Pentingnya Kelengkapan Core Web Vitals & Technical SEO dalam Sebuah Website

Setiap saya mengerjakan hal yang terkait SEO, hal pertama yang selalu saya mulai adalah audit dari semua sisi dan termasuk core web vital dan technical seo checklist secara lengkap.

Meskipun saya bukan orang yang bekerja di bagian front-end apalagi di back-end, tapi tetap saja hal ini akan berpengaruh dengan SEO.

Tak jarang saya menemukan bagian core web vitals dan technical SEO setelah diaudit dan diukur masih berantakan. Padahal semua url atau landing page yang digunakan akan disebar ke luar atau bahkan masuk sebagai bagian dari rencana iklan digital melalui Google dan Meta.

Hal yang memang membutuhkan waktu, karena saya perlu berkomunikasi dengan tim IT atau Tech sebuah perusahaan. Dinamikanya pun beragam. Ada yang cocok dengan hasil audit saya, ada juga yang tidak atau bahkan ada yang binggung.

Di sinilah pentingnya core web vitals dan technical SEO, bahkan ketika era vibe coding yang bisa bikin landing page atau website dalam sekejap.

Tulisan ini saya buat sebagai pengingat dan untuk siapa saja yang punya website bahwa core web vitals dan technical SEO itu penting, bahkan ketika AI pun sebenarnya belum mampu menggantikan peran manusia untuk mengurus dan menjaga core web vitals dan technical SEO selalu stabil dan konsisten setiap saat.

Satu hal yang relevan sampai kapan pun mengingat selama ada website dan URL, maka core web vitals dan technical SEO adalah hal yang penting untuk dioptimasi dan dijaga secara berkala.

Pentingnya Core Web Vitals

Core Web Vitals adalah metrik yang dijadikan oleh Google untuk mengukur pengalaman pengguna nyata di halaman web. Pengalaman penggunaan nyata ini sangat berkaitan dengan pengalaman pengguna, dan bukan hanya angka-angka melalui data dari pengguna nyata yang dikumpulkan melalui Chrome User Experience Report (CrUX).

Dalam pengerjaannya, saya sering menghitung menggunakan PageSpeed yang bagus dalam kondisi lab. Pada faktanya saya masih mendapatkan pengalaman berbagai macam kegagalan Core Web Vitals karena pengalaman pengguna nyata berbeda. Hal itu terjadi sampai hari ini dan itulah pentingnya peran manusia di dalam kerangkat teknologi.

Bermula dari Core Update di Maret 2026

Sudah dari dulu core web vital sangat penting dan saya sudah tuliskan di awal. Lalu, kenapa kemudian menjadi begitu penting di waktu yang sekarang dan akan datang?

Semuanya bermula dari Core Update yang terjadi di bulan Maret 2026. Google memperkuat bobot performa dalam algoritma ranking melalui data dengan mengkonfirmasi halaman di posisi 1 di Google menunjukkan tingkat kelulusan Core Web Vitals 10% lebih tinggi dibanding halaman di posisi 9.

Performa ini bukan hanya “bikin nambah kerjaan aja” tapi sebagai quality filter. Dan data Google Search Central Documentation menunjukkan 43% website gagal memenuhi threshold INP 200ms.

Hal yang perlu dijadikan mengingat hal ini menjadikannya sebagai data yang merujuk pada Core Web Vital yang gagal dan paling banyak di 2026.

Pentingnya Hubungan Core Web Vitals dan AI Search

Banyak yang berharap dengan membuat website langsung bisa masuk ke dalam rekomendasi dan visibilitas di AI Search. Jauh sebelum itu, siapa pun tetap perlu melakukan hal-hal yang terkait dengan SEO Konvensional.

Atau, dengan vibe coding, bisa bikin website secepat kilat, berharap bisa langsung masuk ke AI Search, tapi melupakan dasar-dasar SEO itu sendiri.

Hal-hal yang terkait teknis seperti ini bukan hanya tentang Googlebot. AI crawlers, termasuk GPTBot dan ClaudeBot, juga membutuhkan aksesibilitas teknis yang baik untuk mengekstrak konten dengan akurat.

Alhasil, situs yang lambat, tidak terstruktur, atau sulit di-crawl akan mendapat lebih sedikit perhatian dari sistem AI generatif.

Checklist Tiga Metrik Core Web Vitals Secara Lengkap

Dalam pengalaman saya, ada tiga metrik penting yang selalu diaudit dan diukur jika bicara core web vitals. Pegiat SEO atau yang peduli dengan hal-hal seperti ini pun rasanya sudah hafal dengan ini.

1. LCP (Largest Contentful Paint)

LCP tujuannya adalah mengukur waktu yang dibutuhkan saat pengguna di dunia nyata mulai memuat halaman hingga elemen konten terbesar yang terlihat di viewport. Mulai dari gambar hero, headline utama, atau blok teks pertama yang selesai dirender.

Dari berbagai studi halaman yang melebihi 5 detik LCP mengalami bounce rate sebesar 38%. Ini bukan hanya masalah ranking, tapi akan berpengaruh ke bisnis. Bayangkan saja ada pengguna yang sudah tertarik dengan produk yang mengarah ke halaman website bisnis, tapi, halaman tidak dimuat secara baik dan butuh waktu lebih dari 5 detik.

Penguna tersebut akan keluar, tidak jadi membaca dan bisnis pun punya pontesi kehilangan calon pelanggan.

Dari pengalaman saya, LCP sering gagal karena ada gambar hero yang belum dioptimalkan dan ukurannya terlalu besar karena formatnya masih JPEG/PNG.

Padahal dengan format WebP atau AVIF jauh lebih efisien. Ditambah lagi jika pengelolaan server yang lambat (Time to First Byte/TTFB yang tinggi) juga langsung mempengaruhi LCP karena halaman tidak bisa mulai merender sebelum byte pertama tiba.

Cara Optimasi LCP:

  • Optimasi gambar dan semua gambar di dalam website menggunakan format WebP atau AVIF. Cara ini akan memberi tahu browser tahu untuk memprioritaskan resource ini sebelum menemukan tag dalam HTML. Sertakan atribut fetchpriority=”high” pada elemen LCP.
  • Menggunakan dan mengatur CDN (Content Delivery Network) untuk melayani konten dari server yang lebih dekat secara geografis dengan pengguna juga penting. Mahal? Nambah-nambah kerjaan? Ya pasti! Tapi hasilnya bisa dilihat di kemudian hari, khususnya bagi bisnis yang memang ingin menjalankan rencananya secara jangka panjang.
  • Eliminasi render-blocking resources pada CSS dan JavaScript yang di-load di tanpa atribut yang tepat, akan memblokir browser dari merender halaman. Bagi saya dengan memindahkan JavaScript non-kritis ke bawah halaman atau gunakan atribut defer dan async bisa jadi solusi yang dicoba.

2. INP (Interaction to Next Paint)

Ini adalah metrik yang menggantikan First Input Delay (FID) sebagai metrik responsivitas dan populer sebelum 2020-an. INP sendiri bertujuan untuk mengukur penundaan penuh dari semua interaksi pengguna selama berkunjung ke sebuah landing page tau website.

Inilah tantangannya. Ketika website butuh JavaScript, tapi di satu sisi Google mewajibkan INP berstatus sehat.

Pengalaman nyatanya adalah ketika pengguna mengklik tombol, mengisi formulir, atau membuka dropdown, browser perlu menjalankan kode JavaScript untuk merespons. Jika main thread sedang sibuk dengan tugas JavaScript yang panjang, maka analytics scripts, chat widgets, third-party scripts lainnya yang ada akan menunjukkan respon yang menurun.

Cara Optimasi INP:

  • Gunakan Chrome DevTools (tab Performance) untuk merekam sesi dan identifikasi tugas JavaScript yang memakan waktu lebih dari 50ms.
  • Implementasikan code splitting dengan cara memecah script menjadi lebih kecil yang diperlukan untuk interaksi yang terjadi antara pengguna di pengalaman nyata.
  • Chat widgets, analytics tools, iklan, dan cookie consent banners sering menjadi penyebab utama nilai INP menjadi buruk. Semuanya itu mengeksekusi JavaScript yang berat dan bisa memberikan pengalaman yang buruk pada pengguna di dunia nyata.

3. CLS (Cumulative Layout Shift)

Metrik berikutnya adalah CLS yang mengukur stabilitas visual halaman saat loading. Tujuannya untuk melihat banyak elemen di halaman bergeser secara tidak terduga setelah dirender. Casenya adalah ketika seorang pengguna mencoba mengklik tombol dan tiba-tiba tombolnya bergerak ke bawah karena gambar baru dimuat di atasnya tentu tidak akan puas dengan pengalaman ini.

Structured Data di Kini Menjadi Penting

Bukan, saya tidak bicara tentang arsistektur database yang berantakan di back-end. Tapi ini website yang rapi dengan struktur data yang juga disusun secara sistematis.

Google search dan Google AI Overviews menggunakan structured data sebagai sumber utama. Untuk sebuah halaman website sebuah bisnis atau perusahaan, khususnya yang punya FAQ, HowTo, dan Article schema secara terukur akan mendapatkan pengalaman yang bagus atau punya pontesi besar masuk ke dalam AI Overviews.

Schema dan Struktur Data Saling Berkaitan

Mayoritas website masih tidak mengimplementasikan structured data secara memadai, yang berarti ini adalah area dengan competitive advantage yang masih sangat tersedia bagi yang mau mengeksekusinya dengan benar.

Jenis Schema yang Wajib Disertakan Di Dalam Website

  • Artikel Schema tidak hanya menilai seberapa bagus tulisan atau menjudge sebuah tulisan datang dari AI atau pemikiran dan pengalaman nyata penulisnya. Atau lebih buruk lagi, setiap artikel yang dibuat dengan pengalaman nyata dianggap AI. Artikel Schema akan berpengaruh pada bagian penulis, tanggal diterbitkan, tanggal diedit, judul, gambar dan siapa publishernya.
  • FAQ Schema juga penting, apalagi setelah Google menghentikan tampilan rich results FAQ di SERP. Tapi FAQ schema tetap penting dan digunakan secara internal oleh Google untuk memahami halaman dan tetap sangat relevan untuk AI visibility.
  • Selain FAQ, perlu juga ada How To Schema yang berisikan panduan atau langkah-langkah yang mengomunikasikan bisnis dengan audiens. Instruksi terstruktur dengan langkah bernomor adalah format yang paling konsisten dipilih oleh sistem AI untuk dikutip.
  • Organization Schema juga wajib tersedia entitas brand Anda. Tujuannya menghubungkan ke semua profil resmi eksternal. Ini adalah fondasi entity SEO yang pernah saya tulis dan beririsan dengan technical SEO.
  • Product/SoftwareApplication Schema juga penting, khususnya untuk bisnis e-commerce dan SaaS. Selalu berikan definisi produk secara komprehensif: harga, availability, fitur, dan rating. Ini adalah data kerap dicari AI agents , khususya dalam proses evaluasi vendor B2B.
  • BreadcrumbList Schema bertujuan untuk membantu Google dan AI memahami struktur navigasi website dan meningkatkan crawl efficiency dan representasi yang akurat dalam kutipan AI.

Crawlability dan Indexing

Log file analysis bisa saja membuat Googlebot menghabiskan 29% dari crawl-nya pada halaman-halaman yang tidak muncul dalam hasil pencarian yang artinya ada crawl budget yang terbuang. Dalam konteks ini, juga terjadi pada website yang saya kelola.

Crawl budget akan menjadi penting ketika sebuah website sudah punya 1.000 halaman yang sudah terindex, atau punya konten baru yang butuh diindex dengan cepat.

Bahkan, halaman duplikat atau parameter URL yang tidak terurus dan paginasi yang berantakan akan membuat crawl budget menjadi tidak efektif.

Strategi Manajemen Crawl Budget Bagi AI Crawlers

core-web-vital-dan-technical-seo-checklist-lengkap

Sekarang bukan lagi hanya tentang Googlebot. AI crawlers semakin banyak menuntut crawl budget. Jika fokusnya memang SEO, maka memblokir AI Carwler tentu bisa jadi penting.

Tapi, ketika disisi lain ingin dikutip AI tentu saja bot AI ini tidak bisa diblokir. Langkah konvensional yang sering dijadikan patokan bagi pegiat SEO seperti saya tentu saja adalah dengan memeriksa robots.txt untuk mengecek apakah ada Disallow: /, yang terkait dengan AI Bot.

Optimasi Crawlability

Secara umum, mengimplementasikan tag rel=”canonical” pada semua halaman dengan URL duplikat (HTTP/HTTPS, www/non-www, dengan/tanpa trailing slash) adalah pilihan tepat.

Dan jika website menggunakan sistem paginasi untuk konten artikel, jangan lupa sertakan rel=”prev” dan rel=”next” dengan benar.

Optimalkan XML Sitemap juga bisa jadi pilihan dan ini tentu bukan hal yang sulit untuk dilakukan. Tapi yang sekarang jadi pertimbangan serius adalah ikut mengoptimasi adalah struktur internal linking:

Kedalaman klik maksimal 3 klik dari homepage untuk setiap halaman penting mampu membuat efisiensi crawl budget rata-rata 31%. Halaman yang hanya bisa diakses melalui 5–6 klik dari homepage sering dilupakan begitu saja oleh Googlebot.

Inilah pentingnya berkolaborasi dengan tim tech atau IT. JavaScript rendering membutuhkan sumber daya tambahan, sehingga situs yang berat karena terlalu banyak script menerima crawl budget yang lebih rendah.

Jika konten penting di sebuah website dimuat hanya melalui JavaScript (client-side rendering), Google mungkin membutuhkan lebih banyak sumber daya untuk memprosesnya.

Selain core web vital pentingnya juga untuk melihat aspek technical SEO dan dibuatkan checklist lengkap.

Technical SEO untuk Google dan AI Search

Di sinilah technical SEO di 2026 benar-benar berbeda dari sebelumnya. Selain mengoptimalkan untuk Googlebot, kini ada lapisan tambahan yaitu memastikan bahwa AI crawlers dan sistem retrieval AI generatif bisa dengan mudah mengakses, memahami, dan mengekstrak informasi dari situs Anda.

Aksesibilitas Konten untuk AI

Technical SEO pada dasarnya akan sama dengan bagaimana pencarian konvensional Google. Hanya saja perlu dioptimasi secara berkala terkait dengan arsitektur situs, manajemen crawl, sinyal indexing, performa halaman, structured data, dan trust signal yang dibangun dari bisnis itu sendiri.

Beberpapa pengecekan penting yang saya sarankan untuk diperiksa:

Struktur heading yang jelas dan konsisten dari H1 → H2 → H3 bukan hanya baik untuk SEO tradisional tapi ini adalah “peta” yang digunakan AI untuk memahami struktur dan hierarki informasi dalam halaman.

Alt text yang deskriptif dalam komponen artikel juga penting. Apakah itu image, infografis atau video. Hal seperti ini sering diabaikan dan jika masih diabaikan sekarang, maka mulailah untuk mengubah kebiasaan ini. Alt text yang baik adalah cara AI memahami konten visual termasuk dalam sistem multimodal yang menjadi pembaruan Google Core Update di bulan September 2026 yang lalu.

Link anchor text yang deskriptif membantu AI memahami koneksi semantik antar konten di sebuah website

AI agents tidak bisa menjalankan JavaScript seperti browser. Konten yang baru muncul setelah pengguna mengklik tombol, scroll ke bawah, atau berinteraksi dengan elemen JavaScript tidak akan terlihat oleh banyak AI crawlers. Jadi, cek lagi halaman produk, FAQ, dan konten informatif penting untuk memastikan tersedia dalam HTML statis.

Tentang Mengenali Apa Bedanya GEO dan SEO Agar Tidak Salah Kaprah

Mengenal Cara Mengukur dan Melihat Metrik SEO di Era AI Search, Ketika Ranking Tak Lagi Jadi Penentu

Memberikan Sinyal Pembaruan untuk AI Citation

Artikel atau konten yang sudah di publish dan diperbaharui dengan metadata tanggal pembaruan akan membantu AI mendapatkan informasi baru.

Dalam terms yang saya kerjakan saya tidak pernah menghapus konten yang tipis, tapi memperbaharuinya. Atau, kalau konten dianggap spam karena dibuat pakai , sangat disarankan untuk dihapus.

Implementasi teknis yang perlu dicek secara berkala adalah tag dengan atribut tanggal yang akurat untuk publikasi dan pembaruan. Atau, bisa juga melalui last modified HTTP Header yang akurat lewat server.

Jangan memperbarui tanggal artikel tanpa benar-benar memperbarui kontennya jika tidak dianggap spam atau thin content yang dinilai relevan.

Tools untuk Memantau dan Mengoptimalkan Technical SEO

Inilah fungsi manusia. Memantau dengan tools dan tidak bergantung dengan automation untuk technical SEO. Muai dari Google Search Console, PageSpeed Insight, Google Rich Result Test yang gratis yang bisa dimanfaatkan.

Untuk yang berbayar tersedia Ahrefs atau Semrush yang untuk audit, atau Screaming Frog untuk crawler dan melihat hal-hal teknis lain seperti canonical tag, duplicate dan lain-lainnya.

“Vibe Coding” yang Berantakan dan Berpengaruh ke SEO

Semua orang bisa membuat website atau landing page dengan bantuan AI. Apa istilahnya? Vibe coding? Menggunakan AI tools seperti Cursor, Bolt, v0, Lovable, atau Claude untuk generate website/landing page dalam hitungan menit tanpa menyentuh HTML bisa punya landing page live dalam 20 menit.

Tapi ada gap besar antara “bisa dibuka di browser” dan “dioptimalkan untuk performa dan SEO”.

Yang sering terjadi dengan vibe coding adalah AI generator default ke framework yang berat secara JavaScript (React, Next.js tanpa optimasi) untuk hal-hal sederhana yang sebenarnya bisa cukup dengan HTML statis. Belum lagi jika bicara optimasi alt-tex image.

Masih belum cukup? Masih ada Third-party scripts seperti analytics, chat widget, yang bahkan belum dimasukkan dan tidak melihat metrik INP.

Structured data nyaris tidak pernah dihasilkan secara default oleh tools vibe coding. Paling parah, Schema markup tidak pernah ada karena prompter tidak tahu perlu memintanya

Fondasi technicalnya lemah dan bisa berefek panjang pada PageSpeed score di mobile: 35–55 (umum untuk AI-generated sites tanpa optimasi). Dampak lainnya INP gagal karena JavaScript bundle yang besar, CLS gagal karena gambar tanpa dimensi.

Jadi, mesin otomatis pun belum tentu menghasilkan kualitas yang bagus. Suatu saat nanti saya akan bahas, karena saya pun pernah membuat sebuah tools atau landing page dengan menggunakan AI. Hasilnya? Memang tidak sebaik manusia yang berpikir sistematis dan komprehensif saat membuat performa SEO yang terkait dengan core web vital dan technical SEO berjalan.