TV Series superhero yang saya tunggu-tunggu akhirnya resmi dirilis pada tanggal 27 Maret 2026. Sebelum membahas review serial TV “Spider-Noir“ yang tayang di Prime Video, saya sampaikan jika ini adalah bagian dari Spider-Universe. Pengenalan pertama Spider Noir sebenarnya bisa ditonton ulang di film “Spider-Man: Into the Spider-Verse” yang rilis 2018 yang lalu.
Kali ini, Spider-Noir punya ceritanya sendiri melalui 8 episode yang menurut saya menarik. Membagikan satu sudut pandang yang lain.
Dan pastinya, karakternya bukanlan seorang Peter Parker atau Miles Morales yang populer.
Sinopsis Series “Spider-Noir”
Sosok superhero di masa lalu ternyata cukup banyak. Hanya saja mereka terkubur dengan cerita masa lalu. Sama seperti nasib Ben Reilly alias Spider-Noir (Nicolas Cage)
Kematian kekasihnya di masa lalu masih menjadi trauma tersendiri baginya. Meskipun punya jiwa dan ilmu pengetahuan sebagai seorang private investigator, tetap saja ia tak mampu melawan kisah kelam atas kematian wanita yang dicintainya.
Ben pun melepas status superheronya meskipun tetap menjadi seorang private investigator. Tapi, satu kasus yang berdekatan dengan kehidupannya membuat Ben bimbang.
Apakah ia fokus sebagai seorang private investigator atau nyambi kembali menjadi Spider-Noir.
Review Serial TV “Spider-Noir”

Ketika karakter ini diumumkan menjadi superhero, saya tentu saja penasaran menunggu ceritanya. Salah satunya adalah visual hitam putih yang akan ditawarkan kepada penonton. Selain itu, kehadiran Nicolas Cage sebagai pemeran utama sebagai Ben dan Spider-Noir juga menjadi catatan penting bagi saya untuk mengikuti seriesnya.
Apa yang disajikan sejak episode pertama sudah menarik perhatian. Saya tidak berhenti mengikutinya di hari yang sama hingga episode 8.
Bukan karena di Indonesia sedang libur IdulAdha, tapi karena memang ceritanya bikin penasaran. Setiap episode ditata dengan baik. Alur ceritanya dibuat tanpa latar belakang yang kuat. Tapi ini yang pada akhirnya bikin penasaran.
Porsi tentang Ben jauh lebih besar di awal-awal episode. Sementara itu, di bagian pertengahan satu per satu puzzle tentang latar belakang Ben, hingga karakter lainnya dikuatkan. Membuat penonton seperti saya yang sama sekali tidak mengetahui bagaimana Spider-Noir sebelumnya mudah memahami ceritanya dengan konteks dalam TV Series.
Bagian lain yang saya soroti adalah porsi drama-thriller dan tentu saja action dibagi dengan seimbang. Tak ada yang menonjol, tapi diciptakan dalam satu harmoni yang menarik untuk ditonton.
Treatment ini yang pada akhirnya membuat saya selalu mengikuti setiap episode secara konsisten hingga akhir. Hal lain yang membuat serial TV ini untuk ditonton adalah sisi visual, action dan tentu saja karakter-karakter di luar Ben sebagai pemeran utama.
New York di Era 1930-an
Untuk menguatkan cerita dan karakter-karaternya, serial ini memang benar-benar menggambarkan situasi saat itu, New York di tahun 1930.
Peran utama yang dimainkan Nicolas Cage selain sebagai Spider-Noir, adalah seorang detektif swasta yang punya masa lalu tragis. Hal ini sudah menjadi penanda kondisi New York di era tersebut.
Sementara itu, karakter antagonis, Silvermane adalah seorang kriminal. Selain itu, ia bahkan bisa mengatur bagaimana jalannya politik di kota New York dengan kekuasaan yang ia miliki.
Tak hanya soal karakter, kondisi rasisme yang terbilang tinggi masih sangat terasa dan digambarkan di dalam serial tv ini. Ada satu adegan khusus, di mana untuk masuk ke sebuah hotel saja, dibutuhkan satu pintu yang memang hanya dikhususkan untuk orang kulit putih.
Ditambah lagi, hak-hak pekerja kulit hitam yang masih dianggap sepele dan ini bisa ditemukan di karakter Robbie Robertson yang jadi teman baik Ben di serial tv “Spider-Noir.”
Pilihan Visual yang Sama Baiknya
Ketika pertama kali memulai untuk menonton series dan ketika diklik untuk memulai episode 1, saya langsung disuguhkan dua pilihan awal.
Pertama, menonton dengan versi hitam-putih sesuai dengan gambaran identitas Noir yang melekat pada identitas Ben, dan kemudian pilihan visual yang berwarna.
Saya mengombinasikan dua-duanya. Episode 1-3 dengan pilihan hitam putih, episode 4-7 dengan warna, dan yang pamungkas atau bagian ending kembali ke hitam putih.
Kualitas visualnya? Sama bagusnya. Saya merasa puas untuk kedua pilihan visual yang ditawarkan oleh Prime Video yang ditawarkan ke penonton.
Mengingat latar belakang cerita series ini berada di kota New York pada tahun 1930-an, semua elemen klasik berhasil di dapatkan.
Untuk versi hitam putih, tentu saja akan merasa terpuaskan. Tapi, begitu diganti dengan versi berwarna juga berhasil di dapatkan dengan baik. Mulai dari lampu temaram di jalanan New York, gang-gang sempit, hingga bangunan-bangunan tinggi yang muncul dengan visuaslisasi warna yang baik.
Semuanya juga dipadukan dengan desain produksi dan kostum, hingga make up artist yang disajikan sehingga melengkapi tontonan menjadi sangat klasik, dan ini adalah cerita superhero.
Produksi yang Menawan
Tampilan visual yang memuaskan, semakin menarik dengan kehadiran produksi yang menawan dan rasanya sangat pas. Set kota New York di tahun 1930 benar-benar dibuat dengan porsi yang pas.
Untuk kostum dan make up pun juga dibuat seidentik mungkin dengan suasana New York di masa lalu. Semuanya tidak hanya menjadi pelengkap yang menandakan ini adalah kisah klasik, tapi menjadi penegasan bagaimana sosok Ben dan karakter lainnya adalah salah satu superhero klasik Marvel yang punya identitasnya sendiri.
Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, tak hanya Ben, karakter-karakter lain seperti Robbie Robertson, Cat Hardy, Lonnie Lincoln, hingga Silvermane juga tampil meyakinkan dengan ciri khas dan karakter mereka masing-masing.
Penampilan Nicolas Cage yang sangat Baik
Nicolas Cage dikenal sebagai salah satu aktor senior dengan segudang pengalaman yang luar biasa. Dalam kurun waktu 8 tahun terakhir saja, penampilan Nicolas Cage dipuji di beberapa filmnya.
Perannya sebagai Ben atau Spider-Noir pun menurut saya juga tampil luar biasa. Ia mampu memerankan karakter sebagai detektif yang selalu punya cara, trik dan analisa yang baik, sekaligus sebagai Ben yang selalu hadir dengan bayang-bayang masa lalu.
Hal yang menarik lainnya dialog-dialog yang dikeluarkan Nicolas Cage pun menarik untuk disimak. Ia bisa tampil santai, bisa tampil gugup ketika mengenang dirinya sebagai superhero, atau bahkan dialog-dialog yang absurd ketika mengiterogasi orang-orang yang sedang dicarinya.
Konsistensi ini ditunjukkan Nicolas Cage di hampir semua episodenya dan tentu saja ini menjadi hal yang menarik, mengingat Spider-Noir adalah series pertama yang ia mainkan di sepanjang karirnya sebagai aktor.
Baca juga: Review Serial TV “The Boys” Season 5 Episode 8: Tak Ada Kekuasaan Jahat yang Abadi
Baca juga: Ulasan Series “Young Sherlock:” Anak Muda yang Solving Problem Bersama James Moriarty
Karakter Lain yang Bisa Jadi Penyeimbang

Selain karakter Ben yang diperankan oleh Nicolas Cage, sebenarya masih ada banyak karakter lain yang juga menarik perhatian. Robbie Robertson (Lamorne Morris), Cat Hardy (Li Jun Li) hingga actor senior Brendan Gleeson yang memerankan Silvermane tampil sangat baik.
Semua karakter ini mampu mengimbangi peran Ben yang dimainkan Nicolas Cage. Dialog-dialog yang dilontarkan, gestur tubuh yang dimainkan tampil sempurna.
Buat saya Brendan Gleeson pada bagian ini tampil baik menjadi antagonis yang berhadapan langsung dengan Nicolas Cage. Tentu saja, pertarungan ini akan terlihat kepada dialog-dialog yang dilontarkan kedua karakter ketika saling berhadapan di satu scene.
Sayangnya, ini sedikit hal yang sebaiknya bisa diimprove. Tak ada latar belakang kuat dari karakter-karakter ini dibahas dengan detil.
Semuanya hanya terjadi begitu saja, tanpa ada pembahasan yang kuat, terutama untuk Robbie yang berprofesi sebagai jurnalis. Sementara itu, Silvermane dan Cat Hardy, latar belakangnya kurang digali, meskipun sudah dilontarkan langsung di beberapa episode serial “Spider-Noir.”
Meskipun memiliki beberapa catatan, tapi apa yang diceritakan oleh “Spider-Noir” masih dalam batas toleransi. Saya sendiri puas dengan apa yang saya tonton. Apakah “Spider-Noir” punya season 2? Saya berharap akan ada. Tapi, kita tunggu saja, apakah serial ini akan jadi magnet bisnis bagi Amazon Prime.
Bagi yang belum nonton serial TV “Spider-Noir” saat ini sedang tayang di Prime Video.
Penulis adalah mantan content editor yang sudah mengulas lebih dari 100 film dan tv series, jurnalis teknologi yang sudah mengulas lebih dari 500 gadget dan juga pegiat serta praktisi di bidang digital marketing serta SEO. Untuk lebih detil, bisa cek di tautan penulis ulasanwarga.com
