Ketika serial TV Ted Lasso diumumkan untuk season 4 saya sebenarnya cukup terkejut. Season 3 adalah klimaks yang sebenarnya terbilang sempurna, dan saya rasa cukup sampai di sana.
Tapi, ini tidak terjadi. Mungkin saja, Apple dan Warner Bross kemudian menggali lebih dalam dan tiba-tiba mengumumkan Ted Lasso Season 4 akan hadir di tahun 2026.
Review Ted Lasso Season 4 yang akan saya buat kali ini adalah gambaran bagaimana coach Ted Lasso di season sebelumnya. Tapi, ini tentang klub sepak bola wanita milik AFC Richmond.
Bukan lagi tentang klub sepak bola yang menjalani proses berada di luar ekosistem Premier League sampai akhirnya berada di Premier Leagu dengan segala dinamika dan konfliknya.
Dari pengalaman saya sendiri, masih banyak yang ternyata belum menonton serial Ted Lasso, bahkan sejak season 1. Tulisan ini saya buat untuk mencoba meyakinkan bahwa ini adalah salah satu serial televisi dengan genre komedi terbaik yang pernah saya tonton.
Bagi penggemar sepak bola pun, Ted Lasso adalah gambaran cerita yang relevan. Sepak bola bukan tentang taktik, tapi bagaimana menjadi manager, mengelola, merawat dan mencapai kesuksesan sebuah tim dengan metriknya masing-masing.
Premis TV Series Ted Lasso Season 4
Ted Lasso didatangi petinggi AFC Richmond untuk menjadi pelatih tim sepak bola wanita mereka yang sedang berkembang dan keraguan Ted Lasso muncul ketika ia ingin lebih dekat dengan keluarga, ditambah lagi ada dinamika klub sepak bola yang bisa berganti-ganti membuat Ted Lasso yang awal yang tidak pede kemudian berubah penuh semangat lagi.
Review Ted Lasso Season 4
Apa yang sebenarnya menari jika saya menonton Ted Lasso Season 4 setelah saya mengasumsikan, bahwa serial TV ini seharusnya berhenti di Season 3.
Tentunya, saya harus membuktikannya terlebih dahulu dengan menonton episode 1 dari Ted Lasso Season 4. Dan pada akhrinya saya tidak berhenti, terus lanjut dan kemudian menonton episode 10, episode terakhir di Season 4 dengan tertib.
Asumsi saya salah. Ekspektasi saya tidak sepenuhnya benar. Ted Lasso episode 1 season 4 dibuka dengan menyenangkan. Alur ceirta dilihat dari dua sisi.
Pertama, ketika petinggi AFC Richmond berusaha meyakinkan coach Ted Lasso untuk kembali bergabung. Kedua, di sisi lainnya, tim sepak bola wanita yang baru berdiri dipenuhi dengan karakter-karakter absurd yang akan membuat penonton tertawa, sekaligus sudah bisa mengambil kesimpulan bahwa apa yang akan dilakukan Ted Lasso akan terlihat sama di season sebelumnya, saat ia menangani tim sepak bola pria AFC Richmond.
Dua sisi ini kemudian disatukan dengan bagaimana dinamika yang harus dihadapi Ted Lasso sebagai seorang pelatih dan manajer sekaligus sebagai sosok Ayah yang ingin lebih dekat dengan keluarganya.
Inilah yang saya maksud dengan rangkuman dari Ted Lasso season sebelumnya. Konflik ini kurang lebih sama dan tidak ada perubahan yang berarti dibandingkan dengan yang sebelumnya. Ibaratnya, jalan cerita sudah dapat ditebak.
Ekspektasi saya kemudian runtuh ketika melihat karakter-karakter baru yang unik, disandingkan dengan karakter-karakter lama yang kemudian menjadi bagian dari dinamika itu sendiri.
Puncaknya, episode 10, atau finale dari Ted Lasso Season 4 berbicara dengan sendirinya.
Episode 10 Ted Lasso yang Mengharukan Sekaligus Lucu
Tanggal 6 Oktober 2026 adalah episode terakhir Ted Lasso Season 4. Setelah selesai menontonnya, lagi-lagi saya mendapatkan pengalaman yang seru, menyenangkan sekaligus lucu.
Kemampuan seorang Ted Lasso adalah tentang bagaimana mengelola dirinya sendiri dan mengelola orang lain. Dibuka dengan sebuah tribute untuk Mae Green, pemilik pub yang juga pemegang saham AFC Richmond.
Kesan sedih yang tergurat di setiap petinggi dan staf kepelatihan hingga pemain AFC Richmond tidak bisa dilepaskan begitu saja. Tapi, tetap saja AFC Richmond menjadi sebuah tim sepak bola yang menyenangkan.
Bahkan, ketika cerita dialirkan kepada konflik dan kepentingan kepemilikan klub di akhir musim. Semuanya terasa menyenangkan untuk ditonton.
Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, sepak bola dalam serial Ted Lasso tidak akan membahas taktik. Tapi bagaimana mengelola untuk terpus menjadi dewasa dan berpikir dengan cerdas.
Semuanya ini semakin lengkap dengan gaya komedi yang jadi ciri khas di setiap serial TV Ted Lasso.
Komedi Khas Serial Ted Lasso yang Selalu Menyegarkan

Apa yang menjadi bagian penting dari serial Ted Lasso di season sebelumnya juga hadir di season 4. Komedi optimis dan skeptis yang terjaga sejak musim pertama ikut turut hadir di season 4.
Bukannya membosankan, tapi malah menjadi semakin menyenangkan buat saya. Contoh saja yang paling sederhana, Ted Lasso adalah sosok karakter yang selalu mencoba optimis meskipun dalam keadaan tertekan dan susah sekali pun. Tapi, dengan semangat dan motivasi-motivasinya yang terkadang terlihat kekanak-kanakan ia mampu meraih kesuksesan yang sebelumnya diragukan.
Lihat pula sosok Roy Kent atau Jamie di season 1 hingga 3. Sosok karakter keras dari Inggris yang melemparkan kata-kata skeptis dan pesimis beradu dengan gaya terus terang dan lucu dari Ted Lasso. Semua dialog ini dibuat sangat cair dan seru sehingga tidak menjadi terasa membosankan.
Hal yang sama juga terjadi di season 4. Episode pertamanya saja sudah dibuka dengan kehadiran skeptis dari Alice Chilton yang diperankan oleh Tanya Reynolds dengan sangat baik.
Mau tambahan lagi? Karakter pemain-pemain sepak bola wanita AFC Richmond ternyata lebih lucu lagi dibandingkan tim sepak bola prianya seperti di Ted Lasso season 1 hingga season 3.
Bagian optimis dan skeptis ini juga menjadi benturan budaya antara Amerika dan Inggris yang kuat. Tapi, yang perlu diingat adalah konteks di mana mereka bisa mengelola diri sendiri dan untuk orang lain, khususnya dalam sepak bola.
Satu lagi yang jadi ciri khas dan tidak membosankan adalah karakter-karakter yang muncul di serial Ted Lasso. Gambaran mereka yang kontradiktif dijamin akan membuat penonton tertawa melihat tingkah laku mereka.
Hal yang sama kurang lebihnya ketika saya menonton TV Series dari Apple lainnya yang sudah saya buatkan ulasannya yaitu Review Serial TV ”Margo’s Got Money Troubles”: Komedi Warna-Warni
Karakter-karakter yang Menyegarkan di Ted Lasso Season 4
Ya! Inilah yang jadi kunci. Ketika Ted Lasso sendirian yang berkomedi, maka dipastikan terasa hambat. Bentura antara optimisme dan skeptimisme yang terkadang dibawakan dengan satir semakin terlihat lebih luas bersamaan dengan benturan budaya yang dibawa ke dalam serial ini.
Ketika kembali ke season 1 hingga season 3, karakter-karakter seperti Roy Kent, Jamie, bahkan, hingga asisten pelatih Beard & Higgins plus Rebecca Welton, Keeley Jones dan Nathan melengkapi benturan-benturan yang terjadi di setiap episodenya.
Dikemas dengan asyik, tidak membuat siapa pun tersinggung selain diri kita sendiri untuk bercermin. Plus, tanpa mengurangi inti cerita dari bagaimana seseorang mengelola dirinya sendiri dan untuk orang lain.
Hal yang sama juga terjadi di Season 4. Ketika porsi Roy Kent, Rebecca Walton dan Keeley Jones berkurang, masih ada karakter-karakter lainnya yang tidak kalah lucu.
Mulai dari Alice Chilton, si kembar Siobhan Harrigan dan Niamh Harrigan, penjaga gawang yang tak mau memakai sarung tangan Katie Quinn hingga Gemma Jay adalah gambaran komedi dari Ted Lasso season 4.
Semuanya punya peran komedinya masing-masing tanpa menghilangkan ciri khas komedi satir optimisme melawan skpetimisme tadi atau bahkan yang lebih personal pada masing-masing karakternya.
Kurang lebih seperti halnya film Outcome yang sudah saya ulasa dengan judul, ulasan Film “Outcome:” Komedi Satir dengan Tawa Ringan dan Cameo Berlimpah
Apakah TV Series Ted Lasso season 4 adalah salah satu series terbaik yang saya tonton dari Apple TV Tahun ini? Menurut keyakinan saya, iya.
Penulis adalah mantan content editor yang sudah mengulas lebih dari 100 film dan tv series, jurnalis teknologi yang sudah mengulas lebih dari 500 gadget dan juga pegiat serta praktisi di bidang digital marketing serta SEO. Untuk lebih detil, bisa cek di tautan penulis ulasanwarga.com
