Ulasan Mini Series “Notes from the Last Row:” Ketika Manipulasi dan Obsesi Menjadi Sangat Berbahaya

Setelah menonton film “Obsession” yang punya sajian horor dan teror dalam psikologi sebuah hubungan percintaan, saya beralih ke satu series dari Korea yang berjudul “Notes from the Last Row.”

Sebelum masuk ke dalam review serial “Notes from the Last Row” yang tayang di Netflix, saya ingin buka terlebih dahulu, bahwa mini-series ini terdiri dari 6 episode.

Mini-series “Notes from the Last Row” sangat tepat ditonton bagi yang suka dengan cerita-cerita tentang pengungkapan misteri, thriller, trik dan manipulasi yang saling menipu.

Sinopsis “Notes from the Last Row”

Pertemuan antara Heo Mun-oh (Choi Min-sik) dan Lee Kang (Choi Hyun-wook) terjadai begitu cepat. Sebagai Profesor dan penulis senior Heo Mun-oh penasaran dengan sosok Lee Kang yang selalu duduk di bagian belakang kelasnya saat mengajar.

Pertemuan ini yang kemudian mengarah pada berbagai hal-hal yang mengejutkan. Mulai dari Profesor Heo Mun-oh yang menyimpan obsesi masa lalu dan menjadi mentor Lee Kang yang ingin memberikan “pengalaman masa lalu,” hingga ide-ide cerita yang di kepala yang mengarahkan penonton pada berbagai macam asumsi yang mengejutkan.

Siapa yang benar? Heo Mun-oh atau Lee Kang? Atau, karakter yang lainnya? Penasaran seperti apa ulasan “Notes from the Last Row?”

Review Series “Notes from the Last Row”

Episode pertama dari “Notes from the Last Row” dibuka dengan hampir membuat saya mengantuk. Mungkin ini cara yang dipakai oleh creator atau sutradaranya untuk memulai membuka cerita. Tapi, setelah itu, saya dikejutkan dengan berbagai macam asumsi yang bisa saja muncul dari sisi saya sebagai penonton.

Mulai dari episode kedua hingga setidaknya episode keenam, berbagai kejutan-kejutan muncul tak terduga. Menggambarkan bagaimana karakter Heo Mun-oh dan Lee Kang bermain-main dengan mengajak penonton ikut terlibat di dalam berbagai macam trik manipulasi.

Meskipun mini-series ini dilabeli genre drama, tapi saya melihatnya sebagai thriller-psikologi yang membuat penonton ikut merasakan ketegangan demi ketegangan yang terjadi di setiap episodenya.

Ada beberapa sub-plot yang muncul, tapi tidak menganggu. Namun, justru melengkapi ceritanya agar terasa kuat dan meyakinkan penonton untuk terlibat.

Plot cerita disusun dengan rapi, ditambah dengan narasi yang dibangun oleh Lee Kang dan bertindak sebagai seorang narator bak film dokumenter.

Ditambah lagi, narasi yang dibangun oleh Lee Kang menurut saya mampu membuat persepsi penonton berubah. Seolah-olah berada di posisi Heo Mun-oh. Sebagai penggemar film-film dengan genre-genre misteri dan thriller. Saya, tentu saja tidak mudah terjebak, meskipun pada faktanya sempat menggiring saya untuk berpihak pada satu karakter.

Sementara itu, pada bagian thriller, saya diberikan cerita yang benar-benar intens tidak berhenti dari episode 2 ke episode 6. Melihat bagaimana karakter Heo Mun-oh yang terobsesi dan frustasi.

Melihat pula bagaimana Lee Kang yang gugup, tapi mampu membuat narasi yang berasal dari manipulasinya dalam merancang sebuah cerita dan meyakinkan penonton secara mendebarkan dan penuh teka-teki.

Mengubah Narasi dan Persepsi Bisa Jadi Sangat Berbahaya

review-serial-notes-from-the-last-row

Satu hal yang kemudian menjadi relevan dengan cerita di mini-series ini selain tentang penulis adalah bagaimana cara bertutur saat bercerita.

Akhir-akhir ini saya melihat begitu banyak orang-orang yang berlomba-lomba membangun narasi dan ingin mengubah persepsi banyak orang. Bisa dari satu individu, atau kelompok tertentu dengan tujuan-tujuan tertentu juga.

Jika tujuannya benar, tentu tidak masalah. Tapi, jika tujuannya adalah untuk pembodohan dan kejahatan, tentunya ini adalah cara yang salah.

Hal yang sama dipertontonkan di mini-series “Notes from the Last Row.” Dimulai dari narasi yang dibangun Lee Kang dengan rapi. Bahkan melibatkan banyak sub-plot dan karakter-karakter lainnya. Seolah-olah Lee Kang adalah penulis naskah untuk series ini.

Dari visual, dan kemudian diperkuat dengan bagaimana cerita-cerita Lee Kang. Inilah yang membuat intensitas ketegangan yang dibangun di setiap episode menjadi terasa sempurna.

Penonton diajak “percaya” dengan narasi ini. Narasi yang juga dibangun dan ditujukan untuk karakter mentornya Heo Mun-oh, yang terobsesi dengan masa lalu dan tak kunjung sembuh meskipun sudah berumur.

Pada akhirnya, narasi ini yang kemudian mampu mengubah persepsi penonton. Bahkan, penonton dengan cepat dan singkat bisa membuat pengadilan sendiri untuk menguatkan persepsi yang mereka butuhkan.

Tidak hanya pada cerita, tapi pada karakter-karakter lainnya, selain Lee Kang dan Heo Mun-oh. Bagi saya ini adalah cara yang baik untuk membangun sebuah cerita, khususnya untuk sebuah series.

Saya menyukai pola seperti ini, karena merasa ini adalah cerita yang baru untuk disuguhkan kepada penonton. Sekaligus mengingatkan, jika mudah percaya pada narasi tertentu yang ingin mengubah persepsi orang, maka hal ini bisa menjadi bahaya sekaligus malapetaka.

Baca juga: Ulasan Serial TV “If Wishes Could Kill” Ketika Kematian Terhubung dengan Teknologi

Baca juga: Ulasan “Even If This Love Disappears Tonight:” Ingatan, Patah Hati Paling Manis

Karakter yang Bermain Gemilang

Lee Kang dan Heo Mun-oh adalah dua karakter utama yang menurut saya bermain dengan baik untuk cerita mini-series ini. Tapi, untuk melengkapi narasi yang dibentuk oleh Lee Kang untuk tulisannya, ia bermain-main dengan karakter lain yang juga dibuat secara visual.

Dari sini saya menilai hampir semua karakter yang ada di series ini bermain gemilang. Membuat penonton ikut terperangkap dalam manipulasi dan narasi yang dimainkan oleh Lee Kang.

Semua bermain dengna porsinya masing-masing dan tepat, tanpa dilebih-lebihkan atau dikurangi. Tujuannya tidak hanya untuk melengkapi cerita yang disusun Lee Kang, tapi menunjukkan betapa bahayanya narasi dan persepsi yang dilandasi kebohongan dan obsesi yang berlebihan.

Saya merasa cerita series ini tidak menjual drama, tapi lebih ke misteri yang harus diselesaikan. Beberapa catatan drama masih bisa dimaklumi tapi, tidak bertele-tele.

Selain itu, ending yang padat dan jelas juga memberikan penjelasan yang menarik. Penonton tahu, siapa yang salah dan siapa yang benar jika memang dibuatkan perbandingan hitam dan putih.

Tapi, jika masih terjebak di zona abu-abu dan masih ingin melanjutkan misteri yang disajikan mini-series “Notes from the Last Row” juga membantu penonton untuk memberikan argumennya sendiri.

Bagi yang menyukai hiburan series yang menuntu untuk berpikir dan kritis, maka “Notes from the Last Row” adalah pilihan yang tepat.

Enam episode dengan durasi rata-rata 45 menit lebih rasanya bisa dihabiskan dalam waktu singkat untuk melihat bagaimana penonton mendengarkan sebuah cerita tentang manipulasi, membentuk narasi dan persepsi dengan intensitas tinggi.