Bukan drama percintaan klise, tapi horor yang melibatkan pskiologis, teknologi dan urban legend dari Korea Selatan. Inilah yang saya dapatkan setelah menonton serial TV terbaru Korea berjudul “If Wishes Could Kill” yang baru saja tayang di Netflix di bulan April 2026.
Seperti apa alur cerita “If Wishes Could Kill” yang hadir dengan 8 episode ini? Berikut review atau ulasan saya tentang serial TV “If Wishes Could Kill.”
Sinopsis Series “If Wishes Could Kill”
Masa sekolah adalah masa yang membahagiakan. Perteman, persahabatan dan rasa cinta yang pelan-pelan muncul di antara teman satu sekolah biasanya sering muncul.
Tapi, hal ini justru tidak terjadi pada lima siswa di sebuah sekolah. Awalnya sederhana, masih tentang ruang lingkup sekolah, tapi satu per satu berbagai misteri dan kejadian mengerikan
Semuanya dimulai dari aplikasi yang dapat mengabulkan keinginan bernama “Girigo.” Satu per satu, pelan-pelan, aplikasi ini kemudian mengerogoti siswa-siswi di sekolah tersebut. Menimbulkan teror, dan misteri yang diungkap.
Sebuah horor yang menggiring para siswa dan siswi ini untuk mencari jawaban yang berhubungan dengan kisah-kisah urban legend yang pernah ada.
Review Serial “If Wishes Could Kill”
8 Episode dirancang dengan baik di awal. Alur cerita dimulai dengan sebuah konflik langsung yang kemudian dialirkan sembari mencari tahu tentang latar belakang masalah. Park Youn-seo sebagai sutradara ingin pelan-pelan membagikan cerita ini dari awal.
Setelah dikejutkan dengan adegan-adegan mengerikan di awal-awal episode, serial tv ini kemudian mengajak penontonnya memecahkan berbagai misteri yang muncul.
Keterlibatan para karakter dibuat meluas dengan munculnya sub-plot yang membuat tempo cerita menjadi terasa bertele-tele. Bagi sebagian penonton mungkin akan merasa tidak nyaman setelah memasuki pertengahan episode.
Ketika sub-plotnya digiring dan mencoba fokus untuk mencari sumber masalah, alur cerita pun menjadi pelan dan lambat. Serial ini seperti kehilangan intensitas kengeriannya.
Tapi, hal ini masih ditutupi dengan para pemerannya yang tampil cukup baik. Fokus cerita akan dialihkan pada karakter-karakter yang terlibat. Kengerian yang akan disampaikan akan muncul di bagian ini.
Secara keseluruhan, elemen horor yang dibangun tidak sendirian. Dari pengalaman saya menonton serial tv ini, ada bagian psikologisnya. Bahkan di awal sudah disuguhkan dengan adegan-adegan kasar yang tidak nyaman untuk ditonton.
Tak akan ada cerita-cerita romantis yang akan muncul di setiap episodenya. Tapi, penonton akan disuguhkan dengan lebih banyak kasus per kasus, karakter per karakter dan konflik yang terus bermunculan karena harus ada misteri yang diungkapkan.
Menyibak Misteri dengan Psychological Horror

Horor yang dibangun di serial tv ini pada dasarnya adalah psychological horor yang menampilkan ketegangan psikologis, ketakutan, dan ketidakpastian.
Tujuannya untuk menguatkan rasa gelisah dan takut pada penonton. Sajian ini sebenarnya sudah ada sejak episode pertama. Tanpa basa-basi, penonton langsung disuguhkan dengan intensitas Psychological Horror.
Pada episode pertengahan, “If Wishes Could Kill” fokus pada pengalaman psikologis dan emosional karakter, yang menuntun penonton terasa terlibat dan berputar-putar pada konflik yang lambat.
Tujuannya pun sama, mencoba mengeksplorasi rasa cemas, takut dan ketidaknyamanan pada batin mereka. Ruang lingkup ini terbentuk dari bagaimana persepesi sebuah aplikasi yang seharusnya bisa menyelesaikan masalah, kemudian malah menimbulkan masalah.
Masalah ini dibuat terus menghantui di antara karakter-karakter yang terlibat. Ditambah lagi, “If Wishes Could Kill” membawa unsur urban legend yang kental.
Mencoba menyatukan teknologi di masa kini, kehidupan anak-anak muda yang relevan dan cerita-cerita masa lalu yang membutuhkan pembuktian.
Pada bagian ini “If Wishes Could Kill” mampu menjadi cermin serial horor yang melibatkan anak-anak muda dan meninggalkan kesan pop jatuh cinta yang selama ini identik dengan serial-serial tv dari Korea.
Visualisasi Horor yang Lebih Nge-Pop
Jika biasanya serial tv atau film horor selalu identik dengan suasana yang gelap-gelap dan warna-warna yang kecerahanya tipis, maka saya tidak melihat itu “If Wishes Could Kill.”
Dari pengalaman saya menonton semua serial ini, visualisasinya dominan dengan warna-warna terang. Tentu saja, hal ini mungkin karena latar cerita yang melibatkan karakter-karakter anak-anak muda.
Tapi, meskipun hadir dengan sentuhan warna-warna yang lebih muda, intensitas kengeriannya tetap terasa kuat. Paduan visuaslisasi ini dimainkan dengan baik melalui karakter-karakter dan cara serial tv ini bercerita untuk membangun rasa takut.
Sekali lagi, di episode pertengahan, cerita akan terasa berjalan lambat, tapi karena adanya pengaruh visual yang pop, bagi saya serial ini tetaplah tontonan yang menarik untuk diselesaikan dalam waktu yang cepat.
Teknologi Bernama Girigo Itu Ternyata Benar

Judul orisinil dari serial tv “If Wishes Could Kill” adalah Girigo. Sebuah aplikasi yang memang benar-benar dibuat untuk menjadikan cerita ini menjadi terasa realistis.
Sekilas saya ungkapkan, dari aplikasi Girigo petaka demi petaka tercipta. Netflix, tampak menyiapkan strategi ini agar penonton juga mendapatkan pengalaman yang serupa.
Saya menuliskan ini karena juga mendapatkan insight menarik dari akun media sosial X mas fmdwk yang membagikan insight menarik tentang strategi Netflix dalam memasarkan aplikasi ini.
Tapi itulah pengalamannya. Aplikasi Girigo ternyata memang benar ada dan bisa diunduh di Google Play Store. Hal yang tentunya juga akan memantik rasa penasaran dari warga yang belum menonton serial tv ini.
Memang benar, aplikasi Girigo tidak akan benar-benar membuat kejadian seperti di serial “If Wishes Could Kill.” Namun, pengalaman menggunakan teknologi untuk mengabulan keinginan tentu bukan hanya sekedar cerita biasa.
Dari sisi lain, saya melihat bagaimana menggunakan teknologi dengan bijak adalah yang ingin disampaikan di dalam film ini. Girigo tidak lagi hanya menjadi sekedar acuan untuk sebuah strategi marketing.
Tapi, mengajak generasi mudah untuk melihat hal yang lebih realis dan kemudian membantu memahaminya dengan penggunaan teknologi.
Baca juga: Ulasan “Something Very Bad Is Going To Happen:” Series Horor yang Komplit
Baca juga: Ulasan Film “Pavane:” Gelapnya Cinta dan Berdamai dengan Masa Lalu
Penasaran dengan serial horor ini? “If Wishes Could Kill” saat ini sedang tayang di Netflix dan bisa ditonton langsung gratis bagi yang sudah berlangganan.
Penulis adalah mantan content editor yang sudah mengulas lebih dari 100 film dan tv series, jurnalis teknologi yang sudah mengulas lebih dari 500 gadget dan juga pegiat serta praktisi di bidang digital marketing serta SEO. Untuk lebih detil, bisa cek di tautan penulis ulasanwarga.com
