Apakah faktor kondisi ekonomi berpengaruh pada pola perilaku beriklan di Meta Ads? Menurut keyakinan saya iya. Apalagi, di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu sekarang membuat “harga” menjadi item yang perlu dipertimbangkan.
Lalu, bagaimana cara para brand atau pebisnis beriklan di Meta Ads dengan budget terbatas ketika misalnya saja daya beli sedang turun di situasi ekonomi sekarang?
Coba kita lihat klaim pemerintah Indonesia di Kuartal I-2026 pertumbuhan ekonomi disebut mencapai 5,61 persen. Angka yang membanggakan jika ditulis di media besar atau dibagikan melalui media sosial dan pidato.
Faktanya, bagaimana dengan pengusaha? Pemilik toko atau pelaku UMKM? Bahkan pegiat iklan digital khususnya Meta Ads seperti saya punya cerita yang berbeda.
Selain konsumen yang semakin selektif, persaingan harga yang bisa memengaruhi loyalitas konsumen hampir terjadi di setiap saat. In this economy! Begitu kata yang paling sering saya temukan di media sosial.
Akhir pekan lalu, saya ke salah satu toko yang menjual hp second dan hp baru di Mall Ambassador, Jakarta Selatan, berbagi cerita kepada saya. Penjualan sudah mulai terasa berat, bahkan ketika dimulai di saat Ramadan 2026. Ini adalah hal yang sifatnya offline.
Sementara itu, ia juga sempat beriklan di Meta Ads, namun kemudian memilih untuk berhenti sejenak, karena biaya marketing belum tentu bisa mendapatkan ROI dengan penjualan nyata di lapangan.
Perkembangan Meta Ads Global di 6 Bulan Pertama 2026
Meta Ads sendiri selalu berevolusi, meskipun dari pengalaman saya, bug yang muncul kerap membuat kesal. Tapi, bukan itu poinnya. Perjalanan Meta dari media sosial kemudian berubah menjadi salah satu alat yang membantu tugas digital marketing.
Meta Ads Mulai Menggeser Google Ads
Secara global, pendapatan iklan Meta di Q1 2026 mencapai 55 miliar dolar AS, naik 33% dari kuartal yang sama tahun lalu. Bahkan, bukan tidak mungkin Meta bisa menyalip Google sebagai platform iklan digital terbesar di dunia tahun ini.
Namun pertumbuhan ini bukannya tanpa konsekuensi. Bagi para pengiklan, tentunya akan melihat dari sisi yang lain. Semakin banyak pengiklan yang bermain dengan bisnis yang sama dan di platform yang sama seperti Meta Ads, maka bukan tidak mungkin biaya iklan untuk menjangkau audiens yang sama pun jadi mahal.
CPM Meta Ads Naik di Semua Kategori
Sudah dari 2025, saya punya pengalaman melihat angka CPM (Cost Per Impression) mengalami kenaikan. Ternyata saya tidak sendirian. Data dari Triple Whale menyebutkan CPM di Meta Ads di tahun 2025 mengalami kenaikan rata-rata 20 persen secara keseluruhan di semua industri tanpa terkecuali.
Masih dari data Triple Whale, kenaikan CPM secara persenan angka kenaikannya berbeda-beda berdasarkan kategori industri. Tak hanya itu, ada insight menarik lain yang saya dapatkan.
Secara keseluruhan, kenaikan harga iklan ternyata lebih tinggi melampaui kenaikan jumlah impresi. Sebagai pengiklan artinya saya membayar lebih tinggi bukan karena ingin iklan bisa lebih banyak tayangan di ekosistem Meta Ads.
Tapi karena kompetisi yang tinggi untuk menjangkau audiens yang semakin tinggi, plus bukan tidak mungkin kompetitor juga punya anggaran yang lebih siap dan besar untuk masuk dalam kompetisi iklan digital di Meta Ads.
Kabar Baik: Q1 adalah Periode Paling Murah dalam Setahun
Di tengah tren kenaikan harga maka Meta Ads sebenarnya punya satu celah yang bisa dimanfaatkan oleh pengiklan. Secara pengalaman yang saya dapatkan, bulan Januari-Maret adalah waktu yang tepat untuk beriklan dengan metrik yang terbilang murah di Meta Ads.
Hal ini terjadi tidak hanya terjadi di tahun 2026, tapi di beberapa tahun-tahun sebelumnya. Sebagai pegiat iklan digital, biasanya ini benar-benar dimanfaatkan secara strategis karena periode Q1 cenderung memiliki harga yang murah.
Data AdAmigo menunjukkan bahwa median CPC (Cost Per Click) secara global kenaikan harga biasanya terjadi di bulan November – Desember, namun kemudian turun di bulan Januari. Gambaran ini setidaknya bisa dimanfaatkan oleh pegiat iklan digital untuk melakukan langkah-langkah strategis.
Jika ini terjadi secara global, bagaimana dengan Indonesia? Beberapa faktor akan sangat berpengaruh. Secara umum, angka di Indonesia masih akan terpengaruh secara global.
Belum lagi, jika masuk dalam konteks bulan Ramadan yang sering terjadi di awal tahun Q1 dan Q2 yang justru memicu kenaikan harga median iklan di Meta Ads.
Jujur dengan Kondisi Ekonomi Indonesia 2026
Saya bukan ahli ekonomi yang kemudian layak membicarakan angka pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61% di Q1 2026. Tapi yang selalu saya dapatkan, Q1 dan awal Q2 pertumbuhan ekonomi dan kaitannya dengan iklan digital di Meta Ads biasanya akan dipicu oleh Imlek, Ramadan dan Lebaran yang menunjukkan peningkatan kapasitas ekonomi, tapi bukan untuk jangka panjang.
Terlihat tumbuh, tapi apakah ada tekanan terstruktur terhadap konsumen dan bisnis? Dari pengalaman yang saya dapatkan bisa saya jawab dengan kata yang seratus persen saya katakan Iya.
Kelas menengah semakin sempir imbas dari berbagai macam faktor dan konsekuensinya akan semakin kecil. Kelas menengah yang selama ini menjadi tempat tingginya perputaran uang kini berhati-hati dan selektif dalam pengeluaran non-esensial.
Hal bukan tidak mungkin sama akan berlaku pada kelas atas, plus kelas bawah atau miskin. Perlu pemahanan yang lebih dalam tentang hal ini untuk memahami perilaku konsumen di tengah tekanan ekonomi.
Bagi saya asumsi ini muncul dan kemudian memberikan pengaruh kepada cara beriklan di Meta Ads.
Dinamika Platform Meta yang Harus Dipahami di 2026
Pengaruh ini akan membawa hal-hal yang bersifat dinamis saat beriklan di Meta Ads. Ada beberapa hal yang kemudian membuat semuanya menjadi lebih dinamis dan disesuaikan dengan berbagai macam strategi.
Faktor Reels dan Kemungkinan Cost Iklan Lebih Rendah
Beriklan dengan menggunakan Reels yang semakin menguat. Data Tinuiti dari Q1 2026 menunjukkan bahwa iklan dalam format Reels jadi all-time high dalam share impresi di Instagram dan tentunya akan jadi kekuatan sebuah brand dalam beriklan.
Meta sepertinya memang akan berpihak pada inventori Reels yang terus berkembang, Apalagi, foto kini menjadi hal yang terlupakan dan seperti tidak lagi menjadi prioritas penting. Meskipun pada faktanya, adakan selalu ada area untuk image ketika masuk dalam dashboard Meta Ads.
Data dari berbagai sumber menunjukkan bahwa Reels bisa 10-30 persen lebih murah dari Feed untuk tujuan awareness, terutama di pasar-pasar Asia Tenggara.
Cara ini tentunya bisa coba diterapkan oleh brand yang sedang menekan biaya iklan, investasi dalam produksi konten Reels, dan menekan biaya iklan, termasuk CPM.
Optimasi Advantage+ dan AI
Kehadiran perubahan sistem yang diterapkan Meta pada akhirnya membuat Advantage+ Campaign bukan lagi hanya eksperimen. Data menunjukkan bahwa 35 persen dari total belanja iklan ritel di AS sudah menggunakan struktur Advantage+, dan Advantage+ Shopping Campaigns.
Di saat daya beli yang dinamis dan cenderung turun, khususnya ketika nilai rupiah untuk pengeluaran iklan harus bekerja lebih keras, maka kemampuan AI Advantage+ adalah hal penting.
Hal ini artinya untuk mengoptimalkan secara real-time di seluruh placement, audiens, dan creative secara simultan menjadi sangat relevan. Sistem inidiklaim bisa menemukan konversi di segmen audiens yang mungkin tidak terpikirkan oleh marketer manusia.
Tapi, Advantage+ bukan solusi ajaib yang instan, karena membutuhkan data training yang cukup untuk bekerja maksimal.
Makanya, bagi yang ingin menerapkan cara ini memilih kampanye manual yang lebih terkontrol dan perlahan migrasikan ke Advantage+ setelah volume konversi mencukupi.
Click-to-WhatsApp: Tetap Menjadi Pemain Kunci di Indonesia
Salah satu format iklan yang terbilang praktis dan sangat relevan di konsumen Indonesia adalah Click-to-WhatsApp. Di tengah konsumen yang semakin pilih-pilih dalam membeli, , kemampuan untuk langsung bertanya, bernegosiasi, dan mendapat kepastian via WhatsApp sebelum memutuskan pembelian adalah sebuah proses penting bagi sebuah brand. .
Data Meta sendiri menunjukkan bahwa fitur Click-to-Message terus diperkuat di 2026, termasuk integrasi yang lebih dalam dengan WhatsApp Business.
Baca juga: Belajar Dampak iOS & Privasi Data Pada Performa Meta Ads
Baca juga: Cara Beriklan di Meta Ads Bagi Bisnis Jasa Lokal Agar Anggaran Efisien
Strategi Meta Ads Ketika Ekonomi Sedang Bimbang

Langsung berhenti beriklan di Meta ketika situasi ekonomi tengah dinamis dan bimbang tentu adalah cara yang tidak tepat. Siapa pun, termasuk brand masih bisa berpartisipasi untuk beriklan, namun dengan strategi yang lebih tepat. Berikut beberapa pilihan yang bisa dilakukan:
Reframing Nilai, Bukan Perang Harga
Sering terjadi, permainan harga, menawarkan diskon ini-itu bisa jadi pemicu besar kenapa kestabilan dan loyalitas pelanggan menjadi sulit untuk dijangkau.
Bagi sebagian brand pun ketika daya beli turun, menawarkan diskon dan harga yang lebih murah kerap menjadi solusi, dan diantaranya adalah ketika ekonomi sedang bergejolak.
Saya berpendapat, alih-alih menurunkan harga, ada beberapa pendekatan lain yang bisa dicoba dengan cara yang lebih relevan.
Coba mulai hitung dan komunikasikan biaya per penggunaan. Misalnya, ‘Hanya Rp 5.000 per hari untuk mendapatkan kuota X GB terdengar jauh lebih terjangkau dari ‘Beli seharga Rp 1.000.000’.
Gunakan juga long-term value communication yang memberikan pengaruh tentang uang yang bisa dihemat konsumen dalam jangka panjang dengan memilih sebuah produk.
Fokus pada Pelanggan yang Sudah Ada
Ekonomi yang tidak stabil, memunkinkan terjadinya daya beli yang menurun. Di iklan digital, secara umum akan berimbas pada biaya akuisis pelanggan baru. Oleh karena itu, ada pilihan yang setidaknya bisa tetap membuat uang berputar.
Caranya, adalah menjaga hubungan baik dengan pelanggan lama. Melakukan kampanye iklan untuk menarik dan mempertahankan pelanggan lama rata-rata lebih murah daripada akuisisi pelanggan baru.
Dalam konteks Meta Ads, sebuah brand bisa berinvestasi kepada pelanggan lama dengan memanfaat kan Custom Audience dari database pelanggan.
Pengunjung website yang sudah datang, adalah calon pelanggan yang memungkinkan untuk jadi pelanggan. Coba retargeting mereka dengan pesan yang lebih relevan untuk kembali menjangkau dan mendapatkan akuisisi.
Coba juga buat Retention messaging yang berisikan kampanye khusus yang mengkomunikasikan nilai program loyalitas, manfaat berlangganan, atau penawaran untuk pelanggan yang sudah melakukan pembelian ulang pada produk tertentu.
Sebagai framework untuk alokasi budget yang bisa digunakan adalah dengan simulasi seperti berikut ini:
• Prospecting / New Audience: 40-50%
• Retargeting & Existing Customer: 50-60%
Logikanya: Cost per acquisition dari existing customer jauh lebih rendah, sehingga efisiensi budget meningkat.
Menguasai Full Funnel dengan Biaya Efisien
Di saat konsumen membutuhkan waktu lebih lama sebelum membeli, maka strategi iklan yang fokus pada konversi langsung (bottom-funnel) akan semakin tidak efisien. Bagi pengiklan atau brand, ini tentunya akan menjadi hal yang efektif.
Brand yang bertahan dan tumbuh di kondisi seperti ini adalah yang menguasai full funnel dengan jitu. Setidaknya, cara ini layak dicoba bagi brand yang beriklan di Meta Ads dengan budget terbatas dan ketika daya beli sedang turun.
Memanfaatkan Momentum dengan Tepat
Kondisi ekonomi yang tidak selalu stabil, dan perubahan konsumsi artinya mampu membuat peluang strategis bagi sebuah brand.
Caranya adalah dengan tidak selalu mengalokasi budget yang sama di setiap bulan dan di sepanjang tahunnya. Mulailah dengan tiga langkah berikut ini:
Periode Low CPM (Jan-Feb, setelah Lebaran, dengan cara fokus pada membangun awareness, melengkapi first-party data, dan menjalankan konten edukasi. Secara strategi, cara ini mungkin tidak akan membuat nilai konversi menjadi bertambah. Tapi, membantu meningatkan audiens tentang keberadaan produk sebuah brand.
Periode Rising Intent yang biasanya terjadi menjelang Ramadan-Lebaran, menjelang Harbolnas, hingga liburan sekolah bisa disiapkan dengan cara membagikan konten push konten testimonial yang sudah ada, tapi juga demonstrasi dari produk yang ditawarkan.
Periode Peak (Ramadan, Lebaran, Nataru) adalah waktu yang tepat untuk mendapatkan konversi. Kesempatan ini tentunya penuh tantngan mengingat akan ada kompetitor yang juga melakukan hal yang sama.
Tapi, jika dihitung dengan budget yang juga besar, maka ada kemungkinan perhitungan estimasi ROAS di periode ini akan jauh lebih tinggi karena tidak beriklan ke cold audience.
Post-Peak adalah dimana melakukan retarget semua yang melakukan klik, tapi tidak konversi di periode peak, tapi masih hanya menunjukkan minat dan belum melakukan pembelian.
Mengukur Keberhasilan dengan Metrik yang Tepat
Ketika daya beli tertekan, beberapa metrik yang biasanya jadi rujukan KPI utama perlu dikalibrasi ulang. ROAS adalah hal yang paling turun. Ketika konsumen memang tidak membelanjankan uangnya, iklan dengan target konversi dan ROAS akan menjadi tidak efektif.
Dalam hal ini, bukan berarti melepas iklan dengan target konversi dan ROAS. Tapi, penting untuk melihat mentrik baru yang perlu ditambah.
Metrik Baru yang Perlu Ditambahkan
Dengan adanya dashboard default Meta Ads Manager, coba cek Revenue per Rupiah Iklan (bukan hanya ROAS). Cara ini akan melacak total pendapatan yang dikaitkan dengan seluruh iklan di Meta Ads, termasuk yang tidak terukur sekalipun. Hal ini bisa dilihat dengan membandingkan tren revenue bisnis vs tren belanja iklan.
Pastikan juga untuk mengecek Returning Customer Rate, khussunya jika data sudah kuat dan Meta sudah mengoptimasi dan belajar dari data yang sudah ada. Cek, berapa persen dari total pembeli adalah pelanggan yang sudah membeli sebelumnya. Jika menunjukkan tren naik, maka strategi retensi berhasil.
Metrik lain seperti Brand Search Volume, khususnya jika kampanye Meta Ads yang menjalankan awareness seharusnya berkorelasi dengan kenaikan brand search.
Audit Budget dan Realokasi
Jangan lupa juga untuk melakukan audit menyeluruh terhadap alokasi budget iklan. Lakukan identifikasi kampanye yang memiliki ROAS di bawah benchmark minimum bisnis melalui kalkulasi situasi ekonomi saat ini.
Selain itu, mulailah kurangi budget kampanye yang tidak perform, tapi jangan hapus datanya untuk referensi. dan realokasi budget yang dihemat kampanye yang sedang perfrom atau target iklan lain seperti Reels hingga mengoptimasikan WhatsApp.
Optimasi Bagian Creative
Audit semua active creative dengan melihat bagian CTR-nya di bawah 1%. Artinya ini adalah tanda clear ad fatigue, segera ganti.
Jika mendapatkan tim creative content yang tepat, maka produksi 3 variasi konten dengan pendekatan dan pesan yang berbeda-beda akan membantu brand mendapatkan nilai yang tepat.
Jangan lupa juga siapkan creative dalam format Reels, dan mulailah dengan organik terlebih dahulu. Tujuannya untuk kemudian bisa menentukan mana yang tepat untuk ada di iklan digital, sembari melihat biaya yang rendah dan menjadi sumber ROAS jika konten akan sangat engaging dan menghasilkan konversi.
Segmentasi Audiens yang Lebih Cerdas
Selanjutnya bagi kampanye untuk iklan yang ditujukan pada pelanggan dengan cara custom audience dan prospek baru dengan cara retargeting pada cold audience.
Siapkan segmentasi berdasarkan nilai pembelian. Coba cek, dengan cara membuat kampanye pelanggan high-value mendapat penawaran eksklusif, pelanggan low-value mendapat pesan untuk meningkatkan frekuensi pembelian.
Jika data sudah komplit dan kuat, aristektur data sudah benar, coba jalankan Advantage+ Audience, Jika belum, biarkan AI di meta memperlajari semua ini dalam waktu tertentu untuk melihat ekspansi audines berdasarkan sinyal konversi yang sudah ada sebelumnya.
Semua cara beriklan ini bisa dicoba di Meta Ads saat ini juga, khusunya dengan budget yang terbatas dan ketika daya beli turun berimbas pada konversi dan ROAS serta bisnis secara keseluruhan.
Penulis adalah mantan content editor yang sudah mengulas lebih dari 100 film dan tv series, jurnalis teknologi yang sudah mengulas lebih dari 500 gadget dan juga pegiat serta praktisi di bidang digital marketing serta SEO. Untuk lebih detil, bisa cek di tautan penulis ulasanwarga.com
