Ulasan Film Motor City: Action Balas Dendam Minim Kata, Mainkan Emosi dengan Musik

Satu film indie internasional hari ini tayang di bioskop Indonesia. Sebelum membahas review film Motor City, saya perlu tambahkan terlebih dahulu, bahwa film ini diperankan oleh Alan Ritchson.

Aktor yang juga sedang popular berkat aktingnya di serial Reacher season 4 yang menyandingkannya dengan selebriti Indonesia, Agnez Monica.

Sebelum masuk ke ulasan film ini, Motor City dikategorikan sebagai sebuah film indie, karena dibuat, diproduksi dan distribusinya datang dari para pemain-pemain besar Hollywood.

Meskipun masuk dalam film indie, namun pemerannya tidak main-main. Mulai dari Alan Ritchson, Ben Foster, hingga Shailene Woodley tampil di film ini.

Secara genre, film ini sendiri ditujukan bagi yang menyukai action-crime dan thriller sekaligus menunggu tontonan bergaya indie lengkap dengan settingan kota Detroit di tahun ’60-an.

Sinopsis Motor City

Tak ada yang salah dengan mencintai seseorang. Hal ini yang terjadi pada John Miller (Alan Ritchson) kepada Sophia (Shailene Woodley)

Cintanya sudah terlalu dalam sampai pada akhirnya suatu hari, Ketika John ingin melamar sang kekasih, polisi menggerebek rumahnya.

Mulai dari sana, John kemudian ditahan tanpa ia mengetahui apa tuduhan yang dihadapkan padanya.

Apa yang sebenarnya terjadi pada John? Apakah ia terjebak dalam sebuah masalah besar?

Review Film Motor City

Nama sutradara Potsy Ponciroli memang jarang dikenal. Dan baru kali ini saya mendengar namanya, khususnya ketika menonton film Motor City dan melihat credit title di bagian akhir film.

Satu hal yang pasti, selama saya menonton film ini, apa yang ingin ditampilkan oleh Potsy Ponciroli terbilang unik. Kita mulai dulu dari bagaimana premisnya.

Tentang John Miller, yang ditangkap tanpa alasan dan kemudian balas dendam. Dari awal hinga akhir, premis di film Motor City terlalu sederhana. Bahkan, penonton mana pun akan dengan mudah menebak siapa yang jahat dan yang baik. Siapa yang jadi korban, dan siapa yang kemudian harus dikorbankan.

Tapi, dibalik semua itu, inilah keunikan yang saya dapatkan di sepanjang film. Dimulai dari adegan pembukaan yang tidak perlu basa-basi. Satu per satu diceritakan dengan rapi. Bagaimana karakter-karakter ditampilkan dengan jujur, dan tentu saja sang pemeran utama John Miller .

Ditambah lagi dengan settingan tahun ’60-an semuanya ditampilkan dengan jujur. Cerita film ini terbilang hadir dengan pace yang cepat.

Perpindahan adegannya pun juga berlangsung dengan cepat dari satu scene ke scene yang lain. Mengenalkan karakter-karakternya pun langsung to the point.

Dari awal sampai akhir, pada bagian ini semuanya tertata rapi. Dan semuanya dilakukan dengan sangat, sangat, sangat, sangat minim dialog.

Tercatat, saya hanya melihat dan mendengar ada 6 dialog di film yang durasinya kurang lebih 100 menit ini. Dialognya pun singkat, bahkan hanya sekedar sapaan saja.

Keunikan ini yang kemudian membuat film ini saya nilai bagus. Meskipun, bukan satu-satunya film yang menampilkan adegan-adegan dengan minim dialog di sepanjang sejarah perfilm-an khususnya dengan genre action-crime dan thriller.

Bahkan, dengan dialog yang minim ini sebenarnya bisa membuat penonton mengerti langsung apa yang tersirat dari dalam karakter masing-masing.

Bercerita dengan Minim Dialog

Keunikan film ini saya kira hanya di 15 menit awal. Namun, itu tidak terjadi. Nyatanya, adegan-adegan minim dialog ini jelas terpampang di sepanjang film.

Kecuali tentu saja di bagian akhir film. Sepatah kata dari Reynolds dan John Miller menyudahi ceritanya. Tapi, bukan ini yang ingin saya ceritakan.

Potsy Ponciroli sebagai sutradara ingin membuat penonton yang sebenarnya sudah tahu jalan ceritanya, namun tetap dipaksa untuk menonton film ini sampai selesai.

Adegan minim dialog ini diimbangi oleh ekspresi hingga gestur dari masing-masing karakter yang ada di film ini. Dari sini pula, penonton pun dikenalkan pada peran apa yang dimainkan oleh masing-masing karakter. Saya akan kesampingkan dulu John Miller yang jadi pemeran utama.

Karakter Sophia yang diperankan oleh Shailene Woodley meskipun tak tampil penuh hingga filmnya usai menurut saya sukses mencuri perhatian. Ekspresi dan gestur tubuhnya seakan punya pesan yang kuat. Membuat karakter ini kemudian cocok menjadi rebutan bagi John Miller dan Reynolds.

Gestur dan ekspresi tubuh yang ditampilkan Sophia juga menjadi alasan kuat kenapa John Miller benar-benar bertekad untuk balas dendam.

Saya akan coba lagi berpindah pada karakter Reynolds yang diperankan oleh Ben Foster. Perannya sebagai antagonis juga berhasil dimainkan dengan baik. Gestur tubuhnya dan dipadukan dengan visual artist sekaligus make up artis brilian menjadikannya sebagai seorang bandit yang berkuasa.

Obsesinya pada Sophia juga berhasil ditunjukkan dengan baik tanpa mengeluarkan kata-kata yang berlebihan. Rasa bencinya pada John Miller juga ditunjukkan dengan dingin tanpa menggunakan dialog-dialog yang ekstrem.

Minim dialog, karakter-karakter tadi sukses mengenalkan diri mereka sendiri. Sukses memancing penonton untuk melihat filmnya hingga selesai.

Baca juga: Ulasan “War Machine:” Film Action yang Brutal dan Penuh Fantasi

Baca juga: Ulasan “Send Help”: Film Suspense Menghibur Antara Bos vs Karyawan

Kurang Latar Belakang Karakter yang Kuat

Meskipun bukan satu-satunya jadi film yang minim dialog karena sudah ada film seperti Cast Away atau A Quiet Place ada beberapa catatan yang ingin saya sampaikan.

Emosi karakternya tidak terlihat seperti halnya film minim dialog yang sudah saya sebutkan tadi. Buat saya, ini karena tidak adanya latar belakang karakter yang digali secara mendalam. Emosi yang dihadirkan pun sebenarnya tidak mampu mengangkat performa mereka seperti halnya Tom Hanks di film Cast Away.

Buat saya ini yang menjadi catatan penting untuk film Motor City. Terutama karakter John Miller yang menurut saya terasa sangat kurang.

Uniknya yang mencuri perhatian adalah karakter Reynolds dan Sophia yang berhasil memainkan sedikit emosi, meskipun lagi-lagi tanpa penggalian karakter yang dalam.

Alhasil, dengan cerita klise yang mungkin sudah mudah ditebak penonton, tidak ada ledakan emosi yang kuat tentang bagaimana rasanya dipecundangi oleh seorang bandit kelas atas, atau kehilangan seseorang yang begitu dicintai di sepanjang film ini.

Menggali Emosi Penonton dengan Musik

Meskipun ini menjadi catatan, Potsy Ponciroli sebagai sutradara punya cara lain untuk mengemas emosi tersebut. Tanpa dialog dan hanya mengandalkan gestur para pemerannya, ia menambahkan elemen musik di setiap scene.

Atau, bahkan mencoba mengganti dialog tersebut dengan musik. Tujuannya adalah untuk membuat penonton bisa merasakan emosi dari karakternya.

Buat saya yang menonton film ini, menganggp bahwa ada beberapa scene yang kemudian gagal ada juga yang rasanya tidak perlu menggunakan musik.

Terlepas dari semua itu, untuk bagian actionnya terasa pas. Tidak lebih dan tidak kurang, meskipun ada satu scene pertarungan tangan kosong di dalam lift yang menurut saya sangat brutal.

Sisanya, film ini adalah sebuah hiburan tepat bagi yang ingin mendapatkan pespektif lain sebuah cerita di layar lebar. Minim dialog, banyak musik dengan lagu-lagunya dan tentu saja action yang brutal.

Maka, Motor City adalah film yang direkomendasikan untuk ditonton. Saat ini film Motor City sedang tayang di bioskop-bioskop Indonesia.