembukaan film ini dimulai.

Jadi, buat saya tidak ada alasan lain untuk tidak menonton film ini langsung di bioskop, bertepatan dengan tanggal rilisnya di Inodnesia.

Sinopsis Film Hope (2026)

Kehidupan di sekitar pelabuhan Hope yang sepi dan damai tiba-tiba terusik ketika ditemukannya bangkai sebuah kerbau besar di tengah jalan. Sung Ki (Zo In-sung) langsung menghubungi sepupunya Beom Seok (Hwang Jung-min) yang juga kepala polisi setempat.

Keanehan ini lama-lama membuat dampak yang mengerikan. Ketika Sung Ki (Zo In-sung) langsung menghubungi sepupunya Beom Seok berpatroli, ia menemukan hal yang tak pernah terpikirkan olehnya.

Sebuah kelompok yang tak dikenal yang datang ke Bumi menjadi pembuktiannya. Ketika hal ini terjadi Beom Seok kemudian bertugas sebagai detektif yang mau tidak mau harus punya nyali untuk membereskan masalah ini. Apalagi, kota kecil ini didominasi oleh lansia.

Bisakah Beom Seok menemukan masalah yang sedang terjadi?

Review Film Hope: Liar dan Menegangkan

review-film-hope

Sebagai sutradara sekaligus penulis naskah film Hope, Na Hong-jin punya label yang tidak main-main. Selalu memuaskan untuk menonton film-film yang disutradarainya. The Yellow Sea dan The Wailing adalah salah dua film favorit dari sutradara ini yang sudah saya tonton.

Hal yang sama tampaknya akan terjadi pada film Hope ini. Adegan dibuka dengan misteri kematian kerbau di tengah jalan. Bukan kematian biasa, namun kematian yang mengerikan. Di sinilah pengenalan Beom Seok dan Sung Ki dimulai. Keduanya memerankan kunci jalan cerita film ini.

Awal yang lambat dan kemudian hampir selama 30-40 menit kemudian membuat semuanya terasa cepat. Penonton diajak berada dalam tegangnya bagaimana membongkar misteri ini dari sudut pandang Beom Seok dan Sung Ki. Ditambah lagi, latar adegannya pun dibagi dua.

Membuat penonton kemudian juga dibawa dalam sebuah ketegangan yang berbeda. Pengarahan cerita yang kemudian cepat dan intentsitas tinggi melalui adegan action berupa kejar-kejaran dan tembak-tembakan ini pada awalnya membuat saya sebagai penonton menebak dengan satu kata yaitu, “monster.”

Ternyata, ini adalah kompleksitas kehidupan Korea di sebuah tempat terpencil di tahun ’80-an, rasionalitas manusia yang masih terbatas dan kemudian kehidupan dari semesta lain adalah konflik yang ingin disajikan di dalam film.

Inilah suguhan yang ingin diberikan oleh Na Hong-jin sebagai sutradara. Ia membawa gejolak, meredamnya, dan kemudian membawa penonton terombang-ambing dengan gejolak yang intensitasnya lebih kuat lagi.

Dilengkapi dengan konflik yang puncaknya membuat Beom Seok murka pada salah satu karakter yang ternyata menjadi pemicu masalah di kota kecil ini.

Alur cerita naik-turun ini yang kemudian menjadi kekuatan dari film Hope. Sembari mengajak penonton seperti saya untuk berpikir, bahwa ini adalah sebuah film yang terlalu asik untuk dinikmati karena intensitas action yang begitu tinggi.

Pengalaman ini yang saya dapatkan ketika menonton film ini secara keseluruhan tanpa harus menonton trailer atau mencari sinopsis yang dibuat oleh tim kreatifnya.

Predator dan Promotheus versi Korea

Satu hal yang kemudian setelah berhasil dipecahkan dalam alur ceritanya adalah ini bukan hanya tentang monster, namun juga alien. Keliaran cerita ini yang merasuki pikiran saya sehingga saya melihat bagaimana sosok Predator dan Promotheus yang populer di Hollywood dihadirkan di dalam film ini, namun dalam versi cerita yang digarap oleh Na Hong-jin.

Permainan cerita yang diarahkan oleh sang sutradara buat saya sukses menangkap hal-hal yang selama ini tidak pernah terbayangkan untuk sebuah film besutan dari Korea Selatan.

Ma’veyyo, J’aur dan Va’migere adalah karakter-karakter yang awalnya diduga adalah monster yang hidup dalam dunia fantasi terpatahkan, bahwa mereka sebenarnya adalah alien.

Selain sebagai landasan cerita, karakter-karakter ini diceritakan juga punya perilaku yang tidak jauh berbeda dengan sosok Predator atau Promotheus.

Karakter yang datang diam-diam dan kemudian menyerang pemukiman penduduk dengan satu alasan yang masuk akal. Karakter yang kemudian diperankan oleh aktor-aktor yang tidak saya sangka sebelumnya.

Peran Michael Fassbender dan Alicia Vikander

Meskipun ini film Korea, namun ada dua aktor besar yang sudah lama berkecimpung di dunia Hollywood terlibat dalam film ini. Ya! Mereka adalah Michael Fassbender dan Alicia Vikander.

Peran mereka sebagai alien dimainkan dengan baik. Sosoknya seakan mirip dengan karakter-karakter di Avatar, namun punya kemiripan perilaku seperti Predator.

Khusus Michael Fassbender, ini tentu yang jadi sosok perhatian saya. Ketika karakter Ma’veyyo dimunculkan di awal, saya tak menyangka bahwa itu adalah Michael Fassbender.

Namun, setelah berulang-ulang kali karakter ini dimunculkan, pada akhirnya saya menyadari bahwa pemerannya adalah Michael Fassbender.

Hal yang kemudian saya cek ulang di database film ini dan ternyata memang benar diperankan oleh sang aktor yang juga pernah bermain di film dengan tema cerita alien, yaitu Promotheus.

Baca juga: Ulasan Film “Humint:” Intrik Penuh Aksi Antara Intelijen Korsel dan Korut

Baca juga: Review Film “Colony:” Ketika Teknologi Jadi Teror Horor Zombie

Keunggulan Visual dan Sound

Untuk menambah intensitas ketegangan yang liar, Na Hong-jin sebagai sutradara melengkapi film dengan editing dan pergerakan visual kamera yang menurut saya mampu membangun ketegangan itu sendiri.

Hal ini terlihat ketika kamera mengarah fokus pada karakter yang diperankan oleh Hwang Jung-min dan Zo In-sung dan di sinilah dibangun ketegangan-ketegangan melalui karakternya.

Untuk sound pun saya menyukainya. Ada beberapa adegan, khususnya ketika tembak-tembakan dan kejar-kejaran, intensitasnya ditingkatkan dengan sound-sound yang membuat adrenalin penonton pun menjadi tinggi.

Meskipun film ini menyenangkan sebagai sebuah hiburan, saya melihat ada beberapa catatan kecil yang perlu ditambahkan. Beberapa sub-plot yang terlalu panjang atau entah sengaja dipanjangkan bisa membuat penonton menjadi merasa bosan dan teralihkan.

Terutama ketika ketegangan tersebut sedang dibangun secara intens. Drama-drama yang tak perlu hanya untuk menambah run time film ini saya juga tidak terlalu diperlukan. Atau, mungkin saja ini memang sudah jadi trade mark film-film dari Korea Selatan itu sendiri.

Terakhir, CGI untuk monster di beberapa bagian saya lihat tidak berjalan terlalu mulus. Plus ending yang kemudian dibuat seperti tak selesai, mencoba membuat penonton kembali menerka, film ini apakah akan punya sekuel atau tidak.

Secara keseluruhan, film ini cocok bagi yang menyukai genre action, sci-fi dengan alien dan monsternya serta misteri yang penuh dengan teka-teki intensitas tinggi.