Ulasan Serial TV East of Eden: Melihat Peradaban Lintas Keluarga yang Kelam di Masa Lalu

Serial TV atau series terbaru yang saya tonton kali ini ada yang datang dari Netflix. Sebuah limited series berjudul East of Eden langsung tayang 7 episode ini baru saja tayang tanggal 1 Oktober dan tentu saja dengan kesempatan yang terbatas saya langsung menonton semua episodenya.

Sebelum masuk ke dalam review serial TV East of Eden, cerita ini diadaptasi dari novel berjudul sama yang ditulis oleh John Steinbeck. Jujur saja, saya bukan pembaca novelnya, jadi kali ini fokusnya akan lebih ke versi serial TV saja.

Premis Serial East of Eden

Keluarga menjadi kunci kehidupan dalam peradaban manusia dan hal ini yang terjadi pada lintas yang dimulai Adam Trask (Christopher Abbott) dan saudara tirinya Charles Trask (Mike Faist) dan sampai pada akhirnya, sosok Cathy Ames (Florence Pugh) datang mengubah semua sudut pandang kehidupan pada masa itu.

Review East Eden (Netflix, 2026)

Zoe Kazan merupakan kreator yang menggarap series ini. Dan buat saya yang menonton series ini cerita dimulai dengan pengenalan yang bisa dibilang cukup panjang. Bagaimana lika-liku keluarga Hamilton yang secara pemikiran selalu berbeda-beda dan terpisah.

Setidaknya ini muncul hingga episode kedua dan ketiga, sebelum akhirnya cerita mulai fokus memperlihatkan bagaimana Cathy yang datang ke kehidupan mereka.

Alhasil, pacing dan alur cerita akan terasa sangat lambat dan bagi yang tidak siap menontonnya akan melihat cerita ini membosankan.

Tapi ada satu hal yang menarik buat saya ketika cerita berjalan terasa lambat. Penggalian karakter Adam dan Charles cukup diperlihatkan berdasarkan versi serial ini. Mulai dari masa kecil, mereka, remaja hingga dewasa.

Meskipun disebutkan versi novel, di mana bagian-bagian dari Adam dan Charles yang merupakan keluarga Hamilton digali sangat luas, tapi apa yang ditampilkan di series terbilang baik.

Tidak ada yang salah, toh tidak semua versi novel harus dibawa ke versi serial TV. Bagian memadatkan ceritanya ini yang kemudian menjadi senjata.

Saya menikmatinya mengingat tak semua bagian-bagian dari keluarga Hamilton dikupas secara detil. Tapi, saya menangkap bagaimana karakter Adam dan Charlie. Bagaimana pula latar belakang keluarga mereka yang ditunjukkan oleh Ayah mereka sendiri.

Ini yang kemudian menjadi dasar dan silsilah antar generasi dari keluarga Hamilton yang diceritakan hingga akhir episode. Karakter dan watak itu terlihat jelas.

Ciri khas mereka begitu terasa kuat dan konsisten. Ini nilai plus dari cerita serial TV yang diadaptasi dari novel. Mengingat, sang penulis novel John Steinbeck mengambil dasar cerita keluarga Hamilton berdasarkan pengalaman yang terinspirasi silsilan keluarga ibunya.

Untuk fokus ceritanya pun terbilang rapi dan adil. Selain menggambarkan bagaimana kehidupan keluarga Hamilton, cerita juga akan difokuskan pada Cathy.

Karakter yang ternyata memang sudah ada di novel, tapi sudut pandangnya kemudian diubah di dalam serial TV.

Penampilan Gemilang Florence Pugh

review-serial-tv-east-eden

Dalam refensi yang saya temukan, karakter Cathy yang diperankan oleh Florence Pugh ternyata diceritakan sebagai sosok “monster” sosiopat yang sangat jahat sejak lahir.

Dalam serial TV saya justru terkejut ketika mendapatkan sebuah adegan di mana Cathy terluka dan mengalami pendarahan yang cukup banyak sebelum akhirnya bertemu dengan Charles.

Di sinilah sudut pandang tersebut ditetapkan oleh kreatornya di TV Series. Cathy digambarkan sebagai sosok misterius yang penuh dengan kompleksitas kehidupan. Tanpa harus menghilangkan ciri khas jahatnya, penonton diajak untuk melihat Cathy punya alasan-alasan yang membuatnya kemudian menjadi sosok yang antagonis.

Zoe Kazan sebagai kreator ingin menampilan latar belakang Cathy Ames dengan cara menggali masa lalunya dan memberikan sentuhan manis.

Pada dasarnya, saya sebagai penonton pun menjadi berpikir bahwa ada alasan kenapa Cathy kemudian menjadi sangat jahat. Mengajak saya berpikir dan melihat, ternyata sosok karakter yang punya sisi humanis.

Satu lagi, Cathy sangat terobsesi dengan bagaimana mengendalikan dirinya sendiri sehingga semua pria dianggapnya adalah sosok yang tidak pernah bisa dipercaya.

Alasannya, kekerasan dan pelecehan seksual yang ternyata pernah terjadi di masa kecilnya.

Semua proses karakter Cathy setelah dewasa ini dimainkan dengan apik oleh Florence Pugh. Ia mampu bermain untuk memikat sekaligus siap menikam pria dari belakang.

Cathy mampu memainkan karakter yang licik sekaligus picik dalam satu bersamaan. Terlepas dari jahatnya karakter yang dmainkan Florence Pugh mampu memainkan dinamika politiknya sendiri di mana ia begitu berkuasa menentukan apa yang diinginkannya.

Ulasan saya, dengan eksplorasi karakter Cathy yang lebih puas, peran ini dimainkan dengan sangat baik oleh Florence Pugh.

Baca juga: Ulasan Series “Young Sherlock:” Anak Muda yang Solving Problem Bersama James Moriarty

Baca juga: Ulasan “Something Very Bad Is Going To Happen:” Series Horor yang Komplit

Produksi dan Sinematografi yang Serius

Satu poin penting buat saya di serial ini adalah bagaimana produksi yang digarap dengan serius. Suanasa masa lalu di awal abad ke-20 benar-benar terasa. Rumah, kostum, make up dan semuanya menyatu untuk memperlihatkan bagaimana situasi di masa itu.

Menggambarkan pula, bagaimana konflik antara satu manusia dengan manusia lainnya memperlihatkan peradaban manusia pada saat itu dan masih terlihat relevan.

Untuk menambah suasana terlihat seperti lembah Salinas di California, sesuai dengan novelnya, proses pengambilan gambar ternyata di lakukan Selandia Baru.

Suasana Selandia Baru yang masih asri menjadikan lanskapnya terasa pas dan muram sesuai dengan serial TV. Hal ini tentunya juga didukung dengan sinematografi yang apik.

Fokus pengambilan gambar terasa dramastis dan menggambarkan karakter itu sendiri. Tak ada listrik dan masih mengandalkan api menjadikan sosok karakter terasa lebih hangat sekaligus menyimpan kegetiran yang gelap.

Salah satunya bahkan sudah dimulai ketika karakter Cathy dikenalkan. Wajahnya yang bersimbah darah dibuat sangat menarik dan fokus kamera menjadi terasa dalam dan kuat.

Secara keseluruhan, serial ini mendapat tanggapan positif dari para kritikus dan layak ditonton bagi penggemar drama keluarga. Selain untuk pembaca novelnya, series ini juga cocok bagi yang ingin melihat perspektif kehidupan manusia, peradaban masa lalu tentang bagaimana relevansinya dengan situasi sekarang.

Khususnya tentang kehidupan wanita bernama Cathy yang mengalami kekerasan di masa kecilnya.